Tampilkan postingan dengan label Khonghucu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khonghucu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2018

Perayaan Hari Besar Lak Jin Sien She

JAMBI – Rabu (18/7-2018) ratusan umat Khonghucu Jambi mengikuti upacara perayaan hari besar shenren (dewa) Lak Jin Sien She六壬仙師”di tempat ibadah Khonghucu Ta Sien Wei Ling Kheng yang beralamat di Jalan Gajah Mada, Lorong Sita, Kelurahan Jelutung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.

Pada hari yang sama di provinsi Jambi terdapat dua tempat yang merayakan upacara sejit Lak Jin Sien She, yakni di kota Jambi dan kota Kuala Tungkal, kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Untuk upacara perayaan di kota Jambi dipimpin oleh rohaniawan resmi dari Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia yang disingkat MATAKIN Jambi, JS. The Lien Teng.

Maka umat lebih banyak memilih sembahyang di kota Jambi daripada pergi jauh-jauh, kecuali jika hari perayaan tidak sama harinya.

Bagi klenteng yang terdaftar di MATAKIN dituntut untuk pro aktif dalam melaksanakan berbagai kegiatan yang bersifat keagamaan. Tujuannya, agar umat Khonghucu terutama anak-anak dan remaja memiliki kegiatan yang bermanfaat di dalam klenteng. Selain itu, umat Khonghucu memiliki satu atap yang berpegang kepada Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) dalam melakukan setiap kegiatan.

Indonesia merupakan Negara yang memiliki bermacam-macam suku, bangsa, ras, budaya, dan agama. Di Indonesia terdapat enam Agama resmi, yaitu agama Kristen, Katolik, Hindu, Khonghucu, Budha, dan Islam. Di setiap agama tersebut pasti memiliki ritual keagamaan dan kepercyaannya sendiri-sendiri yang berbeda-beda sesuai dengan tuntunan iman dan ajaran agama dari setiap masing-masing agama tersebut. Agama Khonghucu tidak hanya mengajarkan kepada penganutnya bagaimana seseorng berbakti  kepada Tian (Tuhan Yang Maha Esa) atau Nabi saja, melainkan lebih menekankan bakti kepada kedua orang tua dan aksi nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Agama Konghucu juga mengajarkan tata cara melakukan ibadah kepada Tian, Nabi, orang-orang suci, leluhur dan lain-lain.

Namun tidak dapat dipungkiri, ada pengurus klenteng yang menyalagunakan klenteng untuk kepentingan pribadi bermodal SK Matakin Pusat, fungsi pendidikan maupun sosial tidak tampak!.

Yang tak kalah hebatnya, ada rumah toko yang di sulap menjadi tempat ibadah oleh pendatang mengatasnamakan agama tanpa mengantongi ijin dari Kemenag Provinsi Jambi maupun terdaftar di MATAKIN Jambi maupun kota Jambi.!!! (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi

Sabtu, 23 Juni 2018

Cinta Riswandy dan Cindy Bersemi Dari Medsos

JAMBI - Nabi Kongze menjadi saksi cinta mereka berdua. Riswandy dan Cindy adalah warga kota Jambi yang menyatakan ikrar satu hati satu cinta di hadapan Nabi Kongze di Littang MAKIN Sai Che Tien di Jalan Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. “Sesuai dengan UU No 1/1974 bahwa syarat sah pernikahan ialah dilakukan cara agama Khonghucu dan dicatatkan di pemerintah sipil, maka kalian berdua telah sah menjadi suami istri,” kata Ketua Rohaniawan MATAKIN Provinsi Jambi, The Lien Teng pernikahan sepasang suami istri baru itu, Sabtu (23/6/2018).

Pernikahan Riswndy dan Cindy memang cukup menyedot perhatian khalayak. Bukan saja lantaran resepsi mereka yang diiringi pelepasan balon di udara. Namun, perayaan dan lokasi pernikahan mereka juga terbilang cukup unik, yakni di littang atau klenteng yang selama ini jadi pusat aktivitas pernikahan umat Khonghucu.

“Klenteng (Littang) ini namanya MAKIN Sai Che Tien, karena ada altar Nabi Purba Fu Xi yang dipakai oleh penganut Konfusianisme sebagai tempat ibadah dan sekaligus untuk pernikahan ala Khonghucu,” kata Darmadi Tekun, selaku ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien Jambi.

Yang tak kalah menggembirakan lagi, cinta pertama dari pasangan suami istri ini berawal dari pertemanan di media sosial facebook 6 tahun yang lalu, ujar Cindy kami bertemu di media sosial 6 tahun silam.

Menurut ketua Rohaniawan Khonghucu Jambi, The Lien Teng, yang tidak lain adalah kakek dari Cindi Clarissa The, kebebasan beragama dan kesamaan hak warga negara, khususnya warga Khonghucu di Nusantara, telah berkembang pesat. Tak hanya dalam pengakuan agama Khonghucu saja. Namun, dalam hal perkawinan, pengurusan kartu tanda penduduk (KTP), hingga pelajaran agama Khongucu pun juga mendapatkan perlakuan yang sama.

Namun sangat disayangkan bahwa saat ini jumlah Rohaniawan di Jambi yang aktif tinggal seorang, semestinya di Jambi harus memiliki 11 Rihaniawan sesuai dengan jumlah MAKIN yang ada di Jambi…!!! Ini merupakan tantangan dari MATAKIN Pusat dan MATAKIN di daerah Jambi. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi

Sabtu, 07 April 2018

Sembahyang Ulang Tahun Roh Suci Kong Tek Chun Ong

JAMBI - Khonghucu Indonesia (MAKIN) Leng Chun Keng, Jalan Koni 1,  Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Sabtu (7/4-2018). Sembahyang dihadiri ratusan umat Khonghucu Jambi.

Sehari sebelum ritual berlangsung, panitia perayaan sejit Kongcu Kong Tek Cun Ong adakan malam hiburan band dengan penyanyi dari sumatera selatan (palembang).

Perayaan yang dilakukan sederhana, tapi tak mengurangi kekhusyukan umat Khonghucu. Seusai sembahyang bersama, semua sajian yang dibawa umat maupun yang disediakan panitia dimasak untuk dinikmati bersama.

Salim Lim, pengurus MAKIN Leng Chun Keng, mengatakan kali ini Klentang Leng Chun Keng mengundang band dan biduan dari kota Palembang untuk menghibur umat di Jambi. tampaknya kehadiran band asal kota pempek cukup memukau umat khonghucu dan warga yang hadir, bahkan banyak orang-orang tua berusia diatas 50an ikut bergoyang dumang bersama para biduanita tersebut.
 
“Mumudah-mudahan kedepan klenteng kembali mengundang mereka (band) untuk menghibur umat beserta warga Jambi.” ujarnya.

Tampak hadir rombongan darij Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Leng San Kheng kota Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. (Romy)

* https://www.facebook.com/makinjambi

Kamis, 08 Maret 2018

占碑福庆堂、獅仔殿、龙春宮、忠义堂、四庙联合庆祝元宵节

 3月2日元宵节晚, 占碑四间寺庙, 包括福庆堂, 狮子殿, 龙春宫, 忠义堂, 在日罗东 koni IV 街 联合举办庆祝元宵节活动.

  占碑省府官员及各族群兴高彩烈参加庆典, 场面热闹. 近千人观看元宵节的各种节目, 有乩童走火炭,及从各自庙宇抬轿神爷,  从Koni IV出发游街至福庆堂庙终点为止, 表演乩童刺身术等传统习俗.

  福庆堂孔教会主席李鸿章由代表李振海致词表示, 每年的元宵节,我们都会联合多间寺庙共同庆祝元宵,抬神爷出游,驱凶迎吉,消灾避难, 风调雨顺, 祈福国泰民安. 希望在狗年旺旺, 大家配合政府建设纲领, 同心协力建设家园.
  本报记者明光报道/Romy 供图

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20180309/417963.shtml

Jumat, 02 Maret 2018

Tradisi Yang Bertahan Dari Cap Go Me Menyambut Dewa

JAMBI – Salah satu tradisi yang telah ada ribuan tahun yang lalu masih bertahan sampai sekarang, tradisi tersebut adalah bila ada ritual perayaan Cap Go Meh (malam tanggal 15 bulan 1 imlek), warga masyarakat yang menganut kepercayaan Khonghucu di bermukim disepanjang Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni I sampai Lorong Koni IV selalu menyediakan sesajian untik menyambut rombongan karvanal yang melintasi didepan rumah mereka.

