Tampilkan postingan dengan label Khatina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khatina. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2016

Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi Rayakan Kathina 2560 BE

JAMBI, Ayojambi.com – Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi menggelar Pindapatta Minggu Pagi (16/10)  tersebut diikuti oleh puluhan umat Buddha di kota Jambi. Mulai pukul 08.30 WIB, umat Buddha kota Jambi sudah berkumpul membentuk barisan tepat dihalaman cetiya yang berada di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Masing masing mereka memegang bingkisan berupa berbagai kebutuhan pokok Bhikkhu Sangha [Lihat Foto: Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi Rayakan Kathina 2560 BE]. 
Lalu, Bhikku yang berasal dari Thailand keluar dari Cetiya sambil membawa patta. Umat yang hadirpun lalu memasukkan bingkisan yang mereka bawa ke dalam patta. Ini merupakan merupakan tradisi yang dilakukan oleh Buddha dan murid Buddha
sejak ratusan tahun lalu dan masih bertahan hingga saat ini. 

Pindapatta yang digelar oleh Cetiya Oenang Hermawan kali ini merupakan rangkaian ritual perayaan hari raya Kathina Puja 2560 BE/ 2016, salah satu acara yang digelar adalah pindapatta yang merupakan kegiatan yang selalu dilakukan oleh para Bhikkhu pada hari Kathina. Ini karna menjelang hari Kathina, Bhikkhu Sangha harus melewati masa Vassa selama tiga bulan. Setelah berhasil melalui masa Vassa, barulah para Bhikku melakukan pindapatta yang bertujuan untuk memperoleh jubah baru. Ini merupakan ritual yang selalu dilakukan oleh Bhikku Sangha setiap tahun pada hari Kathina,”ujar Hasan, ketua pengurus Maha Cetiya Oenang Hermawan disela sela
kesibukannya kemarin (16/10-2016).

Umat yang datang bebas untuk memberikan dana. Bisa berupakan berbagai kebutuhan Bhikku seperti jubah, obat obatan, makanan, minuman hingga angpao yang nantinya digunakan oleh Bhikkhu dalam kehidupan sehari hari mereka.

Para Bhikkhu yang hadir sebagian besar telah fasih menggunakan bahasa Indonesia. Ini karna sebagian besar mereka berdiam diri di Vihara-Vihara yang ada di Indonesia. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Bhiksu Pindapatta Keliling Kampung

JAMBI, Ayojambi.com – Hari Minggu yang cerah, puluhan umat Buddha telah berkumpul sejak pukul 8 pagi di Maha Cetiya Oenang Hermawan di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, mereka berkumpul untuk mengadakan pindapatta menyambut Hari Raya Kathina 2560 BE/ 2016 mereka telah berdatangan sejak pukul 07.00 di Maha Cetiya Oenang Hermawan untuk berdana kepada bhikkhu sangha agung [Lihat Foto: Bhiksu Pindapatta Keliling Kampung].
Para Bhikku Thailand membawa patta yang dalam bahasa India adalah Pali, yang berarti mangkuk dengan menyusuri halaman kampung-kampung untuk menerima dharma berupa makanan, minuman, kebutuhan sehari-hari dari umat di sepanjang jalan, 4 Bhiksu menerima pemberian beragam keperluan dari umat (16/10-2016).

Mereka berjalan di aspal yang kasar, berlobang-lobang dan dibawah teriknya sinar matahari dengan kaki telanjang, namun wajah mereka terlihat sabar terpancar dari para bhikku sepanjang jalan menyusuri jalan-jalan sambil menenteng patta (sejenis mangkok), sedangkan anak muda yang berada di sisi kanannya menenteng baskom.

Penganut agama Buddha asal Thailand ini dari Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia ( MBMI ) tengah melakukan pindapatta, yaitu sebuah tradisi bagi umat Buddha untuk melakukan dharma kepada para bhiksu dengan cara memberikan makanan atau obat-obatan yang dimasukan ke dalam patta.

Sampai berita ini diturunkan, pindapattan masih berlangsung di kawasan Pasar Jambi. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Sabtu, 25 Oktober 2014

Bhiksu Thailand Jalan Kaki Keliling Kampung

JAMBI, ayojambi.com – Sejak pagi hari, puluhan umat yang berbaris di halaman Maha Cetiya Oenang Hermawan di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, mereka telah berdatangan sejak pukul 07.00 di Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi untuk berdana kepada bhikkhu sangha agung [Lihat Foto: Bhiksu Thailand Jalan Kaki Keliling Kampung].
Para Bhikku Thailand membawa patta yang dalam bahasa Pali (India,red) berarti mangkuk, menyusuri halaman kampung-kampung untuk mendapat dharma berupa makanan, minuman, kebutuhan sehari-hari dari umat. Di sepanjang jalan, 9 Bhiksu menerima pemberian ragam keperluan dari umat (26/10).

Mereka berjalan di aspal yang kasar, berlobang-lobang dan dibawah teriknya sinar matahari dengan kaki telanjang, namun terlihat wajah sabar terpancar dari para bhikku berjalan menyusur jalan sambil menenteng patta (sejenis mangkok), sedangkan anak muda yang berada di sisi kanannya menenteng kotak kardus.

Penganut agama Buddha asal Thailand ini sedang melakukan pindapatta, yaitu sebuah tradisi bagi umat Buddha untuk melakukan dharma kepada para bhiksu dengan cara memberikan makanan atau obat-obatan yang dimasukan ke dalam patta.

Di sepanjang jalan yang dilalui para bhikku tersebut, umat Buddha yang mengetahui segera menyiapkan makanan dan uang untuk berdharma. Seperti di Pasar Hongkong, pagi itu umat yang tahu segera berbaris di pinggir untuk menunggu lewatnya rombongan.

