Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Agustus 2014

Jepang Bebaskan Visa untuk WNI Mulai Januari 2015



JAKARTA, KOMPAS - Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengumumkan kabar gembira yang dibawa rekan sejawatnya, Menlu Jepang Fumio Kishida, saat keduanya bertemu di kantor Kemlu, di Pejambon, Jakarta, Selasa (12/8/2014).
Kabar gembiranya, Pemerintah Jepang telah memutuskan memberi fasilitas bebas visa bagi warga negara Indonesia yang akan berkunjung ke sana. Kebijakan ini tentunya akan diikuti pula oleh Indonesia pada waktunya, yang akan memberikan fasilitas sama bagi warga negara Jepang,” ujar Marty.

Seusai pertemuan, Marty menyebut, fasilitas bebas visa itu mulai diberlakukan oleh pihak Jepang per Januari tahun 2015. Hingga saat ini, kata Marty, Indonesia baru menerapkan kebijakan bebas visa kepada setidaknya 13 negara, sembilan di antaranya adalah sesama negara anggota ASEAN.

Dengan kebijakan pembebasan visa dari pihak Jepang itu, lanjut Marty, tentunya pihak Indonesia juga akan menyiapkan kebijakan sama bagi warga negara Jepang.

Seperti diketahui, selama ini ada empat macam rezim kebijakan pemberian visa yang berlaku.

Pertama adalah pemberian visa dengan terlebih dahulu membutuhkan visa panggilan (calling visa). Kedua, pemberian visa melalui proses permohonan biasa. Ketiga, pemberian visa saat kedatangan (visa on arrival). Keempat, pembebasan visa.

Potensi wisata

Saat ditanya apakah pemberlakuan bebas visa kepada warga negara Jepang juga akan mulai berlaku pada waktu yang sama, per Januari 2015, Marty mengaku alangkah baiknya jika hal itu juga bisa dilakukan secara sinergis.

”Apalagi, melihat potensi wisatawan luar negeri dari Jepang yang tinggi,” tambah Marty. Perkembangan wisata Indonesia-Jepang juga meningkatkan penerbangan kedua negara. (DWA)

http://travel.kompas.com/read/2014/08/13/1633001/
* www.ayojambi.com/

Sabtu, 26 Maret 2011

Sudah 10.000 Orang Tewas

KOMPAS.com — Data terkini dari Kepolisian Jepang menunjukkan sudah 10.000 orang tewas akibat gempa bermagnitud 9,0 yang disertai tsunami pada Jumat (11/3/2011) lalu. Kemudian, sebagaimana warta Kyodo, AP, dan AFP pada Jumat (25/3/2011), lebih dari 17.440 orang masih dinyatakan hilang dan 2.775 orang luka-luka.
Masih ada sekitar 250.000 orang kehilangan tempat tinggal, kekurangan makanan, air minum, dan tempat penampungan. Paling tidak 18.000 rumah hancur dan 130.000 rumah rusak berat.

Walaupun mengalami kerusakan akibat tsunami, 12 dari 15 pelabuhan di kawasan timur laut Jepang sudah mulai berfungsi lagi.

Sementara itu, di PLTN Fukushima yang rusak, para petugas melanjutkan upaya mereka menemukan sumber kebocoran yang menimbulkan kekhawatiran pencemaran makanan dan air minum. Mereka berharap dapat segera menghidupkan lagi generator agar peralatan pendingin di PLTN itu bisa berfungsi kembali. Kamis kemarin, dua petugas dilarikan ke rumah sakit karena terpapar radiasi tingkat tinggi.

http://internasional.kompas.com/read/2011/03/25/1809558/

Senin, 21 Maret 2011

Bangsa Jepang, Bangsa Pembelajar

TOKYO, KOMPAS.com — Sekalipun dalam kondisi krisis akibat gempa bumi dan tsunami, disusul radiasi nuklir akibat bocornya PLTN Fukushima Daiichi, masyarakat Jepang menunjukkan kebersamaan dan kekuatan karakter untuk bangkit kembali. Sikap itu berangkat dari kemauan melakukan otokritik atas apa yang sudah dipersiapkan dan apa yang seharusnya dilakukan pada masa depan.
Berbeda dengan Jepang, saat bencana mendera Indonesia, seperti gempa, tsunami, dan letusan gunung berapi yang susul-menyusul dalam enam tahun terakhir, terlihat betul kelemahan bangsa ini, dari ketidaksiapan infrastruktur, kacaunya manajemen bencana, hingga penjarahan oleh masyarakat.

