Tampilkan postingan dengan label Matakin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Matakin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

Kirab Cap Go Meh Ke-19, Cermin Persatuan Indonesia

西爪卡拉旺关帝君庙庆元宵节 抬神轿游行


KARAWANG - Untuk menyemarakkan Cap Go Meh ke 19 tahun 2018, umat Khonghucu mengadakan kirab Kolaborasi Budaya Tionghoa dengan Sunda di Karawang.

Puluhan ribu warga Karawang ikut terlena dalam Festival Cap Go Meh 2018 di Karawang, event budaya itu diadakan dan Bio Kwan Tee Koen dan Bio Tjouw Soe Kong. Tampak hadir Ketua Matakin Kota Jambi, Darmadi Tekun, Ketua Perkhin Sai Che Tien Jambi, Huang Li Chu.
Joli (kursi tandu) bergoyang, genderang bertabuh-tabuh, dan barongsai dan liong bergoyang. Tak lupa keragaman dan persatuan Indonesia dijunjung tinggi. Begitu yang tercermin dalam perayaan Cap Go Meh ke 19 di Klenteng Bio Kwan Tee Koen, Jalan Ir H Juanda, Karawang, Jawa Barat, Minggu (11/3/2018). Warga Karawang berduyun-duyun memadati Jalan Tuparev dan Jalan Niaga Karawang untuk menyaksikan kirab cap go meh. Perayaan yang digelar berbarengan dengan ruwat bumi dan kirab budaya itu tidak hanya 70 joli dari perwakilan klenteng atau bio, serta 60 kelompok Barongsai dan Liong yang ikut ambil bagian kirab tersebut.

Mereka berasal dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Jawa Tengah dan Dayak perwakilan Kalimantan Barat serta Karawang sebagai tuan rumah. Kirab dimulai pukul 13.00 dari Jalan Tuparev, Kertabumi, Niaga, dan kembali ke Tuparev pukul 17.30. Sejumlah Pejabat Negara Ikuti Pawai Cap Go Meh Sementara tamu yang datang lebih dari 1.000 orang.

Sementara itu, ketua panitia Cap Go Meh, Oey Yang Yen (黄楊淵) menjelaskan kirab cap go meh yang diadakan merupakan kolaborasi dua budaya yaitu Tionghoa dengan Sunda.

“Kegiatan kolaborasi dengan budaya Sunda sengaja digelar. Agar festival Cap Go Meh menjadi spektakuler,” tuturnya.

"Kami juga bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang. Ini bukan hanya perayaan masyarakat Tionghoa saja, tetapi juga masyarakat Karawang," ujar Herry.

Perayaan Cap Go Meh ini dilepas oleh HJ. DRA. Sinta Nuriyah Wahid, M. HUM, istri Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur didampingi Kapolres, AKBP Hendy F Kurniawan, Dandim, Letkol Arm Ayi Yossa dan Kepala Dinas Periwisata sebagai perwakilan pemerintah daerah.

"Hal tersebut terlihat dengan banyaknya ujaran kebencian dan fitnah yang mengancam persatuan bangsa," ujar Sinta.  Sinta yang datang bersama cucu-cucunya berharap perayaan kirab budaya menjadi penyejuk dan penenang perbedaan di tanah air. Karnaval Cap Go Meh "Ini harus menjadi momentum bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang mencintai persatuan," katanya Sinta (Romy).* https://www.facebook.com/makinjambi

Selasa, 13 Maret 2018

西爪卡拉旺关帝君庙庆元宵节 抬神轿游行

 
 
 
 
 
 
3月11日上午10时,西爪卡拉旺(Karawang)关帝君庙址元宵节庆典,抬神轿及嘉年华游行,包括60多醒狮对参与,增加了庆典气氛场面热闹非凡,人潮拥挤 [Lihat Gambar: Kirab Cap Go Meh Karawang]

  在一定街道上,抬神轿游行 ,游行从中也穿插了本土巽达文化。前总统瓦希德夫人欣达女士为嘉年华游行主持启动仪式。 占碑孔教理事会主席郑建平、占碑城市獅仔殿孔教主席黃麗珠、卡拉旺军警官员等出席及来自雅加达、茂物、德宝和勿加西丹格朗周围居民近千人观看了一年一次的抬神轿及嘉年花游行。

  筹委何立表示,这次也邀拉当地旅游局官员参与合作,展现出本土巽达文化及华人文化一起参加庆典游行。

  欣达表示,元宵节嘉年华会,可看见我国多元文化社会的融合,大家和睦相处地生活在一起,避开了相互仇视的言论,显示大家更加团结共同建设印度尼西亚。

  本报记者明光Romy报道摄影

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20180314/419184.shtml

Minggu, 18 Februari 2018

Berduka Cita Atas Berpulangnya ke Haribaan Tian Yang Maha Esa Ibu Lystiani


KUALA TUNGKAL - Keluarga Besar Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) dan umat Khonghucu, menyampaikan belasungkawa dan dukacita yang mendalam atas berpulangnya ke Haribaan kebajikan Tian Yang Maha Esa, Ibu Lystiani  Ketua Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN) kota Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi pada hari Minggu, 11 Februari 2018, pukul 17,03 Wib, dalam usia 57 tahun, di National University Hospital, Singapura [Nonton Video: Upacara Duka Agama Khonghucu Pert 1 & 2].
Upacara duka dilaksanakan sesuai dengan permintaan almarhumah Lystiani (Lie Chu Fong) yakni agama kepercayaan beliau yaitu agama Khonghucu dan upacara duka Agama Khonghucu baru kali pertama dilaksanakan di Provinsi Jambi.

“Kabar duka tersebar luas bagi Penganut Khonghucu Indonesia (Ru Jiao) tanah air Indonesia, Telah berpulang ke Haribaan Tian, Lie Chu Fong Dauqin,” kata Js. Widi utusan Matakin Pusat untuk memimpin upacara duka.

Jenazah disemayamkan di rumah duka Yayasan Budi Luhur, Jalan Jendral Sudirman, No 40 Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Jenazah beliau dimakamkan dipemakaman tionghoa Parit Gompong pada hari Kamis 15 Februari 2018, pukul 09.10 WIB. Segenap sanak famili, handai tolan hingga tokoh masyarakat setempat berdoa untuk almarhumah dan keluarga yang ditinggalkan dapat menerima dengan tabah. Semoga Tian Yang Maha Esa memberikan ketabahan dan kekuatan iman di dalam menerima kedukaan serta dapat meneruskan cita-cita almarhumah.

Lystiani nama mandarin Lie Chu Fong merupakan sosok Perempuan Khonghucu Indonesia yang aktif dalam pembinaan terhadap para anggotanya.

