Tampilkan postingan dengan label Pemulung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemulung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2016

Pemulung Bersuara Emas


Fu Fandi adalah seorang gelandangan di kota Shenzhen. Perilakunya yang halus dan kemampuannya dalam bahasa inggris sangat kontras dengan kehidupan keras yang dihadapinya .. Dalam kompetisi ini ia harus menampilkan suatu pentas yang akan dinilai juri, agar juri bersedia bertahan selama 100 detik untuk melihat pentasnya .. https://www.youtube.com/watch?v=kpvtAZwFnOE
* www.ayojambi.com/

Kamis, 19 Mei 2016

Inilah Cerita Polisi Pilih Yang Jadi Pemulung dan Tolak Uang SIM

WARTA KOTA, MALANG— Bripka Seladi, anggota polisi di Polres Malang Kota, layak dijadikan teladan. Demi mendapatkan uang sampingan, ia menyambi pekerjaan menjadi pengumpul sampah dan menolak pemberian uang dari warga yang mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM).
Selain bisa mendapatkan uang halal dari pekerjaan keduanya, pria berusia 57 tahun ini juga membantu dalam menciptakan kebersihan lingkungan.

Bripka Seladi memiliki sebuah gudang sampah di Jalan Dr Wahidin, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Uniknya, gudang tersebut tidak terlalu jauh, masih berada di jalan yang sama dengan kantor tempat ia berdinas.

Ketika berdinas menjadi polisi, ia bertugas pada bagian urusan SIM Kantor Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) Polres Malang Kota yang berada di Jalan Dr Wahidin.

Sebelum kantor itu, berjarak sekitar 100 meter, ada sebuah bangunan. Jika dilihat dari luar, tidak terlihat tumpukan sampah. Halaman depan bangunan itu juga terlihat bersih.

Namun, di dalamnya, bau khas sampah menyeruak. Bangunan itu minim penerangan. Tumpukan sampah yang terbungkus ratusan kantong sampah plastik berwarna hitam menggunung.

Sebuah lorong sempit disediakan untuk menuju salah satu ruangan di bagian belakang bangunan itu. Ruangan itu terlihat terang karena atapnya berlubang. Di ruang itulah, Seladi "berdinas" ketika tidak bertugas di kesatuannya.

Ia secara telaten memilah sampah. "Tukang rongsokan," ujarnya terkekeh.

Berbincang dengan Surya, sambil memilah sampah, tidak terdengar nada minder dalam suaranya. Cara bicaranya mantap diselingi humor.

Ia juga menyelipkan humor ketika ditanya nama lengkapnya. "Ya hanya Seladi, sela-selane dadi," katanya kemudian tertawa lebar.

Ya, itulah kehidupan Seladi. Seorang polisi sekaligus pemulung dan pemilah sampah. Seladi menegaskan, pekerjaan sampingannya menggeluti "bisnis" sampah tidak membuatnya menelantarkan pekerjaan utamanya. Ia memilah sampah di luar jam dinas.

Delapan tahun Seladi melakoni pekerjaan ganda ini. Empat tahun pertama, ia memulung sendiri sampah yang hendak dipilahnya.

Bapak tiga anak ini berkeliling kawasan dengan memakai sepeda onthel. Sepeda onthel itu yang menjadi kendaraannya sejak menjadi polisi pada 1977.

Pukul 05.00 WIB, ia berangkat dari rumahnya di Jalan Gadang Gang 6, Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, ke Mapolres Malang Kota.

Ia mengikuti apel, kemudian bertugas mengatur lalu lintas. Setelah mengatur lalu lintas, ia berdinas di Kantor Satpas, mengurusi ujian pencari SIM dan mengurusi administrasi sampai lepas jam dinas. Seusai lepas jam dinas dan berganti baju, ia menggowes mencari sampah.

"Itu sekitar empat tahun saya lakoni. Kemudian, teman saya meminjamkan rumah ini. Ini rumah kosong, saya jadikan gudang. Di sini pula pemilahan dan sortir sampah dilakukan," tutur Seladi.

Proses pemilahan sampah itu melibatkan empat orang, yakni Seladi, dibantu anaknya, Rizal Dimas, dan dua orang yang ia sebut temannya.