Kekeliruan itu terus berulang hingga gempa dan tsunami terakhir melanda Mentawai serta Gunung Merapi meletus, akhir tahun 2010 lalu.

Bahkan, negara maju lain, seperti Amerika Serikat, terbukti tidak sekuat Jepang saat menangani badai Katrina. Penjarahan terjadi di wilayah Louisiana setelah badai terjadi.
Pakar bencana dan gempa Jepang yang ditemui wartawan Kompas Ahmad Arif setelah gempa dan tsunami mengakui, bencana kali ini melampaui perkiraan dan antisipasi yang telah dilakukan. Namun, mereka yakin mampu belajar dari bencana ini untuk bersiap diri lebih baik mengantisipasi bencana berikutnya.

Teruyuki Kato, profesor gempa dari Earthquake Research Institute The University of Tokyo, mengatakan, banyaknya korban yang jatuh dalam gempa bumi dan tsunami terjadi karena pemerintah dan ilmuwan gagal mengantisipasinya.

”Kami sudah menerapkan sistem pencegahan tsunami, juga pendidikan kepada masyarakat agar waspada bencana. Ternyata bencananya lebih besar dari perhitungan,” katanya.

Kato mengatakan, para ilmuwan di Jepang sudah memperkirakan terjadi gempa bumi di sekitar Miyagi. ”Perkiraannya terjadi dalam 30 tahun ini dengan kemungkinan 99,9 persen. Kekuatan gempanya diperkirakan hanya 7,4 skala Richter dengan tsunami maksimal 6 meter,” ujarnya.

Karena itu, Pemerintah Jepang telah membangun tanggul di sepanjang pantai dengan ketinggian 10 meter. Ia menambahkan, ”Namun, tsunaminya ternyata lebih besar. Kami harus belajar lebih banyak lagi ke depan.”

Semangat untuk mengoreksi kesalahan dan membangun lebih baik disampaikan Yozo Goto, ahli gempa di universitas yang sama. Gempa Kobe tahun 1981 membuat Pemerintah Jepang menetapkan standar bangunan tahan gempa hingga skala 6 MMI.

Dari pengalaman itu, gempa pekan lalu hampir tidak merusak bangunan dan infrastruktur jembatan, bahkan rel kereta api. ”Yang jadi masalah sekarang, tsunami. Sekuat apa pun bangunannya, kalau kena tsunami, akan terlewati dan bisa roboh. Ini tantangan ke depan,” kata Goto.

Yamamoto Nobuto, profesor di Departemen Politik Keio University, Tokyo, mengatakan, Pemerintah Jepang sebenarnya tak siap dan terlambat mengatasi bencana ini. Penyaluran bantuan kurang baik. Sepekan setelah bencana, distribusi bantuan masih tersendat. Namun, warga Jepang di pengungsian sangat kuat dan tidak mengeluh.

”Masyarakat di pedesaan, khususnya di utara, seperti Tohoku, punya rasa memiliki komunitas yang kuat. Saya lihat tayangan di televisi, ada kakek-kakek di pengungsian yang membuat sumpit karena ingin berbuat sesuatu untuk kepentingan bersama. Intinya, masyarakat tidak akan menuntut banyak,” paparnya.

Di beberapa titik pengungsian di Kesennuma, Miyagi, nyaris tak ada keluhan dari para pengungsi sekalipun mereka dalam kondisi sulit, misalnya tak ada pemanas di tengah suhu di bawah nol derajat celsius. Mereka bersikap tenang dan antre dengan tertib.
Nobuto menambahkan, media massa di Jepang memiliki peran penting membangun karakter bangsa. Saat ada bencana besar, seluruh jam tayang iklan di televisi dibeli pemerintah untuk menyiarkan layanan masyarakat perihal bagaimana seharusnya berbagi dan berbuat baik.

Pendidikan karakter
Bambang Rudyanto, profesor di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Wako University, mengungkapkan, karakter masyarakat Jepang terbentuk dari kebiasaan sehari-hari yang dipelajari dari komunitasnya. Untuk pendidikan dasar, mereka lebih mementingkan pembentukan karakter dibandingkan dengan kognisi.

