Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2011

Budaya Jepang di Tengah Penderitaan Gempa dan Tsunami

Kondisi dan penderitaan yang dialami warga Jepang pasca gempa dan tsunami masih belum menentu. Setelah diguncang gempa dahsyat 9 Skala Richter, tsunami setinggi 10 meter, dan kini mereka harap-harap cemas menunggu redanya krisis nuklir. Kini malah dari sejumlah informasi di sana diberitakan bahwa sejumlah reaktor yang ada di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima mungkin sudah rusak. Merujuk pada uap radioaktif yang telah menyebar, Juru bicara pemerintah Jepang malah mengatakan tingkat radioaktif mencapai 10 “millisievert” per jam.
Data tentang korban terus bertambah dan diperkirakan ribuan orang telah tewas. Jutaan lainnya kini terlunta-lunta. Mereka bertahan hidup tanpa rumah, kekurangan air, kekurangan pangan dan obat-obatan. Tapi ada satu hal yang menarik dari kondisi bencana di Jepang ini, yaitu tidak adanya pemandangan penjarahan bahan makanan oleh korban bencana di sana, baik pada toko-toko yang ada ataupun supermarket. Padahal dalam berbagai bencana di sejumlah negara, penjarahan kerap terjadi. Usai gempa dahsyat di Haiti dan Cile, usai banjir besar di Inggris 2007, dan usai badai Katrina di Amerika Serikat. Di empat negara ini, seluruh warganya menjarah bahan pangan untuk bertahan hidup. Dan penjarahan makanan ini tidak terjadi di Jepang.

Sepertinya kita, bangsa Indonesia harus belajar banyak dalam urusan ini pada bangsa Jepang. Walau did era penderitaan akibat bencana yang sangat besar, budaya Jepang yang taat aturan dan disiplin tetap berlaku di sana. Bahkan yang luar biasa, sejumlah supermarket yang masih tetap buka justru menurunkan harga bahan makanannya! Bukan menaikkan dan mengambil untung. Sejumlah mesin penyedia makanan dan minuman otomatis malah dibuka secara gratis. “Rakyat bekerja sama untuk selamat semuanya,” kata sejumlah orang di sana.

Budaya ini benar-benar sudah tertanam begitu dalam di alam bawah sadar orang Jepang. Sehingga tetap saja nilai-nilai ini berlaku dan berjalan dalam kondisi apapun, termasuk di tengah kepungan penderitaan akibat bencana yang terjadi. Perlu kita ketahui bersama, bahwa budaya Jepang memang sangat berbeda dengan budaya negara lain. Mereka menomorsatukan harga diri, kehormatan, dan martabat. Warga Jepang tidak melihat bencana ini sebagai kesempatan untuk mencuri apapun. Kita warga Indonesia harus belajar bagaimana bisa berbudaya seperti mereka. Orang Jepang juga sangat disiplin dan penuh kebanggaan atas negaranya. Secara sosiologis, ini dimungkinkan terjadi akibat adaptasi nilai yang mereka buat. Bahwa masyarakat dalam jumlah yang besar harus hidup di tanah yang sangat terbatas. Mereka harus memiliki keteraturan yang sangat tinggi.

Sikap Umum Media & Pemerintah Jepang
Gempa dan tsunami ini merupakan gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia. Dan tentu saja kepanikan tidak bisa disembunyikan dari seluruh wajah warga Jepang. Ribuan orang galau hatinya, ada yang menangis serta tak tahu harus berbuat apa. Dan bila kita berkaca pada kejadian di tanah air kita (Indonesia) sepertinya sesuau hal yang wajar bila kemudian TV-TV dan media kita memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan.

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini di Jepang? dari hari pertama bencana, TV-TV di sana tak satupun memperdengarkan lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun mereka. Terus tentang pengumuman tentang rekening dompet bencana alam-pun ternyata tak satupun TV yang memuatnya. Apalagi kemunculan video klip tangisan anak negeri yang biasanya kalau di Indonesia biasa diputar berulang-ulang setiap hari. Ternyata di Jepang, ketiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana dan video klip tangisan anak negeri) sama sekali tidak muncul dan disiarkan, apalagi diputar berulang-ulang.