Seladi tidak lagi berkeliling memulung sampah. Setelah bertahun-tahun, namanya cukup dikenal. Ia telah memiliki tempat pengumpulan sampah di sekitar Stasiun Kota Baru Malang.

Dari tempat itu, setiap hari terangkut satu mobil pikap sampah.

"Mobilnya beli juga dari hasil sampah ini," katanya.

Sampah-sampah itu kemudian dipilah, apakah jenis botol plastik, kantong plastik, kardus, dan material lain.

Tertarik bisnis sampah

Lalu, kenapa sampah? "Karena saya melihat, ada orang yang mengambil sampah di sekitar kantor saya dinas. Kemudian, saya pikir, ada rezeki di sana. Kalau tidak dipilah, akan banyak sekali tumpukan sampah. Saya lalu melakoninya, sendiri," ujarnya.

Ternyata, memang benar, sampah menjadi salah satu ladang rezekinya. "Meskipun tetap masih banyakan gaji polisi," katanya.

Pendapatan dari sampah menambah penghasilan ekonomi di rumahnya. Ia menyebut tidak banyak. Pendapatan dari sampah sekitar Rp 25.000-Rp 50.000 per hari, jika dihitung per hari.

Pendapatan dari sampah terkumpul seminggu sekali setelah sampah terjual.

"Yang penting halal, ikhlas, dan terus ikhtiar dalam melakoninya. Tidak usah peduli omongan orang. Saya tahu, pasti ada yang mencibir. Kalau ada yang begitu akan saya jawab, 'Saya bisa menjadi seperti kamu, tetapi apa kamu bisa seperti saya'," katanya.

Karena itu, ia mengaku tidak minder ataupun rendah diri meskipun setiap hari berkutat dengan sampah. Ia juga tidak jijik memilah aneka sampah. Ia juga mengaku tidak pernah menderita sakit serius meskipun mencium bau sampah menyengat setiap hari.

Tolak suap

Ia menegaskan, dirinya tidak mau tergiur meskipun berdinas di lahan yang selama ini dikenal sebagai lahan "basah" di institusi kepolisian.

Seladi mengaku tidak mau menerima pemberian orang dengan tujuan tertentu dalam pengurusan SIM. Kalaupun ada yang memberi di rumah, kata Seladi, ia meminta sang anak mengembalikan pemberian itu.

Prinsip hidupnya itu ia ajarkan kepada sang anak. Lulusan SMEA di Malang itu mengajari anaknya, Rizal Dimas (21), etos kerja keras, halal, dan tanpa perasaan minder.

Setiap hari, sang anak membantunya memilah sampah. Lulusan D-2 Informartika Universitas Negeri Malang (UM) itu juga tidak jijik memilah sampah.

"Saya tidak minder memiliki ayah yang polisi, tetapi juga tukang rongsokan. Ini pekerjaan halal. Saya malah bangga karena ayah mengajari tentang kerja jujur," katanya. Ketika masih ada anggapan miring tentang polisi, Rizal berani menyodorkan bahwa sang ayah merupakan polisi yang patut dicontoh.

Karena itu, Rizal tetap ingin menjadi seorang polisi. Tahun ini merupakan tahun ketiganya mencoba peruntungan ke kepolisian.

Ia sudah dua kali gagal ketika mendaftar menjadi polisi. Rizal mengakui, tidak ada bantuan lobi dari sang ayah supaya lolos. Tahun ini, ia kembali akan mendaftar.

Sementara itu, salah satu pekerjanya, Yani, melihat Seladi sebagai sosok yang ulet dalam bekerja. "Bapak itu kalau tidak dinas ya bekerja di sini. Kalau ada tugas ngepam (pengamanan, red), kayak ngepam Arema tanding kemarin, ya tidak bisa nyortir sampah," ujarnya. (Sri Wahyunik/ Surya Malang)

http://wartakota.tribunnews.com/2016/05/19/inilah-cerita-polisi-pilih-jadi-pemulung-dan-tolak-uang-sim

Kamis, 18 April 2013

Kisah Janda Pemulung yang Kuliahkan Dua Anaknya...