Tradisi tersebut merupakan sebuah legenda rakyat di Tiongkok menyambut kedatangan rombongan Kaisar beserta para jenderal dan prajurit yang sedang melakukan kunjungan kerja dipemukiman penduduk atau di desa-desa. Sebagai contoh kehadiran Presiden maupun Pejabat Negara yang berkunjung ke Provinsi maupun Kabupaten.

Jikalau iring-iringan karvanal yang melintasi depan rumah makan Khi Tong yang telah dirasuki roh dewa akan mampir memberikan berkah demikian juga dengan iring-iringan Barongsai dan Liong.

Menurut beberapa orangtua yang berhasil dihimpun saat perayaan Cap Go Meh di Lorong Koni I hingga Koni IV, bahwa yang masih bertahan hingga kini adalah setiap Cap Go Meh warga sini selalu menyiapkan sesajian yang diletakan diatas meja, adapun sesajian terdiri dari aneka buah-buahan, juga beberapa jenis kue, Teh yang telah diseduh terus memasang lilin merah dan Hio/Garu menyambut rombongan karvanal para suci sen ren (dewa) dengan sesajian yang diletakan didepan rumah.

Selain itu tradisi tersebut sebagai wijud diri kita menghormati orang yang lebih tua dari diri kita, atau jikalau kita berada dirumah mesti kita menghormati yang lebih tua dari seperti Ayah, Ibu maupun kakak-kakak (Romy).

* https://www.facebook.com/makinjambi

Perayaan Cap Go Meh di Kota Jambi Diadakan Secara Rutin Setiap Tahun

JAMBI - Pada hari perayaan Cap Go Meh, kawasan pecinaan kota Jambi malam akan diadakan festival lampion, namun prosesi perayaan diawali upacara sembahyang kepada Tien (Yuhan) dengan persembahan Sam Seng. Di mana menurut pandangan masyarakat Sam Seng mewakili 3 jenis hewan di dunia, yaitu babi untuk hewan darat, ikan untuk hewan laut, dan ayam untuk hewan udara. Demikianlah persembahan ini berlangsung secara turun-menurun sampai sekarangpun masih ada. Upacara dipimpin oleh rohaniawan dari MATAKIN Jambi/ Kota Jambi, Js The Lian Teng.

Cap Go Meh (Hokkien: 十五暝) melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.

Besok malam ada empat klenteng terdiri dari klenteng MAKIN Hok Kheng Tong, klenteng MAKIN Leng Chun Keng, klenteng MAKIN Sai Che Tien dan klenteng Tiong Gie Thong akan adakan karnaval arak-arakan dari masing-masing klenteng menuju pusat perayaan Cap Go Meh. Arak-arakan terdiri dari bendera para suci sen ren (dewa), barongsai, kursi tandu dan atraksi tatung melompati kobaran api. Hampir setiap klenteng mengarak dewa dan dewi. Seperti klenteng MAKIN Hok Kheng Tong sen ren (dewa) “Cheng Cui Co She, klenteng MAKIN Leng Chun Keng sen ren (dewa) “Sun Ping Sing He, klenteng MAKIN Sai Che Tien sen ren (dewa) “Fu Xi” Hok Hie Tee Sieng dan klenteng Tiong Gi Tong sen ren (dewa) Kwan Seng Tai Te (Kong). Karnaval ini dimulai pukul 17.30 dari persiapan masing-masing klenteng (Romy).

* https://www.facebook.com/makinjambi

Malam Cap Go Meh Di Jambi

JAMBI - Tahun Baru Imlek nampaknya kurang meriah kalau nggak ada Cap Go Meh. Kebanyakan orang cuma tahu Cap Go Meh adalah perayaan yang dilakukan orang Tionghoa dua minggu setelah Tahun Baru Imlek. Ternyata Cap Go Meh bukan sekadar itu, karena Cap Go Meh juga punya makna.

Imlek biasanya dirayakan dengan sembahyang ke klenteng untuk memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan di tahun yang baru. Setelah itu, baru deh kumpul dan makan bersama keluarga. Sedangkan, ketika Cap Go Meh, orang-orang membawa persembahan dan sembahyang ke klenteng untuk mengucap syukur dan memohon keselamatan.

Ada empat klenteng bekerja sama dalam perayaan Cap Go Meh di Jambi, yaitu dari klenteng MAKIN Hok Kheng Tong, klenteng MAKIN Leng Chun Keng, klenteng MAKIN Sai Che Tien dan klenteng Tiong Gie Thong akan adakan karnaval arak-arakan dari masing-masing klenteng menuju pusat perayaan Cap Go Meh. Arak-arakan terdiri dari bendera para suci sen ren (dewa), barongsai, kursi tandu dan atraksi tatung melompati kobaran api. Hampir setiap klenteng mengarak dewa dan dewi utamanya. Seperti klenteng MAKIN Hok Kheng Tong sen ren (dewa) “Cheng Cui Co She, klenteng MAKIN Leng Chun Keng sen ren (dewa) “Sun Ping Sing He, klenteng MAKIN Sai Che Tien sen ren (dewa) “Fu Xi” Hok Hie Tee Sien dan klenteng Tiong Gi Tong sen ren (dewa) Kwan Seng Tai Te (Kong). Karnaval ini dimula
i pukul 17.30 dari persiapan masing-masing klenteng.

Cap Go Meh (Hokkien: 十五暝) melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari. disebut Festival Yuanxiao atau Festival Shangyuan. Perayaan Cap Go Meh dilakukan untuk memberi penghormatan terhadap para suci sen ren/ sen ming (Romy).
* https://www.facebook.com/makinjambi

Selasa, 27 Februari 2018

Mari Mengetahui Sistem Penanggalan Khonghucu!!!

*JANGAN KHAWATIR ORANG TIDAK MENGENAL DIRIMU, KHAWATIRLAH KALAU TIDAK MENGENAL ORANG LAIN.

Imlek (kalender bulan) atau Kalender Tionghoa adalah kalender lunisolar yang dibentuk dengan menggabungkan kalender bulan dan kalender matahari. Kalender Tionghoa sekarang masih digunakan untuk memperingati berbagai hari perayaan tradisional Tionghoa dan memilih hari yang paling menguntungkan untuk perkawinan atau pembukaan usaha. Kalender Tionghoa dikenal juga dengan sebutan lain seperti “Kalender Agrikultur” , “Kalender Yin “, “Kalender Lama” setelah “Kalender Baru” yaitu Kalender Masehi, diadopsi sebagai kalender resmi, dan “Kalender Xià” yang pada hakikatnya tidak sama dengan kalender saat ini.

SEJARAH PENANGGALAN IMLEK

Huang Di

Kalender Tionghoa mulai dikembangkan pada milenium ke-3 SM, konon ditemukan oleh penguasa legendaris pertama, Huáng Dì, yang memerintah antara tahun 2698 SM-2599 SM, dan dikembangkan lagi oleh penguasa legendaris ke-4, Kaisar Yáo. Siklus 60 tahun (ganzhi atau liùshí jiazi) mulai digunakan pada milenium ke-2 SM. Kalender yang lebih lengkap ditetapkan pada tahun 841 SM pada zaman Dinasti Zhou dengan menambahkan penerapan bulan ganda dan bulan pertama setiap tahun dimulai dekat dengan titik balik Matahari pada musim dingin.

Dinasti Qin

Kalender Sìfen (4 triwulan), yang mulai diterapkan sekitar tahun 484 SM, adalah kalender Tionghoa pertama yang memakai perhitungan lebih akurat, menggunakan penanggalan Matahari 365,25 hari, dengan siklus 19 tahun (235 bulan), yang dalam ilmu pengetahuan Barat dikenal sebagai Peredaran Metonic. Titik balik Matahari musim dingin adalah bulan pertamanya dan bulan gandanya disisipkan mengikuti bulan ke-12. Pada tahun 256 SM, kalender ini mulai digunakan oleh negara Qín, kemudian diterapkan di seluruh negeri Cina setelah Qín mengambil alih keseluruhan negeri Cina dan menjadi Dinasti Qín. Kalender ini tetap digunakan sepanjang separuh pertama Dinasti Hàn Barat.

