Tampilkan postingan dengan label Klenteng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klenteng. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2018

Perayaan Hari Besar Lak Jin Sien She

JAMBI – Rabu (18/7-2018) ratusan umat Khonghucu Jambi mengikuti upacara perayaan hari besar shenren (dewa) Lak Jin Sien She六壬仙師”di tempat ibadah Khonghucu Ta Sien Wei Ling Kheng yang beralamat di Jalan Gajah Mada, Lorong Sita, Kelurahan Jelutung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.

Pada hari yang sama di provinsi Jambi terdapat dua tempat yang merayakan upacara sejit Lak Jin Sien She, yakni di kota Jambi dan kota Kuala Tungkal, kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Untuk upacara perayaan di kota Jambi dipimpin oleh rohaniawan resmi dari Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia yang disingkat MATAKIN Jambi, JS. The Lien Teng.

Maka umat lebih banyak memilih sembahyang di kota Jambi daripada pergi jauh-jauh, kecuali jika hari perayaan tidak sama harinya.

Bagi klenteng yang terdaftar di MATAKIN dituntut untuk pro aktif dalam melaksanakan berbagai kegiatan yang bersifat keagamaan. Tujuannya, agar umat Khonghucu terutama anak-anak dan remaja memiliki kegiatan yang bermanfaat di dalam klenteng. Selain itu, umat Khonghucu memiliki satu atap yang berpegang kepada Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) dalam melakukan setiap kegiatan.

Indonesia merupakan Negara yang memiliki bermacam-macam suku, bangsa, ras, budaya, dan agama. Di Indonesia terdapat enam Agama resmi, yaitu agama Kristen, Katolik, Hindu, Khonghucu, Budha, dan Islam. Di setiap agama tersebut pasti memiliki ritual keagamaan dan kepercyaannya sendiri-sendiri yang berbeda-beda sesuai dengan tuntunan iman dan ajaran agama dari setiap masing-masing agama tersebut. Agama Khonghucu tidak hanya mengajarkan kepada penganutnya bagaimana seseorng berbakti  kepada Tian (Tuhan Yang Maha Esa) atau Nabi saja, melainkan lebih menekankan bakti kepada kedua orang tua dan aksi nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Agama Konghucu juga mengajarkan tata cara melakukan ibadah kepada Tian, Nabi, orang-orang suci, leluhur dan lain-lain.

Namun tidak dapat dipungkiri, ada pengurus klenteng yang menyalagunakan klenteng untuk kepentingan pribadi bermodal SK Matakin Pusat, fungsi pendidikan maupun sosial tidak tampak!.

Yang tak kalah hebatnya, ada rumah toko yang di sulap menjadi tempat ibadah oleh pendatang mengatasnamakan agama tanpa mengantongi ijin dari Kemenag Provinsi Jambi maupun terdaftar di MATAKIN Jambi maupun kota Jambi.!!! (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi

Sabtu, 07 April 2018

Sembahyang Ulang Tahun Roh Suci Kong Tek Chun Ong

JAMBI - Khonghucu Indonesia (MAKIN) Leng Chun Keng, Jalan Koni 1,  Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Sabtu (7/4-2018). Sembahyang dihadiri ratusan umat Khonghucu Jambi.

Sehari sebelum ritual berlangsung, panitia perayaan sejit Kongcu Kong Tek Cun Ong adakan malam hiburan band dengan penyanyi dari sumatera selatan (palembang).

Perayaan yang dilakukan sederhana, tapi tak mengurangi kekhusyukan umat Khonghucu. Seusai sembahyang bersama, semua sajian yang dibawa umat maupun yang disediakan panitia dimasak untuk dinikmati bersama.

Salim Lim, pengurus MAKIN Leng Chun Keng, mengatakan kali ini Klentang Leng Chun Keng mengundang band dan biduan dari kota Palembang untuk menghibur umat di Jambi. tampaknya kehadiran band asal kota pempek cukup memukau umat khonghucu dan warga yang hadir, bahkan banyak orang-orang tua berusia diatas 50an ikut bergoyang dumang bersama para biduanita tersebut.
 