Nilai tradisional juga dipegang teguh, misalnya ajaran bushido. Mereka diajari untuk bersifat kesatria.

http://internasional.kompas.com/read/2011/03/22/07373026/

Jumat, 18 Maret 2011

Budaya Jepang di Tengah Penderitaan Gempa dan Tsunami

Kondisi dan penderitaan yang dialami warga Jepang pasca gempa dan tsunami masih belum menentu. Setelah diguncang gempa dahsyat 9 Skala Richter, tsunami setinggi 10 meter, dan kini mereka harap-harap cemas menunggu redanya krisis nuklir. Kini malah dari sejumlah informasi di sana diberitakan bahwa sejumlah reaktor yang ada di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima mungkin sudah rusak. Merujuk pada uap radioaktif yang telah menyebar, Juru bicara pemerintah Jepang malah mengatakan tingkat radioaktif mencapai 10 “millisievert” per jam.
Data tentang korban terus bertambah dan diperkirakan ribuan orang telah tewas. Jutaan lainnya kini terlunta-lunta. Mereka bertahan hidup tanpa rumah, kekurangan air, kekurangan pangan dan obat-obatan. Tapi ada satu hal yang menarik dari kondisi bencana di Jepang ini, yaitu tidak adanya pemandangan penjarahan bahan makanan oleh korban bencana di sana, baik pada toko-toko yang ada ataupun supermarket. Padahal dalam berbagai bencana di sejumlah negara, penjarahan kerap terjadi. Usai gempa dahsyat di Haiti dan Cile, usai banjir besar di Inggris 2007, dan usai badai Katrina di Amerika Serikat. Di empat negara ini, seluruh warganya menjarah bahan pangan untuk bertahan hidup. Dan penjarahan makanan ini tidak terjadi di Jepang.

Sepertinya kita, bangsa Indonesia harus belajar banyak dalam urusan ini pada bangsa Jepang. Walau did era penderitaan akibat bencana yang sangat besar, budaya Jepang yang taat aturan dan disiplin tetap berlaku di sana. Bahkan yang luar biasa, sejumlah supermarket yang masih tetap buka justru menurunkan harga bahan makanannya! Bukan menaikkan dan mengambil untung. Sejumlah mesin penyedia makanan dan minuman otomatis malah dibuka secara gratis. “Rakyat bekerja sama untuk selamat semuanya,” kata sejumlah orang di sana.

Budaya ini benar-benar sudah tertanam begitu dalam di alam bawah sadar orang Jepang. Sehingga tetap saja nilai-nilai ini berlaku dan berjalan dalam kondisi apapun, termasuk di tengah kepungan penderitaan akibat bencana yang terjadi. Perlu kita ketahui bersama, bahwa budaya Jepang memang sangat berbeda dengan budaya negara lain. Mereka menomorsatukan harga diri, kehormatan, dan martabat. Warga Jepang tidak melihat bencana ini sebagai kesempatan untuk mencuri apapun. Kita warga Indonesia harus belajar bagaimana bisa berbudaya seperti mereka. Orang Jepang juga sangat disiplin dan penuh kebanggaan atas negaranya. Secara sosiologis, ini dimungkinkan terjadi akibat adaptasi nilai yang mereka buat. Bahwa masyarakat dalam jumlah yang besar harus hidup di tanah yang sangat terbatas. Mereka harus memiliki keteraturan yang sangat tinggi.

Sikap Umum Media & Pemerintah Jepang
Gempa dan tsunami ini merupakan gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia. Dan tentu saja kepanikan tidak bisa disembunyikan dari seluruh wajah warga Jepang. Ribuan orang galau hatinya, ada yang menangis serta tak tahu harus berbuat apa. Dan bila kita berkaca pada kejadian di tanah air kita (Indonesia) sepertinya sesuau hal yang wajar bila kemudian TV-TV dan media kita memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan.

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini di Jepang? dari hari pertama bencana, TV-TV di sana tak satupun memperdengarkan lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun mereka. Terus tentang pengumuman tentang rekening dompet bencana alam-pun ternyata tak satupun TV yang memuatnya. Apalagi kemunculan video klip tangisan anak negeri yang biasanya kalau di Indonesia biasa diputar berulang-ulang setiap hari. Ternyata di Jepang, ketiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana dan video klip tangisan anak negeri) sama sekali tidak muncul dan disiarkan, apalagi diputar berulang-ulang.

