Senin, 04 November 2013

Kisah Anak Daun Simpur Pendobrak Film Laskar Pelangi

TANJUNG PANDAN, ayojambi.com - Tidak banyak yang mengetahui kisah nyata masa kecil Tellie Gozelie anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI 2009-2014 yang unik, Tellie Gozelie lahir di Belitung pada tanggal 10 Desember 1070, dari pasangan ayah Lie Nyuk Kui (Gozelie) dan ibu Cung Man Li (Asian) ini merupakan putra ketiga dari delapan bersaudara. Dengan jumlah saudara yang begitu banyak tentu saja mempengaruhi masa kecilnya.

Jika di lihat Tellie Gozelie, tidak terlihat dimasa kecilnya seperti anak-anak lain di sekitar rumahnya yang terletak di Pilang Tanjung Pandan. Menurut penuturan Tellie Gozelie. Masa kecil adalah masa yang penuh kenangan buat saya, kehidupan keluarga yang sederhana membuat saya hidup dalam kesederhanaan sikap seperti dulu, tidak ada yang berbeda, hanya saja mungkin hari ini kami diberikan rezeki sedikit lebih dari yang lain, itu saja, selebihnya tetap sama, tutur Tellie Gozelie yang juga seorang vegetarian.
Saya dulu suka sekali makan daun iding-iding yang banyak tumbuh liar di Belitung, untuk mencari jajanan tambahan, saya mencari daun simpor untuk di jual, yang digunakan pedagang sebagai pembungkus ikan dan belanjaan lainnya, bahkan sampai  sekarang daun simpor masih di pakai. Hasil penjualan daun simpor itu kami gunakan untuk membeli permen. Maklum saja ibu hanya memberikan kami jatah permen 2 buah untuk seminggu, untuk menghemat kadang permen hanya kita kecup sedikit lalu di bungkus kembali.

Orang tua memang membuka warung, jadi kami kadang mengumpulkan daun simpor untuk di tukar dengan permen, lebihnya kami jual ke warung sebelah, uangnya itu kami gunakan tambahan uang jajan. Lucu juga memang tapi itulah kesederhanaan pikiran anak-anak. Ibu tidak ingin termakan modal usaha dari warung, jadi kami diberi penjelasan kenapa jatah permen masing-masing hanya 2 buah, supaya kami tidak merengek. Tapi itu pula yang mengajarkan kami selalu giat berusaha demi untuk maa depan.

Situasi ekonomi dulu memang sulit, kita baru mendapatkan baju dan celana baru setelah setahun. Sering sekali celana kita bolong di sebelah, kadang sama besar. Kita malu tetapi mau bagaimana lagi, situasi mengharuskan begitu. Semua memori masa anak- anak itu terekam dengan baik dan kadang seperti melintas di depan mata saya jika di tengah kesendirian di Belitung ini.

Dimusim langsat kita mencari langsat, musim buah karet, peletikan pakai buah karet, mencari karet sampai ke hutan-hutan. Kenangan yang begitu indah. Hingga saya seperti yang sekarang, saya hanya berharap bisa berbuat lebih untuk tanah kelahiran saya ini. Belitung adalah saya tempat untuk mengabdikan diri.

Sekolah saya dulu di SD Negeri 12 Tanjung pandan, kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 2 Tanjung Pandan,Pendidikan menengah di SMEA Negeri 1 Tanjung Pandan, Hanya kuliah saya keluar dari Belitung, kebetulan saya kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara Jakarta. Itupun saya kuliah sambil bekerja, keadaan ekonomi orang tua saat itu sebetulnya sudah cukup baik tetapi beliau mendidik kami dengan keras, termasuk di dalamnya soal keuangan, karenanya saya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan lain selama kuliah.

Selepas kuliah, saya bekerja, menikah dan sekarang di karuniai 3 orang putri. Semua berjalan seperti layaknya manusia biasa. Saya hanya ingin berusaha dan mengabdikan diri untuk kebaikan semua. Tidak banyak yang berubah dalam diri saya, meskipun orang lain mengatakan saya sudah cukup sukses di dunia usaha.

Keberhasilan di dunia usaha, tanpa memaksimalkan fungsi sosial kita untuk lebih bermanfaat bagi sesama, buat saya rasanya belumlah lengkap jika kita telah berhasil, maka kita juga berkewajiban membuat sekeliling kita berhasil. Itu akan lebih baik, sehingga kebaikan untuk semua dapat kita rasakan dan nikmati bersama.

Dari pandangan Reporter China Town, Tellie Gozelie anggota Komitte I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI 2009-2014 merupakan sang juga sebagai pendobrak film Laskar Pelangi mudah bergaul dengan siapa saja, juga sangat akrab dengan masyarakat lapisan bawah, bahkan dengan anak-anak kecilpun Tellie Gozelie sangat akrab
Bagi Tellie Gozelie, yang dibutuhkan di era konsolidasi demokrasi seperti sekarang adalah pencerahan dari kerja nyata seorang pemimpin; bukan saling menyalahkan dan saling mencaci. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Minggu, 03 November 2013

Kunjungan Kerja Kepala BNN Di Jambi

JAMBI - Kunjungan Kerja mantan Kapolda Jambi, Irjen Pol Anang Iskandar SH, MH, disambut Hidayat tokoh Pencinta Candi Muarojambi di ruang viproom bandara Sultan Thaha Jambi pukul 17.00 wib, istrirahat sejenak di ruang vip room Irjen Pol Anang Iskandar SH, MH langsung mengunjungi Candi Muarojambi (3/11-2013).
Kedatangan mantan Kapolda Jambi, Irjen Pol Anang Iskandar SH, MH ke Jambi adalah menghadiri Pelantikan Walikota Jambi besok pagi (4/11) di Gedung DPRD Kota Jambi. Saat Anang Iskandar ini menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN)

Komjen Anang Iskandar yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Jebolan Akpol 1982 itu berkarir sangat cepat. Setelah bintag dua sebagai Kadivhumas Polri, lalu sebagai Gubernur Akpol dan sekarang Kepala BNN.

Sampai berita naik, Irjen Pol Anang Iskandar masih berada di Candi Muarojambi didampingi Hidayat, Tokoh Pencinta Candi Muarojambi (Romy)
* www.ayojambi.com/

Sabtu, 02 November 2013

Perkumpulan Anke Adakan Baksos Pengobatan Gratis

JAMBI - Dalam rangka memperingati hari jadi Perkumpulan Aneka Kesejahteraan (ANKE) 占碑安溪公会 yang ke-86 tahun, yang jatuh pada 30 Oktober lalu.
Pengumpulan ANKE Jambi melakukan bakti sosial pemeriksaan kesehatan terbuka untuk umum, pemeriksaan penyakit diantaranya Cek Tulang Kaki, Colesterol, Gula Darah dan Asam Urat gratis di Jalan Untung Suropati (Punjak), Kelurahan Jelutung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Pemeriksaan dipimpin oleh dr. Mardjohan, dr. Levin dan dr Sastra Liga serta dibantu beberapa perawat rumah sakit.


Menurut Alex Sujanto Wakil Ketua Perkumpulan ANKE, bahwa bakti sosial ini dilakukan setiap tahun menjelang hari ulang tahun ANKE Jambi, “Bakti sosial pemeriksaan penyakit dilakukan selama dua hari untuk memperingati ulang tahun ANKE Jambi ke 86 tahun 2013”, yang datang mengecek lebih dari 300 orang, umumnya yang datang mengecek bukan saja warga tionghoa. kata Alex.


Hokkian Terbesar di Jambi
Suku Hokkian (ANKE) merupakan suku terbesar dari penduduk Tionghoa yang ada di Jambi. Ini karena Hokkian terdiri dari lima bagian suku lagi, di antaranya suku Anke (Ankhue), Lam An, Ciang Siok, Un Leng dan Hok Pho Shien. Maka, tak heran berbagai tradisi dan kepercayaan suku Hokkian ini banyak dilaksanakan di Jambi. “Suku Hokkian yang paling banyak penyebarannya di Jambi.
* www.ayojambi.com/

Jumat, 01 November 2013

Penyiar Radio Hoki Siap Layani Pemirsa Belitung

BELITUNG, ayojambi.com - Ceria dan semangat tampak melekat pada gadis bernama Zeng Xiao Li/ Liesnawatie (24) yang biasa disapa Agnes. Kepribadian itu sangat tepat mengiringi profesinyanya sebagai penyiar Radio Hoki 92 FM di Kota Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung.

Agnes anak ke 2 dari 3 pasangan Zeng Fa Fu (alm) dan Lu Nyong Khiun, pendidikan terakhir SMK Yaperbel 2 tahun 2006 mengabungkan diri ke Radio Hoki, karna sejak kecil suka cuap. "Aku paling suka cuap-cuap sejak kecil, tahun 2011 mencoba untuk melamar diradio Musica idola Belitung 92 FM dan lalu diterima, awalnya hanya part time selama 2 tahun lalu setelah radio musica idola belitung ganti nama menjadi Radio Hoki 92 FM barulah full time,” ujar ujar cewek cantik kelahiran 10 Februari 1989 kepada media online ayojambi.com.
Selain menyalurkan hobinya tersebut, pemilik suara merdu ini berharap melalui informasi yang disampaikannya bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Radio Hoki Belitung Oriental Station yang berlokasi di Jalan Jend. Ayani No.88 Komplek Keramik Tanjungpandan Belitung yang berada dipusat Kota Tanjungpandan  belitung, Bergerak Dibidang Radio Siaran Swasta Niaga Yang Baru melayani semua pendengar Radio Swasta tampil dengan format menyiarkan lagu–lagu Mandarin.

Menurut Yudianto, yang dipercayai memimpin Hoki Oriental “Konsep acara siaran yang di suguhkan kepada masyarakat pendengar termasuk dari berbagai kalangan, seperti anak muda hingga tua pada menyenangi program acara yang disajikan Belitung Oriental Station" tambah Mario yang dibantu oleh Indra Wijaya (manager), masyarakat bisa menikmati siaran Hoki melalui frekuensi 92 FM dan Radio Voice of Belitung (VOB).

Dengan adanya Fans Club Radio Hoki, Maka Tahap berikutnya kami akan membuat suatu lokasi (Executive Club) yang bertujuan untuk mempererat hubungan diantara anggota Fans Club. Dengan beroperasi selama 19 jam saat ini. Kami telah banyak merangkul pendengar dengan mayoritas keturunan Tionghoa.

Saat ini hanya satu-satunya Radio Broadcasting yang mengudarakan 80% lagu-lagu berirama Mandarin di Belitung yang selama ini hanya dapat didengar media lain seperi CD, Casette dll.

Sesuai dengan programe-programe yang kami buat, pendengar-pendengar kami kebanyakan dari golongan masyarakat keturunan yang bertempat tinggal didaerah Tanjung pandan dan Belitung Timur.

Pendengar kami terdiri dari semua golongan antara lain pengusaha, pedagang, karyawan, ibu rumah tangga, dan lain sebagainya.

Keberadaan kami sebagai salah satu radio yang telah mempunyai segmen pendengar yang pasti didukung dengan pemancar berkekuatan 3,6 watt , yang mempunyai kekuatan jangkauan 80 km2, dan acara – acara yang terprograme dengan baik tentunya akan menguntungkan pihak pemasang iklan. (Romy)
* www.ayojambi.com/