Tampilkan postingan dengan label Jambi Temple. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jambi Temple. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Desember 2011

Sudahkah Anda Ke Bukit Perak

MUARO JAMBI – Candi Muarojami merupakan situs terbesar di Asia Tenggara atau dua puluh kali lebih luas dari Candi Borobudur di Jawa Tengah dan dua kali lebih luas dari Kompleks Candi Angkor Wat di Kamboja, tak heran apabila kompleks percandian Candi Muaro Jambi pun disebut sebagai kawasan candi terluas di Asia Tenggara.
Untuk menuju objek wisata di Percandian Muaro Jambi yang terletak di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muara Jambi. Jaraknya dari ibukota provinsi Jambi sekitar 40 kilometer. Kompleks ini tak jauh dari daerah aliran shttp://www.blogger.com/img/blank.gifungai Batanghari. Untuk sampai kesana, kita bisa menempuh jalur darat maupun jalur sungai.

Kawasan Percandian Muaro Jambi sepanjang 7,5 km itu dipenuhi gugusan percandian dari timur sampai barat, antara lain Komplek Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Tinggi 1, Candi Astana, Candi Kembar Batu, Candi Gedong 1 dan 2, Candi Kedaton, Candi Koto Mahligai dan Bukit Perak, belum lagi adanya temuan sedikitnya 82 Manapo atau gundukan reruntuhan bangunan danhttp://www.blogger.com/img/blank.gif bagian bangunan pemukiman kuno.

Namun mungkin salah satu lokasi yang yang belum pernah dikunjungi anda, karena akses menuju kesana sebelumnya memang tidak dapat dijangkau oleh kendaraan roda empat. Namun dalam dua hari ini kendaraan roda empat telah bisa menuju ke Bukt Perak yang jaraknya sekitar satu kilometer dari jalan raya. Atas terlaksananya bakti sosial masyarakat setempat, siang tadi (9/12-2011) diadakan doa bersama di bawah Bukit Perak, selanjutanya makan bersama.http://www.blogger.com/img/blank.gif

Pembuatan jalan menuju Bukit Perak atas dukungan salah satu tokoh masyarakat yang enggan disebut namanya, menyatakan “Bagaimana warga mau berkunjungi ke Bukit Perak, jika tidak bisa mebgunakan kendaraan.” Maka dalam dua hari ini beliau meminta warga sekitar Bukit Perak bergotong royong melebarkan jalan.

Bukit Perak atau oleh masyarakat disebut Bukit Sengalo, karena lokasi Bukit Perak terpisah dari candi yang ada, di Bukit Perak kita akan menemukan sebuah gundukan tanah (bukit kecil). Diatas bukit warga bisa melihat pemandangan yang indah, bagi yang hoby berfoto bisa mengunakan latar belakang perkebunan sawit disekeliling bukit. (Romy)

Sabtu, 03 September 2011

Candi Kadaton Dikunjungi Bhikkhu Asal Bhutan

JAMBI – Suatu kehormatan dimana salah satu situs purbakala kebanggaan masyarakat Provinsi Jambi, yakni situs Candi Muarojambi kembali mendapatkan kunjungan dari Bhikkhu asal Bhutan, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup beserta rombongan, Sabtu (3/9-2011) siang. Candi Muarojambi merupakan satu-satunya peninggalan sejarah yang cukup terkenal bahkan terbesar di asia tenggara.
Untuk itu, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup mengaku sangat tertarik untuk melihat situs tersebut secara dekat, yang berada di areal Candi Muarojambi luasnya lebih besar dari Candi Borobudur.

“Saya pernah ke sini, makanya keinginan kembali melihat penemuan Makara di Candi Kadaton. baru mendapatkan kesempatan hari ini,” ujarnya saat kegiatannya keliling candi. Keinginanya melihat makara yang ditemukan tim Ekskavasi (Pemugaran) Candi Kedaton.

Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup menjelaskan bahwa keberadaan Candi Muaro Jambi ini merupakan salah satu bukti bahwa, banyak sekali benda peninggalan sejarah yang terdapat di Provinsi Jambi.

Gelar Pradaksina
Selain melihat makara di Candi Kadaton, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup juga melakukan ritual sembahyang. Ritual ini dilakukannya sebagai salah bentuk penghormatan kepada candi yang dianggap sebagai salah satu benda suci dan juga meninjau Gedung Museum Candi Muarojambi, serta melepaskan ratusan ekor burung yang dikenal fang shen. (Romy)

Rabu, 31 Agustus 2011

Bhiksu Gunung Kidul Mimpi Kunjungi Candi Kadaton

JAMBI – Dengan ditemukan makara di Candi Kadaton oleh Tim pemugaran Candi Kedaton menemukan makara pada Rabu (10/8-2011) silam. Makara tersebut saat ditemukan berada dalam timbunan tanah yang biasa disebut menapo. Kondisi dua makara yang ditemukan relatif utuh dan masih berada pada konteks bangunan yang berupa reruntuhan bata. 
Secara tidak sengaja para pekerja pemugaran di Candi Kedaton, Selasa pagi (16/8) kembali menemukan sebuah makara di menapo kompleks Candi Kedaton. arca tersebut ditemukan dalam posisi miring ke kiri diantara tumpukan bebatuan menapo.