Yang ada di TV-TV Jepang justeru adalah hal-hal seperti dibawah ini :

1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada

2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah Tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)

3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana

4. Tips-tips menghadapi bencana alam

5. Nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam

6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana

7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)

8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati

9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :*ada yang nyari istrinya, belum ketemu-ketemu, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/03/16/

Kamis, 17 Maret 2011

Tidak Sendirian

Seorang pemuda memakai kacamata, membagikan “ramen” mie rebus ke beberapa orang di tempat penampungan korban tsunami. Oleh wartawan TV ditanya dari group relawan mana. Pemuda itu menjawab, “Bukan. Volunteer. Saya memang penduduk sini dan pekerjaan saya memang menjual ramen. Rumah dan warung saya juga hilang dan tidak ada lagi. Akan tetapi saya tidak sendirian. Oleh karena itu dalam keadaan sekarang kita bersama-sama melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membangun kembali”.
Bukan tangis dan ratapan yang ditunjukan, tetapi semangat untuk bangkit kembali karena menyadari yang mengalami musibah kehilangan rumah dan pekerjaan bukan dia sendiri.
Dua orang bapak berdiri di atas bukit kecil, memandang kebawah suatu kota kecil yang sekarang sudah tidak ada lagi rumah yang berdiri. Dia menunjukan lokasi rumah dia dulu. Tampak bahwa tidak hanya rumah yang hilang tapi “kota” atau “kampung” semua hilang ditelan tsunami. Semangat tetap tercermin dalam diri bapak-bapak itu karena mereka merasa “tidak sendirian”.

Ada teman saya di Kanada menanyakan : “Jepang kan negara donor, kenapa kok mengumpulkan dana juga dari masyarakatnya?”. Mungkin jawabnya adalah bukan pada jumlah uang yang berhasil dikumpulkan tetapi lebih pada rasa setia kawan atau rasa kebersamaan sebagai satu negara/bangsa sehingga ingin berbuat sesuatu. Rasa bersama inilah yang ada dalam setiap orang jepang. Rasa ini menjadi semangat bagi orang yang ditimpa bencana, sehingga bisa bangkit lagi. Ada juga sempat di muat di kompas.com, mahasiswa atau mahasiswi jepang di Yogya mengumpulkan dana dari orang lewat di jalan ( dengan memakai pakaian jepang). Tentu saja gerakan ini kalau dilihat hasil jumlah tidak banyak, tapi “arti” dari yang dia lakukan itu cukup besar bagi dia sendiri dan bagi bangsanya. Ada rasa kesatuan sehingga tidak merasa sendirian dalam menghadapi bencana.

Pada hari ke-5 setelah gempa, yaitu tanggal 16 Maret 2011, transportasi utama di Tokyo untuk orang bekerja sudah “normal”. Ini juga berkat kerja sama antara TEPCO (perusahaan penyedia listrik), perusahaan kereta, dan Kementrian Transportasi. Memang kekurangan pasokan listrik masih ada. Akan tetapi, pengaruh ke kegiatan utama di perkantoran sedapat mungkin di kurangi supaya roda ekonomi tidak terlalu terganggu.

Berkat kerja sama tiga instansi ini, maka di waktu orang berangkat ke kantor dan pulang ke kantor, jumlah dan jadwal kereta semua normal. Artinya sama seperti sebelum gempa. Dengan demikian, orang berangkat dan pulang kerja seperti biasa. Jumlah kereta yang dikurangi adalah jam-jam tidak sibuk, yaitu jam 10 pagi sampai jam 6 sore (16:00). Suatu langkah penanganan yang juga berlandaskan semangat “tidak sendirian”, tapi bersama-sama mengatasi masalah.

Semangat bahwa “tidak sendirian” ini juga tampak jelas sekali ditunjukan oleh pemain sepak bola asal Jepang, Nagatomo, yang bermain untuk klub eropa Inter Milan. Sebelum pertandingan, bersama-sama semua pemain dan penonton berdoa untuk Jepang. Setelah pertandingan Nagatomo memegang bendera Jepang dan tertulis dalam bahasa Jepang dan juga dalam bahasa Inggris: ”You will never walk alone”. Sementara di layar TV dituliskan dalam bahasa Jepang, “Sora ha tsunagatteiru node ( kimochi ha ) tsunagaru to omoimasu” ( Langit itu bersambungan/tidak terpisah, maka perasaan juga bisa tersambung ).

Ada satu ungkapan yang sudah diajarkan ke anak sejak TK ,SD, dan sampai dewasa yaitu, “chikara o awaseru”, yang berarti kita bersama-sama menggalang kekuatan. Kalau sendirian tidak akan bisa, tetapi kalau bersama2 kita susun kekuatan maka kita akan bisa melakukannya.

