Tampilkan postingan dengan label Bakar Rumah-Rumahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bakar Rumah-Rumahan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Agustus 2018

占碑华人保留传统文化 缅怀先人

李义源老先生辞世三年祭礼举行

为缅怀先人,占碑李府于上周日,纪念李义源 (Li Yiguan) 老先生辞世三年其唯男李傳兴(Lie Chuanheng) 为行孝特請中国道士林泽取主持祭拜仪式.占碑郑連丁料理制作灵厝事宜.(Romy)

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20180802/vB6.shtml
* https://www.facebook.com/makinjambi

Minggu, 22 Juli 2018

Memperingati 3 Tahun Wafatnya Almarhum Lie Yi Guan

Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, 李傳兴 (Lie  Chuan Heng) memperingati tiga tahun berpulangnya ayahnya 李義源. Berbakti dan setia kepada orang tua merupakan sebuah kewajiban yang tidak bisa di tolak oleh putra-putranya.

Salah satu tradisi yang masih di pegang erat warga tionghoa adalah membakar rumah arwah yang terbuat dari kertas. Di Jambi, tradisi itu masih berjalan hingga sekarang dan semakin banyak yang mampu mengirimkan rumah-rumahan untuk almarhum orangtua mereka.

“Tradisi ini masih kuat bertahan sampai sekarang. Tradisi membakar rumah-rumahan sebagai bentuk kebaktian seorang anak laki-laki terhadap orangtuanya. Mereka mengirimkan rumah-rumahan dengan cara membakar berikut segala isinya.”

Ritual kali ini dipimpin oleh Lim Tek Chu Taoshe dari Tiongkok 中国道士林泽取 dibantu rohaniawan MAKIN Sai Che Tien, Js. The Lien Teng (郑連丁).

Banyak yang berkeyakinan, orang yang sudah meninggal juga membutuhkan rumah, kendaraan dan harta benda lainnya. Layaknya ketika masih hidup di muka bumi ini.

“Bahwa manusia hidup di atas bumi merlukan tempat tinggal yang layak, kebutuhan sehari, seperti pangan, sandang dan papan. Demikian juga arwah orang yang telah wafat di alam baka. Juga membutuhkan kehidupan seperti layaknya masa hidupnya”.

Bagi masyarakat Tionghoa, penghormatan kepada orangtua atau leluhur, baik yang masih hidup atau yang sudah wafat, merupakan kebudayaan. Rumah-rumahan biasanya terbuat dari bambu, karton, dan kertas warna warni serta dirias lampu kelap kelip.

Tradisi mengirimkan rumah-rumahan beserta isinya biasanya banyak dipegang teguh pada tradisi Tionghoa yang beragama Khonghucu dan Tao. Pengiriman rumah-rumahan dilakukan setelah orangtua meninggal tiga tahun, ada juga yang baker rumah-rumahan pada saat pemakaman jenazah.

Ada dua jenis kertas yang digunakan untuk mendukung pembakaran rumah-rumahan, pertama kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (kim cua). Kedua, kertas yang bagian tengahnya berwarna silver (gin cua).

Kertas warna emas untuk dewa, sedangkan silver bagi arwah leluhur. Sebelum pembakaran rumah-rumahan, anak lain-laki dari almarhum akan melakukan sembahyang mengundang roh orangtua yang sudah meninggal.

Konon tradisi "Bakar Rumah-rumahan dan uang Kertas" ini baru dimulai pada zaman pemerintahan Kaisar Lie Sie Bien (Lie She Min) dari Kerajaan Tang di Tiongkok. Lie Sie Bien adalah seorang kaisar yang adil dan bijaksana sehingga beliau dicintai oleh rakyatnya. (Romy)

* https://www.facebook.com/makinjambi

Selasa, 26 Desember 2017

Mengenai Tradisi Membakar Rumah Arwah Untuk Leluhur

Mengenai pengiriman "rumah-rumahan" untuk almarhum merupakan sebuah tradisi sejak jaman pemerintahan Kaisar Lie Sie Bien (Lie She Min). Konon tradisi "Bakar Rumah-rumahan dan uang Kertas" ini baru dimulai pada zaman pemerintahan Kaisar Lie Sie Bien (Lie She Min) dari Kerajaan Tang di Tiongkok. Lie Sie Bien adalah seorang kaisar yang adil dan yang taat sehingga beliau dicintai oleh rakyatnya.

Ada upacara pengiriman rumah-rumah tersebut berisi daftar barang yang dikirimkan, nama keluarga yang ikut mengirim untuk almarhum serta surat-surat bergaya ekspedisi ditujukan kepada siapa dan dari siapa, dan lain-lain. Semua ini ditempelkan ke rumah-rumahan beserta perlengkapan dan pernak-pernik aksesorisnya.

Ada upacara pengiriman yang mempergunakan Taoshe atau dari rohaniawan yang memimpin upacara ritual tersebut dengan membaca mantera mengundang arwah leluhur serta mengirim rumah dengan cara di bakar.!!!

Bahwa pengiriman rumah untuk arwah keluarganya tidak sampai alias gagal karena orang yang memimpin tidak memiliki kemampuan apapun, maka untuk melakukan pengiriman rumah mesti dengan pertolongan Taoshe atau Rohaniawan yang memiliki keahlian.