AMBON, KOMPAS.com — Matahari belum menunjukkan sinarnya. Namun, Ketrina Lotkeri sudah mulai beraktivitas. Dengan kantong di punggung serta kertas plastik di tangannya, janda 67 tahun itu meninggalkan rumah sederhananya yang berdiri di sebuah lorong bilangan Jalan Dr Kayadoe, kawasan Rumah Tingkat Kudamati, Kota Ambon.
Ibu berambut putih karena termakan usia itu memulai kesehariannya sebagai pemulung. Dipungutinya botol plastik bekas air mineral yang dibuang warga. Mulai keluar dari rumahnya itu, mata Ketrina hanya tertuju mencari botol-botol plastik bekas air mineral berbagai ukuran.

Tanpa alas kaki, pagi tadi, Kamis (18/4/2013), ibu lima orang anak itu berjalan menyusuri setiap lorong hingga jalan raya dan permukiman warga. Semua tempat didatangi Ketrina, termasuk hingga ke Desa Batu Merah, Kota Ambon. Namun, kebanyakan, Ketrina memungut di pusat keramaian, seperti di terminal dan Pasar Mardika.

Terik matahari yang membakar tubuhnya tidak membuat Ketrina menyerah. Dengan hanya menutupi kepalanya dengan topi yang terlihat lusuh, dia tetap terlihat bersemangat.

Berbekal sepotong besi ditangannya, Ketrina memungut setiap botol yang ditemui di jalan sebelum dimasukkan ke karung plastik. Setelah penuh, dia pun memasukkannya ke keranjang yang dipikulnya itu.

Ketrina bukan tanpa sadar menjalani pekerjaan penuh risiko itu. Ia mungkin saja terjangkit penyakit dari sampah-sampah yang diangkutnya itu. Menurutnya, kekhawatiran itu pernah ia pikirkan saat awal-awal terjun sebagai pemulung. Seiring waktu berjalan, ternyata, kekhawatiran itu tidak terbukti.

Ia dan keluarganya hingga kini baik-baik saja, tidak terserang penyakit. "Kalau saya menyerah apa yang saya kerjakan bisa kena penyakit, saya dan anak-anak tidak bisa makan. Saya mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Apa pun bisa dilakukan, yang penting halal," tutur Ketrina.

Setelah hampir seharian memungut, sore harinya, ia baru pulang ke rumahnya dengan keranjang dan karung penuh berisi botol gelas bekas air mineral. Di rumah, Ketrina dibantu dua anaknya membersihkan lagi botol dan gelas plastik hingga siap dijual. Biasanya, setelah sebulan, baru Ketrina menjual hasil memungut tersebut ke tempat pembelian di kawasan Gunung Nona Ambon.

Menurutnya, dalam sebulan, ia bisa mendapat 200 hingga 300 kilogram plastik. Satu kilogram dijual seharga Rp 6.000. "Hasil yang saya peroleh tidak menentu, kadang-kadang kalau bagus sebulan dapat banyak, tergantung rezeki, " katanya.

Katrina gigih berjuang sebagai pemulung, tanpa kenal cuaca, panas, maupun hujan. Aktivitas tersebut ia lakukan tiap harinya, kecuali kalau kesehatannya terganggu. Ia mengaku terkadang punggung belakangnya sering kesakitan. Namun, karena tak cukup uang, ia tak sempat pergi ke rumah sakit. "Punggung saya sering kesakitan, mungkin karena sudah tua, tapi saya tidak pernah ke rumah sakit, hanya beli obat di jalanan saja," ujarnya.

Kegigihan dan ketangguhan Ketrina sebagai pemulung bukan tanpa sebab. Selain agar bisa bertahan hidup, menafkahi kehidupan keluarga, perempuan itu juga ternyata bisa menyekolahkan dua anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Dua anaknya ialah Herudia Lotkeri, saat ini tinggal diwisuda di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ambon, dan Natalia Lotkeri, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.

Bagi Ketrina, anak-anaknya bagaikan mutiara sehingga ia tetap berjuang mencari uang agar mereka lulus mendapat gelar sarjana, sama seperti anak-anak lainnya. "Saya banting tulang, bekerja seperti ini agar anak-anak bisa jadi orang, paling tidak bisa jadi sarjana seperti orang lainnya, mereka kebanggaanku. Saya rela tidak makan yang penting mereka tetap kuliah," tutur Ketrina dengan mata berkaca-kaca.

