Tampilkan postingan dengan label Stres. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stres. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Maret 2016

Luar Biasa, Perempuan Semarang Ini Menampung dan Merawat Orang Gila, Jumlahnya Sudah 500 Lebih

SEMARANG – Utiyah, 46 tahun, memang sosok perempuan yang luar biasa. Nilai kemanusiaannya terlihat begitu nyata.

Ia seakan tak pernah lelah untuk merawat ratusan orang yang bermasalah dengan gangguan jiwa, atau gila, stres hingga depresi.
Hebatnya, semua orang yang bermasalah itu dirawat di rumahnya, di Dusun Jurutengah, Desa Erorejo, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo.

Rumahnya pun terbuka lebar, menyambut mereka yang datang dari berbagai wilayah itu. Utiyah dalam merawat orang-orang “gila” itu memang tak sendiri.

Ia dibantu suaminya, dan dua adiknya. Utiyah dengan sabar memberi nasehat, menuntun agar mereka kembali sehat seperti sedia kala.

Berbagai metode terapi pun dilakukan, mulai dari nasehat, musik hingga dzikir. Ia membiarkan anak asuhnya bernyanyi bebas, lantaran itu salah satu metode.

Tak ayal, alunan musik dangdut menggema di seluruh sudut ruangan bersahutan dengan suara mereka bernyanyi.

“Saya dirikan ini sudah sejak 2003. Yang datang ke sini dari berbagai wilayah di Indonesia. Rata-rata yang datang mereka sudah menyerah untuk merawat,” ujar Utiah, Kamis (24/3/2016) kemarin.

Ketika merawat ratusan orang gila, Guru Sekolah Dasar Erorejo ini pun tidak pernah menerima gaji.

Bahkan, sejumlah tanah miliknya yang berada di samping rumahnya didirikan sejumlah bangunan permanen sebagai tempat penyembuhan mereka.

Utiyah pun rela berbagai kehidupan di tengah orang-orang gila, hingga merawat orang-orang yang kehilangan akal ini kembali ke jalur yang benar.

Tempat yang dibangunnya ini diberi nama Zikrul Ghofilin. “Kalau datang kesini pertama kalau masih nyambung, saya kasih sugesti. Kalau mereka merasa cemas, ketakutan saya pijet saraf. Kemudian ada dzikir juga,” kata dia.

Dengan cara itu, anak asuhnya itu sedikit demi sedikit kembali sehat. Dalam waktu khusus, tanpa disuruh mereka sudah bisa untuk mengerjakan ibadah tersendiri.

“Kalau depresi biasanya dua minggu sudah bisa sembuh. Tapi kalau yang datang sudah bertahun-tahun gila, sulit untuk sembuh,” kata dia.

Dalam merawat, ia juga tidak pernah memberi tarif. Mayoritas anak asuhnya 60 persen dari keluarga miskin, sehingga tak sanggup jika dimintai iuran.

Namun demikian, ada keluarga dan donatur yang selalu membantunya merawat mereka. Bahkan, sebagian gajinya sebagai guru digunakan untuk membantu pembiayaan Dzikrul Gofilin.

Pahlawan

Semangat keihlasan dari Utiyah inilah yang sampai di telinga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Pada Kamis (24/3/2016) kemarin, Gubernur Ganjar mengunjungi rumahnya dan memberi semangat agar terus merawat para anak asuhnya.

Atas jasa dan keteguhan hatinya itulah, Utiyah mendapat penghargaan dari program Kick Andy. Ia mendapat “Kick Andy Be Heroes 2016” dalam malam penganugerahan beberapa hari lalu.

Kini sudah lebih dari 500 orang yang berhasil dirawatnya. Dari jumlah tersebut, 147 orang saat ini masih dirawat di rumahnya. (*)

http://jambi.tribunnews.com/2016/03/25/luar-biasa-perempuan-semarang-ini-menampung-dan-merawat-orang-gila-jumlahnya-sudah-500-lebih* www.ayojambi.com/

Senin, 28 Februari 2011

Fanny Ngaku Konsumsi Obat Penghilang Stres

JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Fanny Ardiawan, terdakwa kasus penyalahgunaan sabu-sabu membantah telah mengonsumsi obat-obatan terlarang. Terdakwa yang merupakan anak Walikota Jambi Bambang Priyanto mengatakan, hal tersebut di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Jambi yang terdiri dari Sulthoni, Nazar Effriandi dan Muhammad Yusuf.
Dalam sidang yang mengagendakan pemeriksaan terdakwa tersebut Fanny membantah telah melakukan pesta sabu-sabu dengan Arifin Kho, Achmad Mustafad dan Sonny Hendriarto, terkait hasil pemeriksaan urine dan juga sampel darah terdakwa yang positif mengandung metametamine. Fanny mengatakan sebelumnya ia memang mengonsumsi obat penghilang stres.

"Itu karena saya mengkonsumsi obat penghilang depresi," kata Fanny dalam sidang yang berlangsung kemarin.

Ia mengaku memakai sabu-sabu kepada penyidik karena bujuk rayu petugas agar pemeriksaan terhadap dirinya cepat selesai. "Lalu apa maksud perkataan saudara terdakwa yang mengatakan "dua hari" saat petugas yang melakukan penangkapan menanyakan kapan mengonsumsi sabu," kata Nazar Effriandi.

Fanny mengatakan, saat itu ia menjawab dengan spontan pertanyaan petugas tersebut. Ia membantah maksud kata dua hari tersebut ialah dua hari sebelumnya ia mengonsumsi sabu-sabu. "Sejak tahun 2005 saya sudah berhenti menggunakan sabu-sabu," kata Fanny.

Diakuinya selama dua tahun ia pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang tersebut, namun semenjak tahun 2005 ia berhenti mengonsumsinya. Fanny mengatakan, ia juga menjalani rawat jalan pada dr Bambang Eko seorang psikiater untuk menghentikan kebiasaan mengonsumsi sabu tersebut. "Obat-obatan yang saya konsumsi karena rekomendasi dokter," katanya.

Hakim mengatakan, undang-undang menyatakan penggunaan obat-obatan dalam jumlah banyak dan tanpa resep dokter adalah ilegal. Dalam sidang tersebut majelis hakim juga meminta keterangan dari saksi Sejati seorang polisi yang dihadirkan oleh penasihat hukum.

http://jambi.tribunnews.com/2011/03/01/fanny-ngaku-konsumsi-obat-penghilang-stres