Tampilkan postingan dengan label Jokowi Ahok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jokowi Ahok. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 November 2012

Cara Unik Jokowi Pimpin Simulasi Banjir

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memiliki cara tersendiri dan unik dalam menggelar apel atau pengarahan gubernur. Kesan formal tidak tampak terlihat. Justru yang muncul kesan komunikatif dan santai.
Hal ini tampak apel siaga banjir yang digelar di Monas pada Selasa (6/11/2012) pagi. Jokowi dengan gayanya yang santai, langsung menginstruksikan peserta apel untuk menggelar simulasi daripada harus panjang lebar mendengarkan instruksi yang memakan waktu berjam-jam.

Dalam Apel tersebut, Jokowi meminta beberapa personel dari Tim Reaksi Cepat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Perusahaan Listrik Negara (PLN), Perusahaan Daerah Air Minun (PDAM) Jaya, Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) melakukan simulasi penanganan banjir dan evakuasi korban banjir.

Hanya tujuh menit Jokowi menyampaikan arahan. Setelah itu, dia meminta empat personel tim reaksi cepat Satpol PP untuk maju ke depan melakukan evakuasi korban banjir.

"Saya mau minta tim reaksi cepat Satpol PP empat orang ke depan. Nanti kalau ada banjir larinya secepat sekarang ini ya," kata Jokowi kepada petugas Satpol PP itu. Kemudian, Jokowi langsung memimpin roleplay tersebut.

"Ayo coba, kalau ada banjir di Bukit Duri, kemudian ada korban pingsan di pinggir kali. Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Jokowi kepada empat petugas Satpol PP tersebut.

Kemudian, keempat petugas Satpol PP itu melakukan pertolongan pertama kepada salah satu petugas kebersihan Monas yang berakting menjadi korban banjir Bukit Duri. Setelah itu, korban banjir itu diangkat oleh keempat petugas itu dan ditidurkan di atas trotoar.

Setelah puas 'bermain-main' dengan Satpol PP, Jokowi kemudian meminta dua petugas dari PLN dan dua petugas PDAM Jaya untuk maju ke depan menghadapnya. Dia juga menanyakan apa yang dilakukan PLN dan PDAM Jaya bila terjadi banjir di Kampung Melayu.

"Coba PLN dan PDAM, kalau ada banjir di Kampung Melayu, apa yang akan dilakukan PLN?" tanya Jokowi kepada petugas PLN.

Petugas PLN itu pun kemudian memperagakan dengan berbicara di HT.

"Itu kamu ngapain itu?" tanya Jokowi kepada petugas PLN.

"Sedang di-calling ke wilayah untuk matikan aliran listrik," jawab petugas PLN.

"Kalau digantikan ada ganti gensetnya tidak?" tanya Jokowi.

"Ada gardu bergeraknya, Pak," jawab petugas PLN.

Selanjutnya, Jokowi bertanya kepada petugas PDAM terkait response time PDAM.

"Kalau PDAM apa yang dilakukan kalau banjir? Langsung bawa air atau koordinasi? Berapa menit air datang ke lokasi?" tanya Jokowi.

Petugas PDAM itu menjawab, response time mereka tiba di lokasi adalah sekitar tiga puluh menit. Jokowi pun meyakini PDAM kembali dengan nada sedikit mengancam, namun santai.

"Setengah jam? Bener ya, saya cek betul setengah jam. Saya catet ini. Setengah jam harus sampai di lokasi. Saya catet lho, hati-hati lho ya," kata Jokowi.

Setelah itu, giliran personel Tagana dan Dinas PU DKI dipanggil ke hadapannya. Pertanyaan yang sama pun dilontarkan oleh Jokowi kepada keempat petugas DPU DKI.

"Bagaimana kalau ada banjir?" tanya Jokowi.

"Evaluasi dan mencatat informasi," kata petugas Tagana itu.

Kemudian, Jokowi bertanya kepada Dinas PU DKI dengan pertanyaan yang sama dengan sebelumnya. "Apa yang akan dilakukan saat banjir?" tanya Jokowi.

Petugas Dinas PU DKI menjawab akan melakukan koordinasi. Mendengar jawaban itu, Jokowi terdiam sebentar. Ia pun mengatakan, apabila banjir, petugas itu harus langsung bergerak jangan hanya sekadar mengumpulkan informasi.

"Kalau banjirnya datang tidak usah mengumpulkan informasi. Langsung saja bergerak cepat apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Koordinasi nanti kalau akan memberikan arahan apa yang dibutuhkan. Nanti kalau saya tanya lagi, jangan dijawab koordinasi lagi lho ya," kata Jokowi.

Kemudian, petugas Dinas PU DKI langsung menjawab akan menyediakan pompa.

"Nah, itu jawaban yang dari tadi saya tunggu-tunggu," kata Jokowi yang disambut tawa peserta apel.

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/11/06/21182425/

Rabu, 19 September 2012

Mereka Mengawal Pencoblosan

JAKARTA, KOMPAS.com - Ruangan dengan ukuran ballroom yang lapang dengan penataan cukup mewah itu disebut ruang Andalusia. Entah apa hubungannya dengan wilayah Selatan Spanyol dengan nama serupa yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Islam di Eropa dari abad 8 hingga abad 15. Yang pasti, ruangan yang menjadi bagian dari gedung perkantoran Menara 165, Jalan TB Simatupang Kav.1, Cilandak, Jakarta Selatan, itu sudah disulap menjadi pusat monitor dan operasi Tim Relawan Jokowi-Basuki.
Tak salah pula bila mereka disebut tim "bawah tanah" JB. Pasalnya, selain karena selama ini tim tersebut beroperasi secara rahasia, ruang Andalusia yang difungsikan sebagai Data Center Tim Relawan JB itu terletak di bawah permukaan tanah, di Basement 1 Menara 165.