Wanita yang dikenal konsisten memperjuangkan Umat Khonghucu di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjab Barat, Provinsi Jambi. (Romy)* https://www.facebook.com/makinjambi

Selasa, 25 April 2017

Perbedaan Vihara dan Kelenteng

Banyak yang salah kaprah, atau bahkan tidak mengetahui sama sekali bahwa 'vihara' dan 'kelenteng' itu berbeda. Ada yang menganggap 'kelenteng' adalah panggilan lain dari 'vihara', jelas semua itu adalah salah. Pada kesempatan kali ini, Anda akan mengenal lebih lanjut, apa sajakah perbedaan 'vihara' dan 'kelenteng'.

a. Vihara
* Adalah rumah ibadah umat Buddha
* Biasanya berarsitektur India/Thailand, ada pula yang berarsitektur Tiongkok
* Di dalam Vihara aliran Theravada, hanya ada rupang (patung) Buddha Gautama beserta 2 muridNya. Di dalam Vihara aliran Mahayana, terdapat 3 rupang, yaitu: Rupang Buddha Gautama, Rupang Bodhisattva Avalokiteshvara, Rupang Bodhisattva Ksitigharba/Bodhisattva lainnya.
* Tidak terdapat tempat untuk membakar kertas sembahyang.
* Upacara keagamaan biasanya dilakukan secara jemaat yang disebut Puja Bakti/Kebaktian, walaupun umat juga diberi kesempatan untuk beribadah secara individu. Setelah beribadah umat biasanya akan diberi dhammadesana (khotbah/ceramah).
* Sebuah tempat bisa dikatakan Vihara apabila: memiliki minimal 1 ruang dhammasala (ruang kebaktian), memiliki kuti (tempat tinggal bikkhu), perpustakaan, bahkan ruang khusus untuk khotbah. Vihara yang lebih kecil disebut Cetya yang hanya memiliki 1 ruang dhammasala (ruang kebaktian) tanpa memiliki dhammasala dan perpustakaan. Vihara yang lebih besar dan memiliki taman disebut Arama. Vihara bisa disebut Arama apabila: memilkiki minimal 1 ruang dhammasala, kuti, perpustakaan, ruang khotbah, dan yang paling penting taman.
* Vihara biasanya menggunakan nama berbahasa Pali atau Sanskerta. Contoh: Vihara Dharma Loka, Vihara Vimala Virya, Vihara Dhamma Metta Arama, Vihara Vipassana Graha, Cetya Tisaranagamana, dll.
b.
Kelenteng
* Adalah rumah ibadah umat Konghucu/Tao
* Biasanya berarsitektur Tiongkok
* Di dalam Kelenteng terdapat rupang para Dewa/Dewi yang dipuja oleh umat
* Terdapat tempat untuk membakar kertas sembahyang
* Umumnya upacara keagamaan dilakukan secara individu
* Biasanya juga sekaligus merupakan tempat perkumpulan/yayasan sosial, seperti Kelompok Pemain Barongsai, dll.
* Kelenteng biasanya diberi nama dalam bahasa Mandarin atau bahasa Indonesia. Contoh: Kelenteng Tua Pek Kong, Kelenteng Dewi Sakti, Kelenteng Surya Bakti, dll.
Tidak heran kekeliruan ini terjadi. Pada masa Orde Baru, pemerintah RI melarang segala jenis apapun kegiatan atau tempat yang berbau tradisi Tionghua. Sehingga Kelenteng yang merupakan salah satu tradisi Tionghua akhirnya terancam ditutup. Untuk mengatasi hal itu, sebagian Kelenteng dan umat Konghucu saat itu berlindung di bawah naungan agama Buddha, sehingga mengubah nama Kelenteng menjadi nama Vihara. Tidak hanya itu, umat Konghucu yang bernaung menjadi agama Buddha pun hanya menyandang gelar agama Buddha saja, tapi tetap melakukan tata cara ibadah agama Konghucu. Sebagian umat lain malah pindah ke agama lain seperti Katolik, Protestan, Islam, ataupun Hindu yang ketika itu merupakan agama resmi.

Sejak Orde Reformasi, atau lebih tepatnya masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, kebijakan yang melarang kegiatan atau tempat yang berbau tradisi Tionghua itu kemudian dihapuskan. Sejak saat itulah umat Konghucu lebih leluasa beribadah dan melakukan aktivitas keagamaan dan kebudayaan seperti tarian Barongsai, Imlek, dll. Dan sejak pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan menjadi hari libur nasional. Banyak pula Kelenteng yang kembali mengganti nama seperti nama semula. Namun, adapula Kelenteng yang tetap mempertahankan nama Vihara yang sebetulnya hanyalah merupakan nama sementara.

Dan dulu, sebelum agama Konghucu diresmikan, orang awam juga keliru membedakan mana Kelenteng dan mana Vihara, karena menurut mereka, hampir semua orang Tionghua yang pergi ke Kelenteng atau Vihara, sehingga umat Buddha dan umat Konghucu pun dicap sebagai agama yang hanya dianut oleh etnis Tionghua. Padahal, hal ini salah. Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, banyak pula warga asli Indonesia yang menganut agama Buddha.

Dampaknya tidak hanya sampai di situ, karena larangan pada Orde Baru, terjadilah penggabungan 3 tempat ibadah menjadi satu. Tempat ibadah itu disebut Vihara Tri Dharma (Tiga Ajaran: Buddha, Konghucu, Tao) Dan tempat ibadah ini hanya terdapat di Indonesia. Walaupun berdampak negatif yaitu timbulnya kekeliruan, tapi tempat ibadah ini juga berdampak positif yaitu mencerminkan kerukunan umat beragama di Indonesia.
Perbedaan Agama Buddha dan Konghucu

a. Agama Buddha
Penyebar Ajaran             : Sidharta Gautama Buddha
Asal Ajaran                    : India
Kitab Suci                      : Tipitaka (Theravada, bahasa Pali) atau Tripitaka (Mahayana, bahasa Sansekerta)
Rumah Ibadah                : Vihara
Bahasa Asli                    : Bahasa Pali atau bahasa Sansekerta
Pemimpin Agama           : Bikkhu (Theravada), Biksu (Mahayana), Bikkhuni (Bikhhu Wanita)
Salam Keagamaan          : Namo Buddhaya; Namaste

Padanan kata yang sering digunakan untuk merujuk "Tuhan" adalah Sanghyang Adi-Buddha Tuhan Yang Maha Esa (lebih sering digunakan oleh Buddhayana/Ekayana). Aliran Theravada lebih sering menggunakan padanan kata Sang Tiratana.
b. Agama Konghucu
Penyebar Ajaran          : Nabi Konfusius
Asal Ajaran                  : Tiongkok
Kitab Suci                    : Sishu, Wujing, Xiao Jing
Rumah Ibadah             : Kelenteng / Lintang
Bahasa Asli                  : Bahasa Mandarin (bahasa Tiongkok)
Pemimpin Agama         : Pendeta Konghucu
Salam Keagamaan        : Wei De Dong Tian

Padanan kata yang sering digunakan untuk merujuk "Tuhan" adalah Tian/Thian Tuhan Yang Maha Esa.

http://wirawanperdana.blogspot.com/2013/06/perbedaan-vihara-dan-kelenteng.html#comment-form

Umat Khonghucu Jambi Turut Merayakan Sejit Dewa Rejeki


JAMBI – Ratusan umat Khonghucu Jambi kemarin pagi (25/4-2017) berbaur dengan para Lo Cu (panitia) merayakan Sejit Kongco Hok Tek Cen Sen yang lebih dikenal dengan sebutan “Tua Pek Kong” di Kelenteng Siu San Teng yang terletak dibilangan Jalan HMO Bafadhal, Rt. 23 Kampung Manggis Jambi [Lihat Gambar:Perayaan SejitKongco Hok Tek Ceng Sin].

