Sabtu, 31 Oktober 2015

Perayaan Sejit Nan Hai Kwan Im Di Kelenteng Beng Shan Bio Jambi


JAMBI, ayojambi.com – Setiap penanggalan imlek Kao Gwee Cap Kao yang jatuh pada tanggal 31 Oktober 2015, masyarakat tionghoa yang penganut agama Khonghucu pada melakukan sembahyang memperingati sejit Nan Hai Kwan Im (dewi asih), mereka lakukan sembahyang di rumah, ada juga yang sengaja mendatangi kelenteng-kelenteng vihara yang memiliki altar Kwan Im Perayaan Sejit Nan Hai Kwan Im [Lihat Gambar: Perayaan Sejit Nam Hai Kwan Im].

Sabtu (31/10) kemarin, adalah hari ulang tahun Nan Hai Kwan Im yang dirayakan pertama kali di kelenteng Beng Shan Bio Jambi, Kwan Im dikenal sebagai dewi asih yang sangat menyayangi dan pemerhati terhadap semua insan diatas muka bumi.
Sesajian yang dipersembahkan oleh umat terdiri dari berbagai buah-buahan segar, bunga segar dan berbagai sesajen pendamping seperti Cien Up (permen), Kim Cua (kertas sembahyang).

Prosesi sembahyang di pimpin oleh Rohaniawan Matakin Provinsi Jambi, The Lien Teng.

Hasil pantauan di Makin Kelenteng Beng Shan Bio yang beralamat di Jalan Fatahilla (Lorong Gembira) Rt. 23, Kelurahan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, Beng Shan Bio yang dibangun oleh Muljono Handjaja dan kawan-kawan untuk masyarakat Tionghoa yang beragama Khonghucu. Umat yang merayakan sejit Nan Hai Kwan Im (dewi asih) cukup dilakukan secara sederhana, yaitu, setiap umat yang sembahyang cukup menyalakan tiga batang gaharu (hio) di altar Tie Kong (Tuhan red), sesajian buah-buahan segar dan permen. Sedangkan didalam kelenteng Beng Shan Bio umat cukup berdoa saja (tidak membawa gaharu/ hio).

Di depan halaman Kelenteng Beng Shan Bio, terdapat sebuah Patung raksasa Nan Hai Kwan Im 南海觀音 setinggi delapan meter dengan berat 22 ton, patung tersebut didatangkan dari Negeri Tiongkok

Kelenteng Beng Shan Bio 明山廟 merupakan sebuah tempat ibadah penganut Khonghucu yang bentuk bangunan dan ornamennya terlihat cantik dan anggun berlokasi di Lorong Gembira, Kelurahan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Rabu, 28 Oktober 2015

Surat Sepanjang 50 M Untuk Jokowi dari Para Perempuan Jambi



Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Jambi 3 bulan lebih.

Tak kuat dengan kondisi itu, warga Jambi tengah menggalang seribu tanda tangan surat untuk Presiden Jokowi. Panjang surat dinyatakan mencapai 50 meter.

"Ini merupakan bentuk kekesalan kami akan bencana kabut asap yang terus menyusahkan kami dan anak-anak kami," ujar Poppy, Inisiator aksi, Rabu (28/10/2015).
Menurut dia, surat untuk Presiden itu digagas atas inisiatif bersama yang kebanyakan adalah para perempuan di Jambi.

"Ini juga sebagai bentuk protes, pemerintah terkesan lamban, sampai sekarang asap pun belum teratasi," kata dia.

Ia menyatakan, banyak kalangan ibu rumah tangga, pekerja kantor hingga ibu-ibu PNS di Jambi mendukung upaya tersebut.

Kaum ibu, merupakan salah satu warga yang paling terpukul, apalagi ketika melihat anak-anaknya sesak napas karena asap.

