MUARO JAMBI – Candi Muarojami merupakan situs terbesar di Asia Tenggara atau dua puluh kali lebih luas dari Candi Borobudur di Jawa Tengah dan dua kali lebih luas dari Kompleks Candi Angkor Wat di Kamboja, tak heran apabila kompleks percandian Candi Muaro Jambi pun disebut sebagai kawasan candi terluas di Asia Tenggara.
Tampilkan postingan dengan label Jambi Temple. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jambi Temple. Tampilkan semua postingan
Jumat, 09 Desember 2011
Sudahkah Anda Ke Bukit Perak
MUARO JAMBI – Candi Muarojami merupakan situs terbesar di Asia Tenggara atau dua puluh kali lebih luas dari Candi Borobudur di Jawa Tengah dan dua kali lebih luas dari Kompleks Candi Angkor Wat di Kamboja, tak heran apabila kompleks percandian Candi Muaro Jambi pun disebut sebagai kawasan candi terluas di Asia Tenggara. Sabtu, 03 September 2011
Candi Kadaton Dikunjungi Bhikkhu Asal Bhutan
JAMBI – Suatu kehormatan dimana salah satu situs purbakala kebanggaan masyarakat Provinsi Jambi, yakni situs Candi Muarojambi kembali mendapatkan kunjungan dari Bhikkhu asal Bhutan, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup beserta rombongan, Sabtu (3/9-2011) siang. Candi Muarojambi merupakan satu-satunya peninggalan sejarah yang cukup terkenal bahkan terbesar di asia tenggara.
Untuk itu, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup mengaku sangat tertarik untuk melihat situs tersebut secara dekat, yang berada di areal Candi Muarojambi luasnya lebih besar dari Candi Borobudur.
“Saya pernah ke sini, makanya keinginan kembali melihat penemuan Makara di Candi Kadaton. baru mendapatkan kesempatan hari ini,” ujarnya saat kegiatannya keliling candi. Keinginanya melihat makara yang ditemukan tim Ekskavasi (Pemugaran) Candi Kedaton.
Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup menjelaskan bahwa keberadaan Candi Muaro Jambi ini merupakan salah satu bukti bahwa, banyak sekali benda peninggalan sejarah yang terdapat di Provinsi Jambi.
Gelar Pradaksina
Selain melihat makara di Candi Kadaton, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup juga melakukan ritual sembahyang. Ritual ini dilakukannya sebagai salah bentuk penghormatan kepada candi yang dianggap sebagai salah satu benda suci dan juga meninjau Gedung Museum Candi Muarojambi, serta melepaskan ratusan ekor burung yang dikenal fang shen. (Romy)
“Saya pernah ke sini, makanya keinginan kembali melihat penemuan Makara di Candi Kadaton. baru mendapatkan kesempatan hari ini,” ujarnya saat kegiatannya keliling candi. Keinginanya melihat makara yang ditemukan tim Ekskavasi (Pemugaran) Candi Kedaton.
Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup menjelaskan bahwa keberadaan Candi Muaro Jambi ini merupakan salah satu bukti bahwa, banyak sekali benda peninggalan sejarah yang terdapat di Provinsi Jambi.
Gelar Pradaksina
Selain melihat makara di Candi Kadaton, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup juga melakukan ritual sembahyang. Ritual ini dilakukannya sebagai salah bentuk penghormatan kepada candi yang dianggap sebagai salah satu benda suci dan juga meninjau Gedung Museum Candi Muarojambi, serta melepaskan ratusan ekor burung yang dikenal fang shen. (Romy)
Rabu, 31 Agustus 2011
Bhiksu Gunung Kidul Mimpi Kunjungi Candi Kadaton
Secara tidak sengaja para pekerja pemugaran di Candi Kedaton, Selasa pagi (16/8) kembali menemukan sebuah makara di menapo kompleks Candi Kedaton. arca tersebut ditemukan dalam posisi miring ke kiri diantara tumpukan bebatuan menapo.
Atas pertemuan makara di candi Kadaton, membuat nama komplek Percandian Muarojambi semakin banyak dikunjungi orang, bahkan banyak dikunjungi para bhiksu, diantaranya Bhiksu Sasana Bodhi dari Gunung Kidul, Yogyakarta (Jateng).
Bhiksu Sasana Bodhi didampingi beberapa pengurus Vihara Sakyakirti Jambi, Rabu pagi (31/8-2011) mengunjungi Candi Kadaton untuk melihat langsung atas ditemukannya tiga makara, bawah menurut dugaan Bhiksu Sasana Bodhi, manapo tersebut terdapat empat penjuru, “Manapo ini ada empat penjuru, pintu gerbangnya berada di timur.” Katanya.
Selain mengunjungi Candi Kadaton Bhiksu Sasana Bodhi juga menyempatkan diri mengunjungi Candi Tinggi I, Candi Tinggi II dan Candi Gumpung.
Di beberapa Candi tertentu Bhiksu Sasana Bodhi berhenti. Menerawang disusul kemudian tangannya menengadah rendah, pada kesempatan itu Bhiksu Sasana Bodhi melakukan meditasi.
Makara di gapura Candi Kedaton, merupakan temuan yang tidak lazim, karena makara pada umumnya ditemukan pada tangga-tangga masuk menuju bangunan induk candi.
"Temuan seperti ini terjadi ada Candi Gumpung. Salah satu makara masih menempel pada tangga masuk candi hingga kini. Temuan kali ini tidak lazim, karena makaranya menempel di gapura, bukan di tangga masuk."