Untuk memeriahkan ritual tahunan tersebut sehari sebelumnya panitia terdiri dari para pengusaha terkemuka Jambi menyelenggarakan malam hiburan karaoke dihalaman kelenteng Siu San Teng, acara tersebut terbuka untuk umum.
Selama beberapa hari mereka meninggalkan pekerjaan rutin untuk menyambut hari suci Dewa Rejeki (Tua Pek Kong).

Menurut uraian pengurus kelenteng Siu San Teng Jambi yang lama, Kongco Hok Tek Cen Sen  telah ada sejak jaman Belanda 1805/ 212 tahun yang lalu, saat itu kelenteng bernama Hok Tek.

Ujar Ketua Dewan Kehormatan Siu San Teng, Tanoto Kusumah, setiap tahun kita adakan sembahyang bersama Sia Kang pada hari pergantian tahun imlek, Malam Perayaan Cap Go Meh dan Sejit Kongco Hok Tek Cen Sen, tujuan sembahyang bersama agar masyarakat Jambi bisa hidup sejahtera, usaha lancar dan bebas dari malapetaka (bencana) yang tidak diinginkan. Tambah Tanoto Kusumah pimpinan Novita Hotel Jambi, “Kita harapkan agar masyarakat Jambi bisa hidup lebih baik, usaha lancar dan Jambi terhindar dari segala malapetaka/bendana” imbuhnya seusai sembahyang.

Seusai sembahyang semua sajian dimasak dan di makan bersama, umat Khonghucu meyakini bahwa dengan menyantap hidangan hasil ritual akan mendapatkan perlindungan dari para roh suci (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi

Minggu, 09 April 2017

Bagi-Bagi Buku Di Zi Gui Di Klenteng MAKIN Sai Che Tien Jambi


JAMBI - Agama Khonghucu telah diakui oleh Pemerintah Indonesia, sejak Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi orang nomor satu, dan ia mencabut PP Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang kegiatan warga Tionghoa. Namun, hingga kini banyak hak-hak sipil warga Khonghucu yang terabaikan. Salah satunya adalah hak pendidikan Agama Khonghucu bagi siswa-siswi beragama Khonghucu [Lihat Album: Sekolah Minggu Khonghucu Jambi].

Hak pendidikan Agama Khonghucu sebenarnya tertuang di dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003. Di situ disebutkan, peserta didik  wajib mendapatkan pelajaran agama dari guru yang seagama. Karena itulah, sekolah wajib menyedikan guru yang seagama.
Diharapkan sekolah-sekolah di Jambipun bisa menerima dan mengakomodasi amanat undang-undang tersebut, ini merupakan hak pendidikan bagi warga Khonghucu Jambi. Harap Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (matakin) Provinsi Jambi Darman Wijaya dan Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (matakin) Koya Jambi Darmadi Tekun, di sela-sela penyerahan buku Di Zi Gui (9/4-2017).

Tambah Darman Wijaya, pentingnya mendidik anak ilmu keagamaan sedini mungkin, karena anak adalah titipan dari Tuhan YME kepada kita. Ini merupakan amanah yang harus dididik dengan sebaik-baiknya. Pendidikan anak harus dimulai sedini mungkin, maka sebagai orangtua harus berperan penting dalam proses pendidikan anak, karena keberhasilan dalam mendidik anak ditentukan dengan bagaimana orangtua memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada anak tersebut. Orangtua perlu mengajarkan pendidikan, memberikan bekal baik di dunia maupun di akhirat, agar kelak mereka menjadi orang yang sukses di masa mendatang.

Kita sebagai orangtua, harus membentuk serta membiasakan anak untuk selalu menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Esa, serta menjauhi larangannya, agar keluarga terhindar dari siksaan dikemudian hari. Sebagai orangtua kita harus selalu memelihara anak kita agar terhindar dari segala perbuatan yang dilarang oleh agama (Romy). * https://www.facebook.com/makinjambi

Senin, 20 Februari 2017

发扬宗教和谐相处精神,共同建设国家

 
 
 
在印尼西爪哇卡拉旺(Karawang)隆重举行,民主改革后第18届元宵节活动。印尼第四任总统瓦希德夫人欣达、卡拉旺县长 Dr.Cellica Nurachadiana印尼孔教妇女部主陈玉娘印尼孔教最高理事会荣誉主黄耀德等及关圣帝君庙理事和军警官和信徒近千人参与元宵节活动.

Cellica  县长致词中表示,  我国虽然大多数是信奉伊斯兰教, 我国在1945年宪法就提到“三项宗教和谐”即是:宗教内部、宗教与宗教之间及宗教与政府的和谐。她也希望在她的属下官员及包括孔教信徒在内的华族,大家团结一致,发扬宗教和谐相处精神,共同建设国家,让生活更美好。
  黄耀德致词表示,这次的元宵节活动除了抬神轿游街,同时也有Sunda民间舞蹈表演,显出我国多元文化,大家团结一致.

  致词完毕瓦希德夫人欣达女士,挥旗启动抬神轿游街开始。向关圣帝君庙开始,经过Arif Rahman Hkaim ,Dewi Sartika街一直回到原地庙宇.

明光报道/Romy摄影

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20170221/306227.shtml

Kamis, 09 Februari 2017

Persiapan Cap Go Meh di Jambi

JAMBI - Sudah menjadi tradisi kerja sama tiga kelenteng adakan kirab Malam Cap Go Meh, yaitu kelenteng Hok Kheng Tong, Sai Che Tien dan Leng Chun Keng Jambi merayakan Malam Cap Go Meh di Jambi.
Terlihat ketiga kelenteng sudah dipermak dengan aneka ukuran lampion dan warna warni umbul-umbul dari ketiga kelenteng demi menambah keindahan Malam Perayaan Cap Go Meh. Di Jambi perayaan Cap Go Meh selalu pada malam hari sesuai dengan sebutan Malam Cap Go Meh.