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/03/17/tidak-sendirian/

Gempa Jepang di Mata Orang Lokal

Ketika terjadi gempa besar di Sendai hari Jumat lalu, reaksi orang Jepang mungkin beragam. Namun, sebagian besar, boleh dikatakan demikian, tetap saja menampakkan ketenangannya. Dalam sebuah program televisi Jepang pasca-gempa, diwawancarai beberapa orang asing yang punya pasangan orang Jepang. Hampir semuanya merasa heran kenapa pasangan Jepangnya bisa begitu tenang, padahal gempa yang menggoyang Honshu kemarin bukan main-main.
Skalanya 9,0 Magnitudo (M), menurut badan metereologi Jepang, dan 8,9 M, menurut USGS, dengan kedalaman yang cukup dangkal, yakni 24 km dari permukaan kulit bumi. Tetapi, kebanyakan orang Jepang bersikap tenang. Bahkan masih ada yang tetap bertahan di dalam gedung Pachinko ketika saya pulang dari kampus untuk menengok kondisi keluarga saya Jumat sore lalu. Luar biasa!
Bagaimana mereka bisa tenang?

Yasui, seorang mahasiswa pascasarjana di Keio University, mengatakan bahwa orang Jepang merasa tenang karena mereka sudah terbiasa dengan gempa bumi. Tak heran karena pulau Honshu di Jepang sebenarnya terbentuk dari tumbukan dua lempeng tektonik Eurasia dan Amerika Utara. Lalu, terletak pula di perbatasan antara lempeng Laut Filipina dan Pasifik. Ada empat lempeng tektonik yang “menyangga” Jepang. Jadi, menurut Yasui, kemunculan gempa yang sangat sering di Jepang membuat orang Jepang akrab dan biasa dengan gempa. Jadi, itu membuat mereka tidak panik dan biasa-biasa saja.

Ota, seorang penerjemah yang tinggal di kawasan Tokyo, mengatakan bahwa ketenangan orang Jepang barangkali akibat tingginya kepercayaan mereka terhadap konstruksi dan teknologi antigempa dari bangunan tempat tinggal atau tempat bekerja mereka. Selain itu, mereka juga dilatih sejak kecil untuk menghadapi bencana gempa bumi. Jadi, mereka sudah tahu apa saja yang harus dilakukan kalau terjadi gempa. Mereka diajarkan bahwa jika ketika gempa bumi sempat merasa takut, itu artinya gempa buminya tidak berlangsung lama. Namun, gempa jumat kemarin terjadi cukup lama menurut saya. Getaran itu berlangsung paling tidak satu menit.

Karena pernah lama tinggal di Jakarta, Ota pun tidak begitu yakin dengan alasan orang Jepang. Dia pernah mengalami gempa bumi di Jakarta dan Bandung. Itu mulai membuatnya takut. Rasa takut itu kini masih selalu hinggap dalam dirinya ketika terjadi gempa bumi, terlebih lagi pada saat gempa bumi yang baru lalu.

Jika terjadi gempa bumi ataupun bencana alam di Indonesia, biasanya masyarakat langsung cepat tanggap. Ada yang mendirikan posko atau dapur umum. Ada pula yang menjadi relawan dan sebagainya. Lalu, bagaimana dengan di Jepang?

Menurut Yasui dan Ota, sebenarnya masyarakat Jepang juga punya kebiasaan dan pengalaman dalam penanganan gempa dengan membantu langsung atau menjadi relawan. Ota mengatakan bahwa dalam gempa di Kansai dan di Awaji beberapa tahun silam, ada banyak pengalaman orang Jepang yang masuk ke tempat korban gempa dan pengungsian dengan cara sendiri-sendiri. Namun, situasinya justru menjadi kacau. Jadi, berkaca dari pengalaman itu sekarang masyarakat Jepang memilih untuk menunggu sampai situasinya stabil dan aman, baru mereka melakukan sesuatu.

Yasui mengemukakan bahwa tidak dianjurkannya kegiatan relawan dari masyarakat secara langsung, selain hal di atas, juga karena kemungkinan masih adanya bencana sekunder atau berikutnya. Orang yang tidak terlatih tentu justru akan membahayakan diri sendiri apabila menjadi relawan. Kehadiran relawan spontan juga kadang-kadang bisa mengganggu kerja para prajurit beladiri Jepang atau para petugas darurat bencana.

