Tampilkan postingan dengan label Tewas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tewas. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Mei 2011

Korban Luka Bakar Gas Elpiji, Tewas

MADIUN, KOMPAS.com - Satu dari enam korban kebocoran elpiji Pertamina ukuran tiga kilogram di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, tewas setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soedono, Kota Madiun, Senin (9/5/2011).
Korban tewas adalah, Juprianto (23), yang mengalami luka bakar hingga 80 persen, sedangkan tiga korban lainnya masih menjalani perawatan di RSUD dr Soedono Madiun, setelah dirujuk dari Nganjuk pada Minggu (8/5/2011). Adapun dua korban lainnya masih dirawat di Puskesmas Gondang, Nganjuk.

"Korban Juprianto mengalami luka bakar hingga 80 persen dan sudah dinyatakan meninggal dunia. Biasanya, kalau luka bakar sudah sampai lebih dari 50 persen, harapan hidupnya kecil," ujar dokter Spesialis Bedah RSUD dr Soedono, dr Dadik Subiyanto.

Menurut dia, akibat luka bakar yang cukup parah tersebut, respons atau reaksi di tubuh sudah sangat kompleks. Pihak rumah sakit sudah memberikan pertolongan pertama dan perawatan pada korban, namun nyawa korban tidak dapat diselamatkan.

"Kami sudah memberikan cairan dengan volume sesuai luas luka bakar. Obat-obatan antibiotik juga sudah diberikan untuk menghindari infeksi. Namun, korban tak dapat bertahan," kata Dadik.

Selain Juprianto, kebocoran elpiji yang berakibat pada kebakaran ini, juga melanda lima korban lainnya yang masih satu keluarga. Mereka adalah Partiwi (27), Yulianto (25), Yogi (7) yang masih dirawat di RSUD Soedono Madiun, serta dua korban yang dirawat di Puskesmas Gondang adalah Parsini (30) dan Faisol (12). Kesemuanya warga Desa Gondang Kulon RT 5 RW 2, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk.

Kepala Bidang Keperawatan RSUD dr Soedono Madiun, Sumringah, mengatakan, kasus yang menimpa para korban itu sudah dilaporkan ke aparat kepolisian setempat dan PT Pertamina (Persero).

"Infonya, pihak Pertamina yang akan menanggung seluruh biaya pengobatan pasien. Selain itu, kasus ini juga sudah dilaporkan ke kepolisian," kata Sumringah.

Berdasarkan informasi, peristiwa kebakaran yang diduga akibat kebocoran elpiji terjadi pada Minggu (8/5/2011) saat salah satu anggota keluarga mengganti tabung elpiji lama dengan yang baru.

Saat itu, diduga ada kebocoran dan sudah dibawa ke kamar mandi. Namun tiba-tiba api yang berasal dari dapur dengan bahan bakar kayu yang masih satu lokasi dengan rumah menyambar gas yang bocor. Padahal jarak kamar mandi dengan dapur sekitar 12 meter.
Diduga gas sudah menyebar di sekitar ruangan dapur dan tersambar api dari bahan bakar kayu. Hingga, akibatnya, rumah langsung terbakar.

http://regional.kompas.com/read/2011/05/09/19585478/

Sabtu, 19 Maret 2011

Polisi: Korban Tewas-Hilang 18.000

TOKYO, KOMPAS.com — Kepolisian nasional Jepang, Sabtu (19/3/2011), delapan hari setelah gempa besar dan tsunami melanda negara itu, menyatakan, jumlah korban yang dipastikan tewas atau hilang mencapai 18.000 orang.
Ada kekhawatiran bahwa korban tewas jauh lebih tinggi akibat bencana yang menyapu kawasan hunian yang luas di sepanjang pantai Pasifik di Pulau Honshu bagian utara.

Badan kepolisian nasional mengatakan, 7.197 orang telah dikonfirmasikan tewas dan 10.905 resmi terdaftar sebagai orang hilang. Jadi, total korban sebanyak 18.102 orang pada Sabtu pukul 09.00 waktu setempat (atau 07.00 WIB) akibat bencana pada 11 Maret lalu itu.