Agenda acara Cap Go Meh diawali barisan pembawa bendera merah putih, bendera kebesaran para roh suci, lampion, kursi tandu singasana para dewa (joli), liong dari kelenteng Leng Chun Keng, menuju ke kelenteng Sai Che Tien, setelah itu kedua kelenteng bergerak ke kelenteng Hok Kheng Tong (pusat perayaan Cap Go Meh), setelah berkumpul semua kelenteng, baru parade Cap Go Meh dimulai dengan iringan bendera pusaka, bendera atau umbul-umbul dari masing-masing klenteng, diikuti pembawa lampion, arak-arakan kursi tandu (joli) dari masing kelenteng melintasi rute Koni IV menuju Jalan Pangeran Diponegoro, terus nuju kelenteng Tiong Gie Tong di kawasan Sulanjana, selanjutnya ke MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) Kelenteng Leng Chun Keng, lalu ke Kelenteng Cheng Hong Lao dan kembali ke MAKIN Kelenteng Sai Che Tien dan MAKIN Kelenteng Hok Kheng Tong (pusat perayaan cap go meh).

"Selain keliling kelenteng, mereka tatung juga masuk ke rumah-rumah warga Tionghoa untuk mendoakan tuan rumah agar mendapat rezeki dan kesehatan."

Puluhan roh suci “shen ren” akan berkumpul di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Hok Kheng Tong untuk mengikuti karvanal arak-arak para roh suci shen ren sepanjang jalan raya. Inilah merupakan tradisi umat Khonghucu atas jasa almarhum Presiden RI yang ke empat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. (Romy)

* https://www.facebook.com/makinjambi

Rabu, 01 Februari 2017

Ratusan Umat Khonghucu Jambi Sembahyang Sejit Cheng Cui Co She


JAMBI – Setelah enam hari perayaan Tahun Baru Imlek 2568 kongzili, ratusan umat Khonghucu di Kota Jambi silih berganti mendatangi Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kelenteng “Hok Kheng Tong” yang terletak di Jalan Koni IV, Rt. 02, depan pabrik Kopi AAA, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, kehadiran umat Khonghucu tersebut untuk untuk mengikuti prosesi upacara sembahyang bersama Sejit Roh Suci Shen Ren (baca dewa) “Cheng Cui Co She” Qing Shui Zu Shi atau yang lebih dikenal dengan nama sebutan “Co She Kong”, pada Kamis (2/2-2017).


Upacara sembahyang langsung dipimpin langsung Lim Tek Chong taoshe dari Tiongkok, upacara mulai dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 13.30 [Lihat Gambar: Prosesi Sembahyang Sejit Cheng Cui Co She].
Prosesi upacara terbagi dua tahap, yakni tahap pertama adalah sembahyang menghadap altar Tien (Tuhan), tahap kedua baru sembahyang di altar Roh Suci Shen Ren “Co She Kong. Tahap demi tahap diikuti oleh segenap pengurus kelenteng Hok Kheng Tong beserta para Lo Cu (panitia), semua prosesi dilakukan pengurus dengan, setengah jam kemudian, prosesi upacara kedua dilanjutkan didalam kelenteng, yakni di altar Co She Kong. Sebagaimana biasanya berbagai sesajen terbentang di atas meja segi empat berwarna merah, sesajian ada yang dibawa oleh masing-masing umat sendiri.

Seusai sembahyang tersebut, sesajen-sesajen yang ada di altar lalu dimasak, kemudian dimakan bersama. Tradisi makan bersama ini, menurut kepercayaan umat Khonghucu, “Dengan memakan makanan dari hasil sembahyang ulang tahun para Roh Suci Shen Ming, maka diri mereka akan mendapatkan perlindungan dari mahluk-mahluk yang berniat jahat”.

Co She Kong berasal dari Propinsi Hok Kian, Kabupaten Yong Chun, Tiongkok. Nama panggilan sehari-hari adalah Chen Zhao Ying (Hok Kian = Tan Ciao Eng). Beliau dilahirkan pada tanggal 6 bulan 11 Imlek, tahun 1044 M, pada zaman Dinasti Song (960-1279 M), dimasa Pemerintahan Kaisar Ren Zhong tahun keempat.

Chen Zhao Ying mahir dalam bidang pengobatan dan mendatangkan hujan bagi penduduk di sekitar An Xi (An Hui) & Xia Men (E Meng). Beliau sering membantu penduduk yang miskin dalam masalah pengobatan dan suka menolong orang-orang membangun jembatan. Di dekat gua tempat beliau bertapa terdapat sumber air yang jernih, yang bernama Qing Shui Yan (Ching Cui Giam) yang berarti Cadas Air Bersih. Dengan air jernih dan meditasi di gua ini Chen Zhao Ying mengobati orang-orang yang meminta pertolongannya. (Romy)* https://www.facebook.com/makinjambi

Kamis, 15 September 2016

Perayaan Sejit Che Liong Kong Di MAKIN Leng Chun Keng Jambi


JAMBI, Ayojambi.com – Melirik Perayaan Sejit “Sun Peng Sing He yang lebih dikenal dengan sebutan Che Liong Kong” di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Leng Chun Keng Jambi 龍春宮 yang terletak di Jalan Koni 1, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Kamis (15/9) pagi.
Sejit Che Liong Kong tepat pada Pwe Gwe Cap Go (lunar kalender) MAKIN Leng Chun Keng Kota Jambi, sekaligus mengadakan sembahyang Tiong Chiu “中秋節”, 15 bulan 8 tahun 2567 Kongzili yang jatuh pada 15 September 2016. Saat bulan purnama bersinar nan cemerlang di pertengahan musim gugur/rontok (Mid Autumn) dan dilakukan sembahyang syukur kepada Sun Peng Sing He 順平聖侯 dengan sajian khusus Tiong Chiu Pia dan aneka Kue lainnya.

Upacara suci dipimpin langsung oleh Lim Ze Cheng taoshe dari Tiongkok (中国道士林泽承). Selain menyambut perayaan Sejit Che Liong Kong, Kelenteng Leng Chun Keng juga adakan Kho Kun “Persembahan sesajian untuk para pengawal dewa-dewa”.

Sehari sebelumnya prosesi akbar perayaan Sejit Che Liong Kong dilakukan, terlebih dahulu para pengurus kelenteng MAKIN Leng Chun Keng melakukan sembahyang Tie Kong (Tuhan) di altar depan kelenteng, adapun maksud sebahyang tersebut adalah meminta restu sekaligus pemberitahuan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Tien), bahwa umatnya di Jambi hendak merayakan Tiong Ciu Cui dengan menyembahyangi Tai Im Niu Niu (Dewi Bulan) dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Perayaan Tiong Ciu Cie Di Kelenteng Hok Kheng Tong Jambi

JAMBI, Ayojambi.com - Salah satu tradisi yang masih dipertahankan masyarakat keturunan Tionghoa di Jambi adalah memperingati hari besar Tiong Ciu Cie 中秋节. Perayaan ini merupakan agenda tahunan dari Kelenteng Hok Kheng Tong 福慶堂 di Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi (占碑埠哥尼區福慶堂庆祝中秋节).