"Dari ruangan ini kami siap mengawal dan memonitor perkembangan pencoblosan di 15.000 TPS di DKI Jakarta," ujar Koordinator Tim Relawan JB Hasan Nasbi di ruang Andalusia, Rabu (19/9/2012).

150 pemuda dan pemudi berusia mahasiswa dan berseragam kotak-kota terlihat serius mengamati laptop masing-masing mamantau perkembangan lapangan. Mereja duduk berderet membentuk huruf U. Di tengahnya duduk operator server. Di sisi kiri depan ruangan yang mengahadap ke arah utara terdapat layar utama yang cukup besar. Layar tersebut menampilkan update data terbaru maupun perkembangan informasi umum.

"Nanti setiap laporan dari TPS akan langsung kami sajikan di sini, termasuk hasil rekapitulasi," terang Hasan.

Tim Relawan JB menurunkan sekitar enam orang di tiap TPS. Tiga di antaranya akan berbaju kotak-kotak dan bertindak selaku saksi resmi bagi pasangan bernomor urut 3.

Data perhitungan di papan rekapitulasi maupun yang diisi pada lembaran laporan dan ditandatangani oleh para saksi maupun petugas TPS akan didokumentasikan dalam bentuk foto. Gambar tersebut akan dikirim pula ke Ruang Andalusia sebagai data gambar untuk melengkapi bukti hasil pengiriman data perolehan suara yang dilaporkan melalui perangkap telepon seluler.

"Jadi, jangan coba-coba mengutak-atik angka-angka tersebut dalam proses selanjutkan karena kami bunya bukti. Satu suara pun dari warga tak akan kami biarkan terabaikan," tegas Hasan.

Ia memastikan, pihaknya dapat menyajikan hitungan cepat secara paling akurat. Karena semua laporan dari lapangan, di 15.000 TPS akan tersaji langsung dan dapat diamati perubahannya di layar utama. Sebab itu pula, ia menjamin data yang akan mereka sajikan secara real-time itu minus toleransi kesalahan, jauh lebih akurat dibandingkan hitung cepat (quick-count).

"Semuanya data real-time dan tanpa margin of error karena hasil perhitungan di tiap TPS, itu pula yang tersaji di sini. Jadi, ini bukan lagi quick-count tapi data real-count," lanjut Hasan.

Tidak hanya data-data pencoblosan, perkembangan-perkembangan yang terjadi di tiap TPS dapat dipantau dari Ruang Andalusia. Setiap petugas lapangan telah dibekali dengan prosedur operasi standar untuk mengambil tindakan langsung maupun membuat laporan ke pusat data.

"Kertas suara yang rusak atau sudah dicoblos, kotak suara yang tidak kosong, hingga intimidasi atau tanda-tanda kecurangan di tiap TPS akan langsung dilaporkan ke sini," kata Hasan.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadly Zon turut hadir untuk memberikan arahan dalam gladi resik relawan JB. Menurut Fadly, tim ini dibentuk bukan saja untuk membuktikan keseriusan Jokowi-Basuki memenangkan Pilkada DKI Jakarta. Lebih jauh, tim ini bertujuan untuk mengawal proses demokrasi yang bersih dan menjamin hak pilih warga.

Sementara itu, tim sukses JB lainnya Denny Iskandar menambahkan, pembelajaran lain yang diberikan adalah mengenai pemanfaatan dana kampanye secara tepat.

"Dana tidak digunakan untuk membiayai black campaign atau untuk membiayai intimidasi atau provokasi. Dana besar bukan untuk dihambur-hamburkan untuk money politic. Kita gunakan dana untuk menjamin hak pilih setiap warga yang dijamin Konstitusi," tandas Denny.

http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/09/20/06290333/

Rabu, 11 Juli 2012

Jokowi-Ahok Unggul 92 Persen di "TPS Ahok"

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur nomor urut 3 Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama unggul telak sesuai prediksi di TPS tempat Ahok mencoblos.
Sebelum mencoblos di TPS 059 Muara Karang, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (11/7/2012) tadi, cawagub Basuki Tjahaja atau Ahok memperkirakan perolehan suara di TPS tempat tinggalnya akan lebih dari 80 persen.

Hasilnya, justeru pasangan berseragam kotak-kotak itu melebihi target, yaitu mencapai 92 persen jumlah suara. Disebutkan ketua KPPS 059 Darmawan Arifin pasangan Jokowi-Ahok meraih 343 suara dari total 373 DPT yang ikut pencoblosan.

Setelah dikonversikan, jumlah pemilih tersebut adalah 91,95 persen dimenangkan pasangan nomor urut 3 Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama.

Sementara itu diurutan kedua, pasangan nomor urut 1 Foke-Nara meraih 22 suara. Pasangan nomor urut 2 Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria memperoleh 1 suara, pasangan nomor urut 4 Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini memperoleh 0 suara, pasangan nomor urut 5 Faisal Basri-Biem T Benjamien memperoleh 3 suara, dan pasangan nomor urut 6 Alex Noerdin-Nono Sampono memperoleh 4 suara.

Dari 580 orang yang terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT) di TPS 059 Muara Karang, sebanyak 137 dinyatakan tidak hadir dan tidak menggunakan hak suaranya. Di TPS tersebut juga tidak ditemukan kertas suara yang rusak atau dinyatakan tidak sah.

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/07/11/16290259/