“Mumudah-mudahan kedepan klenteng kembali mengundang mereka (band) untuk menghibur umat beserta warga Jambi.” ujarnya.

Tampak hadir rombongan darij Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Leng San Kheng kota Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. (Romy)

* https://www.facebook.com/makinjambi

Kamis, 15 Maret 2018

Kirab Cap Go Meh Ke-19, Cermin Persatuan Indonesia

西爪卡拉旺关帝君庙庆元宵节 抬神轿游行


KARAWANG - Untuk menyemarakkan Cap Go Meh ke 19 tahun 2018, umat Khonghucu mengadakan kirab Kolaborasi Budaya Tionghoa dengan Sunda di Karawang.

Puluhan ribu warga Karawang ikut terlena dalam Festival Cap Go Meh 2018 di Karawang, event budaya itu diadakan dan Bio Kwan Tee Koen dan Bio Tjouw Soe Kong. Tampak hadir Ketua Matakin Kota Jambi, Darmadi Tekun, Ketua Perkhin Sai Che Tien Jambi, Huang Li Chu.
Joli (kursi tandu) bergoyang, genderang bertabuh-tabuh, dan barongsai dan liong bergoyang. Tak lupa keragaman dan persatuan Indonesia dijunjung tinggi. Begitu yang tercermin dalam perayaan Cap Go Meh ke 19 di Klenteng Bio Kwan Tee Koen, Jalan Ir H Juanda, Karawang, Jawa Barat, Minggu (11/3/2018). Warga Karawang berduyun-duyun memadati Jalan Tuparev dan Jalan Niaga Karawang untuk menyaksikan kirab cap go meh. Perayaan yang digelar berbarengan dengan ruwat bumi dan kirab budaya itu tidak hanya 70 joli dari perwakilan klenteng atau bio, serta 60 kelompok Barongsai dan Liong yang ikut ambil bagian kirab tersebut.

Mereka berasal dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Jawa Tengah dan Dayak perwakilan Kalimantan Barat serta Karawang sebagai tuan rumah. Kirab dimulai pukul 13.00 dari Jalan Tuparev, Kertabumi, Niaga, dan kembali ke Tuparev pukul 17.30. Sejumlah Pejabat Negara Ikuti Pawai Cap Go Meh Sementara tamu yang datang lebih dari 1.000 orang.

Sementara itu, ketua panitia Cap Go Meh, Oey Yang Yen (黄楊淵) menjelaskan kirab cap go meh yang diadakan merupakan kolaborasi dua budaya yaitu Tionghoa dengan Sunda.

“Kegiatan kolaborasi dengan budaya Sunda sengaja digelar. Agar festival Cap Go Meh menjadi spektakuler,” tuturnya.

"Kami juga bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang. Ini bukan hanya perayaan masyarakat Tionghoa saja, tetapi juga masyarakat Karawang," ujar Herry.

Perayaan Cap Go Meh ini dilepas oleh HJ. DRA. Sinta Nuriyah Wahid, M. HUM, istri Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur didampingi Kapolres, AKBP Hendy F Kurniawan, Dandim, Letkol Arm Ayi Yossa dan Kepala Dinas Periwisata sebagai perwakilan pemerintah daerah.

"Hal tersebut terlihat dengan banyaknya ujaran kebencian dan fitnah yang mengancam persatuan bangsa," ujar Sinta.  Sinta yang datang bersama cucu-cucunya berharap perayaan kirab budaya menjadi penyejuk dan penenang perbedaan di tanah air. Karnaval Cap Go Meh "Ini harus menjadi momentum bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang mencintai persatuan," katanya Sinta (Romy).* https://www.facebook.com/makinjambi

Selasa, 13 Maret 2018

西爪卡拉旺关帝君庙庆元宵节 抬神轿游行

 
 
 
 
 
 
3月11日上午10时,西爪卡拉旺(Karawang)关帝君庙址元宵节庆典,抬神轿及嘉年华游行,包括60多醒狮对参与,增加了庆典气氛场面热闹非凡,人潮拥挤 [Lihat Gambar: Kirab Cap Go Meh Karawang]