Dalam penjelasannya Ketua Maha Cetiya Oenang Hermawan, Darma Pawarta Oenang (Hasan) mengatakan bahwa untuk berdharma sebaiknya memberikan makanan dan kebutuhan sehari-hari. Hidup bhiksu di sokong dari umat, di sana terdapat catu pacaya atau empat kebutuhan yang harus disokong yaitu, jubah, makanan, obat, serta tempat tinggal." jelasnya.

Sedangkan di negara Thailand terdapat ribuan umat Buddha yang melakukan tradisi itu sejak lama. Di sana bhikku hidup tergantung dari dharmanya umat. Pindapatta yang dilakukan pagi tadi menempuh rute dari Maha Cetiya Oenang Hermawan di Kampung Manggis mengitari Madura menuju Jalan Kamboja, tembus ke Jalan Ekri, Lorong Gerobak, simpang empat Jelutung, Jalan Koni empat (depan pabrik kopi AAA) lalu menuju ke Budiman, Gang Lama, Lorong Duren, Pasar Baru, Lorong Mngga, Lorong Kuningan terus ke Tanjung Pinang, selanjutnya ke Rajawali, tembus ke Rumkit DKT, simpang Sado, terus ke Jalan Gatsu (Gatot Subroto) dan kembali ke Cetiya.

Sampai berita ini diturunkan, pindapattan masih berlangsung di kawasan Talang Banjar Jambi. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Minggu, 16 Oktober 2011

Ribuan Umat Memberikan Penghormatan Kepada Tapak Kaki Sang Buddha

JAMBI – Prosesi perayaan Siripadapuja digelar oleh Yayasan Jaya Manggala berlangsung khusuk dan meriah. Prosesi upacara yang berlangsung pada Minggu malam (16/10/201) tersebut diikuti sekitar 2.000 umat Buddha Provinsi Jambi dan ada yang sengaja datang dari luar daerah, siantaranya dari Jakarta, Sumut, Sumsel.
Puncak perayaan berlangsung di Taman Alam Citra Indah (ACI), Desa Kasang Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, pukul 19.00 hingga pukul 21.30 WIB. Acara dimulai dengan pembacaan Siripada Gatha yang diikuti seluruh umat.

Jauhnya lokasi perayaan Siripadapuja yang memakan waktu 45 menit, maka panitia menyedia puluhan angkutan mini bus buat umat, tenyata banyak juga umat yang membawa kendaraan sendiri, baik kendaraan roda empat maupun roda dua.

Terlihat begitu cerianya umat yang akan ikut Siripadapuja atau Penghormatan Kepada Tapak Kaki Sang Buddha.

Posesi Siripadapuja diawali Bhikkhu Sangha Agung, disusul umat dari belakang sambil memegang bunga teratai yang dibuat dari karton warna warni dan satu lilin yang telah dihidupkan serta membawa dupa (hio). Bhikkhu bersama umat mengitari danau menuju dermaga yang telah dipersiapkan jauh hari sebelum acara dilakukan.

Keceriaan terpancar diwajah ribuan umat, mereka dengan sabar antri mengikuti para bhikkhu. Selanjutnya mereka meletakkan satu per satu Bunga Teratai ke dalam kolam. Dalam sekejap, dermaga pun dihiasi lilin-lilin kecil yang terlihat indah.

Seusai prosesi pelepasan Bunga Telatai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan hiburan.

Perlu diketahui, makna Siripadapuja itu sebagai symbol penghormatan kepada telapak kaki sang Buddha. Siripada berarti telapak kaki. Jadi upacara Siripada untuk menghormati telapak kaki sang Buddha.


Menurut Sekretaris Yayasan Jaya Manggala, dr Erdianto, mengatakan bahwa kegiatan itu telah terencana dengan baik. “Kita telah mempersiapan jauh-jauh hari sebelumnya datangnya hari Kathina, berbagai kekurangan, kita lengkapi. Peserta yang ikut dalam perayaan kali inipun cukup meningkat, yakni sekitar 2.000 orang, bahkan tahun ini ada beberapa daerah sengaja datang ke Jambi, seperti dari seperti umat dari Jakarta, Bogor, Medan dan Palembang. Tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya karena tahun ini cuaca sangat mendukung,“ ungkapnya.

Sejarah Siripadapuja berawal saat Dewa Naga mengunjungi sang Buddha dan bertanya, “Apabila YM sang Buddha telah Parinibbana (tingkat pencerahan tertinggi yang tidak akan mengalami terlahir kembali), kepada siapa saya menghormati dan bagaimana bentuk penghormatan kami kepada sang Buddha.? Kemudian sang Buddha meninggalkan jejak kaki-Nya di tepi Sungai Namatha, sebagai bentuk atau objek untuk menghormati sang Buddha bila beliau Parinibanna dalam bentuk materi, yaitu berupa lilin, dupa, dan bunga yang dihanyutkan ke sungai atau air sebagai penghormatan kepada sang Buddha. Upacara itu dinamakan upacara Siripada. Sampai sekarang tradisi tersebut masih tetap dilestarikan umat Buddha.

Selain untuk menghormati dan mengikuti jejak kaki sang Buddha, upacara dimaksudkan untuk mendoakan keselamatan negara dan bangsa dari segala bencana alam serta roda pemerintahan dapat tetap berjalan lancar tanpa halangan maupun rintangan.

Pada kesempatan tersebut umat Buddha yang hadir turut berdoa agar Tanah Air Indonesia tetap aman dan masyarakat dapat hidup rukun berdampingan.

“Satu per satu teratai dihanyutkan, gahaya lilin gemerlap menyinari sekitar danau diiringi wangi cendana mengharumkan suasana... Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, Sadhu Sadhu Sadhu.” (Romy)