Yang ada di TV-TV Jepang justeru adalah hal-hal seperti dibawah ini :

1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada

2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah Tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)

3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana

4. Tips-tips menghadapi bencana alam

5. Nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam

6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana

7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)

8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati

9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :*ada yang nyari istrinya, belum ketemu-ketemu, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/03/16/

Senin, 13 Desember 2010

Sumpit, Salah Satu Kehebatan Budaya Tionghoa

Sumpit adalah peralatan makan yang diciptakan oleh orang Tionghoa. Sumpit digunakan untuk menjepit makanan dan memasukkannya ke dalam mulut. Sumpit kebanyakan terbuat dari bambu, namun belakangan juga dibuat dari berbagai macam bahan, seperti: emas, gading, plastik dan lain-lain.
Sumpit merupakan karya ilmiah besar yang patut dibanggakan di dalam sejarah peradaban manusia. Orang Tiongkok di masa Chunqiu dan Zhanguo sudah menggunakan sumpit. Dua batang yang kelihatannya simpel ini, telah dengan pintarnya menerapkan teori keseimbangan di dalam ilmu fisika. Sumpit merupakan perpanjangan jari tangan manusia. Sumpit tidak takut makanan yang panas, makanan beku, sungguh adalah ciptaan yang hebat.

Orang Barat kira-kira abad ke-16 dan 17 baru menciptakan pisau dan garpu. Namun pisau dan garpu bisakah disamakan dengan sumpit? Saat kita menggunakan sumpit, ada 80 lebih sendi dan 50 buah otot yang sedang bergerak, sekaligus berhubungan dengan sistem saraf. Maka, makan menggunakan sumpit dapat melatih kelincahan tangan, serta kemampuan otak.

http://www.meandconfucius.com/2010/11/sumpitsalah-satu-kehebatan-budaya.html

Sabtu, 27 November 2010

Seminar Budaya Jambi "International Seminar on Jambi Heritage"

JAMBI – Salah satu budaya dan sejarah Jambi dibahas selama tiga hari, tanggal 26 sampai 28 Nopember 2010. acara ini berlangsung dalam kegiatan International Seminar on Jambi Heritage.
Peresmian event itu berlangsung di Muara Bulian Room, Lantai III Wiltop Hotel, Jalan Sultan Thaha Jambi, Jumat (26/11) malam mulai sekitar pukul 21.00.Sebelum itu sejak pukul 19.30 berlangsung acara ramah tamah serta santap malam di Sky Cafe lantai yang sama.

Seminar ini sebagian besar waktunya memang mengambil tempat di Hotel Wiltop. Namun, pada hari kedua dan ketiga, para peserta seminar akan mengikuti acara di luar hotel antara lain jamuan malam di Rumah Dinas Gubernur Jambi, kunjungan ke Candi Muaro Jambi.

Wakil Gubernur Fachrori Umar, yang datang mewakili Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, membuka acara tersebut secara resmi. Dia berharap seminar ini dapat menghasilkan rekomendasi bagi upaya menjadikan Candi Muaro Jambi sebagai warisan dunia.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jambi, sekaligus sebagai Ketua Panitia, Didy Wurjanto, mantan BKSDA Provinsi Jambi, menyatakan dalam laporannya bahwa seminar ini antara lain memang memiliki dua tujuan utama. Pertama menjadikan Candi Muara Jambi sebagai Warisan Budaya UNESCO, yang kedua menjadikan pula fosil hutan di Merangin sebagai calon taman Bumi atau geopark.

"Candi Muara Jambi sudah terdaftar di UNESCO dengan register 4565 sejak tiga tahun lalu, "kata Didy. Namun, lanjut Didy, pihaknya tidak akan berpuas diri saja dengan kondisi ini.Akan diupayakan sejumlah langkah percepatan mencapai status warisan dunia.Di samping itu akan tetap dijalankan upaya-upaya pelestarian agar warisan-warisan ini.