  在一定街道上,抬神轿游行 ,游行从中也穿插了本土巽达文化。前总统瓦希德夫人欣达女士为嘉年华游行主持启动仪式。 占碑孔教理事会主席郑建平、占碑城市獅仔殿孔教主席黃麗珠、卡拉旺军警官员等出席及来自雅加达、茂物、德宝和勿加西丹格朗周围居民近千人观看了一年一次的抬神轿及嘉年花游行。

  筹委何立表示,这次也邀拉当地旅游局官员参与合作,展现出本土巽达文化及华人文化一起参加庆典游行。

  欣达表示,元宵节嘉年华会,可看见我国多元文化社会的融合,大家和睦相处地生活在一起,避开了相互仇视的言论,显示大家更加团结共同建设印度尼西亚。

  本报记者明光Romy报道摄影

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20180314/419184.shtml

Selasa, 27 Februari 2018

Mari Mengetahui Sistem Penanggalan Khonghucu!!!

*JANGAN KHAWATIR ORANG TIDAK MENGENAL DIRIMU, KHAWATIRLAH KALAU TIDAK MENGENAL ORANG LAIN.

Imlek (kalender bulan) atau Kalender Tionghoa adalah kalender lunisolar yang dibentuk dengan menggabungkan kalender bulan dan kalender matahari. Kalender Tionghoa sekarang masih digunakan untuk memperingati berbagai hari perayaan tradisional Tionghoa dan memilih hari yang paling menguntungkan untuk perkawinan atau pembukaan usaha. Kalender Tionghoa dikenal juga dengan sebutan lain seperti “Kalender Agrikultur” , “Kalender Yin “, “Kalender Lama” setelah “Kalender Baru” yaitu Kalender Masehi, diadopsi sebagai kalender resmi, dan “Kalender Xià” yang pada hakikatnya tidak sama dengan kalender saat ini.

SEJARAH PENANGGALAN IMLEK

Huang Di

Kalender Tionghoa mulai dikembangkan pada milenium ke-3 SM, konon ditemukan oleh penguasa legendaris pertama, Huáng Dì, yang memerintah antara tahun 2698 SM-2599 SM, dan dikembangkan lagi oleh penguasa legendaris ke-4, Kaisar Yáo. Siklus 60 tahun (ganzhi atau liùshí jiazi) mulai digunakan pada milenium ke-2 SM. Kalender yang lebih lengkap ditetapkan pada tahun 841 SM pada zaman Dinasti Zhou dengan menambahkan penerapan bulan ganda dan bulan pertama setiap tahun dimulai dekat dengan titik balik Matahari pada musim dingin.

Dinasti Qin

Kalender Sìfen (4 triwulan), yang mulai diterapkan sekitar tahun 484 SM, adalah kalender Tionghoa pertama yang memakai perhitungan lebih akurat, menggunakan penanggalan Matahari 365,25 hari, dengan siklus 19 tahun (235 bulan), yang dalam ilmu pengetahuan Barat dikenal sebagai Peredaran Metonic. Titik balik Matahari musim dingin adalah bulan pertamanya dan bulan gandanya disisipkan mengikuti bulan ke-12. Pada tahun 256 SM, kalender ini mulai digunakan oleh negara Qín, kemudian diterapkan di seluruh negeri Cina setelah Qín mengambil alih keseluruhan negeri Cina dan menjadi Dinasti Qín. Kalender ini tetap digunakan sepanjang separuh pertama Dinasti Hàn Barat.

Dinasti Han

Kaisar Wu dari Dinasti Han Barat memperkenalkan reformasi kalender baru. Kalender Tàichu (Permulaan Agung) pada tahun 104 SM mempunyai tahun dengan titik balik Matahari musim dingin pada bulan ke-12 dan menentukan jumlah hari untuk penanggalan bulan (1 bulan lamanya 29 atau 30 hari) dan bukan sesuai dengan prinsip terminologi Matahari (yang secara keseluruhan sama dengan tanda zodiak), karena gerakan Matahari digunakan untuk mengalkulasi Jiéqì (ciri-ciri musim).