Dinasti Han

Kaisar Wu dari Dinasti Han Barat memperkenalkan reformasi kalender baru. Kalender Tàichu (Permulaan Agung) pada tahun 104 SM mempunyai tahun dengan titik balik Matahari musim dingin pada bulan ke-12 dan menentukan jumlah hari untuk penanggalan bulan (1 bulan lamanya 29 atau 30 hari) dan bukan sesuai dengan prinsip terminologi Matahari (yang secara keseluruhan sama dengan tanda zodiak), karena gerakan Matahari digunakan untuk mengalkulasi Jiéqì (ciri-ciri musim).

Dinasti Tang

Sedangkan pada zaman Dinasti Jin dan Dinasti Tang juga sempat dikembangkan Kalender Dàyan dan Huángjí, walaupun tidak sempat dipergunakan. Dengan pengenalan ilmu astronomi Barat ke Tiongkok melalui misi penyebaran agama Kristen, gerakan bulan dan Matahari mulai dihitung pada tahun 1645 dalam Kalender Shíxiàn Dinasti Qing, yang dibuat oleh Misioner Adam Schall.
CARA PERHITUNGAN PENANGGALAN IMLEK

Kalender Tionghoa memiliki aturan yang sedikit berbeda dengan kalender umum, seperti: perhitungan bulan adalah rotasi bulan pada bumi. Berarti hari pertama setiap bulan dimulai pada tengah malam hari bulan muda astronomi. (Catatan, “hari” dalam Kalender Tionghoa dimulai dari pukul 23:00 dan bukan pukul 00:00 tengah malam). Satu tahun ada 12 bulan, tetapi setiap 2 atau 3 tahun sekali terdapat bulan ganda (rùnyuè, 19 tahun 7 kali). Berselang satu kali jiéqì (musim) tahun Matahari Cina adalah setara dengan satu pemulaan Matahari ke dalam tanda zodiak tropis. Matahari selalu melewati titik balik Matahari musim dingin (masuk Capricorn) selama bulan 11.

Jika Kalender Masehi menggunakan Sistem Solar atau Matahari dan Kalender Hijriah menggunakan Sistem Lunar, Bulan atau Komariah, maka Kalender Imlek memadukan keduanya, yang disebut Sistem Lunisolar.

SISTEM SOLAR ATAU MATAHARI

Kalender Masehi menggunakan Sistem Solar atau Matahari. Perhitungan sistem ini didasari oleh orbit Bumi mengitari Matahari, yang memakan waktu sekitar 365,25 hari per tahun. Jumlah hari per bulannya antara 30 atau 31 hari. Khusus untuk bulan Februari jumlahnya 28 hari, namun pada tahun yang habis dibagi empat, seperti halnya tahun 2004, jumlah hari bulan Februari menjadi 29, sebagai pembulatan kelebihan 0,25 hari per tahun.

Sistem Solar mempunyai keunggulan bisa menghitung secara tepat kapan jatuhnya musim semi, panas, rontok dan dingin, karena ia bisa menentukan letak semu Matahari terhadap Bumi secara pasti, kapan tepat berada di atas Khatulistiwa, pada 23,5° Lintang Utara, kembali ke Khatulistiwa, pada 23,5° Lintang Selatan, kembali lagi ke Khatulistiwa dan seterusnya.

SISTEM LUNAR ATAU BULAN
Kalender Hijriah menggunakan Sistem Lunar. Sistem ini didasarkan pada orbit Bulan mengitari Bumi. Rata-rata jumlah hari per bulannya 29,5 hari, yang kemudian dibulatkan menjadi 29 dan 30 hari. Dari sini kita bisa menghitung bahwa jumlah hari per tahunnya adalah 29,5 x 12 = 354 hari, atau 11,25 hari lebih pendek dari Kalender Masehi. Inilah yang menyebabkan 1 Muharram dan Idul Fitri selalu maju 11 hari lebih awal.

Sistem Lunar tidak bisa menghitung kapan terjadi pergantian musim, namun ia mempunyai keunggulan bisa digunakan untuk menentukan kapan terjadi bulan baru dan purnama, yang masing-masing terjadi tanggal 1 dan 15. Karenanya sistem ini bisa digunakan untuk menentukan kapan terjadinya air surut dan air pasang, sesuatu yang tidak bisa dilakukan Sistem Solar.

KALENDER IMLEK DAN SISTEM LUNISOLAR

KalenderFenomena Lun Imlek menggunakan Sistem Lunisolar. Perhitungan jumlah hari per bulan didasarkan pada Sistem Solar, sedang selisih 11,25 hari per tahunnya dikonversi dengan menyisipkan bulan ke –13 pada tahun tertentu sebanyak 7 kali per 19 tahun, agar jumlah hari per tahunnya sesuai dengan Sistem Solar, karena 11,25 x 19 = 213,75 hari atau setara dengan 7 bulan.

Mekanisme penyisipan bulan ke –13 disebut ‘lun’. Dengan tambahan bulan ke –13, maka akan terjadi bulan dobel pada tahun-tahun tertentu. Pada tahun 2555, terjadi ‘lun’ di bulan –2. Dengan demikian setelah bulan –1, bulan -2, masuk ke bulan –2 lagi dan baru kemudian ke bulan –3, -4, -5 dst.

Dengan mekanisme penyisipan tersebut, maka Kalender Imlek di samping bisa digunakan untuk menghitung kapan terjadi bulan purnama, air surut dan air pasang, juga bisa digunakan untuk menentukan pergantian musim.

PENENTUAN TAHUN AWAL KALENDER IMLEK

Kalender Imlek ini diciptakan Huang Di, 2696-2598 sM, salah satu raja suci purba dan Nabi dalam Ru Jiao (agama Khonghucu) dan digunakan pertama kali oleh Dinasti Xia, 2205-1766 sM. Awal tahun baru ditetapkan jatuh pada awal musim semi. Ketika Xia jatuh diganti Dinasti Shang, 1766-1122 sM, awal tahun baru dimajukan satu bulan, berbarengan dengan akhir musim dingin. Ketika Shang digantikan Dinasti Zhou, 1122-255 sM, awal tahun barunya dimajukan lagi sebulan, tepat pada puncak musim dingin.

Kongzi, Khongcu atau Confucius hidup pada jaman Dinasti Zhou, 551-479 sM. Suatu ketika ia menganjurkan agar Dinasti Zhou kembali menggunakan Kalender Xia, karena tahun barunya jatuh pada musim semi, sehingga cocok dijadikan pedoman bercocok tanam. Namun nasihat ini baru dilaksanakan Han Wu Di dari Dinasti Han, 140-86 sM, pada 104 sM. Sejak itu Kalender Xia, yang kini dikenal sebagai Kalender Imlek diterapkan kembali.

Sebagai penghormatan kepada Kongzi, perhitungan tahun pertama Kalender Imlek ditetapkan oleh Han Wu Di dihitung sejak kelahiran Kongzi, yaitu sejak tahun 551 sM. Itulah sebabnya Kalender Imlek lebih awal 551 tahun ketimbang Kalender Masehi. Jika sekarang kalender Masehi bertahunkan 2012, maka Kalender Imlek bertahunkan 2012 + 551 = 2563. Pada saat bersamaan agama Khonghucu (Ru Jiao) ditetapkan Han Wu Di sebagai agama negara. Sejak saat itu penanggalan Imlek juga dikenal sebagai Kongli (Penanggalan Kongzi).

Penghormatan yang diterima Kongzi, setara dengan yang diterima Nabi Isa Almasih dan Nabi Muhammad, SAW. Tahun pertama Kalender Masehi dihitung sejak tahun kelahiran Nabi Isa Almasih, sedang tahun pertama Kalender Hijriah dihitung sejak hijrahnya Nabi Muhammad, SAW, dari Mekkah ke Madinah.

PENENTUAN AWAL TAHUN BARU

Pada tanggal 22 Desember letak Matahari berada di 23,5° Lintang Selatan. Di bagian Selatan Bumi, hari itu merupakan hari terpanjang; sedang di Utara merupakan hari terpendek. Setelah 22 Desember Matahari bergerak ke Utara dan pada hari ke –91 atau 21 Maret, tepat berada di atas 0° atau Khatulistiwa. Hari ke –46 setelah pergerakan Matahari ke Utara atau tanggal 5 Februari – yang merupakan titik tengah antara 23,5° Lintang Selatan dengan Khatulistiwa – merupakan awal musim semi. Karena jumlah hari per bulan adalah 29,5 atau 30 hari, maka kisaran setengah bulan ke depan dan ke belakang dari tanggal 5 Februari adalah tanggal 21 Januari dan 19 Februari. Ini sebabnya awal Tahun Baru Imlek jatuh di antara kedua tanggal tersebut.