Selain menyambut perayaan Tiong Ciu Cie, Kelenteng Hok Kheng Tong 福慶堂 juga melakukan kho khun (sembahyang persembahan) yang dilakukan setiap tahun, “Tiap tahun kita rayakan sembahyang Tiong Ciu Cue sekaligus melakukan kho khun“ ujar pengurus Makin Hok Kheng Tong 福慶堂 [Lihat Gambar: Prosesi Sembahyang Tiong CiuCue].
Acara perayaan Tiong Ciu Cie dimulai dengan melakukan sembahyang. Sembahyang dilakukan ini, tidak berbeda dengan sembahyang umumnya yang dilakukan masyarakat etnis Tionghoa kebanyakan.

Selain menyajikan berbagai buah-buahan, kue-kue dan daging babi sebagaimana sembahyang umumnya, pada perayaan kue bulan ini sengaja dipersembahkan kue bulan sebagai salah satu sesaji utama. Sedangkan perlengkapan sembahyang lainnya, tetap ada kertas sembahyang, garu (hio) dan lilin.

Usai pelaksanaan sembahyang kue bulan, perayaan Tiong Ciu di Kelenteng Hok Kheng Tong dilanjutkan dengan kegiatan hiburan karaoke serta makan bersama.

Sehari sebelumnya prosesi akbar perayaan Tiong Ciu Cue dilakukan, terlebih dahulu para pengurus Makin Kelenteng Hok Kheng Tong 印尼占碑省福慶堂孔教會 melakukan sembahyang didepan altar Tien (Tuhan), adapun maksud sebahyang tersebut adalah memberitahu sekaligus memohon ijin kepada sang pencipta alam semesta, bahwa umatnya di bumi hendak merayakan Tiong Ciu Cue dengan menyembahyangi Tai Im Niu Niu (Dewi Bulan) dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban. Prosesi upacara dipimpin langsung Rohaniawan dari Matakin Provinsi Jambi, The Lien Teng  (鄭連丁).

Tampak hadir dalam acara akbar tersebut diantaranya, Ketua MATAKIN Jambi, Darman Wijaya (占碑省孔教最高理事會主席黄春回) Ketua MAKIN Sai Che Tien, Darmadi Tekun (占碑省獅仔殿廟宇主席), Ketua Perkumpulan An Xi Jambi Alex Sujanto 占碑安溪公会胡玉志主席, Ketua Hok Liong Sai 福龍獅 serta beberapa pengusaha Bank di Jambi. (Romy)

Sabtu, 24 Oktober 2015

Tiga Tantangan Bimbingan Masyarakat Khonghucu

Agama Khonghucu berkembang di era reformasi, tepatnya setelah Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keppres No 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Inpres No 14 Tahun 1967 dan SE Mendagri No 477/74054/BA.01.2/4683/95. Sejak saat itu, umat Khonghucu dan orang-orang Tionghoa non Khonghucu bisa bebas berekspresi. Terlebih pada 2001 Presiden Abdurrahman Wahid menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur fakultatif bagi etnis Tionghoa, yang dilanjutkan Presiden Megawati dengan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keppres No 19 Tahun 2002.

Adanya UU Nomor 1/PNPS/1965 menegaskan kembali tentang keberadaan penganut agama Khonghucu di Indonesia. Dalam UU itu disebutkan bahwa yang berhak mendapatkan pelayanan khusus dari negara adalah penganut Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu.
Sebagaimana amanat UU itu pula, Kemenag menerbitkan PMA No 10 Tahun 2010 tetang pelayanan agama Khonghucu yang ditempatkan di Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) dan PMA No 13 Tahun 2013, tentang pelayanan bagi penganut Khonghucu di tingkat Kanwi  Kemenag Provinsi dan di tingkat Kakan kemenag Kabupaten/ Kota.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Prof Nur Syam mengatakan, ada tiga tantangan dalam bimbingan masyarakat Khonghucu. Pertama, tantangan pendataan masyarakat Khonghucu. Berdasarkan pengamatan lapangan, salah satu hal mendasar untuk menjadi perhatian ialah tentang akurasi data mengenai jumlah masyarakat Khonghucu.
Data yang akurat menjadi ukuran menentukan program dana nggarannya. Di dalam
Perbincangan dengan Bappenas ataudi dalam pertemuan trilateral selalu saja yang dikritisi ialah tentang akurasi data. Akurasi data menjadi ukuran ketepatan perencanaan program maupun penganggarannya.
“Dengan data yang akurat, kepercayaan terhadap Kemenag juga akan meningkat,” kata NurSyam.

Kedua, identitas sebagai pemeluk Khonghucu juga menjadi penting. Pendataan tentu tidak akan mudah dilakukan manakala persoalan identitas belum tuntas. Identitas merupakan batas pembeda antara satu dan lainnya. Biasanya dikaitkan dengan simbol-simbol yang terdapat dan menjadi penanda bagi identitas dimaksud Ketiga, pelayanan kepada umat Khonghucu. Sebenarnya, ada hal mendasar yang menjadi kewajiban pemerintah melayani umat beragama, yaitu pendidikan, kependudukan, dan pernikahan termasuk penganut agama-agama minoritas.
Lebih lanjut, Nur Syam mengingatkan terdapat tantangan sangat serius di internal Khonghucu adalah mengenai kelangkaan guru agama Khonghucu. “Hingga hari ini belum didapatkan guru-guru agama Khonghucu yang memenuhi standar mengajar. Belum ada guru agama Khonghucu yang berijazah S-1,” cetusnya. Saat ini baru terdapat satu Lembaga Pendidikan Tinggi Agama Khonghucu Swasta di Semarang Stakhong Cahaya Kebajikan.

Kehadiran lembaga pendidikan tinggi itu diharapkan mampu menjawab tantangan keberadaan guru agama Khonghucu. “Kedepan tentu harus dipikirkan secara mendalam tentang bagaimana peningkatan kualitas pelayanan kepada umat agama Khonghucu.”