Untuk menghemat biaya, Natalia harus indekos kamar di Poka dekat dengan kampusnya. Namun, setiap minggu, ia pulang ke rumah untuk membantu ibunya. Ketrina mengakui sering bertemu anak-anaknya saat memulung. Saat bertemu itu, mereka tidak pernah merasa malu kalau ibunya seorang pemulung.

"Anak-anak saya bangga kalau ibunya bisa mencari uang sendiri tidak bergantung orang lain. Meski menjadi pemulung, pekerjaan ini mulia dan yang penting halal," tuturnya.

Ketrina hidup menjanda sejak suaminya, Leonard Lotkeri, seorang petani di Maluku Tenggara, meninggal dunia di saat lima anaknya masih kecil. Sejak suaminya meninggal, ia harus menjadi kepala rumah tangga, membanting tulang menafkahi kehidupan keluarganya. Ia pun memilih merantau dari Maluku Tenggara ke Kota Ambon, 2006 silam.

Begitu tiba di Ambon, ia pun langsung menjadi pemulung. Ia mengakui bebannya sedikit ringan setelah dua anaknya menikah dan seorang lainnya tinggal bersama keluarganya di Maluku Tenggara.

http://regional.kompas.com/read/2013/04/18/16013814/

Sabtu, 06 April 2013

Pemulung Ini Kembalikan Emas Rp 300 Juta kepada Pemiliknya (2)

DENPASAR, KOMPAS.com — Ahmad (17), seorang pemulung di Denpasar, Bali, mendadak jadi buah bibir setelah ia mengembalikan perhiasan emas senilai Rp 300 juta kepada pemiliknya. Ahmad menemukan emas-emas itu dalam tiga kotak yang berada di tumpukan sampah yang diangkutnya (Baca: Pemulung Ini Kembalikan Emas Rp 300 Juta ke Pemiliknya)
Ahmad, yang baru satu bulan mengadu nasib di "Pulau Dewata" ini, berasal dari keluarga petani di Desa Kesambi Rampak, Kapongan, Situbondo, Jawa Timur. Ia putra ketiga pasangan Sali dan Akmauwiyah. Sejak kecil, ia terbiasa hidup prihatin.

Orangtuanya yang hanya bekerja sebagai petani harus membiayai tujuh anak. Keterbatasan ekonomi dan kemampuan finansial pun membuat Ahmad tak bisa melanjutkan pendidikan ke SMA. Ia menamatkan pendidikan terakhirnya di MTs Nurul Hikam, Situbondo.

"SMA berhenti enggak ada biayanya," ujar Ahmad saat ditemui di tempat kerja sekaligus tempat tinggalnya, Bank Sampah Arta Ayu, Denpasar, Sabtu (6/4/2013) siang.

Setelah menamatkan pendidikan menengah pertamanya, Ahmad bekerja serabutan dengan menjadi buruh bangunan. "Apa saja dilakonin yang penting halal," ujar Ahmad.

Sekitar sebulan lalu, ia mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai pemulung di Bali oleh teman sekampungnya. Tanpa pikir panjang, Ahmad langsung menyambut tawaran itu. Gaji yang diterimanya sebesar Rp 700.000 per bulan. Ia cukup bersyukur karena dengan penghasilannya, Ahmad dapat menyisihkan untuk dikirimkan kepada orangtua di Situbondo.

Ia masih berharap dapat meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saat ditanya cita-citanya, Ahmad dengan semangat menjawab, "Kepengen jadi wartawan. Dari SD ditanyain guru cita-citanya apa, pengen jadi wartawan, soalnya suka lihat berita," ungkapnya. (Selesai)

http://regional.kompas.com/read/2013/04/06/14502495/Pemulung.Ini.Kembalikan.Emas.Rp.300.Juta.kepada.Pemiliknya

Pemulung Ini Kembalikan Emas Rp 300 Juta kepada Pemiliknya (1)