Kirimkan rumah-rumahan agar leluhur tidak gentayangan dan memiliki tempat tinggal yang nyaman. Tapi belikan rumah-rumahan yang sederhana saja, jangan yang mewah dan mahal. Tapi orang yang akan memimpin upacara pengiriman / pembakaran rumah-rumahan tersebut? Sebab kalau dia tidak memiliki kemampuan, rumah yang dikirimkan tidak akan sampai ke almarhum.

Untuk keperluan pengiriman rumah ini cari Taoshe atau Rohaniawan dari klenteng (jangan sembarang orang) agar pengiriman rumah tersebut tidak mubasir/sia-sia. (Sumber Net)
* https://www.facebook.com/makinjambi

Minggu, 16 April 2017

Tradisi Bakar Rumah Untuk Leluhur

JAMBI – Bagi masyarakat keturunan Tionghoa yang beragama Khonghucu, penghormatan kepada orangtua atau leluhur, baik yang masih hidup di dunia maupun yang sudah wafat, merupakan sebuah kewajiban anak (keturunan) sejak jaman dahulu kala.

Salah satunya adalah, tradisi tersebut adalah membakar rumah-rumahan (Bahasa Hokkien Leng Chu) yang terbuat dari bahan bambu, karton, kertas warna warni dan pernak pernik lukisan serta segala perlengkapan rumah tangga, tradisi membakar rumah-rumahan berikut segala isi ini untuk dikirim kepada arwah orangtua maupun leluhur mereka yang telah wafat, rumah-rumahan tersebut buat kebutuhan tempat tinggal arwah di alam baka.

Tradisi ini masih dipertahankan hingga kini, tradisi ini sudah ada sejak jaman nenek moyang masyarakat Tionghoa yang mayolitas beragama Khonghucu secara turun temurun, tradisi mengirim rumah-rumahan dilakukan setelah orangtua mereka meninggal genap tiga tahun.
Seperti keluarga Ong Chun Huat, memperingati tiga tahun kepergian sang istri tercintanya (The Kim Tui), The Kim Tui adalah adik ketua rohaniawan MAKIN Sai Che Tien, The Lien Teng dengan mengirimkan rumah-rumahan berikut segala isinya, agar istrinya di alam baka, memiliki tempat tinggal yang layak seperti manusia hidup di dunia fana.

Upacara sembahyang pembakaran rumah dipimpin oleh Lim Tek Chong Taoshe dari Tiongkok.

Ujar Lim Tek Chong taoshe,”Tradisi ini, masih kuat bertahan sampai kini, tradisi membakar rumah-rumahan sebagai bentuk kebaktian seorang seorang anak kepada orangtuanya, mereka mengirimkan rumah-rumahan dengan cara membakar berikut segala isi rumah, seperti alat rumah tangga, diantaranya perlengkapan alat dapur, perlengkapan ruang tamu, kamar tidur, mobil-mobilan.”  Ujar Lim Tek Chong.
Tambah Lim Tek Chong, “Bahwa manusia hidup di atas bumi merlukan tempat tinggal yang layak. Demikian juga arwah orang yang telah wafat di alam baka juga membutuhkan kehidupan seperti layaknya dimasa hidupnya”.

Selain itu, mereka juga mengirim perlengkapan lainya, seperti, sabun mandi/ sabun cuci, handuk, pakaian, sepatu, minyak sayur, garam, beras sebagai syarat untuk orangtua mereka pergunakan di alam baka, tidak ketinggalan beberapa dayang/ pembantu rumah tangga untuk membantu orangtua mereka di alam baka.

Serta ada dua jenis kertas yang digunakan dalam tradisi ini, yaitu kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (Kim Cua) dan kertas yang bagian tengahnya berwarna keperakan (Gin Cua). Menurut kebiasaan-nya Kim Cua (Kertas Emas) digunakan untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa, sedangkan Gin Cua (Kertas Perak) untuk upacara sembahyang kepada para leluhur dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia. Bahwa dengan membakar kertas emas dan perak itu berarti mereka telah memberikan kepingan uang emas dan uang perak kepada para dewa atau leluhur mereka; sebagaimana diketahui kepingan emas dan perak adalah mata uang yang berlaku pada jaman Tiongkok kuno.

Semua bahan diletakan didalam rumah-rumahan, setelah itu anak laki-laki melakukan sembahyang dengan mengundang roh/ arwah orangtua mereka untuk dapat menempati rumah-rumahan yang dibeli oleh anak-anak lekaki, seusai itu baru rumah-rumahan dibakar.

Pembakaran juga memiliki pesan moral tersirat untuk berbakti dan setia kepada negeri kita tinggal karena dalam membakar kertas emas maupun perak mengandung makna tanah melahirkan logam dan tanah itu adalah tempat dimana kita berpijak, tempat kita lahir dan bertumbuh. Bagi yang beranggapan membakar uang kertas dalam jumlah besar dapat menyenangkan leluhur atau menunjukkan bakti, lebih baik tunjukkan rasa sayang anda itu semasa leluhur anda masih di dunia. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi