JAMBI - Jelang perayaan Cap Go Meh 11 Februari 2017 (Cia Gwee Cap Go), sebanyak delapan puluh siswa-siswi Sekolah Minggu Khonghucu, Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien Jambi 占碑省獅仔殿廟宇 Jalan Koni IV, Rt 2, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, 80 siswa 学生 mendapatkan angpao Tahun Baru Imlek 2568 kongzili dari seorang donatur yang enggan menyebutkan jati dirinya.
Selasa, 07 Februari 2017
Sabtu, 04 Februari 2017
Melirik Sembahyang Thi Kong di Hari ke 9 Imlek
JAMBI - Thi Kong atau Sembahyang Chue Kau atau biasa disebut Sembahyang Tebu biasa diaksanakan pada malam ke delapan memasuki malam ke sembilan Imlek setiap tahunnya. Tahun ini, sembahyang Thi Kong jatuh pada tanggal 4 Februari 2017, menjelang 5 Februari 2017 dimulai pukul 00.00 WIB hingga dini hari [Lihat Album: Sembahyang Thi Kong].
Sembahyang Thi Kong diakukan oleh seluruh warga Tionghoa dimuka bumi ini dilaksanakan di depan rumah masing-masing untuk mengingat penguasa Dunia, Dewa Langit. Didalam Agama Khonghucu, hari ke sembilan Imlek diyakini sebagai hari ulang tahun dewa Langit. Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Tionghoa untuk melakukan ritual sembahyang Thi Kong di depan rumah masing masing. Biasanya, masyarakat Tionghoa akan mempersiapakn meja sembahyang (altar) menghadap ke jalan dan ada yang melakukannya di loteng tingkat atas rumahnya.
Dari pantauan indochinatown.com, Minggu (5/2) dini hari saat itu, seluruh warga Tionghoa di perkampungan masyarakat tionghoa, di Jalan Koni 1 hingga Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, warga setempat membakar Hio atau Gaharu Besar (dupa) di depan rumah masing-masing dan mempersembahakan berbagai macam makanan manisan dan aneka kue-kue.
"Beberapa makanan atau manisan diyakini memiliki makna dan akan memberikan berkah bagi keluarga mereka, beberapa makanan yang biasa disajikan itu dipersembahkan untuk Dewa Langit," jelas Rohaniawan Matakin Kota Jambi, The Lien Teng.
Lanjutnya, berbagai sajian itu meliputi Thi Kue atau kue keranjang manis yang melambangkan agar kehidupan mereka di tahun baru Imlek (tahun Ayam Api) ini akan selalu manis-manis. Sedangkan Jeruk , dalam bahasa Hok Kian sering disebut Kiat atau Kam yang mempunyai arti emas, jadi mengharapkan rezeki ditahun mendatang banyak mendapatkan Emas. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi
Dari pantauan indochinatown.com, Minggu (5/2) dini hari saat itu, seluruh warga Tionghoa di perkampungan masyarakat tionghoa, di Jalan Koni 1 hingga Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, warga setempat membakar Hio atau Gaharu Besar (dupa) di depan rumah masing-masing dan mempersembahakan berbagai macam makanan manisan dan aneka kue-kue.
"Beberapa makanan atau manisan diyakini memiliki makna dan akan memberikan berkah bagi keluarga mereka, beberapa makanan yang biasa disajikan itu dipersembahkan untuk Dewa Langit," jelas Rohaniawan Matakin Kota Jambi, The Lien Teng.
Lanjutnya, berbagai sajian itu meliputi Thi Kue atau kue keranjang manis yang melambangkan agar kehidupan mereka di tahun baru Imlek (tahun Ayam Api) ini akan selalu manis-manis. Sedangkan Jeruk , dalam bahasa Hok Kian sering disebut Kiat atau Kam yang mempunyai arti emas, jadi mengharapkan rezeki ditahun mendatang banyak mendapatkan Emas. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi
Rabu, 01 Februari 2017
Ratusan Umat Khonghucu Jambi Sembahyang Sejit Cheng Cui Co She
JAMBI – Setelah enam hari perayaan Tahun Baru Imlek 2568 kongzili, ratusan umat Khonghucu di Kota Jambi silih berganti mendatangi Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kelenteng “Hok Kheng Tong” yang terletak di Jalan Koni IV, Rt. 02, depan pabrik Kopi AAA, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, kehadiran umat Khonghucu tersebut untuk untuk mengikuti prosesi upacara sembahyang bersama Sejit Roh Suci Shen Ren (baca dewa) “Cheng Cui Co She” Qing Shui Zu Shi atau yang lebih dikenal dengan nama sebutan “Co She Kong”, pada Kamis (2/2-2017).
Upacara sembahyang langsung dipimpin langsung Lim Tek Chong taoshe dari Tiongkok, upacara mulai dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 13.30 [Lihat Gambar: Prosesi Sembahyang Sejit Cheng Cui Co She].
Prosesi upacara terbagi dua tahap, yakni tahap pertama adalah sembahyang menghadap altar Tien (Tuhan), tahap kedua baru sembahyang di altar Roh Suci Shen Ren “Co She Kong. Tahap demi tahap diikuti oleh segenap pengurus kelenteng Hok Kheng Tong beserta para Lo Cu (panitia), semua prosesi dilakukan pengurus dengan, setengah jam kemudian, prosesi upacara kedua dilanjutkan didalam kelenteng, yakni di altar Co She Kong. Sebagaimana biasanya berbagai sesajen terbentang di atas meja segi empat berwarna merah, sesajian ada yang dibawa oleh masing-masing umat sendiri.
Seusai sembahyang tersebut, sesajen-sesajen yang ada di altar lalu dimasak, kemudian dimakan bersama. Tradisi makan bersama ini, menurut kepercayaan umat Khonghucu, “Dengan memakan makanan dari hasil sembahyang ulang tahun para Roh Suci Shen Ming, maka diri mereka akan mendapatkan perlindungan dari mahluk-mahluk yang berniat jahat”.
Co She Kong berasal dari Propinsi Hok Kian, Kabupaten Yong Chun, Tiongkok. Nama panggilan sehari-hari adalah Chen Zhao Ying (Hok Kian = Tan Ciao Eng). Beliau dilahirkan pada tanggal 6 bulan 11 Imlek, tahun 1044 M, pada zaman Dinasti Song (960-1279 M), dimasa Pemerintahan Kaisar Ren Zhong tahun keempat.
Chen Zhao Ying mahir dalam bidang pengobatan dan mendatangkan hujan bagi penduduk di sekitar An Xi (An Hui) & Xia Men (E Meng). Beliau sering membantu penduduk yang miskin dalam masalah pengobatan dan suka menolong orang-orang membangun jembatan. Di dekat gua tempat beliau bertapa terdapat sumber air yang jernih, yang bernama Qing Shui Yan (Ching Cui Giam) yang berarti Cadas Air Bersih. Dengan air jernih dan meditasi di gua ini Chen Zhao Ying mengobati orang-orang yang meminta pertolongannya. (Romy)* https://www.facebook.com/makinjambi
Seusai sembahyang tersebut, sesajen-sesajen yang ada di altar lalu dimasak, kemudian dimakan bersama. Tradisi makan bersama ini, menurut kepercayaan umat Khonghucu, “Dengan memakan makanan dari hasil sembahyang ulang tahun para Roh Suci Shen Ming, maka diri mereka akan mendapatkan perlindungan dari mahluk-mahluk yang berniat jahat”.
Co She Kong berasal dari Propinsi Hok Kian, Kabupaten Yong Chun, Tiongkok. Nama panggilan sehari-hari adalah Chen Zhao Ying (Hok Kian = Tan Ciao Eng). Beliau dilahirkan pada tanggal 6 bulan 11 Imlek, tahun 1044 M, pada zaman Dinasti Song (960-1279 M), dimasa Pemerintahan Kaisar Ren Zhong tahun keempat.