DENPASAR, KOMPAS.com — Keterbatasan ekonomi tak membuat Ahmad (17), seorang pemulung di Denpasar, Bali, tergiur dengan barang yang bukan miliknya. Remaja asal Desa Kesambi Rampak, Kapongan, Situbondo, Jawa Timur, ini beberapa hari lalu mengembalikan tiga kotak berisi perhiasan emas senilai Rp 300 juta yang ditemukan di bak truk sampah kepada pemiliknya. Saat Kompas.com bertandang ke tempat kerja sekaligus tempat tinggalnya di Bank Sampah Arta Ayu, Jalan Kendedes, Denpasar, Sabtu (6/3/2013) siang, Ahmad dengan senang hati berbagi cerita tentang pengalamannya tersebut.
"Kalau enggak salah hari Selasa. Di atas (bak truk) sampah ada tiga kotak seperti kotak yoyo isinya emas. Karena takut salah, saya tunggu (simpan) dulu," ujarnya.

Putra ketiga dari tujuh bersaudara pasangan Sali dan Akmauwiyah ini kemudian melaporkan penemuan ini kepada bosnya, pemilik Bank Sampah, Made Raka.

Tak lama setelah kembali ke tempat kerjanya, ada seorang perempuan bernama Desak Putu menanyakan tiga kotak perhiasan emas tersebut. Awalnya, Ahmad dan Made Raka tak langsung memberikan karena belum ada bukti Desak adalah pemiliknya.

"Terus dia sebutin ciri-cirinya satu per satu, benar semua. Akhirnya dikembalikan," ujar remaja lulusan MTs Nurul Hikam, Kesambi Rampak, Situbondo, ini.

Kotak perhiasan itu berisi cincin, kalung, gelang, dan sebuah keris yang nilainya mencapai Rp 300 juta. Atas kejujurannya, sang pemilik perhiasan memberikan sejumlah uang tunai dan bahan pokok kepada Ahmad.

Ketika ditanya, mengapa ia mengembalikan emas bernilai ratusan juta itu, Ahmad mengatakan, "Kita orang sampah, tapi hatinya harus lebih besar."

Remaja yang baru sebulan tinggal di Bali ini mengaku lebih senang mendapatkan kepercayaan dari orang dan saudara baru di tanah rantau daripada harta melimpah yang tidak halal. (Bersambung)

http://regional.kompas.com/read/2013/04/06/1345524/Pemulung.Ini.Kembalikan.Emas.Rp300.Juta.yang.Ditemukannya.1.

Kamis, 21 Maret 2013

Bayar Utang SPP 8 Bulan, Siswa SD Jadi Pemulung

SITUBONDO, KOMPAS.com — Said (12), siswa kelas VI SDN 1 Mimbaan, Kecamatan Panji, Situbondo, Jawa Timur, rela menjadi pemulung untuk membayar tunggakan SPP 8 bulan.
Anak dari pasangan Sigit Widodo dan Nurul Jamilah ini mengaku memulung tidak akan menjadi halangan untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ia menjadi pemulung lantaran keluarganya kurang mampu.
Said memunguti sampah-sampah plastik, seperti botol minuman dan kardus-kardus yang ada di sejumlah tempat sampah. "Saya memungut sampah-sampah tidak merasa terpaksa, saya ikhlas untuk membeli beras dan membayar biaya sekolah yang belum sempat saya bayar selama 8 bulan. Saya malu sekali kepada teman-teman dan bapak guru karena tak mampu bayar SPP sekolah," ujar Said saat ditemui di rumahnya, Kamis (21/3/2013).

Jika lulus dalam UN SD, kata Said, dirinya akan melanjutkan ke SMP Negeri sampai perguruan tinggi. Said bercita-cita menjadi dokter.

Bupati Dadang Wigiarto akan mendukung dan mengawal Said hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Apalagi bila nanti ternyata Said merupakan siswa berprestasi.

Terungkapnya Said sebagai pemulung saat dia memungut sampah di kantor Dinas Pendidikan. Saat itu ada PNS yang menanyakan status Said, ternyata dia masih bersekolah, kelas VI SD. PNS tersebut kemudian melaporkan kejadian itu ke Pemkab Situbondo.

http://regional.kompas.com/read/2013/03/22/02173878/