Kemudian, Yasui dan Ota sepakat bahwa dalam distribusi bantuan dan makanan, relawan masyarakat tentu bisa salah sasaran. Misalnya, orang yang sebenarnya sudah dibantu justru diberi bantuan, sementara yang belum dibantu tidak mendapatkan pertolongan sebagaimana semestinya. ”Kalau ada petugas, penyaluran orang dan barang bisa diarahkan ke tempat yang tepat karena adanya koordinasi dan organisasi yang rapi,” kata Ota. Ya, biasanya relawan memang suka berkumpul tanpa sadar karena medan lokasi kejadian gempa tidak selalu bagus aksesnya. Jadi, sulit masuk ke tempat pengungsian yang terpelosok. “Jadi, tahu-tahu semua relawan berkumpul di tempat yang sama,” tambah Ota yang pernah tinggal juga di Vietnam.

Menurut Yasui, selain hal yang telah dikemukakan sebelumnya, kadang-kadang juga sering terjadi konflik kepentingan di antara kelompok relawan atau antar-relawan. Hal ini tentu mempunyai kontribusi negatif bagi penanganan korban bencana alam. Jadi, masuk akal juga kalau relawan dari elemen masyarakat di Jepang umumnya menunggu hingga situasi stabil dan tidak berbahaya lagi. Ketika itulah mereka bisa membantu sesama mereka yang mengalami musibah dengan lebih aman dan efektif.

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/03/13/

Selasa, 15 Maret 2011

Ketangguhan Jepang Memukau Dunia

KETANGGUHAN Jepang menghadapi tekanan tiga bencana besar sekaligus, yakni gempa bumi, tsunami, dan radiasi nuklir, memukau dunia. Reputasi internasional Jepang sebagai negara kuat mendapat pujian luas. Tak adanya penjarahan menguatkan citra ”bangsa beradab”.
Pemerintah Jepang, Selasa (15/3), terus memacu proses evakuasi dan distribusi bantuan ke daerah bencana yang belum terjangkau sebelumnya. Seluruh kekuatan dan sumber dayanya dikerahkan maksimal ke Jepang timur laut, daerah yang terparah dilanda tsunami.

Evakuasi korban tsunami berjalan seiring dengan evakuasi ribuan warga yang terancam terpapar radiasi nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi, utara Tokyo. Prefektur Fukushima juga termasuk salah satu daerah korban gempa dan tsunami yang terjadi pada Jumat lalu.

Televisi, media cetak, radio, dan situs berita online di seluruh dunia telah merilis bencana itu. Hal yang mengagumkan dunia, seluruh kejadian serta momen dramatis dan mendebarkan direkam televisi Jepang detik demi detik, sejak awal gempa, datangnya tsunami, hingga air bah itu ”diam”.

Jepang lalu mengabarkan drama amuk alam yang menyebabkan lebih dari 10.000 orang tewas dan 10.000 orang hilang itu ke seluruh dunia. Meski sempat panik, Jepang dengan cepat bangkit, mengerahkan seluruh kekuatannya, mulai dari tentara, kapal, hingga pesawat terbang. Jumlah tentara dinaikkan dua kali lipat dari 51.000 personel menjadi 100.000 personel. Sebanyak 145 dari 170 rumah sakit di seluruh daerah bencana beroperasi penuh.

Sekalipun kelaparan dan krisis air bersih mendera jutaan orang di sepanjang ribuan kilometer pantai timur Pulau Honshu dan pulau lain di Jepang, para korban sabar dan tertib menanti distribusi logistik. Hingga hari keempat pascabencana, Selasa, tidak terdengar aksi penjarahan dan tindakan tercela lainnya.

Associated Press melukiskan, warga Jepang tenang menghadapi persoalan yang ditimbulkan bencana. Sisi lain yang diajarkan masyarakat Jepang ialah sikap sabar meski mereka diliputi dukacita akibat kehilangan orang-orang terkasih. Mereka sabar menanti bantuan. Pemerintah bisa lebih tenang untuk fokus pada evakuasi, penyelamatan, dan distribusi logistik.

Bencana terbaru adalah bahaya radiasi nuklir akibat tiga ledakan dan kebakaran pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi. Dari enam reaktor nuklir, empat di antaranya telah bermasalah. Jepang belajar dari kasus Chernobyl dan membangun sistem PLTN-nya lebih baik. Pemerintah menjamin tak akan ada insiden Chernobyl di Jepang.

”Perserikatan Bangsa-Bangsa belum mengambil langkah-langkah selama belum ada permintaan. Jepang adalah negara paling siap di dunia (menghadapi bencana),” kata Elisabeth Byrs, juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), kepada Reuters.

Byrs melanjutkan, ”Jepang menanggapi tiga darurat sekaligus, yakni gempa, tsunami, dan ancaman nuklir, dan melakukannya dengan sangat baik.”

