Tampilkan postingan dengan label Pileg 2014. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pileg 2014. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

Politisi Muda PDIP Sebut Pileg 2014 Paling Memalukan dan Menjijikan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai NasDem beberapa hari silam sepakat untuk mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi atas dugaan kecurangan pemilu legislatif nasional dan adanya laporan pidana Partai NasDem Jawa Barat terhadap KPU Jawa Barat.
Langkah itu ditanggapi positif oleh politisi muda PDIP, Fahmi Habsyi. Menurut Fahmi, Pemilu Legislatif 2014 merupakan yang paling memalukan dan menjijikkan dalam sejarah pemilu pascareformasi.

"Publik terbelalalak matanya atas apa yang disampaikan Ahmad Yani PPP dan artis Anwar Fuadi di acara dialog TV nasional. Betapa kecurangan dan transaksi politik oleh caleg dengan penyelenggara pemilu daerah Sumsel bagaikan transaksi 'rumah bordil' antara 'bromocorah politik' dengan 'pelacur' demokrasi,” ujar Fahmi dalam perbincangan dengan Tribunnews di Jakarta, Jumat (2/5) pagi.

Fahmi menjelaskan wajar saja PDIP menggugat ke MK karena sikap politik Megawati tidak berubah sebagaimana pidato Megawati Soekarnoputri dalam Deklarasi Pemilu Damai 2009 di Bidakara yang masih relevan dengan pemilu 2014 ini.

Pada kesempatan 5 tahun lalu itu Megawati mengungkapkan rekayasa apapun yang dilakukan siapapun adalah perbuatan kriminal politik yang mencederai hak rakyat. Tidak boleh ada politik uang, tidak boleh ada praktik penyuapan.

"Suksesnya pemilu tidak ditentukan siapa yang menang ataupun yang kalah, tapi apakah pemilu digelar dengan fair oleh insitusi penyelenggara yang netral dan tidak diintervensi," tutur salah satu deklarator jaringan pemantau Pemilu UNFREL 1999 ini.

“Jangankan di Sumsel, di kota Depok yang dekat dengan Jakarta saja bertaburan kecurangan Pemilu antar caleg dan partai. Info yang saya terima dari panwas kota Depok sekarang "meledak" di Tapos, Sukmajaya, Pancoran Mas, Cilangkap, Bojongsari, Cipayung," terang Fahmi.

Menurut Fahmi, Depok merupakan ”kotak pandora” kecurangan pemilu nasional dan jual beli suara sistematis. "Jika memang Hadar Gumay dkk serta Bawaslu serius menginvestigasi kecurangan pileg ini, wacana penundaan pelaksanaan Pilpres 2014 yang sekarang merebak tidak perlu ada. Gimana mau pilpres lha wong pileg aja kedodoran, “ ujar Fahmi.

Fahmi menyarankan sebagai wujud nyata reformasi di tubuh Polri agar Kapolri dan Kapolda Metro Jaya memberikan apresiasi positif dan atensi khusus kepada Kapolres Depok yang baru dilantik serta jajaran Intelkamnya.

"Mereka telah menunaikan langkah cepat menyidik tindak pidana Pemilu di Depok yang masif dan tersistematis yang melibatkan caleg dan pengurus partai serta oknum PPK dan PPS, walau belum terlihat tanda-tanda progres positif sebagaimana telah berhasil ditindaklanjuti oleh jajaran kepolisian lainnya di Jawa Barat," tutur Fahmi.

“Saya berani yakin 1000 persen tidak ada satupun anggota DPR terpilih dari Depok yang berani bersumpah di atas kitab suci Injil atau Al Quran di depan jutaan pemirsa TV sebagaimana dilakukan Anwar Fuadi pada acara tiga hari lalu. Jika ada yang berani lakukan itu, berarti KPK dan Kejaksaan tidak perlu lagi mengawasi anggota dewan dalam tindak pidana korupsi di periode mendatang,“ tutupnya.

https://id.berita.yahoo.com/politisi-muda-pdip-sebut-pileg-2014-paling-memalukan-034903029.html
* www.ayojambi.com/

Jumat, 11 April 2014

Caleg PKS Minta Warga Kembalikan 'Uang Politik' karena Tidak Memilihnya

TRIBUNNEWS.COM, NUNUKAN - Muhammad Jafar, calon anggota legislatif (Caleg) untuk DPRD Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tampaknya tak mau rugi.
Caleg nomor urut 7 tersebut, meminta warga mengembalikan uang yang diberikannya sebelum Pemilu 2014 digelar pada Rabu (9/4/2014).

