2月16日农历正月初一新春佳日上午10时,印尼占碑孔教妇女会主席郑华玲和夫婿黄汉雄在占碑孔教学校礼堂分发节日红包予该校学生和孔教老师。
学生们整齐列队,井然有序地领取红包。华人传统节日春节,都会分发红包。红色是代表欢喜及带来好运。
郑华玲对学生们解说为何要用红色纸张包起来后分发给大家,她表示,在春节期间由长辈在年三十晚上0点后派给晚辈的红包称作压岁钱,是表示把新的一年的祝福和好运带给他们……而给年老人寓意为“长命百岁”;用红纸包一枚大洋,象征“一本万利”。至今,红包已普及为一种习俗。因为红色象征好运,所以,每逢婚嫁、添丁、新宅、开工、生日等等……皆发红包。
郑华玲也简述春节过年,都用红色装饰,有其特殊意义。相传:中国古时候有一种叫"年"的怪兽,头长尖角,凶猛异常,每到除夕,爬上岸来吞食牲畜伤害人命,因此每到除夕,村村寨寨的人们扶老携幼,逃往深山,以躲避“年”的伤害.原来“年”兽最怕红色,火光和炸响。这时大门大开,“年”兽大惊失色,仓惶而逃。本报记者明光报道Romy供图
http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20180223/413018.shtml
Tampilkan postingan dengan label Angpao. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angpao. Tampilkan semua postingan
Kamis, 22 Februari 2018
Sabtu, 17 Februari 2018
Perkhin Jambi Bagi-bagi Angpao Saat Tahun Baru Imlek 2569 Kongzili
JAMBI - Untuk kali pertama Tahun Baru Imlek 2018 Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN) Provinsi Jambi membagi-bagikan angpao kepada siswa-siswi Sekolah Khonghucu dan para guru agama Khonghucu di aula littang Nabi Kongzi (16/2-2018).
Ketua Perkhin Jambi Herwai dan bersama suaminya Hasan Andi Ng membeagi-bagikan angpao dan jeruk yang dimasukan ke dalam keranjang plastik, dengan gembira para siswa-siswi dan guru berbaris menerima angpao sambil mengucapkan Gong Xi Fa Chai "恭喜發財".
Ketua Perkhin Jambi Herwai dan bersama suaminya Hasan Andi Ng membeagi-bagikan angpao dan jeruk yang dimasukan ke dalam keranjang plastik, dengan gembira para siswa-siswi dan guru berbaris menerima angpao sambil mengucapkan Gong Xi Fa Chai "恭喜發財".
Adalah amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek. Sejak lama, warna merah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa yang nasib baik bagi penerimanya.
Makna angpao sebenarnya bukan hanya sekedar perayaan tahun baru Imlek semata karena angpao melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik, sehingga angpao juga ada di dalam beberapa perhelatan penting seperti pesta pernikahan, hari ulang tahun, syukuran naik rumah baru dan lain-lain yang bersifat suka cita.
Menurut tradisi, pemberian uang angpao tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Ada beberapa aturan yang dipercaya harus dilakukan sebelum memberikan angpao. Tujuannya agar uang angpao itu tetap membawa keberuntungan (Romy).
* https://www.facebook.com/makinjambi"
Makna angpao sebenarnya bukan hanya sekedar perayaan tahun baru Imlek semata karena angpao melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik, sehingga angpao juga ada di dalam beberapa perhelatan penting seperti pesta pernikahan, hari ulang tahun, syukuran naik rumah baru dan lain-lain yang bersifat suka cita.
Menurut tradisi, pemberian uang angpao tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Ada beberapa aturan yang dipercaya harus dilakukan sebelum memberikan angpao. Tujuannya agar uang angpao itu tetap membawa keberuntungan (Romy).
* https://www.facebook.com/makinjambi"
Ribuan Umat Khonghucu Sembahyang Ke Klenteng 🏮🏮🏮🏮
JAMBI - Perayaan Tahun Baru Imlek ke 2569 kongzili di Kota Jambi, di sambut antusias oleh ribuan umat Khonghucu se-kota Jambi (16/2-2018).
Sejak pukul 00.00 dinihari, belasan klenteng di kota Jambi telah di buka untuk memberikan pelayanan terhadap umat yang hendak lakukan sembahyang Imlek tahun 2018.