Para blogger dan pengguna situs jejaring sosial berbahasa Inggris memuji Jepang sebagai bangsa yang tabah (stoic) dan bertanya-tanya tentang kemampuan bangsa lain, terutama di Barat, jika diguncang tiga bencana besar sekaligus. Mereka memuji Jepang adalah sebuah bangsa yang hebat, kuat, dan beretika.

Profesor Harvard University, Joseph Nye, mengatakan, bencana telah melahirkan Jepang sebagai bangsa soft power. Istilah itu diciptakannya untuk melukiskan Jepang mencapai tujuannya dengan tampil lebih menarik bagi bangsa lain.

Saat bencana dan tragedi kemanusiaan mengundang simpati dari dunia Jepang, citra negara yang tertimpa bencana jarang mendapat keuntungan dari bencana tersebut.

Pakistan, misalnya, menerima bantuan AS dan negara lain saat dilanda banjir bandang tahun lalu. Namun, bantuan individu sangat sedikit, yang disebabkan citra negeri itu di mata dunia. China dan Haiti juga menghadapi kritik atas penanganan gempa bumi tahun 2008 dan 2009.

Menghadapi kebutuhan akan dana rekonstruksi skala besar, Jepang masih menimbang tawaran internasional. ”Meski dilanda tragedi dahsyat, peristiwa menyedihkan, ada fitur-fitur yang sangat menarik dari Jepang,” kata Nye kepada AFP.
”Terlalu dini untuk memprediksi apakah mereka berhasil memulihkan ekonomi. Tetapi, dilihat dari jauh, rakyat Jepang memperlihatkan ketabahan saat krisis. Hal ini berbicara banyak soal Jepang di masa depan,” kata Wakil Direktur Center for Strategic and International Studies Nicholas Szechenyi.

http://internasional.kompas.com/read/2011/03/16/07391145/

Minggu, 13 Maret 2011

Jutaan Orang Tanpa Pangan

Tokyo, Minggu - Jutaan korban tsunami di sepanjang pantai timur Pulau Honshu dan pulau lain di Jepang, Minggu (13/3), dalam kondisi krisis pangan dan air bersih. Bencana yang telah menghancurkan kota dan sumber penghidupan warga itu membuat warga stres, putus asa, sedih, dan kehilangan kepercayaan diri untuk bertahan.
Kondisi tersebut membuat beban penderitaan makin berat. Air mata duka akibat telah kehilangan orang-orang yang dikasihi, baik istri, suami, anak, maupun sepupu, para korban terjebak lagi dalam situasi yang mengancam keselamatan mereka akibat ketiadaan pangan yang memadai. Mi instan dan makanan ringan sudah sangat terbatas karena banyak toko dan pasar swalayan juga hancur diterjang tsunami.

Di sepanjang ratusan kilometer garis pantai timur Jepang setidaknya ada jutaan orang berkerumun di pusat-pusat bantuan darurat pangan. Jumlah pasokan pangan masih sangat terbatas. Sekitar 1,4 juta keluarga kesulitan air dan sekitar 2,5 juta keluarga lagi gelap tanpa pasokan listrik.

NHK melaporkan, ada sekitar 380.000 orang telah dievakuasi ke tempat penampungan darurat. Banyak dari mereka dalam kondisi lemas karena kurang makan.

Di kota Iwaki, warga juga cemas akibat terbatasnya makanan dan bahan bakar. Di kota ini belum ada listrik dan semua toko ditutup. Polisi setempat membantu 90 orang dan memberi mereka selimut dan makanan darurat, tetapi jumlahnya juga terbatas.

Di kota kecil Tagajo, dekat kota pelabuhan Sendai, Miyagi, warga bingung melintasi jalan-jalan penuh dengan mobil hancur, rumah rusak dan rongsokan besi. Warga di sini pun kesulitan makanan dan air bersih.

”Sudah tiga hari ini saya hanya dibekali sepotong roti dan rice ball. Sekarang saya belum mendapat bantuan makanan lagi,” kata Masashi Imai (56), warga Tagajo.

Di Chiba, ratusan korban harus antre di beberapa penampungan air di kota itu. Rembesan air menggenangi sebagian jalan. Beberapa bangunan dan jalanan di kota retak-retak. Sebagian di antaranya rubuh dihantam tsunami. Sekolah diliburkan hingga Selasa depan.

Korban tewas
Mengutip penjelasan seorang polisi, NHK melaporkan, korban tewas khusus di Prefektur Miyagi mencapai sekitar 10.000 orang, dan 10.000 lainnya hilang. Miyagi berpenduduk 2,3 juta orang dan merupakan salah satu dari tiga daerah paling terpukul akibat tsunami di wilayah Tohoku.