Pasalnya, Jafar sakit hati lantaran warga yang sudah mendapat uang justru tidak memilih dirinya. Alhasil, perolehan suaranya jeblok dan terancam tak dilantik jadi anggota DPRD.

Kaharuddin, satu warga yang menerima "politik uang" dari Jafar menuturkan, dia dan 22 pemilih di TPS 07, Kampung Nelayan, Kelurahan Mansapa, Kecamatan Nunukan Selatan, mendapat uang total Rp 3.450.000.

Tapi, setelah penghitungan suara di TPS 07 selesai, Jafar mengetahui dirinya hanya mendapat dua suara pemilih.

"Dia datang ke rumah, berapa hari sebelum pencoblosan. Dia kasih uang, datang ke rumah mengatakan 'tolonglah cari-carikan suara di sini'. Dia menyerahkan uang untuk 23 suara," tutur Kaharuddin, Kamis (10/4/2014).

Pada 7 April atau dua hari sebelum pencoblosan, J memberikan 23 amplop untuk disebar. Setiap amplop berisi Rp 150.000. "Jumlah keseluruhannya R p3.450.000," ujarnya.

Saat memberikan uang tersebut, tak ada perjanjian antara Kaharuddin dengan J. "Dia cuma ngomong, hanya minta bantu dicarikan suara di perumahan nelayan TPS 07, Mansapa," ujarnya.

Setelah menerima amplop berisi uang, Kaharuddin lalu menyerahkan kepada warga. "Saya menambah uang Rp 600 ribu. Karena ada lagi empat orang warga yang minta. Itu uang saya sendiri, saya ratakan Rp150.000," ujarnya.

Namun, setelah penghitungan, suara yang diperoleh J diketahui hanya dua. "TPS 07 ada dua suara. Ternyata yang diharapkan tidak sesuai," katanya.

Mengetahui jumlah suara tidak sesuai dengan amplop yang dibagikan, J mengirimkan pesan singkat memintai pertanggungjawaban Kaharuddin.

"Jadi saya tanggapi SMS-nya, dia minta surat pertanggungjawaban, berarti dia meminta kembali uangnya," ujarnya.

Kaharuddin lalu menelepon J dan mempertanyakan maksud isi pesan singkat yang diterimanya.

"Dia bilang tolong kembalikan itu uang. Jadi saya bilang iya, Insya Allah saya akan usahakan kalau memang itu maunya. Karena saya bilang harga diri saya juga, saya tidak mau seperti itu," ujarnya.

Kamis pagi, J mengutus seseorang ke rumah Kaharuddin mengambil uang. Namun Kaharuddin menolak menyerahkan uang itu kepada suruhan J.

"Karena saya mau langsung sendiri kepada yang bersangkutan. Saya sudah kasih tadi sekitar jam 09.30. Itu saya serahkan tadi. Saya minta kuitansi tanda bukti bahwa dia sudah terima kembali uangnya," ujarnya.

https://id.berita.yahoo.com/caleg-pks-minta-warga-kembalikan-uang-politik-karena-222613801.html
* www.ayojambi.com/

Sejumlah Caleg Minta Kembali Sumbangan untuk Masjid


POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Panitia renovasi Masjid Al Aqsha di Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, kebingungan lantaran harus mengembalikan uang sumbangan dari sejumlah calon anggota legislatif yang diduga gagal. Padahal, uang tersebut sudah masuk ke kas masjid dan diumumkan ke publik.
Muhammad Daming, bendahara Masjid Al Aqsha, mengaku pihaknya menerima sumbangan dari sejumlah caleg dengan total Rp 7,5 juta. Namun setelah pemungutan suara pada 9 April kemarin, tiba-tiba sejumlah caleg meminta agar uang sumbangan itu dikembalikan.