Batas 21 Januari s.d. 19 Februari ini yang menentukan terjadinya penyisipan bulan –13. Ketika awal Tahun Baru Imlek maju 11,25 hari per tahun dan diperhitungkan akan melewati 21 Januari, maka tahun tersebut disisipi bulan –13. Dengan demikian awal tahun baru yang mestinya maju 11 hari melewati 21 Januari, malah mundur 30 – 11 = 19 hari. Pada tahun Masehi yang habis dibagi empat (366 hari), awal Tahun Baru Imlek sesudahnya akan maju 12 hari atau mundur 18 hari.

LUN GWEE


Lun-gwee adalah bulan kabisat dalam kalender Imlek. Di dalam kalender Gregorian (Masehi) yang kita kenal sebagai tahun kabisat, di mana setiap 4 tahun sekali ada 29 hari dalam bulan Februari. Dalam kalender Imlek, kita kenal bulan kabisat, di mana ada 2 bulan yang sama dalam setahun, artinya 1 tahun Imlek tersebut mempunyai 13 bulan.

MENGAPA HARUS ADA LUN GWEE?

Penanggalan Yangli KongziliLun-gwee ini ada di dalam kalender Imlek karena kalender Imlek adalah kalender lunisolar, kalender yang mendasarkan perhitungannya atas pergerakan bulan dan matahari. Memperhitungkan matahari karena Tiongkok adalah negara agraris di mana pergantian musim sangat penting untuk memutuskan waktu mulai menanam dan memanen. Juga memutuskan tanaman apa saja yang cocok untuk ditanam untuk musim berbeda.

Namun, kalender lunar yang mendasarkan perhitungan atas gerakan bulan cuma punya 29.5 hari dalam 1 bulan atau 354 hari dalam setahun. Sedangkan pergerakan matahari adalah 365.25 hari dalam setahun. Sehingga ada beda 11.25 hari antara setahun kalender lunar dengan kalender matahari. Lun-gwee kemudian ditambahkan ke dalam tahun Imlek untuk sinkronisasi perhitungan atas pergerakan bulan dengan pergerakan matahari itu. Berdasarkan perhitungan, maka ada 7 bulan kabisat yang perlu ditambahkan dalam periode 19 tahun Imlek.

BAGAIMANA CARA PENETAPAN LUN GWEE?

Penetapan Lun-gwee tidak tentu, sekitar 2 atau 3 tahun sekali ditambahkan 1 bulan kabisat pada tahun Imlek tersebut. Misalnya tahun 2004, ada 2 kali bulan 2 (lun Ji gwee), tahun 2006 ada 2 kali bulan 7 (lun Chit gwee), tahun 2009 ada 2 kali bulan 5 (lun Go gwee) dan tahun 2012 ini ada 2 kali bulan 4 (lun Si wee)

Penentuan bulan apa yang akan menjadi bulan kabisat ini tidak tentu dan tidak beraturan, namun ada aturannya. Pada dasarnya kaitannya erat dengan periode matahari. Periode matahari adalah istilah lain dalam kalender Imlek, ada 24 periode matahari dalam setahun. 2 periode matahari yang terkenal misalnya Ceng-beng dan Tang-che. Ceng-beng ziarah ke makam selalu jatuh pada tanggal 4 atau 5 April setiap tahunnya, sedang Tang-che makan ronde tetap jatuh pada tanggal 21 atau 22 Desember setiap tahun.

Jarak antar periode matahari pada dasarnya adalah 15.75 hari, namun jumlah hari pada 1 bulan Imlek hanya 29.5 hari, sehingga berdasarkan perhitungan setiap 2 atau 3 tahun sekali akan ada 1 bulan yang tidak punya periode matahari genap atau sederhananya, ada bulan Imlek yang hanya punya 1 periode matahari. Bulan inilah yang harus di-kabisat-kan.

BAGAIMANA KALAU KITA LAHIR DI BULAN LUN GWEE?

Lahir di Lun-gwee, misalnya lahir pada lun Go gwee (kabisat bulan 5), maka ulang tahun Imleknya adalah tetap pada bulan 5 setiap tahunnya, tetapi yang diperingati adalah bulan 5 yang pertama, bukan yang kabisatnya.

KALAU LUN PEK GWEE (KABISAT BULAN 8)
APAKAH BERARTI ADA 2 KALI PERAYAAN FESTIVAL MUSIM GUGUR?


Pada dasarnya tidak begitu, festival musim gugur tanggal 15 bulan 8 hanya dirayakan pada bulan 8 asli, bulan 8 kabisat tidak usah dirayakan.

MENGAPA LUN GWEE KELIHATAN TIDAK BERATURAN PENENTUANNYA?

Kalender lunar mendasarkan perhitungan atas gerakan bulan hanya punya 29.5 hari dalam 1 bulan atau 354 hari dalam setahun. Sedangkan pergerakan matahari adalah 365.25 hari dalam setahun. Sehingga ada beda 11.25 hari antara setahun kalender lunar dengan kalender matahari. Lun-gwee kemudian ditambahkan ke dalam tahun Imlek untuk sinkronisasi perhitungan atas pergerakan bulan dengan pergerakan matahari itu. Berdasarkan perhitungan, maka ada 7 bulan kabisat yang perlu ditambahkan dalam periode 19 tahun Imlek. 19 tidak bisa dibagi rata 7, maka dari itu kadang sekitar 2 atau 3 tahun sekali ditambahkan 1 bulan kabisat pada tahun Imlek tersebut. Misalnya pada tahun 2004 ada 2 kali bulan 2 (lun Ji gwee), tahun 2006 ada 2 kali bulan 7 (lun Chit gwee), tahun 2009 ada 2 kali bulan 5 (lun Go gwee) dan tahun 2012 ini ada 2 kali bulan 4 (lun Si gwee)

Penentuan bulan apa yang akan menjadi bulan kabisat ini tidak tentu dan tidak beraturan, namun ada aturannya. Pada dasarnya kaitannya erat dengan periode matahari. Periode matahari adalah istilah lain dalam kalender Imlek, ada 24 periode matahari dalam setahun. 2 periode matahari yang terkenal misalnya Ceng-beng dan Tang-che. Ceng-beng ziarah ke makam selalu jatuh pada tanggal 4 atau 5 April setiap tahunnya, sedang Tang-che makan ronde tetap jatuh pada tanggal 21 atau 22 Desember setiap tahun.

Jarak antar periode matahari pada dasarnya adalah 15.75 hari, namun jumlah hari pada 1 bulan Imlek hanya 29.5 hari, sehingga berdasarkan perhitungan setiap 2 atau 3 tahun sekali akan ada 1 bulan yang tidak punya periode matahari genap atau sederhananya, ada bulan Imlek yang hanya punya 1 periode matahari. Bulan inilah yang harus di-kabisat-kan.

ADAKAH KEBIASAAN YANG DILAKUKAN PADA SETIAP BULAN LUN GWEE?

Kebiasaan seperti itu mSembahyangemang ada, seperti misalnya di Taiwan Selatan pada setiap bulan Lun, anak perempuan (termasuk putrinya yang sudah menikah ke keluarga lain) untuk memberikan Mi Shua (mian shou atau mie panjang umur). Hal ini disebabkan karena ada kepercayaan dengan adanya bulan Lun maka umur orang tua akan berkurang, dengan cara memberikan doa panjang umur serta mie panjang umur akan membuat hal diatas tidak terjadi.

Masing-masing sub etnis memiliki kebiasaan yang berbeda. Makna dari pemberian ini adalah bakti dari anak perempuan kepada orang tua. Karena zaman dulu, anak perempuan yang telah menikah dianggap merupakan bagian dari keluarga sang suami dan berbakti kepada orang tua sang suami, namun untuk tidak melupakan jasa orang tua membesarkan sang anak perempuan sampai menikah, maka ada tradisi seperti ini.