Dinasti Tang

Sedangkan pada zaman Dinasti Jin dan Dinasti Tang juga sempat dikembangkan Kalender Dàyan dan Huángjí, walaupun tidak sempat dipergunakan. Dengan pengenalan ilmu astronomi Barat ke Tiongkok melalui misi penyebaran agama Kristen, gerakan bulan dan Matahari mulai dihitung pada tahun 1645 dalam Kalender Shíxiàn Dinasti Qing, yang dibuat oleh Misioner Adam Schall.
CARA PERHITUNGAN PENANGGALAN IMLEK

Kalender Tionghoa memiliki aturan yang sedikit berbeda dengan kalender umum, seperti: perhitungan bulan adalah rotasi bulan pada bumi. Berarti hari pertama setiap bulan dimulai pada tengah malam hari bulan muda astronomi. (Catatan, “hari” dalam Kalender Tionghoa dimulai dari pukul 23:00 dan bukan pukul 00:00 tengah malam). Satu tahun ada 12 bulan, tetapi setiap 2 atau 3 tahun sekali terdapat bulan ganda (rùnyuè, 19 tahun 7 kali). Berselang satu kali jiéqì (musim) tahun Matahari Cina adalah setara dengan satu pemulaan Matahari ke dalam tanda zodiak tropis. Matahari selalu melewati titik balik Matahari musim dingin (masuk Capricorn) selama bulan 11.

Jika Kalender Masehi menggunakan Sistem Solar atau Matahari dan Kalender Hijriah menggunakan Sistem Lunar, Bulan atau Komariah, maka Kalender Imlek memadukan keduanya, yang disebut Sistem Lunisolar.

SISTEM SOLAR ATAU MATAHARI

Kalender Masehi menggunakan Sistem Solar atau Matahari. Perhitungan sistem ini didasari oleh orbit Bumi mengitari Matahari, yang memakan waktu sekitar 365,25 hari per tahun. Jumlah hari per bulannya antara 30 atau 31 hari. Khusus untuk bulan Februari jumlahnya 28 hari, namun pada tahun yang habis dibagi empat, seperti halnya tahun 2004, jumlah hari bulan Februari menjadi 29, sebagai pembulatan kelebihan 0,25 hari per tahun.

Sistem Solar mempunyai keunggulan bisa menghitung secara tepat kapan jatuhnya musim semi, panas, rontok dan dingin, karena ia bisa menentukan letak semu Matahari terhadap Bumi secara pasti, kapan tepat berada di atas Khatulistiwa, pada 23,5° Lintang Utara, kembali ke Khatulistiwa, pada 23,5° Lintang Selatan, kembali lagi ke Khatulistiwa dan seterusnya.

SISTEM LUNAR ATAU BULAN
Kalender Hijriah menggunakan Sistem Lunar. Sistem ini didasarkan pada orbit Bulan mengitari Bumi. Rata-rata jumlah hari per bulannya 29,5 hari, yang kemudian dibulatkan menjadi 29 dan 30 hari. Dari sini kita bisa menghitung bahwa jumlah hari per tahunnya adalah 29,5 x 12 = 354 hari, atau 11,25 hari lebih pendek dari Kalender Masehi. Inilah yang menyebabkan 1 Muharram dan Idul Fitri selalu maju 11 hari lebih awal.

Sistem Lunar tidak bisa menghitung kapan terjadi pergantian musim, namun ia mempunyai keunggulan bisa digunakan untuk menentukan kapan terjadi bulan baru dan purnama, yang masing-masing terjadi tanggal 1 dan 15. Karenanya sistem ini bisa digunakan untuk menentukan kapan terjadinya air surut dan air pasang, sesuatu yang tidak bisa dilakukan Sistem Solar.

KALENDER IMLEK DAN SISTEM LUNISOLAR

KalenderFenomena Lun Imlek menggunakan Sistem Lunisolar. Perhitungan jumlah hari per bulan didasarkan pada Sistem Solar, sedang selisih 11,25 hari per tahunnya dikonversi dengan menyisipkan bulan ke –13 pada tahun tertentu sebanyak 7 kali per 19 tahun, agar jumlah hari per tahunnya sesuai dengan Sistem Solar, karena 11,25 x 19 = 213,75 hari atau setara dengan 7 bulan.

