Tampilkan postingan dengan label Peti Mati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peti Mati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 November 2012

Usaha Peti Mati Secara Turun Temurun

SUMSEL - Mungkin banyak orang akan merinding mendengar kata-kata peti mati. Maklum saja, benda yang satu ini identik dengan dunia alam kubur yang menyeramkan.
Peti mati menjadi bagian terpenting bagi sebagian masyarakat penganut kepercayaan tertentu dan umum digunakan orang sebagai tempat persistrirahatan terakhir.

Seperti Chu Eng Chai Huat (58) dan adiknya Chu Cai Seng, yang sudah menjalankan bisnis peti mati melalui kakeknya sejak tahun 1950-an. Sebagai generasi ketiga, kini Chai Huat nama panggilan sehari-hari masih meneruskan usaha kakeknya agar tetap langgeng.

Ia mengibaratkan berbisnis peti mati seperti membangun usaha bisnis semi sosial karena selain ia harus meraup untung dari keluarga yang ditinggalkan ia juga harus memberikan empatinya. Bahkan sesekali ia juga tidak segan-segan memberikan peti mati secara cuma-cuma bagi keluarga yang tidak mampu.

Chai Huat menjajakan macam-macam jenis peti mati dengan berbagai ukuran, model, jenis kayu dan lain-lain, bahkan peti mati ukuran anak kecil pun ia sediakan.

Untuk jenis peti mati tradisional standar dewasa dengan bahan kayu tembesu, Nila dan Durian ia menjualnya dikisaran Rp. 3.5 hingga 20 juta, “Untuk peti mati ukiran Liong dan Hong kita jual 20 juta, sedangkan yang biasa dijual 3.5 juta.” Kata Chai Huat kepada rombongan yayasan Anke Jambi yang sengaja menyambangi tempat usaha Chai Huat.

Diakuinya untuk bisa menggaet pembeli, selain mengandalkan jaringan perorangan ia juga tak jarang bekerjasama dengan beberapa rumah duka di kawasan Palembang dan sekitarnya.

Selain itu ujar Chai Huat konsumennya juga tersebar di kawasan Lampung, Bengkulu dan lain-lain.

Alamat Chu Cai Seng, Jalan Macan Lingkungan Rt. 03/05 No. 55 Bukit Baru Palembang
Telp 0711-44465 (Romy)

Selasa, 19 Juli 2011

Warga Seoul Mencoba Peti Mati, Hargai Hidup

Sebagai salah satu negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia, kematian bukanlah hal luar biasa untuk dipikirkan di Korea Selatan.

Mantan Presiden Roh Moo-hyun mengakhiri hidupnya sendiri di tahun 2009 setelah skandal kasus penyuapan. Tidak sedikit pula aktor dan aktris Korea Selatan yang bunuh diri.
Tetapi di Seoul, ada kegiatan yang dipelopori oleh mereka yang ingin menghimbau sesamanya, agar tidak menyia-nyiakan kehidupan.

Sekitar 70 orang ikut serta dalam kegiatan ini, yaitu merasakan pengalaman mati ketika masih hidup.

Kim Joo-nam, 78 tahun, mengenakan baju jenazah tradisional kuning dari bahan rami, dan berbaring di dalam peti mati.

Ia memutuskan untuk mencoba hal ini karena merasa terbebani oleh kemungkinannya meninggal, dan tidak mau terlambat untuk menghargai hidupnya.

[Kim Joo-nam, Peserta]:
“Saya berpikir bagaimana orang menilai saya. Saya kuatir, karena belum berbuat hal-hal baik, tetapi hal buruk saja, saya gugup.”

Lee Myung-hee, ibu berusia 42 tahun dengan dua orang putra berkata, berada di dalam peti mati membuatnya sadar betapa ia sangat mencintai keluarganya.

[Lee Myung-hee, Peserta]:
“Kematian bisa datang tanpa memandang usia, ke siapapun. Saya tidak seharusnya berpikir itu bukan urusan saya. Ini adalah kesempatan baik untuk mempersiapkan akhir hayat dengan tenang.”

Profesor Kang Kyung-ah yang memimpin seminar itu berkata, kegiatan ini akan berarti banyak bagi warga berumur 20-an, 30-an dan 40-an, karena angka bunuh diri lebih tinggi di usia tersebut.

[Kang Kyung-ah, Profesor Keperawatan, Universitas Sahmyook]:
“Kebanyakan adalah dari umur yang sedang aktif, ini dapat mengubah arti hidup dan memberi kesempatan mengenal diri.”

Menurutnya, ini juga dapat melepas stress.

[Kang Kyung-ah, Profesor Keperawatan, Universitas Sahmyook]:
“Mereka bisa merasa hidup tak berarti, karena mereka terus memegang kuat. Kini mereka bisa rileks, melepas stress dan hal-hal obsesi, serta menghabiskan waktu dengan cara yang lebih berarti, mencari hidup yang lebih berarti.”

Setelah merasakan bagaimana rasanya tinggal didalam peti mati, para peserta diharapkan dapat pulang ke rumah untuk merayakan kelahiran mereka kembali dan mensyukuri hidup.

http://www.erabaru.net/ntdtv-videos/91-ntd-news/27167-warga-seoul-mencoba-peti-mati-hargai-hidup