Sejak pukul 00.00 dinihari, belasan klenteng di kota Jambi telah di buka untuk memberikan pelayanan terhadap umat yang hendak lakukan sembahyang Imlek tahun 2018.
Aroma gahayu yang semerbak harumnya tercium dari depan gerbang klenteng diiringi terangnya puluhan lilin berwarna merah dari berbagai ukuran Sebagai ungkapan rasa syukur. Sembahyang imlek sudah dilakukan umat Khonghucu sejak ribuan tahun silam secara turun temurun dan dilakukan setiap perayaan Imlek.
Warga berharap, di tahun yang baru ini, kehidupan akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan keluarganya akan diberikan kesejahteraan serta kesehatan. Ribuan warga Tionghua yang mayolitas beragama Khunghucu untuk memanjatkan doa.
Seperti yang dilakukan para umat Khonghucu di klenteng Siu San Teng, klenteng terbesar di kota Jambi yang terletak dikawasan Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, kota Jambi.
Warga berharap semoga di tahun yang baru ini, kehidupan akan lebih baik dan umat akan diberikan kesejahteraan serta kesehatan. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi
Warga berharap, di tahun yang baru ini, kehidupan akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan keluarganya akan diberikan kesejahteraan serta kesehatan. Ribuan warga Tionghua yang mayolitas beragama Khunghucu untuk memanjatkan doa.
Seperti yang dilakukan para umat Khonghucu di klenteng Siu San Teng, klenteng terbesar di kota Jambi yang terletak dikawasan Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, kota Jambi.
Warga berharap semoga di tahun yang baru ini, kehidupan akan lebih baik dan umat akan diberikan kesejahteraan serta kesehatan. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi
Senin, 23 Januari 2012
Keluarga Besar Robin Bagi Ribuan Angpao Ke Anak Panti Asuhan
JAMBI – Tahun Baru Imlek 2563 di Jambi, sangatlah meriah, dimana terdapat seorang pengusaha dok kapal PT. Naga Cipta Central Senin (23/1-2012 ) pagi membagi ribuan angpau untuk anak yatim piatu dan penyandang cacat, di Talang Duku, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.Beginilah suasana Imlek di keluarga besar Robin, pengusaha dok kapal di Jambi. Ribuan anak yatim piatu dan penyandang cacat, ikut serta menikmati kebahagiaan, sebagaimana orang tionghoa merayakan Imlek 2563.
Panti asuhan yang tampak hadir, diantaranya dari, Panti Asuhan Penyandang Cacat “Teratai Jaya”, Jalan Sersan Muslim RT. 24, Kelurahan The Hok, Kecamatan Jambi Selatan, kota Jambi, Panti Sosial Asuhan Anak Alyatama Jambi (PSAA), Jalan Sultan Hasannudin RT. 25, No. 03, Kelurahan Talang Bakung, Kecamatan Jambi Selatan, kota Jambi, Panti Asuhan Yayasan Kesejahteraan Anak (YKA), Jalan Sersan Syahwal, RT. 03, No. 103 Paal Merah Jambi dan Panti Asuhan Ainul Yakin, Jalan Batam, RT. 25, Kelurahan Lobak Bandung, Kecamatan Jelutung, kota Jambi.
Selain berbagi dengan orang tidak mampu, ini juga bertujuan untuk berbagi rezeki dengan sesama insan yang kurang mampu dan agar mereka bisa menikmatinya.
Meski harus berdesak-desakan, menikmati hidangan makan beraneka ragam dan rasa,dari sate, tekwan, martabak India dan buah-buahan. Anak-anak yatim piatu dan penyandang cacat mereka tetap tertib.
Usai makan bersama, satu persatu mereka menerima angpau atau amplop merah ysng berisi uang kertas yang sudah disiapkan keluarga besar Robin, dihari yang berbahagia ini.
Eko, salah seorang penyandang cacat, mengaku gembira dapat menerima angpau yang baru sekali ini pernah diterimanya.
Sebelum membubarkan diri, ribuan anak yatim piatu dan penyandang cacat, disuguhi tarian barongsai yang atraktif dan menghibur organ tunggal.
Menurut Charles tahun Naga Air “Pada tahun ini mendapatkan keberkahan, kehidupan antar umat beragama dan bisa saling bahu membahu serta tidak melukai umat lain demi mewujudkan kedamaian di Jambi. Ujar Cherles. Sampai berita ini diturunkan, open house masih tetap berlangsung (Rom-Yul)
Selain berbagi dengan orang tidak mampu, ini juga bertujuan untuk berbagi rezeki dengan sesama insan yang kurang mampu dan agar mereka bisa menikmatinya.