Mekanisme penyisipan bulan ke –13 disebut ‘lun’. Dengan tambahan bulan ke –13, maka akan terjadi bulan dobel pada tahun-tahun tertentu. Pada tahun 2555, terjadi ‘lun’ di bulan –2. Dengan demikian setelah bulan –1, bulan -2, masuk ke bulan –2 lagi dan baru kemudian ke bulan –3, -4, -5 dst.

Dengan mekanisme penyisipan tersebut, maka Kalender Imlek di samping bisa digunakan untuk menghitung kapan terjadi bulan purnama, air surut dan air pasang, juga bisa digunakan untuk menentukan pergantian musim.

PENENTUAN TAHUN AWAL KALENDER IMLEK

Kalender Imlek ini diciptakan Huang Di, 2696-2598 sM, salah satu raja suci purba dan Nabi dalam Ru Jiao (agama Khonghucu) dan digunakan pertama kali oleh Dinasti Xia, 2205-1766 sM. Awal tahun baru ditetapkan jatuh pada awal musim semi. Ketika Xia jatuh diganti Dinasti Shang, 1766-1122 sM, awal tahun baru dimajukan satu bulan, berbarengan dengan akhir musim dingin. Ketika Shang digantikan Dinasti Zhou, 1122-255 sM, awal tahun barunya dimajukan lagi sebulan, tepat pada puncak musim dingin.

Kongzi, Khongcu atau Confucius hidup pada jaman Dinasti Zhou, 551-479 sM. Suatu ketika ia menganjurkan agar Dinasti Zhou kembali menggunakan Kalender Xia, karena tahun barunya jatuh pada musim semi, sehingga cocok dijadikan pedoman bercocok tanam. Namun nasihat ini baru dilaksanakan Han Wu Di dari Dinasti Han, 140-86 sM, pada 104 sM. Sejak itu Kalender Xia, yang kini dikenal sebagai Kalender Imlek diterapkan kembali.

Sebagai penghormatan kepada Kongzi, perhitungan tahun pertama Kalender Imlek ditetapkan oleh Han Wu Di dihitung sejak kelahiran Kongzi, yaitu sejak tahun 551 sM. Itulah sebabnya Kalender Imlek lebih awal 551 tahun ketimbang Kalender Masehi. Jika sekarang kalender Masehi bertahunkan 2012, maka Kalender Imlek bertahunkan 2012 + 551 = 2563. Pada saat bersamaan agama Khonghucu (Ru Jiao) ditetapkan Han Wu Di sebagai agama negara. Sejak saat itu penanggalan Imlek juga dikenal sebagai Kongli (Penanggalan Kongzi).

Penghormatan yang diterima Kongzi, setara dengan yang diterima Nabi Isa Almasih dan Nabi Muhammad, SAW. Tahun pertama Kalender Masehi dihitung sejak tahun kelahiran Nabi Isa Almasih, sedang tahun pertama Kalender Hijriah dihitung sejak hijrahnya Nabi Muhammad, SAW, dari Mekkah ke Madinah.

PENENTUAN AWAL TAHUN BARU

Pada tanggal 22 Desember letak Matahari berada di 23,5° Lintang Selatan. Di bagian Selatan Bumi, hari itu merupakan hari terpanjang; sedang di Utara merupakan hari terpendek. Setelah 22 Desember Matahari bergerak ke Utara dan pada hari ke –91 atau 21 Maret, tepat berada di atas 0° atau Khatulistiwa. Hari ke –46 setelah pergerakan Matahari ke Utara atau tanggal 5 Februari – yang merupakan titik tengah antara 23,5° Lintang Selatan dengan Khatulistiwa – merupakan awal musim semi. Karena jumlah hari per bulan adalah 29,5 atau 30 hari, maka kisaran setengah bulan ke depan dan ke belakang dari tanggal 5 Februari adalah tanggal 21 Januari dan 19 Februari. Ini sebabnya awal Tahun Baru Imlek jatuh di antara kedua tanggal tersebut.

