Tampilkan postingan dengan label Tsunami Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsunami Jepang. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Maret 2014

Setia Mencari Jasad Istri Korban Tsunami Jepang

JEPANG, KOMPAS.com — Yasuo Takamatsu, 57 tahun, mendengus ketika mengangkat tangki scuba diving, saat ia mempersiapkan penyelaman mencari jasad istrinya di perairan dingin lepas pantai yang tiga tahun lalu dilanda tsunami Jepang.
Diapun tenggelam ke perairan keruh yang menghubung langsung ke Samudera Pasific, beberapa hari sebelum peringatan tsunami 11 Maret.

"Dia (istrinya) adalah orang yang lembut dan baik, " kata Takamatsu. " Dia akan selalu berada di samping saya, secara fisik dan mental. Saya merindukannya."

Takamatsu adalah seorang sopir bus, bukan seorang penyelam. Sehingga, dia khawatir tidak akan mampu melakukannya.

Namun, dia merasa didorong ke air ketika ia berpikir saat terakhir kali mengingat istrinya Yuko, seorang pegawai bank, sesaat sebelum gelombang tsunami setinggi 20 meter menyapu.

Dalam sebuah pesan singkat yang dikirim istrinya pukul 03.21, setengah jam setelah gempa bawah laut besar mengguncang Jepang pada Jumat, 11 Maret 2011 dan melepaskan tsunami yang menjulang tinggi dengan kecepatan pesawat jet menuju pantai Jepang, Yuko hanya mengatakan: "Saya ingin pulang ke rumah".

"Saya merasa ngeri memikirkan dia masih berada di luar sana. Saya ingin membawanya pulang segera mungkin," ujarnya.

Beberapa minggu kemudian setelah bencana, seorang pekerja bank menemukan ponsel Yuko dan menyerahkannya kembali ke Takamatsu.

Dia mengeringkan ponsel itu lalu membukanya dan menyadari bahwa istrinya telah menulis pesan teks yang tidak pernah dia terima, persis saat air itu diperkirakan telah mencapai atap bangunan bank.

"Tsunami besar," tulisan pesan terakhir yang tak sampai itu.

Data resmi menyebutkan, lebih dari 15.800 orang diketahui telah meninggal dalam bencana tersebut, lainnya 2.636 yang terdata dinyatakan hilang.

Tidak seorang pun berpikir mereka akan muncul hidup, namun penting untuk menemukan jasad atau kerangka korban tsunami lalu kemudian dikubur agar beristirahat dengan baik.

Di kota nelayan Onagawa, lebih dari 800 orang hilang, termasuk istri Takamatsu. AFP
http://foto.kompas.com/photo/detail/2014/03/10/66789165314261394384442/setia-mencari-jasad-istri-korban-tsunami-jepang
* www.ayojambi.com/

Selasa, 24 Juli 2012

WNI Ditangkap atas Penipuan Terkait Tsunami Jepang

<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;">
<a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHMqRbwvcXvQ9n1rbpxjk63SNRlvAeKTPC9noWSMoWszPwrZ4sN3T3L-vPTuvOfR6al0N9pihATYSvMlHHkf3vyDdP9c7Wa-I1BCmQ65bbKa47ErMd11X7PlHtZa-kH55nPDd-6JXbNQ/s1600/392afp_tsunami.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="156" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHMqRbwvcXvQ9n1rbpxjk63SNRlvAeKTPC9noWSMoWszPwrZ4sN3T3L-vPTuvOfR6al0N9pihATYSvMlHHkf3vyDdP9c7Wa-I1BCmQ65bbKa47ErMd11X7PlHtZa-kH55nPDd-6JXbNQ/s400/392afp_tsunami.jpg" width="400" /></a></div>
<div style="text-align: justify;">
Seoul, (AFP/ANTARA) - Polisi Korea Selatan mengatakan pada Senin, mereka telah menahan seorang wanita Indonesia terkait penipuan gempa dan tsunami Jepang pada Maret tahun lalu.<br /><div><div style="margin: 5px;"><div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"><input value="Open" style="margin: 0px; padding: 0px; width: auto; font-size: 10px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Close'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Open'; }" type="button"/></div><div class="alt2"><div style="display: none;"><div style="border: 1px dotted #05fbfb; text-align: justify;"> Polisi juga telah meminta Interpol untuk menangkap tiga tersangka lainnya, seorang wanita Malaysia berusia 33 tahun, seorang yang berkebangsaan Nigeria dan seorang pria yang dianggap berkewarganegaraan Amerika Serikat.<br /><br />Seseorang berwarga negara Malaysia tahun lalu mengirim email ke seorang pria di Korea Selatan melalui situs sahabat pena, mengaku bahwa dirinya bekerja untuk sebuah bank di negaranya.<br /><br />Dia mengatakan kliennya di Jepang dengan deposit 4,2 juta dolar Amerika (sekitar Rp39,6 miliar) di bank, tewas dalam bencana Tsunami, bersama dengan seluruh keluarganya.<br /><br />Wanita itu mengemukakan bahwa seorang berwarga negara Korea Selatan mengklaim uang tersebut dengan menyamar sebagai seorang kerabat almarhum, dan membagi uang tersebut dengannya.<br /><br />Polisi mengatakan perempuan itu kemudian memperoleh 96 ribu dolar Amerika (sekitar Rp 906,7 juta) dari orang Korea tersebut, yang diklaim bahwa uang tersebut diperlukan untuk mengurus bank dan dokumen keluarga.<br /><br />Namun warga Korea itu, tidak sabar karena tidak adanya kemajuan, melaporkan peristiwa itu ke polisi Korea Selatan pada April tahun ini.<br /><br />Dia mengundang seorang Indonesia (33) yang terkait dalam penipuan tersebut ke Seoul yang dijanjikan akan mendapatkan lebih banyak uang, namun kemudian polisi menangkapnya pada 4 Juli.<br /><br />“Ini adalah pertama kalinya bagi kami menangkap seseorang dalam kasus penipuan yang mengambil keuntungan dari bencana tsunami di Jepang, tapi kami mendapatkan lebih banyak laporan tentang upaya serupa belakangan ini,” kata Kim Gyoung-Hee, seorang penyidik kepolisian, kepada AFP.<br /><br />Dia mengatakan pria yang berwarga negara Korea tidak akan ditangkap karena dia tidak melakukan kejahatan. (kn/ml) </div></div></div></div></div></div>