Chen Zhao Ying mahir dalam bidang pengobatan dan mendatangkan hujan bagi penduduk di sekitar An Xi (An Hui) & Xia Men (E Meng). Beliau sering membantu penduduk yang miskin dalam masalah pengobatan dan suka menolong orang-orang membangun jembatan. Di dekat gua tempat beliau bertapa terdapat sumber air yang jernih, yang bernama Qing Shui Yan (Ching Cui Giam) yang berarti Cadas Air Bersih. Dengan air jernih dan meditasi di gua ini Chen Zhao Ying mengobati orang-orang yang meminta pertolongannya. (Romy)* https://www.facebook.com/makinjambi
Po Un “补运” Di Kelenteng Sai Che Tien Jambi
JAMBI - Lim Tek Chong taoshe dari Tiongkok kembali memberikan pelayan Po Un “补运” kepada umat Khonghucu Jambi di Jalan Koni, Rt 2, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Setiap awal Tahun Baru Imlek, umat Khonghucu Jambi mengikuti ritual Po Un 补运 di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien 占碑狮仔殿孔教庙 (1/2-2017), tujuan Po Un 补运 adalah untuk memohon Berkah dan Keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ujar The Lien Teng, “Po Un adalah salah satu tradisi yang telah mendarah daging dikalangan umat Khonghucu di Tiongkok. Maka, bagi warga yang beragama Khonghucu setiap tahun selalu menggelar ritual tersebut di kelenteng-kelenteng”. katanya. Tujuan Po Un, untuk memohon kepada Tuhan dan para suci sen ren (dewa-dewi) agar terhindar dari jiong (konflik) dengan Tai Sui pada tahun-tahun tertentu
Ujar The Lien Teng, “Po Un adalah salah satu tradisi yang telah mendarah daging dikalangan umat Khonghucu di Tiongkok. Maka, bagi warga yang beragama Khonghucu setiap tahun selalu menggelar ritual tersebut di kelenteng-kelenteng”. katanya. Tujuan Po Un, untuk memohon kepada Tuhan dan para suci sen ren (dewa-dewi) agar terhindar dari jiong (konflik) dengan Tai Sui pada tahun-tahun tertentu
Dari pantauan di lapangan, prosesi Pu Un yang dilakukan di Kelenteng Sai Che Tien Jambi berbeda dangan Po Un di tempat-tempat lain, jika di Kelenteng Sai Che Tien, setiap peserta atau perwakilan dari keluarga Po Un wajib mengikuti taoshe keliling altar sebanyak 12 putaran, sedangkan di tempat lain, peserta cukup bawa baju, lalu di stempel selesai.
Menurut salah satu peserta dari kawasan Payo Selincah yang telah mengikuti Po Un sebanyak empat kali menyatakan, prosesi di kelenteng ini jauh berbeda dengan kelenteng-kelenteng lainnya, di kelenteng lain baju kita hanya dikipas-kipas saja, tanpa adanya ritual keliling altar, “Di kelenteng lain Po Un, pakaian kita hanya dikipas-kipas saja”, ujar warga tersebut.
Boleh dibilang peserta Po Un merasa capek, karena peserta mesti keliling altar roh suci Nabi Fu Xi sebanyak 12 kali, namun peserta juga merasa puas lantaran bisa langsung ikut dalam prosesi Po Un yang memakan waktu lebih dari 2 jam. (Romy)
Sesajian untuk ritual Po Un, biasanya yang harus disiapkan adalah :
1. Dupa / hio dan lilin merah (disediakan pihak panitia).
2. Satu mangkok wajek (disediakan pihak panitia).
3. Telor ayam dikasih warna merah (disediakan pihak panitia).
4. Sejumlah kertas hu (disediakan pihak panitia).
5. Satu bungkus bunga Mie Swa (disediakan pihak panitia).
6. Baju tiap-tiap anggota keluarga yang mau di Po Un (dibawa oleh warga yang mau Po Un).
7. Gambar bentuk orang dewasa (kepala keluarga) wanita (ibu) dan anak laki-laki maupun perempuan.
8. Kertas warna pink bertulisan nama-nama yang mau Po Un, mulai dari kepala keluarga, istri, anak laki-laki/ perempuan serta keluarga yang ikut dalam rumah seperti kakek/Nenek/Kakak dan lain sebagainya berikut tanggal kelahiran (shio). Seusai mengelilingi altar lalu taushe (saikong) membaca satu persatu nama Po Un, tidak boleh serentak seperti penyelenggara lainnya.
Tahapannya berikutnya adalah :
1, Semua persembahan dimasukan ke dalam keranjang plastik dan disusun diatas meja merah.