NAMA NAMA BULAN

NO    PENANGGALAN TIONG HOA    LAMA HARI
1    Cia Gwee    30
2    Ji Gwee    29
3    Sa Gwee    30
4    Si Gwee    30
5    Go Gwee    29
6    Lak Gwee    30
7    Cit Gwee    29
8    Pe Gwee    29
9    Kauw Gwee    30
10    Cap Gwee    29
11    Cap It Gwee    29
12    Cap Ji Gwee    30
13    Lun ... Gwee    -30
TOTAL        354/(384)

HARI BESAR AGAMA KHONGHUCU

NO    TANGGAL    KETERANGAN
1.    1 bulan I (Zheng Yue)    Sembahyang Tahun Baru Kongzili/Yinli, Xin Zheng, atau Chun Jie.
2.    4 bulan I (Zheng Yue)    Sembahyang Menyambut Malaikat Dapur Turun (Ying Zao Jun Xia Jiang).
3.    8/9 bulan I (Zheng Yue)    Sembahyang Besar kepada Tuhan YME (Jing Tian Gong).
4.    15 bulan I (Zheng Yue)    Sembahyang Syukur Shang Yuan Jie/Yuan Xiao Jie, atau Cap Go Me.
5.    18 bulan II (Er Yue)    Sembahyang Hari Wafat Nabi Kongzi (Zhi Sheng Ji Chen).
6.    4 atau 5 April    Sembahyang Hari Sadranan (Qing Ming Jie).
7.    5 bulan V (Wu Yue)    Sembahyang Duan Yang Jie/Duan Wu Jie, atau Bai Chuan.
8.    15 bulan VII (Qi Yue)    Sembahyang Arwah Leluhur (Zhong Yuan Jie).
9.    29 bulan VII - (Qi Yue)    Sembahyang Arwah Umum (Jing He Ping/Jing Hao Peng).
10.    15 bulan VIII (Ba Yue)    Sembahyang Syukur kepada Tuhan YME dan kepada Malaikat Bumi (Fu De Zheng Shen) pada saat pertengahan Musim Gugur (Zhong Qiu Jie).
11.    27 bulan VIII (Ba Yue)    Sembahyang Hari Lahir Nabi Kongzi (Zhi Sheng Dan).
12.    15 bulan X (Shi Yue)    Sembahyang Syukur Akhir Panen kepada Tuhan YME dan kepada Malaikat Bumi (Fu De Zheng Shen) pada awal Musim Dingin (Xia Yuan Jie).
13.    21 atau 22 Desember    Sembahyang Hari Genta Rohani dan Wafatnya Mengzi (Dong Zhi Jie).
14.    24 bulan XII (Shi Er Yue)    Sembahyang Hari Persaudaraan; Mengantar Malaikat Dapur Naik (Song Zao Jun Shang Tian, atau Er Si Sheng An).
15.    29 atau 30 bulan XII (Shi Er Yue)    Sembahyang Tutup Tahun (Chu Xi).

TEMPAT IBADAH AGAMA KHONGHUCU

Kong Miao, (Confucius Temple); Ada satu ciri khas yang membedakaKelenteng Kong Miaon antara Miao atau Kuil Khonghucu dengan bangunan tempat ibadah yang serupa. Pada umumnya di dalam Kong Miao tidak terdapat patung dewa-dewi, melainkan hanya berupa tulisan pada papan peringatan (Sienci) yang biasanya hanya berisi tulisan tentang nama Nabi Kongfuzi/Khonghucu (nama yang lebih umum Kongzi dan juga nama-nama para muridnya yang terkenal). Bangunan Kong Miao yang tertua di Indonesia terdapat di kota Surabaya yang dikenal dengan “Boen Bio” dan Khongcu Bio di kota Cirebon.

Litang,  (Ruang Ibadah); Litang adalah nama tempat ibadah agama Khonghucu yang banyak terdapat di Indonesia. Saat ini sudah ada lebih dari 150 Litang yang tersebar di seluruh Indonesia yang berada di bawah naungan MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) dan organisasi pusatnya adalah MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia). Ciri tempat ibadah tersebut selain altarnya yang berisi Kim Sin Nabi Kongzi/Khonghucu, juga biasanya terdapat lambang “Mu Duo” atau Bok Tok (dalam dialek Hokian) yaitu berupa gambar Genta dengan tulisan huruf ‘Zhong Shu’ atau Tiong Sie (bahasa Hokian) artinya “Satya dan Tepasarira/Tenggang Rasa” yang merupakan inti ajaran agama Khonghucu. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi Kongzi dalam Kitab Lun Yu “Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan terhadap orang lain”. Umat Khonghucu biasanya melakukan ibadah di Litang setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek. Namun ada pula yang melaksanakannya pada hari Minggu dan hari lain, hal ini disesuaikan dengan kondisi dan keadaan setempat. Upacara-upacara hari keagamaan lain seperti peringatan Hari Lahir Nabi Khonghucu (28 bulan 8 Iemlik), Hari Wafat Khonghucu (18 bulan 2 Iemlik), Hari Tangcik (Genta Rohani), dan Tahun Baru Iemlik, dsb. biasanya juga dilakukan di Litang.

Kelenteng, Miao; kelenteng pada umumnya digunakan sebagai sarana tempat bersembahyang/ibadah oleh kebanyakan orang Tionghoa terutama umat tradisional sehingga kadang-kadang kita sulit membedakan apakah mereka itu penganut aKlenteng Tien Kok Siegama Buddha Mahayana, Khonghucu atau Tao. Namun kalau kita telaah lebih jauh, ada ciri yang membedakan dari ketiga bangunan tempat ibadah masing-masing penganut agama tersebut yaitu dari nama kelenteng tersebut dan juga para Dewa-dewi yang berada dalam bangunan Kelenteng tersebut. Namun secara umum bangunan Kelenteng biasanya bergaya arsitektur khas Tiongkok, misalnya terdapat ukiran Naga atau Liong pada bagian atas atap atau tiang/pilarnya,ada lukisan Qilin (Hokkian:Kilien) binatang yang dianggap suci, bentuknya seperti seekor rusa, kulitnya bersisik berwarna hijau keemasan, bertanduk tunggal. Hewan suci ini pernah muncul pada saat menjelang kelahiran Khonghucu/Kongzi dan terbunuh oleh Pangeran Lu Ai Gong dalam perburuannya yang menandai peristiwa sebelum kewafatan Khonghucu. Klenteng atau kelenteng (bahasa Hokkian: miao) adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Dikarenakan di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu, maka klenteng dengan sendirinya disamakan sebagai tempat ibadah agama Konghucu. Di beberapa daerah, klenteng juga disebut dengan istilah tokong. Istilah ini diambil dari bunyi suara lonceng yang dibunyikan pada saat menyelenggarakan upacara. Klenteng bagi masyarakat Tionghoa tidak hanya berarti sebagai tempat ibadah saja. Selain Gong-guan (Kongkuan), Klenteng mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan komunitas Tionghoa dimasa lampau.

ASAL MULA KATA KLENTENG

Klenteng dibangun pertama kali pada tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen dan dinamakan Kwan Im Teng. Klenteng ini dipersembahkan kepada Kwan Im (dewi penyayang). Dari kata Kwan Im Teng inilah orang Indonesia akhirnya lebih mengenal kata Klenteng daripada Vihara, yang kemudian melafalkannya sebagai Klenteng hingga saat ini. Klenteng juga disebut sebagai bio yang merupakan dialek Hokkian dari karakter (miao). Ini adalah sebutan umum bagi klenteng di Republik Rakyat Tiongkok.

Miao QuFu Pada mulanya, klenteng adalah tempat penghormatan pada leluhur “Ci” (rumah abuh), masing-masing marga membuat “Ci” untuk menghormati para leluhur mereka sebagai rumah abuh. Para dewa-dewi yang dihormati tentunya berasal dari suatu marga tertentu yang pada awalnya dihormati oleh marga mereka. Seiring perkembangan zaman, penghormatan kepada dewa-dewi yang kemudian dibuatkan ruangan khusus yang dikenal sebagai klenteng yang dapat dihormati oleh berbagai macam marga, suku. Di dalam klenteng bisa ditemukan (bagian samping atau belakang) dikhususkan untuk abuh leluhur yang masih tetap dihormati oleh para sanak keluarga masing-masing. Ada pula di dalam klenteng disediakan tempat untuk mempelajari ajaran-ajaran atau agama leluhur seperti ajaran-ajaran Konghucu, Taoisme, dan bahkan ada pula yang mempelajari ajaran Buddha. Klenteng selain sebagai tempat penghormatan para leluhur, para dewa-dewi, dan tempat mempelajari berbagai ajaran, juga digunakan sebagai tempat yang damai untuk semua golongan tidak memandang dari suku dan agama apapun.

KATEGORI KLENTENG

Klenteng adalah sebutan umum bagi tempat ibadat orang Tionghoa sehingga klenteng sendiri terbagi atas beberapa kategori yang mewakili agama Taoisme , Konghucu , Buddhisme , Agama Rakyat atau Sam Kaw yang masing-masing memiliki sebutan tempat ibadat yang berbeda-beda.