Dalam seminar ini hadir sejumlah pembicara antara lain Marzuki Usman (mantan Menteri Pariwisata Seni dan Budaya, sekaligus Ketua Masyarakat Peduli Candi Muara Jambi), Dr Elizabeth Inandiak (jurnalis, penulis dan pemerhati budaya Indonesia asal Perancis), Prof Masanori Nagaoka.

Pemerhati budaya dan sejarah Jambi, Fachrudin Saudagar, menyambut baik acara ini. Ini dikatakan Fachrudin kepada wartawan di sela-sela acara pembukaan.

"Saya berharap acara ini dapat menumbuhdayakan kebanggaan masyarakat Jambi terhadap jatidirinya," kata Fachrudian. Dia berharap acara ini dapat meningkatkan perhatian masyarakat terhadap budya dan pariwisata Jambi seperti Seminar Budaya Melayu Kuno pada 1992.(tim)

http://ayojambi.com
http://banyurawa.com
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://media-nusantara.blogspot.com/
http://multmedia.multiply.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://komunitas-jambi.blogspot.com/
http://multi-video.blogspot.com/
http://youtube.com/my_videos
http://videoku.tv/Multimedia/

Senin, 22 November 2010

Ketika Seni-Budaya Tionghoa Bangkit

Runtuhnya rezim Orde Baru telah menumbuhkan kembali pergelaran publik untuk seni budaya khas warga Tionghoa di Tanah Air, termasuk di Kalimantan Barat.
Berbagai kesenian etnis Tionghoa kini dapat dengan mudah digelar dan disaksikan masyarakat, terutama pada saat perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh.

Hampir di seantero wilayah provinsi, khususnya di kota Pontianak, Singkawang, Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya, atraksi kesenian pada saat dua perayaan penting itu berlangsung secara meriah dan menjadi bagian penting peristiwa budaya daerah.

Di antara atraksi seni yang dipastikan tampil adalah Festival Naga dan Barongsai, yang mendominasi pesta hiburan rakyat, yang digelar di jalan-jalan kota dan menjadi daya tarik wisata bernuansa berbeda.

"Berbagai seni budaya etnis Tionghoa menjadi bagian kebudayaan yang plural di provinsi ini. Karena itu harus selalu kita lestarikan dan tetap terjaga bahkan terus berkembang hingga saat ini," kata Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kubu Raya Lim Tao Hong.

Menurut Lim, sebenarnya tidak hanya Imlek dan Cap Go Meh yang dirayakan warganya. Ada beberapa tradisi lain yang masih dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Tionghoa di Kubu Raya, seperti Tradisi Bunga Mei Hua untuk menyambut Tahun Baru Cina.

Lim menjelaskan, di Tiongkok dikenal terdapat empat musim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Tahun Baru Imlek datang bersamaan dengan musim semi, maka dulu dikenal dengan istilah Festival Musim Semi (Kuo Chun Ciek).

"Bunga Mei Hwa adalah pertanda datangnya musim semi. Itulah sebabnya terdapat tradisi di masyarakat Tionghoa, menggunakan bunga ini sebagai hiasan di rumah ketika Imlek tiba, sehingga terkesan suasana yang sejuk, nyaman dan indah," katanya.

Kemudian, Tradisi Jeruk Bali. Buah jeruk Bali yang disajikan setiap hari raya Imlek mempunyai kisah dan makna tersendiri.

Dalam bahasa Tionghoa, jeruk Bali disebut Jik yang juga berarti selamat, sehingga timbul ungkapan Mandarin Tah Jik , artinya besar selamat atau amat selamat.

Buah jeruk Bali biasanya diletakkan di atas meja ruang tamu. Buah yang dipilih terutama yang sepasang atau lebih, terutama yang memiliki daun di dekat buahnya.

"Jeruk bali tersebut ditempeli kertas merah dan juga disajikan di meja altar dekat tempat sembahyang sampai hari Cap Go Meh," katanya.

Salah satu kue khas perayaan tahun baru Imlek adalah kue keranjang. Menurut kepercayaan zaman dahulu, rakyat Tiongkok percaya bahwa anglo dalam dapur di setiap rumah didiami oleh Dewa Tungku, dewa yang dikirim oleh Yik Huang Shang Ti (Raja Surga) untuk mengawasi setiap rumah dalam menyediakan masakan setiap hari.