Meski harus berdesak-desakan, menikmati hidangan makan beraneka ragam dan rasa,dari sate, tekwan, martabak India dan buah-buahan. Anak-anak yatim piatu dan penyandang cacat mereka tetap tertib.
Usai makan bersama, satu persatu mereka menerima angpau atau amplop merah ysng berisi uang kertas yang sudah disiapkan keluarga besar Robin, dihari yang berbahagia ini.
Eko, salah seorang penyandang cacat, mengaku gembira dapat menerima angpau yang baru sekali ini pernah diterimanya.
Sebelum membubarkan diri, ribuan anak yatim piatu dan penyandang cacat, disuguhi tarian barongsai yang atraktif dan menghibur organ tunggal.
Menurut Charles tahun Naga Air “Pada tahun ini mendapatkan keberkahan, kehidupan antar umat beragama dan bisa saling bahu membahu serta tidak melukai umat lain demi mewujudkan kedamaian di Jambi. Ujar Cherles. Sampai berita ini diturunkan, open house masih tetap berlangsung (Rom-Yul)
Sabtu, 21 Januari 2012
Imlek, Angpao, dan Tradisi Lainnya
JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam hitungan jam, seluruh rakyat Republik Rakyat China dan keturunan di seluruh dunia akan merayakan Tahun Baru Imlek. Di Indonesia, dan juga di negara lainnya, Tahun Baru Imlek, yang menandai awal musim semi, erat kaitannya dengan angpao. Secara harafiah, angpao berarti amplop yang berwarna merah. Angpao telah menjadi salah satu simbol Tahun Baru Imlek. Pada hari raya ini, ada tradisi bahwa seseorang yang telah menikah memberikan ang pao yang berisi uang kepada orang yang lebih muda dan belum menikah. Soal jumlah, hal ini tergantung pada kemampuan dan kerelaan dari sang pemberi.
Lantas, apa makna angpao? Budayawan Budi Santosa Tanuwibawa mengatakan, ang pao memiliki makna filosofi transfer kesejahteraan atau energi. "Transfer kesejahteraan dari orang mampu ke tidak mampu, dari orangtua ke anak-anak, dari anak-anak yang sudah menikah ke orangtua," ujar Budi.
Menurutnya, tradisi memberi angpao telah berlangsung sejak lama. Tradisi ini diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya tanpa putus. Tradisi Tionghoa juga mengenal pemberian angpao yang diberikan tujuh hari menjelang Imlek. Budi menyebut hal ini sebagai Hari Persaudaraan.
"Ini mewajibkan orang yang merayakan Tahun Baru Imlek untuk membantu sesama yang tak mampu merayakannya," kata Budi.
Tradisi Imlek Pemberian angpao bukan satu-satunya tradisi yang dilakukan ketika Imlek. Tradisi lainnya yang menonjol adalah sembahyang leluhur. Sebelum Imlek, para warga Tionghoa umumnya turut bahu-membahu membersihkan makam para leluhurnya. Tak hanya itu, pada hari pertama Imlek, para warga Tionghoa melakukan sembahyang untuk para leluhur.
Pada ritual sembahyang, mereka menyajikan makanan, minuman, dan buah di altar almarhum dan almarhumah. Budi mengatakan, sembahyang leluhur bukanlah tradisi tanpa makna. "Ini menunjukkan bakti kepada orangtua, yang tidak hanya merawat dan menjaganya hingga meninggal, tetapi juga setelah meninggal. Ini mengingatkan bahwa kita berada di dunia ini tidak semata-mata karena Tuhan, tetapi juga orangtua," ujarnya.
Terkait tradisi santap kue lapis, jeruk, kue keranjang, ikan bandeng, tokoh Konghucu ini menilai hal ini tak lain hasil interaksi budaya China dengan masyarakat lokal. Kue keranjang atau nian gao disebut-sebut berkaitan dengan harapan agar rezeki selama satu tahun mendatang manis.
Nian sendiri berarti tahun dan gao berarti kue yang juga terdengar seperti kata tinggi. Oleh karena itu, kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas, makin mengecil kue itu, memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu, banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.