Atas pertemuan makara di candi Kadaton, membuat nama komplek Percandian Muarojambi semakin banyak dikunjungi orang, bahkan banyak dikunjungi para bhiksu, diantaranya Bhiksu Sasana Bodhi dari Gunung Kidul, Yogyakarta (Jateng).

Bhiksu Sasana Bodhi didampingi beberapa pengurus Vihara Sakyakirti Jambi, Rabu pagi (31/8-2011) mengunjungi Candi Kadaton untuk melihat langsung atas ditemukannya tiga makara, bawah menurut dugaan Bhiksu Sasana Bodhi, manapo tersebut terdapat empat penjuru, “Manapo ini ada empat penjuru, pintu gerbangnya berada di timur.” Katanya.

Selain mengunjungi Candi Kadaton Bhiksu Sasana Bodhi juga menyempatkan diri mengunjungi Candi Tinggi I, Candi Tinggi II dan Candi Gumpung.

Di beberapa Candi tertentu Bhiksu Sasana Bodhi berhenti. Menerawang disusul kemudian tangannya menengadah rendah, pada kesempatan itu Bhiksu Sasana Bodhi melakukan meditasi.

Makara di gapura Candi Kedaton, merupakan temuan yang tidak lazim, karena makara pada umumnya ditemukan pada tangga-tangga masuk menuju bangunan induk candi.

"Temuan seperti ini terjadi ada Candi Gumpung. Salah satu makara masih menempel pada tangga masuk candi hingga kini. Temuan kali ini tidak lazim, karena makaranya menempel di gapura, bukan di tangga masuk."

Menurut analisa dari ahli arkeologi, Bambang Budi Utomo dan Ir. Hudaya Kandahjaya, MS. MBA. MSIS. MA. PhD, bahwa dugaan yang tertulis disalah satu makara nama Mpu Kusuma. sedangkan ungkapan di depan nama ini, bisa dibaca Pamurwitanira, artinya: tempat sirnanya sesepuh. Dengan kata lain ini rupanya tempat memperingati kepergian sesepuh bernama Mpu Kusuma. Untuk waktunya sekitar tahun 1017 (tahun Saka), atau kira-kira tahun (1017 + 78 =) 1095 Masehi. (Romy)

Manfaat Hari Besar, Berwisata Ke Candi MuaroJambi

JAMBI - Mengunjungi Candi Muaro Jambi, jangan hanya sekedar untuk menikmati keindahan candi saja. Karena di Candi Muarojambi terdapat sejumlah benda-benda bersejarah dari masa lalu. Selain itu terdapat gedung koleksi benda kepurbakalaan yang tersimpan dengan rapi.
Maka tidak heran, hari raya Idul Fitri 1432 Hijriah maupun hari-hari besar lainnya, warga mengunjungi tempat objek wisata di Taman Rimba, apalagi sejak ditemukan makara di Candi Kadaton beberapa waktu lalu, juga menjadi kunjungan warga Jambi, bahkan banyak juga wisatawan dari luar daerah.


Salah satunya Aseng, warga Kasang Pudak, Kecamatan Muaro Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, memanfaatkan hari raya Idul Fitri datang ke komplek Percandian Muarojambi bersama istri, anak dan cucu-cucunya.

“Untuk kali pertama saya datang kecandi bersama keluarga” selanjutnya tambah Aseng, “karena saya lihat di tv ada penemuan makara, maka kepingin melihat langsung.” Katanya diselah menikmati koleksi benda-benda di gedung mesium.


Selain Aseng, masih banyak warga tionghoa yang mengunjungi Candi Muarojambi bersama keluarga, bahkan ada yang sengaja membawa aneka hidangan untuk santap bersama keluarga.

Terlihat mereka menelusuri candi Gumpung, Candi Tinggi I dan Candi Tinggi II, yang jaraknya berdekatan, mereka juga melihat secara dekat makara di Candi Kadaton. Kawasan Candi Muaro Jambi cukup eksotik. Hamparan rumput, pepohonan besar dan bangunan candi dari bata, baik yag utuh ataupun reruntuhan. Tak heran, lokasi ini cocok untuk tempat wisata keluarga.

Untuk menuju Candi Muari Jambi dari Kota Jambi dapat melalui jalan darat maupun sungai Batanghari. Kalau menempuh jalan darat, dari kota Jambi sekitar setengah jam perjalanan melalui jembatan Batanghari II.

Selain jalan darat, pengunjung juga bisa melewati sungai Batanghari, dengan menyewa perahu ketek, atau speed boat. Ini bisa di jumpai di depan rumah dinas gubernur, Kota Jambi. (Romy)