Setiap tanggal 24 bulan 12 Imlek (enam hari sebelum pergantian tahun), Dewa Tungku akan pulang ke Surga untuk melaporkan tugasnya. Maka untuk menghindarkan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi rakyat, timbullah gagasan untuk menyediakan hidangan yang menyenangkan Dewa Tungku.

Seluruh warga kemudian menyediakan dodol manis yang disajikan dalam keranjang, disebut Kue Keranjang.

Kue Keranjang berbentuk bulat, mengandung makna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. "Kue Keranjang disajikan di depan altar atau di dekat tempat sembahyang di rumah," papar Lim.

Sedangkan untuk Tradisi Barongsai dan Naga, berdasarkan informasi yang didapatnya, Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara sekitar tahun 420-589 Masehi.

Kesenian Barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad 17, ketika terjadi migrasi besar dari China Selatan.

"Konon naga adalah binatang lambang kesuburan atau pembawa berkah. Binatang mitologi ini selalu digambarkan memiliki kepala singa, bertaring serigala dan bertanduk menjangan. Tubuhnya panjang seperti ular dengan sisik ikan, tetapi memiliki cakar mirip elang," terang Lim.

Sedangkan singa dalam masyarakat China merupakan simbol penolak bala, maka tarian Barongsai dianggap mendatangkan kebaikan, kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan. Tarian Barongsai dilengkapi replika naga (liong), singa dan qilin (binatang bertanduk).

Tetapi tidak semua perkumpulan memainkannya. Kebanyakan hanya tarian singa saja dengan alasan tarian singa dianggap lebih mudah dan praktis dibawakan di lokasi yang tidak luas. Atraksi topeng singa hanya membutuhkan dua orang pemain.

Seni bela diri menjadi kunci permainan ini sehingga banyak pemainnya berasal dari perguruan kungfu atau wushu. Gerakannya berciri akrobatik seperti salto, meloncat atau berguling.

Daya Tarik Wisata

Untuk melestarikan budaya-budaya tersebut, MABT dan Dinas Pariwisata setempat telah berupaya untuk mengumpulkan beberapa perkumpulan kesenian warga Tionghoa untuk dilakukan pembinaan.

"Pelestarian dan pengembangan berbagai cabang seni tidak dapat disamakan dengan melestarikan warisan benda-benda yang tidak dapat bergerak, ia hidup dan berkembang dalam komunitas masyarakat dan ajang budaya yang melingkupinya," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalbar Yusri Zainudin.

Karena itu, seni dan budaya etnis Tonghoa menjadi bagian atraksi wisata khas Kalbar yang dijaga kelestariannya, tambahnya.

Pada tahun 2002 saat perayaan Imlek 2533, Pemprov Kalbar sudah melakukan suatu event pawai budaya Cap Go Meh yang di ikuti Sembilan etnis yang ada di Kalbar.

"Kita mengharapkan, dari kebersamaan di bidang seni budaya ini semakin mengikat rasa kebersamaan antaretnis yang sudah terjalin selama ini," ujar Lim Piang Piang, salah satu tokoh masyarakat dari etnis Tionghoa di Sungai Raya.

Yang membanggakan, menurut Lim Piang Piang, dalam kegiatan tersebut, para wisatawan datang ke Kota Pontianak, tidak hanya dari dalam negeri, namun juga dari luar negeri.

Ia mngaku optimistis, jika kegiatan tersebut terus dilakukan secara berkelanjutan, akan menjadi salah satu objek pariwisata yang menjanjikan di Kalbar.

Terlebih melihat komposisi masyarakat Tionghoa yang cukup besar, serta di dukung berbagai fasilitas yang ada, jelas kegiatan pawai budaya tersebut dapat menjadi agenda pariwisata yang dapat mendongkrak perekonomian masyarakat.

"Tentunya hal tersebut dapat dilakukan dengan dukungan dari semua pihak, dan komitmen bersama," jelas Lim.

http://oase.kompas.com/read/2010/11/22/10060987/