"Kue keranjang itu artinya agar tiap tahun mencapai prestasi yang bertambah tinggi, setiap tahun ada peningkatan. Ini biasanya bagi mereka yang memiliki bisnis," kata Yu Ie, seorang pengurus Klenteng Petak Sembilan di Glodok, Jakarta.
Adapun ikan bandeng dihubungkan sebagai perlambang rezeki karena dalam logat Mandarin, kata 'ikan' sama bunyinya dengan kata 'yu' yang berarti rezeki. "Bandeng itu ikan. Artinya, tiap tahun ada lebihnya uang atau rezeki," ujar Yu Ie.
Buah-buahan yang wajib yang sudah pasti ada adalah pisang raja atau pisang emas yang melambangkan emas atau kemakmuran atau keuntungan yang besar. Begitu juga dengan jeruk kuning dan diusahakan yang ada daunnya. Ini juga melambangkan kemakmuran yang akan selalu tumbuh terus. "Ini supaya ada keuntungan yang besar dan terus-menerus," jelas Yu Ie.
Selain itu, atraksi barongsai juga turut menyemarakkan Imlek. Budi mengatakan, atraksi barongsai terinspirasi dari Kilin, makhluk suci bagi umat Konghucu. Rupanya menyerupai naga, memiliki kulit bersisik, dan bertanduk satu. Kilin muncul ketika Nabi Konghucu lahir dan wafat.
Menurut cerita-cerita rakyat yang populer di China, atraksi barongsai ini bertujuan untuk mengusir roh jahat yang datang di awal tahun. Imlek juga tak lengkap tanpa kehadiran bunga sedap malam di altar leluhur. Hal ini, kata Budi, bertujuan untuk mengingatkan kita agar terus tertekad berlaku baik dan harum bak bunga sedap malam.
http://megapolitan.kompas.com/read/2012/01/22/05060130/
Lantas, apa makna angpao? Budayawan Budi Santosa Tanuwibawa mengatakan, ang pao memiliki makna filosofi transfer kesejahteraan atau energi. "Transfer kesejahteraan dari orang mampu ke tidak mampu, dari orangtua ke anak-anak, dari anak-anak yang sudah menikah ke orangtua," ujar Budi.
Menurutnya, tradisi memberi angpao telah berlangsung sejak lama. Tradisi ini diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya tanpa putus. Tradisi Tionghoa juga mengenal pemberian angpao yang diberikan tujuh hari menjelang Imlek. Budi menyebut hal ini sebagai Hari Persaudaraan.
"Ini mewajibkan orang yang merayakan Tahun Baru Imlek untuk membantu sesama yang tak mampu merayakannya," kata Budi.
Tradisi Imlek Pemberian angpao bukan satu-satunya tradisi yang dilakukan ketika Imlek. Tradisi lainnya yang menonjol adalah sembahyang leluhur. Sebelum Imlek, para warga Tionghoa umumnya turut bahu-membahu membersihkan makam para leluhurnya. Tak hanya itu, pada hari pertama Imlek, para warga Tionghoa melakukan sembahyang untuk para leluhur.
Pada ritual sembahyang, mereka menyajikan makanan, minuman, dan buah di altar almarhum dan almarhumah. Budi mengatakan, sembahyang leluhur bukanlah tradisi tanpa makna. "Ini menunjukkan bakti kepada orangtua, yang tidak hanya merawat dan menjaganya hingga meninggal, tetapi juga setelah meninggal. Ini mengingatkan bahwa kita berada di dunia ini tidak semata-mata karena Tuhan, tetapi juga orangtua," ujarnya.
Terkait tradisi santap kue lapis, jeruk, kue keranjang, ikan bandeng, tokoh Konghucu ini menilai hal ini tak lain hasil interaksi budaya China dengan masyarakat lokal. Kue keranjang atau nian gao disebut-sebut berkaitan dengan harapan agar rezeki selama satu tahun mendatang manis.
Nian sendiri berarti tahun dan gao berarti kue yang juga terdengar seperti kata tinggi. Oleh karena itu, kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas, makin mengecil kue itu, memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu, banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.
"Kue keranjang itu artinya agar tiap tahun mencapai prestasi yang bertambah tinggi, setiap tahun ada peningkatan. Ini biasanya bagi mereka yang memiliki bisnis," kata Yu Ie, seorang pengurus Klenteng Petak Sembilan di Glodok, Jakarta.