2. Lalu taushe (saikong) membaca mantera (mengudang para shen ming (dewa-dewi), untuk awal Po Un, upacara ini bisa memakan waktu lebih kurang dua jam, selanjutanya hanya memakan waktu 1 jam.
3. Setiap peserta Po Un berkewajiban untuk mengikuti tahapan demi tahapan dengan mengitari altar utama, yakni Hoo Hie Tee Shien (Nabi Fu Xi) dan melintasi jembatan yang terbuat dari kayu sambil menyebut Kuwei (bahasa Hokkien) liwatlah. Seusai prosesi panitia menstempel lambang para suci pada bagian pundak baju/ pakaian, baju yang distempel ini dipakai oleh para peserta Po Un selama 3 hari berturut.
4. Setelah itu, maka tinggal membakar semua kertas sembahyang yang udah di berkati.
5. Terakhir peserta membawa pulang semuanya, baju untuk dipakai, Mie Swa dimasak dan dimakan bersama telor merah (melambangkan panjang umur).
6. Kertas Hu untuk dipakai oleh peserta. (Romy)
Menurut salah satu peserta dari kawasan Payo Selincah yang telah mengikuti Po Un sebanyak empat kali menyatakan, prosesi di kelenteng ini jauh berbeda dengan kelenteng-kelenteng lainnya, di kelenteng lain baju kita hanya dikipas-kipas saja, tanpa adanya ritual keliling altar, “Di kelenteng lain Po Un, pakaian kita hanya dikipas-kipas saja”, ujar warga tersebut.
Boleh dibilang peserta Po Un merasa capek, karena peserta mesti keliling altar roh suci Nabi Fu Xi sebanyak 12 kali, namun peserta juga merasa puas lantaran bisa langsung ikut dalam prosesi Po Un yang memakan waktu lebih dari 2 jam. (Romy)
Sesajian untuk ritual Po Un, biasanya yang harus disiapkan adalah :
1. Dupa / hio dan lilin merah (disediakan pihak panitia).
2. Satu mangkok wajek (disediakan pihak panitia).
3. Telor ayam dikasih warna merah (disediakan pihak panitia).
4. Sejumlah kertas hu (disediakan pihak panitia).
5. Satu bungkus bunga Mie Swa (disediakan pihak panitia).
6. Baju tiap-tiap anggota keluarga yang mau di Po Un (dibawa oleh warga yang mau Po Un).
7. Gambar bentuk orang dewasa (kepala keluarga) wanita (ibu) dan anak laki-laki maupun perempuan.
8. Kertas warna pink bertulisan nama-nama yang mau Po Un, mulai dari kepala keluarga, istri, anak laki-laki/ perempuan serta keluarga yang ikut dalam rumah seperti kakek/Nenek/Kakak dan lain sebagainya berikut tanggal kelahiran (shio). Seusai mengelilingi altar lalu taushe (saikong) membaca satu persatu nama Po Un, tidak boleh serentak seperti penyelenggara lainnya.
Tahapannya berikutnya adalah :
1, Semua persembahan dimasukan ke dalam keranjang plastik dan disusun diatas meja merah.
2. Lalu taushe (saikong) membaca mantera (mengudang para shen ming (dewa-dewi), untuk awal Po Un, upacara ini bisa memakan waktu lebih kurang dua jam, selanjutanya hanya memakan waktu 1 jam.
3. Setiap peserta Po Un berkewajiban untuk mengikuti tahapan demi tahapan dengan mengitari altar utama, yakni Hoo Hie Tee Shien (Nabi Fu Xi) dan melintasi jembatan yang terbuat dari kayu sambil menyebut Kuwei (bahasa Hokkien) liwatlah. Seusai prosesi panitia menstempel lambang para suci pada bagian pundak baju/ pakaian, baju yang distempel ini dipakai oleh para peserta Po Un selama 3 hari berturut.
4. Setelah itu, maka tinggal membakar semua kertas sembahyang yang udah di berkati.
5. Terakhir peserta membawa pulang semuanya, baju untuk dipakai, Mie Swa dimasak dan dimakan bersama telor merah (melambangkan panjang umur).
6. Kertas Hu untuk dipakai oleh peserta. (Romy)
Langganan:
Postingan (Atom)