Jaga kerukunan
Menurut, Nur Syam, yang terpenting ialah bagaimana menjalin kerukunan di atas keragaman identitas beragama ini. Kiranya jangan hanya membicarakan aku atau kamu, akan tetapi yang lebih penting adalah tentang kita. Jika kita berbicara dengan bahasa ‘kekitaan’, batas identitas yang semula sangat tegas itu akan menjadi luruh kedalam kebersamaan. “Jika hal ini yang dijadikan sebagaimana kota kehidupan, maka merajut kerukunan di dalam kebinekaan tentu bukanlah masalah yang sulit dilakukan,” tegasnya. (Bay/S-25)

Selasa, 07 Juli 2015

勿里洞孔教妇女协会与布安基金会

Ibu Shinta Nuriyah memberikan tausiah
Perempuan Khonghucu Indonesia foto bersama Ibu Shinta Nuriyah
Suasana Buka Puasa Di Kelenteng Hok Tek Che Belitung
Kata sambutan dari Bupati Belitung Timur Basuri Tjahaja Purnama
 同瓦希德夫人共同开斋

【本报讯】7月3日上午,印尼孔教妇女协会与布安(PuanAmalHayati)基金会同前总统瓦希德夫人辛达女士在勿里洞县丹绒邦丹巴杀伊淦区达鲁萨冷大清真寺一起举行黎明开斋。下午他们也与约有数百人来自ojek租骑载摩托车者和孤儿们等在勿里洞丹绒班丹福德祠孔教庙堂共同开斋。
  开斋前也举行膜拜。出席者有勿里洞丹绒班丹警官Candra Sukma Kumara、Danlanud Tanjungpandan、 Anang HeruSetyono, 勿里洞县区议会副议 Budi Prastiyo,东勿里洞区议会副议长,东勿里洞孔教协会主席钟湘和勿里洞县宗教和谐论坛 Faisal Madani主席及东勿里洞县长钟万学。
  当天也向该区的20 多位孤儿及寡妇分发红包,让他们能过一个快乐的开斋佳节。 Hk/Romy

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20150708/227529.shtml

Senin, 23 Februari 2015

Menag Harap Imlek Hadirkan Atmosfir Kesejukan Bermasyarakat

Jakarta (Pinmas) —- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengharapkan perayaan Imlek dapat menghadirkan atmosfir kesejukan dalam bermasyarakat. Hal itu dikatakan Menag saat memberi sambutan pada acara Perayaan Hari Raya Tahun Baru Imlek Nasional 2566 Kongzili yang diselenggarakan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN).
Perayaan Imlek kali ini mengusung tema “Kewajiban Utama Pemimpin Negara sampai Rakyat Jelata Adalah Membina Diri”, di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Senin (23/02). Tampak hadir Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani yang mewakili Presiden RI, Dubes Negara-negara sahabat, beberapa pimpinan lembaga negara, pimpinan Matakin seluruh Indonesia, para pimpinan majelis agama,  serta unsur Muspida dan umat Konghucu di Indonesia.

“Selamat Imlek 2566 kepada umat Konghucu di Tanah Air,” kata Menag.

Menurutnya, tema Imlek tahun ini sangat sejalan dengan tujuan pemerintah dan kewajiban masyarakat. “Sebab, membina diri tidak hanya berlaku pada pemimpin, akan tetapi berlaku juga kepada seluruh lapisan masyarakat untuk membangun bangsa Indonesia,” jelas Menag.

Pembangunan bangsa Indonesia dari masa ke masa tidak lepas dari agama. Hal ini, lanjut Menag, sebagaimana tertuliskan dalam UUD 1945 dan secara eksplisit tercantum dalam sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan yang maha Esa. “Negara tampil sebagai pelopor kerukunan umat beragama. Negara tidak diwakili oleh agama tertentu. Indonesia yang bukan diwakili agama tertentu, bukan pula negara sekuler,” papar Menag.

Menag berharap hubungan sesama umat beragama di Indonesia terus dapat terjalin dengan baik, ditandai dengan sikap saling menghormati dalam pengamalan ajaran beragamanya.  Hal itu menurut Menag akan dapat mewujudkan Indonesia yang rukun dan  harmonis. “Perayaan Imlek ini (semoga) dapat menyegarkan kesadaran beragama pada kita semua,” harapnya.

“Indonesaia merupakan laboratorium kerukunan umat beragama dunia. Agama seharusnya menjadi rahmat yang mampu melahirkan kerukunan pada setiap umat,” tambahnya.

Sebelumnya Ketua Umum Matakin U’ung Sendana dalam laporannya, menyampaikan bahwa  tema imlek tahun ini memberi pesasn agar setiap makhluk dalam berbagai bidang, dari rakyat jelata sampai pejabat negara dapat saling membina diri. “Kita harus saling asih, saling asah dan saling asuh menuju bangsa Indonesia yang jaya,” ujarnya sembari berharap datangnya tahun baru ini akan mendatangkan semangat baru pula. (Arief/mkd/mkd)

http://www.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=241148
* www.ayojambi.com/

Selasa, 03 Februari 2015

Wisata Religi Kelenteng Kwan Im di Jambi

JAMBI, ayojambi.com - Kota Jambi adalah ibukota Provinsi Jambi dan merupakan salah satu dari 10 daerah kabupaten/kota yang ada dalam Provinsi Jambi. Secara historis, Pemerintah Kota Jambi dibentuk dengan Ketetapan Gubernur Sumatera No.103/1946 sebagai Daerah Otonom Kota Besar di Sumatera, kemudian diperkuat dengan Undang-undang No.9/1956 dan dinyatakan sebagai Daerah Otonom Kota Besar dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah [Lihat Gambar: Peresmian Kelenteng MAKIN Beng Shan Bio Jambi].
Geografis :
Kota Jambi dengan luas wilayah ± 205.38 km² (berdasarkan UU No. 6 tahun 1986), terletak pada kordinat :
01° 30’ 2.98" - 01° 7’ 1.07" Lintang Selatan, 103° 40’ 1.67" - 103° 40 0.23" Bujur Timur.

Koordinat tersebut menunjukkan keberadaan Kota Jambi yang terletak di tengah-tengah pulau Sumatera. Secara geomorfologis Kota Jambi terletak di bagian Barat cekungan Sumatera bagian selatan yang disebut Sub-Cekungan Jambi, yang merupakan dataran rendah di Sumatera Timur.

Ditilik dari topografinya, Kota Jambi relatif datar dengan ketinggian 0-60 m diatas permukaan laut. Bagian bergelombang terdapat di utara dan selatan kota, sedangkan daerah rawa terdapat di sekitar aliran Sungai Batanghari, yang merupakan sungai terpanjang di pulau Sumatera dengan panjang keseluruhan lebih kurang 1.700 km, dari Danau Atas - Danau Bawah (Sumatera Barat) menuju Selat Berhala (11 km yang berada di wilayah Kota Jambi) dengan kelebaran lebih kurang 500 m. Sungai Batanghari membelah Kota Jambi menjadi dua bagian disisi utara dan selatannya.

Kota Jambi adalah sebuah kota sekaligus ibukota dari provinsi Jambi, Indonesia. Kota Jambi dibelah oleh aliran sungai yang bernama Batanghari, kota Jambi dapat menghubungi kabupaten dan provinsi di sumatera melalui jembatan Aur Duri I dan jembatan Aur Duri II.

Pariwisata di Jambi sangat beragam dan salah satu yang tak boleh anda lewatkan adalah dengan mengunjungi Candi Muaro Jambi dan beberapa Kelenteng yang namanya sudah tersohor.