Adapun ikan bandeng dihubungkan sebagai perlambang rezeki karena dalam logat Mandarin, kata 'ikan' sama bunyinya dengan kata 'yu' yang berarti rezeki. "Bandeng itu ikan. Artinya, tiap tahun ada lebihnya uang atau rezeki," ujar Yu Ie.
Buah-buahan yang wajib yang sudah pasti ada adalah pisang raja atau pisang emas yang melambangkan emas atau kemakmuran atau keuntungan yang besar. Begitu juga dengan jeruk kuning dan diusahakan yang ada daunnya. Ini juga melambangkan kemakmuran yang akan selalu tumbuh terus. "Ini supaya ada keuntungan yang besar dan terus-menerus," jelas Yu Ie.
Selain itu, atraksi barongsai juga turut menyemarakkan Imlek. Budi mengatakan, atraksi barongsai terinspirasi dari Kilin, makhluk suci bagi umat Konghucu. Rupanya menyerupai naga, memiliki kulit bersisik, dan bertanduk satu. Kilin muncul ketika Nabi Konghucu lahir dan wafat.
Menurut cerita-cerita rakyat yang populer di China, atraksi barongsai ini bertujuan untuk mengusir roh jahat yang datang di awal tahun. Imlek juga tak lengkap tanpa kehadiran bunga sedap malam di altar leluhur. Hal ini, kata Budi, bertujuan untuk mengingatkan kita agar terus tertekad berlaku baik dan harum bak bunga sedap malam.
http://megapolitan.kompas.com/read/2012/01/22/05060130/
Tahun Naga Air Sugesti Hidup Paling Kuat
Tak hanya lampion berbentuk bulat, lampion naga aneka ukuran juga dipajang pada sejumlah rumah masyarakat Tionghoa yang bertuliskan huruf China itu yang memiliki beragam makna. Intinya, doa mohon keberkahan di tahun yang baru.
Kendati belum banyak persiapan, namun panitia perayaan Tahun Baru Imlek di kawasan Pondok Padang (Perkampungan China, red) sudah menyiapkan sejumlah tiang untuk persiapan bazar, dan aneka pertunjukan lomba, di gedung Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Padang.
Sekretaris (urusan keluar) HBT Padang Chandra Penata Long, mengatakan warga Tionghoa kini bertekad akan merayakan peringatan Tahun Baru Imlek penuh dengan kesederhanaan.
"Tak ada yang istimewa, perayaan Tahun Baru Imlek 2012 tetap dirayakan bersama isteri dan anak-anak di rumah," ujarnya sesuai tanggalan internasional, Imlek 2563 jatuh pada shio Naga Air.
Shio ini melambangkan kekuatan, kebaikan, keberanian, dan pendirian teguh.
Naga juga merupakan lambang kewaspadaan dan keamanan dari semua makhluk mitologi China, dan makhluk yang tertinggi menjadi raja semua hewan di alam semesta.
Menurut Chandra, sejak dahulunya beribu-ribu tahun silam, dimitoskan bahwa Naga merupakan mahluk sakral dalam agama Konghucu, atau sebagai simbol binatang yang paling kuat.
"Karena itu naga selalu dipasang pada setiap tiang vihara, terutama pada tiang tempat sembahyang Dewa Langit," ujarnya dan diharapkan Shio Naga Air tahun ini tidak hanya kesuksesan pebisnis yang hanya berhubungan dengan unsur air saja, seperti transpotasi air, restoran sampai pedagang air minum isi ulang.
Tapi Naga Air ini --sebagai fengsui, keberuntungan dalam agama Khonghucu-- bagi umatnya diharapkan dapat menjernihkan, mendinginkan berbagai permasalahan yang terjadi.
Dijelaskannya, fengsui `keberuntungan` itu bisa diterapkan mulai dari pembangunan rumah dengan pintu rumah yang harus dibuat sesuai sio Naga Air , dan tentunya akan berbeda lagi dengan sio tahun depan.
Naga Air, katanya lagi, sesuai karakternya adalah hewan yang berwibawa, angkuh dan banyak raja-raja di Tiongkok dahulunya memberi lambang kerajaan dengan naga, baju kebesaran yang juga bergambar naga.
"Konon, jika ada bayi yang lahir pada tahun naga ini, itu artinya sebuah lambang yang bagus bagi sang bayi dengan fengsui atau rezki yang bagus," ujarnya, sio-sio ini selalu menjadi sugesti atau semangat hidup paling kuat bagi warga Tionghoa.