KLENTENG DAN VIHARA PADA ORDE BARU

Pada masyarakat awam, banyak yang tidak mengetahui perbedaan dari klenteng dan vihara. Klenteng dan vihara pada dasarnya berbeda dalam arsitektur, umat, dan fungsi. Klenteng pada dasarnya beraritektur tradisional Tionghoa dan berfungsi sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat selain berfungsi sebagai tempat spiritual. Vihara berarsitektur lokal dan biasanya mempunyai fungsi spiritual saja. Namun, vihara juga ada yang berarsitektur tradisional Tionghoa seperti pada vihara Buddhis aliran Mahayana yang memang berasal dari Tiongkok.

Perbedaan antara klenteng dan vihara kemudian menjadi rancu karena peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Imbas peristiwa ini adalah pelarangan kebudayaan Tionghoa termasuk kepercayaan tradisional Tionghoa oleh pemerintah Orde Baru. Klenteng yang ada pada masa itu terancam ditutup secara paksa. Banyak klenteng yang kemudian mengadopsi nama dari bahasa Sanskerta atau bahasa Pali yang mengubah nama sebagai vihara dan mencatatkan surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan dan kepemilikan, sehingga terjadi kerancuan dalam membedakan klenteng dengan vihara.

Setelah Orde Baru digantikan oleh Orde Reformasi, banyak vihara yang kemudian mengganti nama kembali ke nama semula yang berbau Tionghoa dan lebih berani menyatakan diri sebagai klenteng daripada vihara atau menamakan diri sebagai Tempat Ibadah Tridharma (TITD).

Sumber Altiker:
https://www.gurisa.com/penanggalan-dan-tempat-ibadah-agama-khonghucu/

Sabtu, 17 Februari 2018

Ribuan Umat Khonghucu Sembahyang Ke Klenteng 🏮🏮🏮🏮

JAMBI - Perayaan Tahun Baru Imlek ke 2569 kongzili di Kota Jambi, di sambut antusias oleh ribuan umat Khonghucu se-kota Jambi (16/2-2018).

Sejak pukul 00.00 dinihari, belasan klenteng di kota Jambi telah di buka untuk memberikan pelayanan terhadap umat yang hendak lakukan sembahyang Imlek tahun 2018.
Aroma gahayu yang semerbak harumnya tercium dari depan gerbang klenteng diiringi terangnya puluhan lilin berwarna merah dari berbagai ukuran Sebagai ungkapan rasa syukur. Sembahyang imlek sudah dilakukan umat Khonghucu sejak ribuan tahun silam secara turun temurun dan dilakukan setiap perayaan Imlek.

Warga berharap, di tahun yang baru ini, kehidupan akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan keluarganya akan diberikan kesejahteraan serta kesehatan. Ribuan warga Tionghua yang mayolitas beragama Khunghucu untuk memanjatkan doa.

Seperti yang dilakukan para umat Khonghucu di klenteng Siu San Teng, klenteng terbesar di kota Jambi yang terletak dikawasan Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, kota Jambi.

Warga berharap semoga di tahun yang baru ini, kehidupan akan lebih baik dan umat akan diberikan kesejahteraan serta kesehatan. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi

Senin, 01 Januari 2018

印尼占碑孔教会庆祝母亲节

 
 
 
 
 暨拜访孤儿院和老人院

【本报占碑讯】2017年12月22日,是一个特别的日子“母亲节”,在印尼占碑的孔教理事会及成员举行了向母亲感恩的节日盛会暨探访座落在南占碑镇Tambak Sari 乡 (jl. Guru Mukhtar, Rt. 9 No, 32)“Ridahiyatul Bilad”孤儿院和新城镇 Kenali Asam Atas 乡 (jl. Pangeran Hidayat "Budi Luhur)老人院 。
  在庆母亲节会上,占碑每位妇女组的儿女在这一天向母亲献花及洗脚来报答多年来的培育之恩。有些儿女的母亲被感动得热泪盈眶,场面感人,深入人心。
  郑建平在会上说,母亲无私的为我们付出,我们有时会忽略了,我们很少看到或者关心我们的母亲,虽然她已年老了,但是她们从来不抱怨,也不会乞求孩子们的怜悯。

我们的母亲对我们的爱护是无限的,我们甚至无法报答他们,不管我们多么爱我们的母亲,相比于母亲对我们的爱和情感,我们会发现我们的爱其实不算什么 。所以我们应趁着这有生之年,多报答在世父母之恩。请大家不要错过这机会。
  今次的母亲节我们也拜访孤儿院及老人院,以表我们对他们的关爱送温暖,向他们赠物品送爱心。
  本报记者明光报道
  Romy供图

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20180102/388384.shtml
* https://www.facebook.com/makinjambi

Sabtu, 11 November 2017

Cinta Frendy Willyam dan Lenny Dikukuhkan di Klenteng Sai Che Tien

JAMBI - Klenteng itu menjadi saksi cinta mereka berdua. Frendy Willyam dan Lenny, warga Koni IV, kota Jambi menyatakan ikrar satu hati satu cinta di hadapan Nabi Kongze Klenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien Jambi. “Sesuai dengan UU No 1/ 1974 bahwa syarat sah pernikahan ialah dilakukan cara agama dan dicatatkan di pemerintah, maka kalian berdua telah sah menjadi suami istri,” kata Ketua Rohaniawan MATAKIN Provinsi Jambi JS The Lien Teng disaksikan Ketua MATAKIN Kota Jambi, Darmadi Tekun selepas pemberkatan pernikahan sepasang suami istri baru itu, Sabtu (11/11/2017).

Pernikahan Frendy Willyam dan Lenny memang cukup menyedot perhatian khalayak. Bukan saja lantaran pemberkatan mereka diiringi pelepasan balon ke udara. Namun, perayaan dan lokasi pernikahan mereka dilaksanakan di klenteng.

“Klenteng Sai Che Tien ini, sudah sering dipakai oleh penganut Konfucius, untuk pernikahan ala Khonghucu,” kata Darmadi Tekun selaku Ketua MAKIN Klenteng Sai Che Tien Jambi, Darmadi Tekun juga sebagai Ketua MATAKIN Kota Jambi, dengan
adanya pernikahan tersebut, diharapkan kedepan umat Khonghucu tidak ragu-ragu lagi adakan pemberkatan pernikahan di Klenteng.

Menurut JS The Lien Teng, Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita dengan tujuan membentuk keluarga bahagia dan melangsungkan keturunan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. “Perkawinan harus berdasarkan kemauan dan persetujuan kedua calon mempelai, tanpa adanya paksaaan dari pihak manapun.” Ujar The Lien Teng.

Kebebasan beragama dan kesamaan hak warga negara, khususnya warga Khonghucu di Nusantara, telah berkembang pesat. Tak hanya dalam pengakuan agama Khonghucu saja. Namun, dalam hal perkawinan, pengurusan kartu tanda penduduk (KTP), hingga pelajaran agama Khongucu pun juga mendapatkan perlakuan yang sama. Bahkan, sejumlah kegiatan umat Khonghucu pun juga mulai banyak yang didukung pemerintah daerah. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi

Jumat, 06 Oktober 2017

占碑华社在福庆堂庆中秋佳节及犒赏内外神军饷

 
 
 
 
2017年10月4日(农历八月十五)占碑华社在Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Ke-camatan Jelutung福庆堂“清水祖師公庙”庆祝中秋佳节,并感恩诸佛菩萨、神明及供奉犒赏内外神军饷。
  占碑省孔教最高理事会主席、占碑省獅仔殿庙宇主席黄春回、印尼孔教妇女会郑华玲(Herwai)、福神堂副主席黄汉雄、客属主席李鑫荣和潮州公会副主席李進荣出席祈拜仪式。
  占碑省福庆堂孔教会郑连丁学士主持祈拜仪式,礼拜天公、观音菩萨等多位神明,并祈祷国泰民安、风调雨顺、生意昌隆、六时吉祥、人民安康。随后,余兴节目接着开始,邀请来自巴淡华语歌手献唱,为中秋节带来了热闹气氛。
Romy/学科报道

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20171007/342539.shtml
* https://www.facebook.com/makinjambi

Rabu, 04 Oktober 2017

Perayaan Tiong Ciu Cue Di MAKIN Hok Kheng Tong Jambi

 
占碑福慶堂孔教會慶祝中秋節

JAMBI - Hingga kini masih banyak tradisi yang dipertahankan warga keturunan Tionghoa yang beragama Khonghucu diseluruh dunia. Salah satu diantaranya adalah pesta kue bulan di bulan purnama yang biasa digelar setiap tanggal 15 bulan delapan Imlek (Pe Gwee Cap Go/八月十五日) dengan mengelar sembahyang kue bulan dan juga tidak ketinggalan pesta kembang api pada malam harinya.