Sehingga dari kekesalan mereka, surat yang dibuat dari terpal sepanjang 50 meter tersebut, akan dibubuhi 1.000 tanda tangan dari masyarakat Jambi yang ingin berpartisipasi dalam aksi.

Poppy juga menjelaskan, surat yang nanti akan tertanda tangani oleh 1.000 tanda tangan akan segera dikirim ke Presiden Jokowi.

"Kita targetkan sore ini akan mendapat 1.000 tanda tangan tersebut, nah kalau sudah lengkap segera kita kirim sore ini ke istana negara ditujukan kepada Presiden Jokowi," singkatnya

http://jambi.tribunnews.com/2015/10/28/newsvideo-surat-sepanjang-50-m-untuk-jokowi-dari-para-perempuan-jambi
* www.ayojambi.com/

Senin, 26 Oktober 2015

Langit Kota Jambi Menguning

Langit di atas Kota Jambi menguning. Akibat pekatnya kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi, Senin (26/10), langit di Kota Jambi bewarna kuning, yang berakibat berkurangnya jarak pandang [Pesan saya kepada Yth Presiden RI].

Sejak Senin pagi Kota Jambi memang telah diselimuti kabut asap. Bahkan siswa sekolah mesti dipulangkan lebih awal akibat pekatnya kabut asap yang berbahaya bagi kesehatan.
Pantauan Tribunjambi.com di Jalan Hayam Wuruk, Jelutung, Kota Jambi kendaraan yang lalu lalang mesti menghidupkan lampu kendaraannya akibat minimnya jarak pandang.

"Masya Allah, langitnya bewarna kuning, gelap. Sepertinya ini karena kabut asap yang semakin pekat," kata Arif satu diantara warga.

"Kok jadi kuning begini, jadi seram nian," kata warga lain.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi bahkan mencatat jarak pandang di Kota Jambi tercatat hanya 200 meter sejak pagi tadi, meski sempat naik menjadi 400 meter.

http://jambi.tribunnews.com/2015/10/26/masya-allah-langit-kota-jambi-menguning
* www.ayojambi.com/

Kebanyakan Hirup Asap Bisa Bikin Stres

Sudah lebih dari dua bulan, jutaan warga di Sumatera dan Kalimantan terpapar asap akibat terbakarnya hutan dan lahan. Kabut asap adalah ancaman serius bagi kesehatan seluruh organ tubuh [Pesan saya kepada Yth Presiden RI].

Asap bisa mengiritasi salaput lendir di hidung, mulut, dan tenggorokan, menimbulkan radang, dan memunculkan reaksi alergi.
Asap kebakaran juga menimbulkan infeksi, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga pneumonia atau radang paru.

"Kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi juga berkurang sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi," jelas Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P Senin (7/9/2015).

Asap memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru kronis, seperti bronkitis atau paru obstruktif kronik.
Menurut Tjandra, kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan orang mudah lelah dan mengalami kesulitan bernapas.

"Berbagai penyakit kronik di berbagai organ tubuh, seperti jantung, hati, ginjal juga dapat saja memburuk. Sebab, dampak tidak langsung kabut asap dapat menurunkan daya tahan tubuh dan juga menimbulkan stres," ungkap Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan ini.

Untuk mengurangi dampak buruk kabut asap, khususnya pada bayi, ibu hamil, orang lanjut usia, anak-anak, dan pengidap penyakit kronis, Menteri Kesehatan Nila F Moelok meminta pemerintah daerah menyediakan rumah singgah (shelter).

Dalam shelter tersebut, kondisi udara diatur dengan adanya penjernih udara. Kementrian Kesehatan juga mengirimkan tenda isolasi ke Palangkaraya, Kalimantan.

Rumah singgah dan tenda isolasi tersebut menjadi lokasi evakuasi bagi warga yang tidak bisa berlindung di rumah mereka sendiri dari kabut asap.

http://jambi.tribunnews.com/2015/10/26/kebanyakan-hirup-asap-bisa-bikin-stres
* www.ayojambi.com/