Batas 21 Januari s.d. 19 Februari ini yang menentukan terjadinya penyisipan bulan –13. Ketika awal Tahun Baru Imlek maju 11,25 hari per tahun dan diperhitungkan akan melewati 21 Januari, maka tahun tersebut disisipi bulan –13. Dengan demikian awal tahun baru yang mestinya maju 11 hari melewati 21 Januari, malah mundur 30 – 11 = 19 hari. Pada tahun Masehi yang habis dibagi empat (366 hari), awal Tahun Baru Imlek sesudahnya akan maju 12 hari atau mundur 18 hari.

LUN GWEE


Lun-gwee adalah bulan kabisat dalam kalender Imlek. Di dalam kalender Gregorian (Masehi) yang kita kenal sebagai tahun kabisat, di mana setiap 4 tahun sekali ada 29 hari dalam bulan Februari. Dalam kalender Imlek, kita kenal bulan kabisat, di mana ada 2 bulan yang sama dalam setahun, artinya 1 tahun Imlek tersebut mempunyai 13 bulan.

MENGAPA HARUS ADA LUN GWEE?

Penanggalan Yangli KongziliLun-gwee ini ada di dalam kalender Imlek karena kalender Imlek adalah kalender lunisolar, kalender yang mendasarkan perhitungannya atas pergerakan bulan dan matahari. Memperhitungkan matahari karena Tiongkok adalah negara agraris di mana pergantian musim sangat penting untuk memutuskan waktu mulai menanam dan memanen. Juga memutuskan tanaman apa saja yang cocok untuk ditanam untuk musim berbeda.

Namun, kalender lunar yang mendasarkan perhitungan atas gerakan bulan cuma punya 29.5 hari dalam 1 bulan atau 354 hari dalam setahun. Sedangkan pergerakan matahari adalah 365.25 hari dalam setahun. Sehingga ada beda 11.25 hari antara setahun kalender lunar dengan kalender matahari. Lun-gwee kemudian ditambahkan ke dalam tahun Imlek untuk sinkronisasi perhitungan atas pergerakan bulan dengan pergerakan matahari itu. Berdasarkan perhitungan, maka ada 7 bulan kabisat yang perlu ditambahkan dalam periode 19 tahun Imlek.

BAGAIMANA CARA PENETAPAN LUN GWEE?

Penetapan Lun-gwee tidak tentu, sekitar 2 atau 3 tahun sekali ditambahkan 1 bulan kabisat pada tahun Imlek tersebut. Misalnya tahun 2004, ada 2 kali bulan 2 (lun Ji gwee), tahun 2006 ada 2 kali bulan 7 (lun Chit gwee), tahun 2009 ada 2 kali bulan 5 (lun Go gwee) dan tahun 2012 ini ada 2 kali bulan 4 (lun Si wee)

Penentuan bulan apa yang akan menjadi bulan kabisat ini tidak tentu dan tidak beraturan, namun ada aturannya. Pada dasarnya kaitannya erat dengan periode matahari. Periode matahari adalah istilah lain dalam kalender Imlek, ada 24 periode matahari dalam setahun. 2 periode matahari yang terkenal misalnya Ceng-beng dan Tang-che. Ceng-beng ziarah ke makam selalu jatuh pada tanggal 4 atau 5 April setiap tahunnya, sedang Tang-che makan ronde tetap jatuh pada tanggal 21 atau 22 Desember setiap tahun.

Jarak antar periode matahari pada dasarnya adalah 15.75 hari, namun jumlah hari pada 1 bulan Imlek hanya 29.5 hari, sehingga berdasarkan perhitungan setiap 2 atau 3 tahun sekali akan ada 1 bulan yang tidak punya periode matahari genap atau sederhananya, ada bulan Imlek yang hanya punya 1 periode matahari. Bulan inilah yang harus di-kabisat-kan.

BAGAIMANA KALAU KITA LAHIR DI BULAN LUN GWEE?

Lahir di Lun-gwee, misalnya lahir pada lun Go gwee (kabisat bulan 5), maka ulang tahun Imleknya adalah tetap pada bulan 5 setiap tahunnya, tetapi yang diperingati adalah bulan 5 yang pertama, bukan yang kabisatnya.