”Jumlah korban tewas diperkirakan mencapai 10.000 orang,” kata Takeuchi Naoto, Kepala Polisi Miyagi, kepada NHK.

Jumlah korban tewas itu belum terhitung dengan di prefektur lain seperti Iwate dan Fukushima, dan di Prefektur Ibaraki dan Chiba di wilayah Kanto. Korban tewas diperkirakan telah jauh melampaui angka 10.000. NHK melaporkan, di kota pelabuhan Minamisanriku, yang telah rata dengan tanah, sekitar 10.000 orang hilang.

Laporan resmi Badan Kepolisian Nasional, Minggu, jumlah korban tewas 977 orang dan 739 orang hilang, hampir 2.000 orang terluka. Angka ini tidak termasuk dengan 400-500 mayat yang ditemukan di Jepang timur laut.

Perdana Menteri Jepang Naoto Kan telah memerintahkan militernya untuk meningkatkan personel dari sekitar 50.000 menjadi 100.000 orang untuk membantu evakuasi dan memperlancar proses distribusi makanan darurat bagi korban.

Jepang adalah negara yang paling siap dan masyarakatnya pun terlatih menghadapi gempa. Namun, kali ini, gempa diikuti tsunami, membuat negara itu benar-benar tidak berdaya. ”Saya meminta upaya maksimal untuk menyelamatkan warga sebanyak mungkin,” kata Kan seperti dilaporkan Kyodo News.

Menteri Pertahanan Toshimi Kitazawa mengatakan, 100.000 personel tentara, itu sama dengan 40 persen dari angkatan bersenjata Jepang. Mereka akan ditugaskan selama dua hari. ”Ada begitu banyak orang yang masih terisolasi dan menunggu bantuan,” kata Kitazawa.

Komunitas internasional juga sudah mulai mengirimkan tim bantuan bencana, Minggu, untuk membantu Jepang. AS misalnya menyiagakan 8-10 kapal angkatan lautnya ke Jepang untuk mengangkut bantuan pangan, dan obat-obatan. PBB mengirimkan tim bantuannya untuk mengoordinasikan bantuan.

Ancaman nuklir
Kini muncul lagi ancaman bencana baru, yakni rusaknya reaktor nuklir pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima yang dioperasikan Tokyo Electric Power Co (Tepco). Publik Jepang bahkan mengkhawatirkan dampaknya akan lebih buruk dari bencana Chernobyl.

Sebanyak 180.000 warga Jepang tinggal dalam radius 20 kilometer dari PLTN Fukushima. Akibat kebocoran radiasi pada reaktor Unit 1, ada 160 orang di antaranya dilaporkan telah terkontaminasi.

Sekretaris Kabinet Yukio Edano kepada wartawan, Minggu, mengatakan, setelah terjadi ledakan pada reaktor Unit 1, saat ini Unit 3 juga ”sangat mungkin” bermasalah. Media melaporkan, reaktor pada Unit 2 juga mengalami kebocoran. Televisi CNN melaporkan, atap bangunan pada PLTN itu roboh karena terjadi ledakan.

”Kami tidak bisa langsung memeriksa, tetapi kami mengambil tindakan dengan asumsi kemungkinan terjadi krisis parsial,” kata Edano menjelaskan.

Belum diketahui secara pasti seperti apa dampak ledakan dari reaktor Unit I. Amerika Serikat telah mengirimkan tenaga nuklirnya untuk membantu Jepang.
(AFP/AP/REUTERS/CAL)

http://cetak.kompas.com/read/2011/03/14/02352482/

Jumat, 11 Maret 2011

Gempa Jepang Tewaskan 32 Warga

TOKYO, KOMPAS.com - Gempa bumi besar yang melanda wilayah timurlaut Jepang pada Jumat telah merenggut korban tewas sementara sebanyak 32 jiwa, demikian dilaporkan televisi setempat.
Jumlah korban tewas akibat gempa bumi besar yang melanda timur laut Jepang itu telah mencapai 32 orang, lapor saluran televisi lokal.

Gempa bumi sebesar 8,9 Skala Richter yang berpusat sekitar 373 kilometer dari ibu kota Jepang, Tokyo, menimbulkan tsunami yang menyapu wilayah Miyagi dan Iwate dengan menghanyutkan tempat tinggal dan kendaraan.

http://internasional.kompas.com/read/2011/03/11/17553951/