Sedangkan tiap pergantian shio itu disebut Tahun Imlek (Cia Gwee Che It) yang jatuh pada tanggal satu bulan pertama. atau tahun lunar, tahun yang dihitung berdasarkan peredaran bulan, dan dikombinasikan dengan peredaran matahari dan pergantian dari musim dingin ke musim semi.
Selain itu, penanggalan China/Tionghoa terbagi menjadi 12 shio, yakni Tikus-Harimau-Naga-Kuda-Monyet-Anjing-Kerbau-Ular-Kambing-Ayam-Kelinci dan Babi.
Hewan yang terdapat pada shio ini dilambangkan sifatnya. Kemudian terbagi lagi menjadi lima unsur, logam, kayu,air, api dan tanah. Pertemuan pada shio dan unsur yang sama bisa terjadi 60 tahun kemudian.
Peringatan Tahun Baru Imlek di Padang diikuti oleh tiga organisasi warga China, seperti Himpunan Bersatu Teguh (HBT), Himpunan Tjinta Teman (HTT) dan Santo Yusuf. Selain itu juga organisasi warga dari delapan marga antara lain marga Tanju Hok, marga Tan, liem, dan lainnya.
"Selain persiapan pemasangan lampion-lampion dominan warna merah itu, warga Tionghoa Padang juga menyiapkan amplop angpau bergambar naga dengan isian bervariasi yang terkecil Rp 50.000 sampai Rp. 1 juta per angpau pohon," ujarnya.
Ia menambahkan, pada 15 hari berikutnya (setelah 23 Januari 2012) perayaan Tahun Baru Imlek masuk pada masa Cap Goh Me (lima belas atau malam kelima belas imlek yang terakhir). Pada masa cap goh me merupakan ini perayaaan yang cukup ramai.
http://oase.kompas.com/read/2012/01/21/15131867/
Kendati belum banyak persiapan, namun panitia perayaan Tahun Baru Imlek di kawasan Pondok Padang (Perkampungan China, red) sudah menyiapkan sejumlah tiang untuk persiapan bazar, dan aneka pertunjukan lomba, di gedung Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Padang.
Sekretaris (urusan keluar) HBT Padang Chandra Penata Long, mengatakan warga Tionghoa kini bertekad akan merayakan peringatan Tahun Baru Imlek penuh dengan kesederhanaan.
"Tak ada yang istimewa, perayaan Tahun Baru Imlek 2012 tetap dirayakan bersama isteri dan anak-anak di rumah," ujarnya sesuai tanggalan internasional, Imlek 2563 jatuh pada shio Naga Air.
Shio ini melambangkan kekuatan, kebaikan, keberanian, dan pendirian teguh.
Naga juga merupakan lambang kewaspadaan dan keamanan dari semua makhluk mitologi China, dan makhluk yang tertinggi menjadi raja semua hewan di alam semesta.
Menurut Chandra, sejak dahulunya beribu-ribu tahun silam, dimitoskan bahwa Naga merupakan mahluk sakral dalam agama Konghucu, atau sebagai simbol binatang yang paling kuat.
"Karena itu naga selalu dipasang pada setiap tiang vihara, terutama pada tiang tempat sembahyang Dewa Langit," ujarnya dan diharapkan Shio Naga Air tahun ini tidak hanya kesuksesan pebisnis yang hanya berhubungan dengan unsur air saja, seperti transpotasi air, restoran sampai pedagang air minum isi ulang.
Tapi Naga Air ini --sebagai fengsui, keberuntungan dalam agama Khonghucu-- bagi umatnya diharapkan dapat menjernihkan, mendinginkan berbagai permasalahan yang terjadi.
Dijelaskannya, fengsui `keberuntungan` itu bisa diterapkan mulai dari pembangunan rumah dengan pintu rumah yang harus dibuat sesuai sio Naga Air , dan tentunya akan berbeda lagi dengan sio tahun depan.
Naga Air, katanya lagi, sesuai karakternya adalah hewan yang berwibawa, angkuh dan banyak raja-raja di Tiongkok dahulunya memberi lambang kerajaan dengan naga, baju kebesaran yang juga bergambar naga.
"Konon, jika ada bayi yang lahir pada tahun naga ini, itu artinya sebuah lambang yang bagus bagi sang bayi dengan fengsui atau rezki yang bagus," ujarnya, sio-sio ini selalu menjadi sugesti atau semangat hidup paling kuat bagi warga Tionghoa.