Harapan untuk menemukan lebih banyak korban selamat di antara puing-puing telah berkurang di tengah cuaca dingin yang melanda timur laut Jepang, dengan salju menutupi sebagian besar wilayah bencana pada awal pekan ini.

Jumlah korban tewas itu telah melampaui jumlah korban akibat gempa berkekuatan 7,2 yang mengguncang kota pelabuhan Kobe di Jepang barat tahun 1995, yang menewaskan 6.434 orang. Gempa pada 11 Maret lalu sekarang merupakan bencana paling mematikan di Jepang sejak gempa besar Kanto tahun 1923, yang menewaskan lebih dari 142.000 orang.

Angka-angka terbaru pihak kepolisian untuk orang hilang itu tidak mencakup laporan-laporan lokal tentang orang-orang yang belum ditemukan di sepanjang pantai yang terkena tsunami. Wali kota kota pesisir Ishinomaki di Prefektur Miyagi, Rabu, mengatakan bahwa jumlah orang hilang di sana mencapai 10.000 orang, lapor Kyodo News.

Sabtu, NHK mengatakan bahwa sekitar 10.000 orang belum ditemukan di kota pelabuhan Minamisanriku di prefektur yang sama.

http://internasional.kompas.com/read/2011/03/19/12522648/

Jumat, 11 Maret 2011

Gempa Jepang Tewaskan 32 Warga

TOKYO, KOMPAS.com - Gempa bumi besar yang melanda wilayah timurlaut Jepang pada Jumat telah merenggut korban tewas sementara sebanyak 32 jiwa, demikian dilaporkan televisi setempat.
Jumlah korban tewas akibat gempa bumi besar yang melanda timur laut Jepang itu telah mencapai 32 orang, lapor saluran televisi lokal.

Gempa bumi sebesar 8,9 Skala Richter yang berpusat sekitar 373 kilometer dari ibu kota Jepang, Tokyo, menimbulkan tsunami yang menyapu wilayah Miyagi dan Iwate dengan menghanyutkan tempat tinggal dan kendaraan.

http://internasional.kompas.com/read/2011/03/11/17553951/

Selasa, 23 November 2010

Seorang Pemuda Tewas Mengenaskan Akibat Kentut

Maksud hati bercanda tapi kebablasan alias keterlaluan, alhasil bukan senang yang didapat malah jadi petaka. Itulah yang dialami Ribut Supriyanto, remaja berusia 17 tahun.
Warga Perumnas Jatiroto Permai, Desa/Kecamatan Jatiroto, Lumajang yang akhirnya tewas di tangan sahabat mainnya, Jefri Ananta, 20, lantaran olok-olok dan tingkah guyonan Supriyanto dianggap keterlaluan.

Kentut membawa maut
Jefri mengatakan, Supriyanto kerap kentut dengan sengaja di depan mukanya dan melontarkan ejekan dengan kata-kata kotor. Awalnya, aksi pembunuhan terhadap Supriyanto sempat dikamuflase oleh Jefri, yang juga teman ngamen korban. Namun, berkat kejelian polisi yang mencurigai cerita Jefri, pembunuhan itu akhirnya terungkap kemarin.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, aksi penganiayaan hingga mengakibatkan korban meninggal dunia itu terjadi di Dusun Sembon, Desa/Kecamatan Jatiroto. Persisnya di sebuah kebun rambutan. Kejadian itu bermula ketika tersangka bermain remi di depan rumahnya. Permainan remi tersebut diwarnai saling ejek dan saling olok. Merasa lelah dan jenuh bermain remi, Supriyanto mengajak Jefri berburu kalong (kelelawar) di sebuah kebun yang dipenuhi tanaman rambutan. Jarak pekarangan itu sekitar 100 meter dari rumah Jefri dan saat itu sekitar pukul 23.00 WIB.