Salah satu Kelenteng Beng Shan Bio yang baru diresmikan terletak di Jalan Gembiran Kelurahan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur, kota Jambi.

Kelenteng Beng Shan Bio ini dibangun dengan biaya sendiri dari seorang donatur untuk sembahyang umat Khonghucu Jambi.

Bentuk bangunan kelenteng ini merupakan bangunan tunggal beratap susun. Berbeda dengan tipe kelenteng yang lain, altar utama kelenteng ini adalah Kwan Im di dampingi empat sen ming (dewa red) lainnya.

Kelenteng Beng Shan Bio merupakan bangunan yang paling megah di Jambi, karena kelenteng ini dibangun oleh tenaga ahli dari Tiongkok sekaligus 80% bahan baku didatangkan dari China. Termasuk satu patung Kwan Im setinggi 4 meter ditempatkan di halaman kiri Beng Shan Bio.

Kelenteng Beng Shan Bio, belum 100% selesai dibangun, karena penilaian ahli feng shui Tiongkok, apa bila tidak diresmikan tahun ini (sebelum imlek) maka harus tunggu tahun 2018 mendatang. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Peresmian Kelenteng Beng Shan Bio Jambi

JAMBI, ayojambi.com - Peresmian Kelenteng MAKIN Beng Shan Bio Jambi, Rabus (3/2/2015) berjalan lancar. Tamu beserta undangan dan ratusan umat Khonghucu Jambi memadati lokasi kelenteng untuk mengikuti prosesi pengsihan roh suci shen ming. Pengsihan roh suci dipimpin oleh taoshe dari negara Tiongkok [Lihat Gambar: Peresmian Kelenteng MAKIN Beng Shan Bio Jambi].
Ratusan warga Tionghoa penganut kepercayaan Khonghucu mengikuti prosesi pengisian roh suci terhadap patung dewa di Kelenteng MAKIN Beng Shan Bio, Kota Jambi. Kelenteng Beng Shan Bio adalah rumah ibadah bagi umat beragama khonghucu. Kelenteng tersebut terletak di Jalan Gembira, Kelurahan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi.

Bentuk bangunan kelenteng berbeda dengan type bangunan kelenteng yang lainnya di Jambi, altar utama Beng Shan Bio adalah Dewi Pengasih Kwan Im di dampingi empat shen ming (dewa red) lainnya, diantaranya Hok Tek Chen Sen, Hien Tien Siong Te, Kwan Seng Tee Kun  dan Sam Ong Hu Tua Lang Kong.

"Terhitung mulai tanggal 3 Februari 2015 (Cap Ji Gwee Cap G0) umat Khonghucu Jambi sudah bisa sembahyang dan berdoa di kelenteng MAKIN Beng Shan Bio."

Muljono Handjaya, memelopori pendirian kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Beng Shan Bio bagi umat Khonghucu di Jambi. Dalam pembangunan kelenteng ini, tak tanggung-tanggung Muljono Handjaya mendatangkan seorang arsitek dan bahan-bahan dari Tiongkok (China). Mereka memang ahli dalam pembuatan kelenteng. “Bagi orang-orang yang membangun Kelenteng untuk sembahyang umatnya, maka orang tersebut akan mendapatkan Pahala dari Tien (Tuhan).”

Peresmian kelenteng MAKIN Beng Shan Bio, dihadiri oleh para pengusaha dan tokoh masyarakat dari beberapa daerah diantaranya datang dari Jakarta, Sumetera Selatan (Palembang), dan Ketua Yayasan Kesejahteraan Sentosa, Ronny Attan, Pimpinan Mal WTC Batanghari Jambi, Pimpinan Aston Hotel, Sukirman Johan, Pengusaha dok kapal PT. Naga Cipta Central, Robin, serta Ketua MATAKIN Provinsi Jambi, Darman Wijaya, Wakil Ketua MATAKIN Provinsi Jambi, Alex Sujanto, Ketua MATAKIN Kota Jambi, Darmadi Tekun, Wakil Ketua MATAKIN Kota Jambi, Huwanda Desswandhy, Sekretaris MATAKIN Kota Jambi, Salim, Ketua Perkhin Jambi, Hewai, Ketua MAKIN Leng Chun Keng, Handoko Thetro, Ketua MAKIN Lam Po Tong, Cut Harto, Pengurus MAKIN Sai Chie Tien, Ketua Hok Liong Sai, Herman Suprapto (Chen He Siang) dan lain sebagainya. (Romy)

Peresmian Kelenteng MAKIN Beng Shan Bio Jambi

 碑明山廟落成及眾神進宮和開光典禮
* www.ayojambi.com/

Jumat, 30 Januari 2015

Perbedaan Vihara dan Kelenteng

 BENTUK KELENTENG
BENTUK VIHARA
Banyak yang salah kaprah, atau bahkan tidak mengetahui sama sekali bahwa 'vihara' dan 'kelenteng' itu berbeda. Ada yang menganggap 'kelenteng' adalah panggilan lain dari 'vihara', jelas semua itu adalah salah. Pada kesempatan kali ini, Anda akan mengenal lebih lanjut, apa sajakah perbedaan 'vihara' dan 'kelenteng'.
a. Vihara
* Adalah rumah ibadah umat Buddha
* Biasanya berarsitektur India/Thailand, ada pula yang berarsitektur Tiongkok
* Di dalam Vihara aliran Theravada, hanya ada rupang (patung) Buddha Gautama beserta 2 muridNya. Di dalam Vihara aliran Mahayana, terdapat 3 rupang, yaitu: Rupang Buddha Gautama, Rupang Bodhisattva Avalokiteshvara, Rupang Bodhisattva Ksitigharba/Bodhisattva lainnya.
* Tidak terdapat tempat untuk membakar kertas sembahyang.
* Upacara keagamaan biasanya dilakukan secara jemaat yang disebut Puja Bakti/Kebaktian, walaupun umat juga diberi kesempatan untuk beribadah secara individu. Setelah beribadah umat biasanya akan diberi dhammadesana (khotbah/ceramah).
* Sebuah tempat bisa dikatakan Vihara apabila: memiliki minimal 1 ruang dhammasala (ruang kebaktian), memiliki kuti (tempat tinggal bikkhu), perpustakaan, bahkan ruang khusus untuk khotbah. Vihara yang lebih kecil disebut Cetya yang hanya memiliki 1 ruang dhammasala (ruang kebaktian) tanpa memiliki dhammasala dan perpustakaan. Vihara yang lebih besar dan memiliki taman disebut Arama. Vihara bisa disebut Arama apabila: memilkiki minimal 1 ruang dhammasala, kuti, perpustakaan, ruang khotbah, dan yang paling penting taman.
* Vihara biasanya menggunakan nama berbahasa Pali atau Sanskerta. Contoh: Vihara Dharma Loka, Vihara Vimala Virya, Vihara Dhamma Metta Arama, Vihara Vipassana Graha, Cetya Tisaranagamana, dll.

b. Kelenteng
* Adalah rumah ibadah umat Konghucu/Tao
* Biasanya berarsitektur Tiongkok
* Di dalam Kelenteng terdapat rupang para Dewa/Dewi yang dipuja oleh umat
* Terdapat tempat untuk membakar kertas sembahyang
* Umumnya upacara keagamaan dilakukan secara individu
* Biasanya juga sekaligus merupakan tempat perkumpulan/yayasan sosial, seperti Kelompok Pemain Barongsai, dll.
* Kelenteng biasanya diberi nama dalam bahasa Mandarin atau bahasa Indonesia. Contoh: Kelenteng Tua Pek Kong, Kelenteng Dewi Sakti, Kelenteng Surya Bakti, dll.