Perayaan Tiong Ciu Cue tahun ini yang jatuh pada tangga 4 Oktober 2017 di klenteng Khonghucu “Hok Kheng Tong” 占碑福慶堂孔教會, di Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi (depan pabrik kopi AAA) 占碑埠哥尼區.

Selain menyambut perayaan Kue Bulan (Tiong Ciu Phia/月餅), Hok Kheng Tong (福慶堂)juga melakukan kho khun (犒赏内外神军餉) yang dilakukan setiap tahun, “Tiap tahun kita rayakan sembahyang Tiong Ciu Cue sekaligus melakukan kho khun“ ujar pengurus Hok Kheng Tong (福慶堂).

Sehari sebelumnya prosesi akbar perayaan Tiong Ciu Cui dilakukan, terlebih dahulu para pengurus klenteng melakukan sembahyang didepan altar Tien (Tuhan), adapun maksud sebahyang tersebut adalah memberitahu kepada sang pencipta alam semesta, bahwa umatnya hendak merayakan Tiong Ciu Cue dengan menyembahyangi Tai Im Niu Niu (Dewi Bulan) dilanjutkan dengan pemotongan hewan qurban. Prosesi upacara dipimpin langsung rohaniwan dari MATAKIN Jambi, The Lien Teng  (鄭連丁先生).

Menurut Ketua Hok Kheng Tong (福慶堂主席), Zikif Effendy Lie (李鴻章先生), harapan kita semoga Tien (Tuhan/上帝) dapat memberikan perlindungan kepada bangsa dan negara, “Kita memohon kepada Tien (Tuhan/上帝) agar negara dapat terhindar dari segala bencana, agar masyarakat bisa melakukan aktifitas sehari dan warga aman sentosa, keluarga harmonis.

Tampak hadir dalam acara akbar tersebut, Ketua MATAKIN Jambi, Darman Wijaya (占碑省孔教最高理事會主席 黄春回黄春回先生), Ketua Perempuan Khonghucu (印尼孔教妇女) Herwai (郑华玲), Wakil Ketua Klenteng Hok Sin Tong (福神堂副主席黄汉雄先生), Ketua Perkumpulan Hakka Rudy Lidra (客属主席李鑫荣先生), Wakil Ketua Perkumpulan Teo Chew Jambi, Rozak  (潮州公会副主席李進荣先生). (ROMY)


* https://www.facebook.com/makinjambi

Melirik Perayaan Sejit Che Liong Kong Di MAKIN Leng Chun Keng Jambi

Melirik Perayaan Sejit “Sun Peng Sing He” yang lebih dikenal dengan nama sebutan Che Liong Kong” di Klenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Leng Chun Keng Jambi yang terletak di Jalan Koni 1, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Rabu (4/10) pagi.

Sejit Che Liong Kong tepat pada Pwe Gwe Cap Go (lunar kalender) MAKIN Leng Chun Keng Kota Jambi, sekaligus mengadakan sembahyang Tiong Chiu/ Zhong Qiu Jie, 15 bulan 8 tahun 2568 Kongzili yang jatuh pada 4 Oktober 2017 Masehi. Saat bulan purnama bersinar nan cemerlang di pertengahan musim gugur/rontok (Mid Autumn) dan dilakukan sembahyang syukur kepada Sun Peng Sing He dengan sajian khusus Tiong Chiu Pia atau Kue Bulan.

Selain menyambut perayaan Sejit Che Liong Kong dan Kho Kun “sesajian khusus dipersembahkan kepada para jenderal pengawal dewa-dewi”.

Ritual sembahyang dipimpin langsung oleh Lim Ze Cheng taoshe yang di undang dari Tiongkok.

Sehari sebelumnya prosesi akbar perayaan Tiong Ciu Cui dilakukan, terlebih dahulu para pengurus klenteng MAKIN Leng Chun Keng melakukan sembahyang Tie Kong (Tuhan) di altar depan klenteng, adapun maksud sebahyang tersebut adalah meminta restu sekaligus pemberitahuan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Tien), bahwa umatnya di Jambi hendak merayakan Tiong Ciu Cui dengan menyembahyangi Tai Im Niu Niu (Dewi Bulan) dilanjutkan dengan pemotongan hewan qurban. (Romy)

Minggu, 01 Oktober 2017

Berburu Kuliner di Bazar Di Klenteng Sai Che Tien Jambi

JAMBI, Ratusan warga tionghoa Kota Jambi, sejak pagi hingga malam hari membanjiri aula serba guna klenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien yang terletak di jalan Koni IV Rt, 01, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, kota Jambi (1/10-2017), kehadiran warga untuk berburu aneka kuliner yang diselenggarakan oleh Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN) Provinsi Jambi. Acara kali pertama ini dilakukan oleh Perkhin Provinsi Jambi bukan saja etnis tionghoa yang hadir, namun banyak juga dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat.

Matakin Jambi dan Kota menyambut positif acara tersebut, selain membantu para usaha makanan kecil dalam rumah tangga, juga mempererat tali silaturahmi antar warga. Konsumen cukup menukarkan kupon sama mekanan/ barang sesuai dengan nilai harga makanan/barang.

Festival kuliner ini diikuti oleh 40 peserta dari pelaku usaha makanan kecil (kue),
Pengurus Perkhin menerangkan, dalam festival kuliner ini para peserta menjajakan aneka makanan seperti, nasi goreng, nasi uduk, nasi cabe hijau, tekwan, pempek, sambal jengkol, gado-gado, pecel, laksan, makanan jepang, lonteng, aneka kue, buah-buahan, aneka minuman, kerajinan tangan dan komestik. Bagi pengunjung yang hoki akan mendapatkan undian doorprize dari panitia penyelenggara.

Menurut Ketua Perkhin Provinsi Jambi ibu Herwai, tujuan festival kuliner adalah sebagai upaya menunjang program pemerintah, karena kuliner merupakan salah program perempuan Khonghucu Jambi. “Melalui kegiatan bazar ini, harapan kami dapat menggali kreasi dan kreativitas masyarakat dalam mengembangkan kuliner di Jambi,” terangnya.

Hasil donasi festival kuliner, akan disumbangkan ke klenteng MAKIN Sai Che Tien untuk perayaan hari besar Nabi Kongze bulan nopember mendapat.

Sangat disayangi, acara bazar ini tidak didukung oleh sebagian besar Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) di Jambi.!!! (Romy)* https://www.facebook.com/makinjambi

Selasa, 01 Agustus 2017

Workshop Pengelolalaan Tempat Ibadah Agama Khonghucu Provinsi Jambi

JAMBI – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi membuka secara resmi Workshop Pengelolalaan Tempat Ibadah Agama Khonghucu di Provinsi Jambi yang diwakili Abdullah Salam oleh di Hotel Rumah Kito Jalan Serma Ishak Ahmad, Kompleks Puri Mayang Blok A 1-6, Mayang Mangurai, Kota Baru, 36129 Jambi [Lihat Album: Workshop Pengelolalaan Tempat Ibadah Agama Khonghucu Di Provinsi Jambi]. Seperti diketahui, saat ini pemeluk Khonghucu sudah dapat melaksanakan agamanya menyusul Terbitnya Keppress No. 6/2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid yang mencabut  Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95.
Workshop yang dihadiri 50 peserta itu, yang diselenggara oleh Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu Kementerian Agama RI selama  dua hari di Jambi. Pesertanya selain umat Khonghucu dari Kota Jambi juga datang dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kuala Tungkal. workshop berlangsung dua hari (1-2/8-2017). Dalam sambutan Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI, M. Mudhofier yang hadiri di Jambi bersama Kepala Bidang Bimas Khonghucu Kemenag RI, Dra. Hj. Emma Nurmawati, MM mengatakan, Workshop ini diselenggarakan  untuk lebih meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan sistim pendidikan Agama Khonghucu di wilayah Provinsi Jambi. Sejak dicabutnya kedua peraturan tersebut, maka agama Khonghuchu merupakan agama yang diakui keberadaaannya oleh pemerintah. Oleh karena itu pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama berkewajiban memberikan pelayaan dan pembinaan terhadap umat agama Khonghucu baik dalam melaksanakan ajaran agamanya di lingkungan masyarakat maupun dalam mendapatkan pelayanan hak-hak sipil, pendidikan agama di sekolah. Sementara itu, pada Oktober 2007, kebebasan beragama umat Khonghucu ini semakin jelas dan tegas dengan keluarnya Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Perihal pendidikan agama Khonghucu di jalur sekolah formal, nonformal, dan informal diatur pada Pasal 45, sedangkan untuk jalur tenaga pendidiknya diatur oleh Pasal 47 PP tersebut, dan diterbitkannya Peraturan Menteri Agama No.16 Tahun 2010  dalam pasal 2 ayat 2. (Romy)