Beberapa orang lain yang ikut bermain remi, memilih tak gabung dan membubarkan diri. Dengan membawa senapan angin dan sebilah pisau, Supriyanto dan Jefri kemudian berangkat menuju tempat perburuan. Tak lama setelah memasuki kebun rambutan, pelaku tiba-tiba menikam punggung, dada, serta tangan korban dengan pisau. Terhitung ada sembilan luka tusuk yang dialami korban.

Mengetahui korban jatuh tidak berdaya, pelaku berteriak minta tolong. Dari kejauhan Rifan, ayah tiri Supriyanto, lamat-lamat mendengar suara minta tolong tersebut. Rifan lantas mendatangi asal suara. Ketika sudah dekat, Rifan terkejut tatkala mengetahui Supriyanto roboh bersimbah darah dan sudah tak bisa berkata-kata. Jefri terus berada di dekat Supriyanto kala itu.

Warga kemudian berdatangan ke tempat kejadian perkara. Tatkala ditanya Rifan dan beberapa warga, Jefri mengaku bahwa temannya itu baru saja ditusuk oleh pencuri rambutan yang berjumlah tiga orang. Lantaran tepergok, begitu cerita karangan Jefri, para pencuri itu menyerang dan menusukkan pisau ke tubuh Supriyanto.

Cerita Jefri sempat memunculkan tanda tanya karena dia sendiri tak terluka sedikit pun. Namun, demi secepatnya menyelamatkan Supriyanto, orangtuanya yang dibantu warga lebih mengurusi Supriyanto, lantas membawanya ke rumah sakit terdekat, Rumah Sakit Umum (RSU) Djatiroto. Jefri juga menyertai ke sana.

Tidak lama dirawat di sana, akhirnya nyawa Supriyanto tak tertolong. Ia mengembuskan napas terakhirnya. Berita kematian Supriyanto akibat `dibunuh pencuri` itu menyebar dan akhirnya didengar polisi. Karena itu, setelah dinyatakan meninggal, jenazah Supriyanto diminta polisi untuk tidak langsung dibawa pulang melainkan divisum dulu di RSUD dr Haryoto, Kota Lumajang.

“Untuk lebih jelas mengetahui penyebab kematiannya,” kata Kasat Reskrim Polres Lumajang, AKP Kusmindar, Kamis (14/10).
Menganggap ada hal-hal yang mencurigakan dari cerita Jefri, polisi secara maraton memeriksa warga Dusun Sembon, Desa/Kecamatan Jatiroto itu. Akhirnya, di hadapan penyidik, Jefri mengakui bahwa yang melakukan penganiayaan hingga membuat korban meninggal adalah dirinya.

“Saya jengkel karena dia sering kentuti dan mengejek saya dengan kata-kata jorok,” kata pelaku di hadapan penyidik.
Menurut AKP Kusmindar, kejengkelan pelaku tampaknya sudah memuncak setelah main remi malam itu. Dalam perburuan kalong, saat Supriyanto lengah, pelaku merebut pisau Supriyanto dan langsung menusuk tubuh korban beberapa kali.
Kusmindar mengatakan, tersangka dikenai pasal berlapis yakni Pasal 351 Ayat 3 KUHP dan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan.

Sementara itu, Kapolsek Jatiroto AKP Mochamad Toha mengatakan, pelaku saat ini ditahan di Mapolsek Jatiroto. “Kami masih terus lakukan pemeriksaan terhadap tersangka,” katanya. Toha mengatakan, korban sehari-hari adalah seorang buruh lepas dan kadang mengamen. Sementara pelaku adalah seorang buruh lepas. Toha juga mengatakan bahwa dari keterangan pelaku diketahui bahwa pelaku ternyata pernah terlibat kasus pencurian kendaraan bermotor dan jambret hingga pernah dihukum dua tahun penjara.

http://unikboss.blogspot.com/2010/10/seorang-pemuda-tewas-mengenaskan-akibat.html