Sedangkan tiap pergantian shio itu disebut Tahun Imlek (Cia Gwee Che It) yang jatuh pada tanggal satu bulan pertama. atau tahun lunar, tahun yang dihitung berdasarkan peredaran bulan, dan dikombinasikan dengan peredaran matahari dan pergantian dari musim dingin ke musim semi.
Selain itu, penanggalan China/Tionghoa terbagi menjadi 12 shio, yakni Tikus-Harimau-Naga-Kuda-Monyet-Anjing-Kerbau-Ular-Kambing-Ayam-Kelinci dan Babi.
Hewan yang terdapat pada shio ini dilambangkan sifatnya. Kemudian terbagi lagi menjadi lima unsur, logam, kayu,air, api dan tanah. Pertemuan pada shio dan unsur yang sama bisa terjadi 60 tahun kemudian.
Peringatan Tahun Baru Imlek di Padang diikuti oleh tiga organisasi warga China, seperti Himpunan Bersatu Teguh (HBT), Himpunan Tjinta Teman (HTT) dan Santo Yusuf. Selain itu juga organisasi warga dari delapan marga antara lain marga Tanju Hok, marga Tan, liem, dan lainnya.
"Selain persiapan pemasangan lampion-lampion dominan warna merah itu, warga Tionghoa Padang juga menyiapkan amplop angpau bergambar naga dengan isian bervariasi yang terkecil Rp 50.000 sampai Rp. 1 juta per angpau pohon," ujarnya.
Ia menambahkan, pada 15 hari berikutnya (setelah 23 Januari 2012) perayaan Tahun Baru Imlek masuk pada masa Cap Goh Me (lima belas atau malam kelima belas imlek yang terakhir). Pada masa cap goh me merupakan ini perayaaan yang cukup ramai.
http://oase.kompas.com/read/2012/01/21/15131867/
2.563 Lampion Dipasang di Kawasan Pecinan Pontianak
PONTIANAK, KOMPAS.com — Sebanyak 2.563 lampion (lampu) dipasang pihak panitia Imlek atau Tahun Baru China bersama Kota Pontianak di kawasan pecinan setempat, yakni Jalan Gajah Mada dan Diponegoro."Dipasangnya lampion sebanyak 2.563 sesuai dengan Tahun Baru China 2563 dan tidak punya makna lain, yang mulai hari ini dipasang di Jalan Gajah Mada dan Diponegoro," kata Sekretaris Ketua Imlek Bersama Tahun 2012, Eddy, di Pontianak, Jumat (20/1/2012).
Ia menjelaskan, lampion dipasang di jalan raya guna memeriahkan perayaan Tahun Baru China dan Cap Go Meh (hari 15 Imlek) di Kota Pontianak.
"Kami sengaja mendatangkan ribuan lampion itu asli dari Tiongkok agar lebih cantik serta mempunyai makna dalam memeriahkan Tahun Baru China," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Sekretaris Ketua Imlek Bersama Tahun 2012 mengimbau agar warga Tionghoa di kota itu merayakan Tahun Baru China dengan kesederhanaan.
"Sederhana bukan berarti mengurangi makna dalam merayakan pergantian musim dingin ke musim semi seperti yang dilakukan oleh leluhur kami sejak ribuan tahun lalu di Tiongkok," katanya.
Ia mengajak warga Tionghoa dan masyarakat lainnya di Kota Pontianak untuk memulai hidup baru dengan penuh kebahagiaan atau disebut Gong Chi Fat Chai.
http://oase.kompas.com/read/2012/01/21/15180443/
"Kami sengaja mendatangkan ribuan lampion itu asli dari Tiongkok agar lebih cantik serta mempunyai makna dalam memeriahkan Tahun Baru China," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Sekretaris Ketua Imlek Bersama Tahun 2012 mengimbau agar warga Tionghoa di kota itu merayakan Tahun Baru China dengan kesederhanaan.
"Sederhana bukan berarti mengurangi makna dalam merayakan pergantian musim dingin ke musim semi seperti yang dilakukan oleh leluhur kami sejak ribuan tahun lalu di Tiongkok," katanya.
Ia mengajak warga Tionghoa dan masyarakat lainnya di Kota Pontianak untuk memulai hidup baru dengan penuh kebahagiaan atau disebut Gong Chi Fat Chai.
http://oase.kompas.com/read/2012/01/21/15180443/
Langganan:
Postingan (Atom)