Rabu, 24 Mei 2017

Prosesi Pengisian Roh Suci Sen Ren (khai kuang) di Klenteng Sai Che Tien Jambi

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
JAMBI - Sebuah patung dewa atau kim sin yang yang terbuat dari bahan kayu maupun porselen bila belum dilakukan pengisian roh suci (kai kuang/开光), maka kim sin tersebut belum memiliki kekuatan. Untuk melakukan pengisian roh suci (kai kuang) tidak dapat dilakukan sembarangan orang, dan waktunyapun tidak bisa sembarangan hari.

Hasil pantauan Indochinatown (21/5-2017) dini hari di Klenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien (占碑獅仔殿孔教), yang beralamat di Jalan Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, sejak tengah malam puluhan umat Khonghucu mengikuti prosesi pengisian roh suci shen ren (kai kuang) yang dipimpin Lim Tek Chong taushe dari Tiongkok.

Lim Tek Chong taushe melakukan membuka aura tujuh buah kim sin/ patung dewa-dewi ((kai kuang)), terdiri dari kim sin Kongzi/ 孔子, Hok Hie Tee Sien/ 伏羲帝仙, Kwan Seng Tee Kun/ 關聖帝君, Nam Hai Kwan Im/ 南海觀音, Hok Tek Tjen Shen/ 福德正神 (2 kim sin), Tua Lang Kong/ 大人公 (Romy)

Senin, 22 Mei 2017

占碑狮仔殿孔教庆祝伏羲帝仙圣诞千秋


 
 
 
 
 
占碑华人庆祝伏羲帝仙圣诞千秋,2017521日,在占碑省占碑埠哥尼区狮仔殿隆重举行,庆祝伏羲帝仙圣诞千秋法会.筹委会主席郑建平先生邀请来自中国林泽宗道士主持法会,场面非要热闹,有来自雅加达前名誉孔教会席黄耀强先生及随行人员暨占碑省孔教会主席黄春回先生及执事人员,还有千多名虔诚信徒参与法会。
 
  伏羲是华人的根之所在,也可说伏羲是華人的祖仙。以伏羲时代为标帜,中华民族从蒙昧跨入了文明的门槛。我们尊崇伏羲,敬重伏羲,时常为伏羲坚韧不拔的奋斗精神所感召,所激励。

  狮仔殿负责人表示,伏羲帝仙在孔教里是受广大信徒的遵从和祈拜。+伏羲画八卦、结网罟、取火种、兴嫁娶、造书契、创乐器,一系列的发明创造,犹如永不熄灭的明灯,照亮了中国几千年的历史。

  法会在林泽宗道士念咒诵唱后,众人祈拜后,祈祷国泰民安、六时吉祥,一帆风顺。随后,是由乩童为信徒开药方及护身符。本报记者明光报道/Romy

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20170523/318844.shtml

Minggu, 21 Mei 2017

Perayaan Nabi Purba Fu Xi Di MAKIN Sai Che Tien Jambi


JAMBI – Saat memasuki kawasan gerbang klenteng Makin Sai Che Tien, sayup-sayup terdengar suara gendrang diiringi irama suling, yang dikumandangi oleh Lim Tek Chong Taoshe dari Tiongkok, suasana dalam klenteng, kilauan sinar dari pancaran lilin-lilin merah menambah keindahan klenteng yang mayolitas berwarna merah, selain itu aroma wewangian dari gaharu/ hio yang dinyalakan umat Khonghucu [ALBUM: AKTIFITAS MAKIN SAI CHE TIEN JAMBI].

Dihalaman depan dan samping kiri kanan klenteng ratusan umat tengah menyaksikan Taoshe memimpin upacara sembahyang sejit Nabi Purba Hok Hie Tee Sien (Fu Xi) yang biasa disebut Shien Kong.
Dari pantauan di klenteng sudah mulai dipadati oleh umat Konghucu sejak pukul 09.00. tahun ini umat Khonghucu yang hadir lebih dari 1.500 orang, tidak hanya dari Kota Jambi, juga beberapa kabupaten di Provinsi Jambi. Dan ada tamu agung dari lura kota seperti, Ketua Dewan Kehormatan MATAKIN Pusat Ws, Wawan Wiratma beserta Wakil Ketua Umum MATAKIN Pusat Bratayana Ongkowijaya, SE, XDS, Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dasar & Menengah Epin Winata dan Xs. Antonius Ong Rohaniwan utusan dari Matakin Pusat, dan sekaligus sebagai Rohaniwan SAKIN & Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, Jawa Timur.

Pagi harinya, umat sudah menumpukkan kertas sembahyang yang kemudian dibakar bersama-sama dengan teng lau yang dibuat oleh Taoshe Liem Tek Chong. Ritual dimulai dengan melakukan sembahyang Tien (Tuhan red)  dihalaman depan pintu masuk klenteng. Sembahyang berlangsung hingga satu jam dengan melantunkan doa-doa.

Ritual lalu dilanjutkan dengan sembahyang sin beng Hook Hie Te Shien yang digelar di dalam klenteng. Ini bertujuan untuk memohon doa serta mengundang beberapa sin beng untuk datang pada acara tersebut. Setelah itu, ritual dilanjutkan dengan membakar kertas sembahyang yang telah disediakan. Setiap daerah prosesi ritualnya berbeda-beda namun tujuan tetap sama yaitu memohon pelindungan dari sang pencipta alam semesta (Tien) dan para Shen Ren maupun leluhur. (Romy) * https://www.facebook.com/makinjambi

Jumat, 19 Mei 2017

MATAKIN Pusat Adakan Pelatihan Calon Rohaniawan Di Jambi

JAMBI – Puluhan calon rohaniawan dari Majelis Agama Khonghucu Indonesia yang disingkat MAKIN sekota Jambi mengikuti pelatihan menjadi calon rohaniawan di klenteng MAKIN Sai Che Tien, di Jalan Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi selama dua hari (19/5-2017).

Peserta yang hadir terdiri dari utusan MAKIN Hok Kheng Tong 2 orang, MAKIN Gi Hong Tong 5 orang, MAKIN Sai Che Tien 2 orang, MAKIN Hok Sin Tong 1 orang dan MAKIN Kuang Leng Miau 2 orang serta MAKIN Seng To Kheng 2 orang, sedangkan MAKIN yang ada di kota Jambi 9 dan 2 di kabupaten Muaro Jambi serta Tanjung Jabung Barat [Lihat Album: Pelatihan Calon Rohaniawan Di Jambi].

Materi yang diberikan kepada calon rohaniawan, adalah tatacara beribadah yang benar menurut ajaran Khonghucu, pemberkatan pernikahan menurut agama Khonghucu dan sembahyang jenazah dan doa untuk umat Khonghucu yang meninggal dunia (wafat), selama ini umat Khonghucu yang wafat di Jambi selalu memakai jasa pihak lain untuk menyembahyangi.

Ujar Ketua MATAKIN Kota Jambi Darmadi Tekun, bahwa selama ini orang Khonghucu yang wafat di kota Jambi, yang doa / sembahyang dari Vihara, maka rasanya kurang pas, untuk itu harapan Darmadi Tekun kedepan Khonghucu di Jambi sudah memiliki rohaniawan yang membidangi kebaktian sembahyang kepada umat Khonghucu yang meninggal dunia dan selain itu ada rumah abu khusus untuk orang Khonghucu.

Adanya aturan-aturan yang ketat dan harus diikuti dengan benar dalam melaksanakan kegiatan sembahyang untuk leluhur, menunjukkan bahwa sembahyang untuk leluhur bukanlah suatu kegiatan yang bisa dilakukan secara asal-asalan, dan juga bukan suatu kegiatan yang tanpa makna. (Romy)* https://www.facebook.com/makinjambi