Menurut analisa dari ahli arkeologi, Bambang Budi Utomo dan Ir. Hudaya Kandahjaya, MS. MBA. MSIS. MA. PhD, bahwa dugaan yang tertulis disalah satu makara nama Mpu Kusuma. sedangkan ungkapan di depan nama ini, bisa dibaca Pamurwitanira, artinya: tempat sirnanya sesepuh. Dengan kata lain ini rupanya tempat memperingati kepergian sesepuh bernama Mpu Kusuma. Untuk waktunya sekitar tahun 1017 (tahun Saka), atau kira-kira tahun (1017 + 78 =) 1095 Masehi. (Romy)
Atas pertemuan makara di candi Kadaton, membuat nama komplek Percandian Muarojambi semakin banyak dikunjungi orang, bahkan banyak dikunjungi para bhiksu, diantaranya Bhiksu Sasana Bodhi dari Gunung Kidul, Yogyakarta (Jateng).
Bhiksu Sasana Bodhi didampingi beberapa pengurus Vihara Sakyakirti Jambi, Rabu pagi (31/8-2011) mengunjungi Candi Kadaton untuk melihat langsung atas ditemukannya tiga makara, bawah menurut dugaan Bhiksu Sasana Bodhi, manapo tersebut terdapat empat penjuru, “Manapo ini ada empat penjuru, pintu gerbangnya berada di timur.” Katanya.
Di beberapa Candi tertentu Bhiksu Sasana Bodhi berhenti. Menerawang disusul kemudian tangannya menengadah rendah, pada kesempatan itu Bhiksu Sasana Bodhi melakukan meditasi.
Makara di gapura Candi Kedaton, merupakan temuan yang tidak lazim, karena makara pada umumnya ditemukan pada tangga-tangga masuk menuju bangunan induk candi.
"Temuan seperti ini terjadi ada Candi Gumpung. Salah satu makara masih menempel pada tangga masuk candi hingga kini. Temuan kali ini tidak lazim, karena makaranya menempel di gapura, bukan di tangga masuk."
Menurut analisa dari ahli arkeologi, Bambang Budi Utomo dan Ir. Hudaya Kandahjaya, MS. MBA. MSIS. MA. PhD, bahwa dugaan yang tertulis disalah satu makara nama Mpu Kusuma. sedangkan ungkapan di depan nama ini, bisa dibaca Pamurwitanira, artinya: tempat sirnanya sesepuh. Dengan kata lain ini rupanya tempat memperingati kepergian sesepuh bernama Mpu Kusuma. Untuk waktunya sekitar tahun 1017 (tahun Saka), atau kira-kira tahun (1017 + 78 =) 1095 Masehi. (Romy)
Manfaat Hari Besar, Berwisata Ke Candi MuaroJambi
Maka tidak heran, hari raya Idul Fitri 1432 Hijriah maupun hari-hari besar lainnya, warga mengunjungi tempat objek wisata di Taman Rimba, apalagi sejak ditemukan makara di Candi Kadaton beberapa waktu lalu, juga menjadi kunjungan warga Jambi, bahkan banyak juga wisatawan dari luar daerah.
Salah satunya Aseng, warga Kasang Pudak, Kecamatan Muaro Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, memanfaatkan hari raya Idul Fitri datang ke komplek Percandian Muarojambi bersama istri, anak dan cucu-cucunya.
“Untuk kali pertama saya datang kecandi bersama keluarga” selanjutnya tambah Aseng, “karena saya lihat di tv ada penemuan makara, maka kepingin melihat langsung.” Katanya diselah menikmati koleksi benda-benda di gedung mesium.
Selain Aseng, masih banyak warga tionghoa yang mengunjungi Candi Muarojambi bersama keluarga, bahkan ada yang sengaja membawa aneka hidangan untuk santap bersama keluarga.
Terlihat mereka menelusuri candi Gumpung, Candi Tinggi I dan Candi Tinggi II, yang jaraknya berdekatan, mereka juga melihat secara dekat makara di Candi Kadaton. Kawasan Candi Muaro Jambi cukup eksotik. Hamparan rumput, pepohonan besar dan bangunan candi dari bata, baik yag utuh ataupun reruntuhan. Tak heran, lokasi ini cocok untuk tempat wisata keluarga.
Untuk menuju Candi Muari Jambi dari Kota Jambi dapat melalui jalan darat maupun sungai Batanghari. Kalau menempuh jalan darat, dari kota Jambi sekitar setengah jam perjalanan melalui jembatan Batanghari II.
Selain jalan darat, pengunjung juga bisa melewati sungai Batanghari, dengan menyewa perahu ketek, atau speed boat. Ini bisa di jumpai di depan rumah dinas gubernur, Kota Jambi. (Romy)
“Untuk kali pertama saya datang kecandi bersama keluarga” selanjutnya tambah Aseng, “karena saya lihat di tv ada penemuan makara, maka kepingin melihat langsung.” Katanya diselah menikmati koleksi benda-benda di gedung mesium.
Terlihat mereka menelusuri candi Gumpung, Candi Tinggi I dan Candi Tinggi II, yang jaraknya berdekatan, mereka juga melihat secara dekat makara di Candi Kadaton. Kawasan Candi Muaro Jambi cukup eksotik. Hamparan rumput, pepohonan besar dan bangunan candi dari bata, baik yag utuh ataupun reruntuhan. Tak heran, lokasi ini cocok untuk tempat wisata keluarga.
Untuk menuju Candi Muari Jambi dari Kota Jambi dapat melalui jalan darat maupun sungai Batanghari. Kalau menempuh jalan darat, dari kota Jambi sekitar setengah jam perjalanan melalui jembatan Batanghari II.
Selain jalan darat, pengunjung juga bisa melewati sungai Batanghari, dengan menyewa perahu ketek, atau speed boat. Ini bisa di jumpai di depan rumah dinas gubernur, Kota Jambi. (Romy)
Langganan:
Postingan (Atom)