Tidak heran kekeliruan ini terjadi. Pada masa Orde Baru, pemerintah RI melarang segala jenis apapun kegiatan atau tempat yang berbau tradisi Tionghua. Sehingga Kelenteng yang merupakan salah satu tradisi Tionghua akhirnya terancam ditutup. Untuk mengatasi hal itu, sebagian Kelenteng dan umat Konghucu saat itu berlindung di bawah naungan agama Buddha, sehingga mengubah nama Kelenteng menjadi nama Vihara. Tidak hanya itu, umat Konghucu yang bernaung menjadi agama Buddha pun hanya menyandang gelar agama Buddha saja, tapi tetap melakukan tata cara ibadah agama Konghucu. Sebagian umat lain malah pindah ke agama lain seperti Katolik, Protestan, Islam, ataupun Hindu yang ketika itu merupakan agama resmi.

Sejak Orde Reformasi, atau lebih tepatnya masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, kebijakan yang melarang kegiatan atau tempat yang berbau tradisi Tionghua itu kemudian dihapuskan. Sejak saat itulah umat Konghucu lebih leluasa beribadah dan melakukan aktivitas keagamaan dan kebudayaan seperti tarian Barongsai, Imlek, dll. Dan sejak pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan menjadi hari libur nasional. Banyak pula Kelenteng yang kembali mengganti nama seperti nama semula. Namun, adapula Kelenteng yang tetap mempertahankan nama Vihara yang sebetulnya hanyalah merupakan nama sementara.

Dan dulu, sebelum agama Konghucu diresmikan, orang awam juga keliru membedakan mana Kelenteng dan mana Vihara, karena menurut mereka, hampir semua orang Tionghua yang pergi ke Kelenteng atau Vihara, sehingga umat Buddha dan umat Konghucu pun dicap sebagai agama yang hanya dianut oleh etnis Tionghua. Padahal, hal ini salah. Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, banyak pula warga asli Indonesia yang menganut agama Buddha.

Dampaknya tidak hanya sampai di situ, karena larangan pada Orde Baru, terjadilah penggabungan 3 tempat ibadah menjadi satu. Tempat ibadah itu disebut Vihara Tri Dharma (Tiga Ajaran: Buddha, Konghucu, Tao) Dan tempat ibadah ini hanya terdapat di Indonesia. Walaupun berdampak negatif yaitu timbulnya kekeliruan, tapi tempat ibadah ini juga berdampak positif yaitu mencerminkan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Perbedaan Agama Buddha dan Konghucu
a. Agama Buddha
Penyebar Ajaran     : Sidharta Gautama Buddha
Asal Ajaran            : India
Kitab Suci              : Tipitaka (Theravada, bahasa Pali) atau Tripitaka (Mahayana, bahasa Sansekerta)
Rumah Ibadah        : Vihara
Bahasa Asli            : Bahasa Pali atau bahasa Sansekerta
Pemimpin Agama   : Bikkhu (Theravada), Biksu (Mahayana), Bikkhuni (Bikhhu Wanita)
Salam Keagamaan  : Namo Buddhaya; Namaste

Padanan kata yang sering digunakan untuk merujuk "Tuhan" adalah Sanghyang Adi-Buddha Tuhan Yang Maha Esa (lebih sering digunakan oleh Buddhayana/Ekayana). Aliran Theravada lebih sering menggunakan padanan kata Sang Tiratana.

b. Agama Konghucu
Penyebar Ajaran      : Nabi Konfusius
Asal Ajaran              : Tiongkok
Kitab Suci                : Sishu, Wujing, Xiao Jing
Rumah Ibadah         : Kelenteng / Lintang
Bahasa Asli              : Bahasa Mandarin (bahasa Tiongkok)
Pemimpin Agama     : Pendeta Konghucu
Salam Keagamaan    : Wei De Dong Tian

Padanan kata yang sering digunakan untuk merujuk "Tuhan" adalah Tian/Thian Tuhan Yang Maha Esa.

http://wirawanperdana.blogspot.com/2013/06/perbedaan-vihara-dan-kelenteng.html#comment-form

Selasa, 27 Januari 2015

Rencana Peresmian Pemakaian Kelenteng Beng Shan Bio Jambi

JAMBI, ayojambi.com – Jika tidak ada alar melintang Kelenteng Beng Shan Bio yang beralamat di Lorong Gembira, Kelurahan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur akan diresmikan (Soft Opening) untuk umat Khonghucu Jambi melakukan sembahyang [Lihat Gambar: Kelenteng Beng Shan Beo].
Menurut rencana peresmian, dilakukan pada 2 Fabruari 2015 atau Cap Jie Gwee Cap Go imlek/ lunar kalender, pukul 00.00, setelah dilakukan pengisihan roh para shen ming (bahasa hokkien Tiam Shin) oleh para Sai Kong (taoshe) dari Tiongkok. Kim Sin (patung dewa) tidak memiliki kekuatan apa-apa sebelum dilakukan pengisihan roh suci shen ming (dewa red).

Altar utama Kelenteng Beng Shan Beo adalah Nam Hai Kwan Im didampingi beberapa shen ming (Romy)
* www.ayojambi.com/

Senin, 05 Januari 2015

占碑孔教信徒祷告感恩和祈祷亚航飞机遇难者


 庙负责人在祈拜
 负责人及信徒在祈拜和祈祷
[本报占碑讯] 2015年元旦周四,数百名孔教信徒 在 占 碑 甘 榜 曼 格 斯(Kampung Manggis)寿山亭庙感恩及祈祷亚航飞机受害者 。

  在庙内,金龙围绕着红色四个支撑庙亭大柱子,信徒紧握在信徒手里的香柱,香气冲天,供神的各种水果供品整齐地摆在大张的张桌子。信徒感恩祈祷新一年成功,并希望在2015年会更好,同时也祈祷亚航飞机遇难者可能很快就会发现。 明光/ Romy
占碑寿山亭庙内一景

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20150106/189326.shtml