"Sumbangannya sudah dimasukkan ke kas dan diumumkan ke publik bahwa ada caleg yang menyumbang ke masjid. (Namun) saya heran ternyata (sumbangan) diminta kembali," ujar Muhammad Daming kepada Kompas.com, Jumat (11/4/2014).

Menurut Daming, kendati sumbangan tersebut telah dialokasikan untuk renovasi Masjid Al Aqsha yang kini tengah berjalan, pihaknya siap mengembalikan uang tersebut.

"Hanya saja syaratnya, saat pengembalian, semua pengurus masjid, tim sukses, dan caleg bersangkutan duduk satu lokasi agar tak menimbulkan fitnah di kemudian hari," ucap Daming.

Rekan Daming yang juga panitia renovasi masjid, Yadi, mengaku heran, dana sumbangan yang semula diberikan sang caleg sebelum pemilu dengan alasan ikhlas membantu renovasi, belakangan ternyata diminta kembali.

Yadi bingung dan tak mengerti, apa alasan sang caleg meminta sumbangannya dikembalikan.

“Kalau ikhlas menyumbang ke masjid, mestinya tak diminta kembali. Kan sudah disumbangkan dan diumumkan secara terbuka,” kata Yadi.

Baik Muhammad Daming maupun Yadi menyatakan sepakat mengembalikan sumbangan dengan pamrih tersebut kepada sejumlah caleg. Menurut mereka, sejumlah pengurus masjid lainnya pun merasa malu dengan ulah para caleg tersebut.

http://regional.kompas.com/read/2014/04/11/1859352/Sejumlah.Caleg.Minta.Kembali.Sumbangan.untuk.Masjid.?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp
* www.ayojambi.com/

Gagal, Caleg Demokrat Minta Kompor Gasnya Dikembalikan


PAREPARE, KOMPAS.com — Karena sudah yakin tak bakal lolos, Andi Farida Soewandi, caleg DPRD asal Demokrat di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, meminta kembali kompor gas yang pernah dibagikan ke puluhan warga di Kelurahan Batang Rappe, Kecamatan Bacukiki, tiga hari sebelum hari pencoblosan. Zaenal, salah seorang warga, mengemukakan, kompor dari tim caleg gagal tersebut diterimanya dengan kesepakatan bahwa dia harus mencoblos caleg tersebut pada hari pencoblosan.
"Padahal saya coblos caleg itu. Tapi tidak puas dan mengharuskan saya dengan istri ikut coblos caleg yang sama. Lah bagaimana, kita juga sudah terima pemberian dari caleg lain, jadi kami bagilah suara. Apalagi tidak ada perjanjian harus lebih satu suara," katanya, Jumat (11/4/2014).

Zaenal mengaku, saat kompor gas tersebut ditarik, dia tengah melayani pelanggannya yang hendak minum kopi.

"Saya bersama istri sedang masak pakai kompor pemberian caleg tersebut. Tiba-tiba salah seorang tim caleg datang meminta agar kami mengembalikan kompor tersebut. Padahal, kompornya tengah kami pakai buat masak air karena kami ada pelanggan yang pesan kopi," ujarnya.

Karena merasa dipermalukan, Zaenal mengaku marah dan langsung membanting kompor tersebut di depan tim caleg tersebut.

"Saya jengkel karena dipermalukan. Makanya saya banting kompornya. Saya diancam dilapor ke polisi, tapi saya tidak takut," tekannya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Kompas.com, caleg tersebut membagikan sekitar 50 kompor gas kepada warga yang tersebar di 3 TPS berbeda, yakni di TPS 11, 13, dan 14. Hingga diturunkannya berita ini, belum ada konfirmasi dengan pihak caleg bersangkutan karena sulit dihubungi. 
* www.ayojambi.com/