KALAU LUN PEK GWEE (KABISAT BULAN 8)
APAKAH BERARTI ADA 2 KALI PERAYAAN FESTIVAL MUSIM GUGUR?


Pada dasarnya tidak begitu, festival musim gugur tanggal 15 bulan 8 hanya dirayakan pada bulan 8 asli, bulan 8 kabisat tidak usah dirayakan.

MENGAPA LUN GWEE KELIHATAN TIDAK BERATURAN PENENTUANNYA?

Kalender lunar mendasarkan perhitungan atas gerakan bulan hanya punya 29.5 hari dalam 1 bulan atau 354 hari dalam setahun. Sedangkan pergerakan matahari adalah 365.25 hari dalam setahun. Sehingga ada beda 11.25 hari antara setahun kalender lunar dengan kalender matahari. Lun-gwee kemudian ditambahkan ke dalam tahun Imlek untuk sinkronisasi perhitungan atas pergerakan bulan dengan pergerakan matahari itu. Berdasarkan perhitungan, maka ada 7 bulan kabisat yang perlu ditambahkan dalam periode 19 tahun Imlek. 19 tidak bisa dibagi rata 7, maka dari itu kadang sekitar 2 atau 3 tahun sekali ditambahkan 1 bulan kabisat pada tahun Imlek tersebut. Misalnya pada tahun 2004 ada 2 kali bulan 2 (lun Ji gwee), tahun 2006 ada 2 kali bulan 7 (lun Chit gwee), tahun 2009 ada 2 kali bulan 5 (lun Go gwee) dan tahun 2012 ini ada 2 kali bulan 4 (lun Si gwee)

Penentuan bulan apa yang akan menjadi bulan kabisat ini tidak tentu dan tidak beraturan, namun ada aturannya. Pada dasarnya kaitannya erat dengan periode matahari. Periode matahari adalah istilah lain dalam kalender Imlek, ada 24 periode matahari dalam setahun. 2 periode matahari yang terkenal misalnya Ceng-beng dan Tang-che. Ceng-beng ziarah ke makam selalu jatuh pada tanggal 4 atau 5 April setiap tahunnya, sedang Tang-che makan ronde tetap jatuh pada tanggal 21 atau 22 Desember setiap tahun.

Jarak antar periode matahari pada dasarnya adalah 15.75 hari, namun jumlah hari pada 1 bulan Imlek hanya 29.5 hari, sehingga berdasarkan perhitungan setiap 2 atau 3 tahun sekali akan ada 1 bulan yang tidak punya periode matahari genap atau sederhananya, ada bulan Imlek yang hanya punya 1 periode matahari. Bulan inilah yang harus di-kabisat-kan.

ADAKAH KEBIASAAN YANG DILAKUKAN PADA SETIAP BULAN LUN GWEE?

Kebiasaan seperti itu mSembahyangemang ada, seperti misalnya di Taiwan Selatan pada setiap bulan Lun, anak perempuan (termasuk putrinya yang sudah menikah ke keluarga lain) untuk memberikan Mi Shua (mian shou atau mie panjang umur). Hal ini disebabkan karena ada kepercayaan dengan adanya bulan Lun maka umur orang tua akan berkurang, dengan cara memberikan doa panjang umur serta mie panjang umur akan membuat hal diatas tidak terjadi.

Masing-masing sub etnis memiliki kebiasaan yang berbeda. Makna dari pemberian ini adalah bakti dari anak perempuan kepada orang tua. Karena zaman dulu, anak perempuan yang telah menikah dianggap merupakan bagian dari keluarga sang suami dan berbakti kepada orang tua sang suami, namun untuk tidak melupakan jasa orang tua membesarkan sang anak perempuan sampai menikah, maka ada tradisi seperti ini.

NAMA NAMA BULAN

NO    PENANGGALAN TIONG HOA    LAMA HARI
1    Cia Gwee    30
2    Ji Gwee    29
3    Sa Gwee    30
4    Si Gwee    30
5    Go Gwee    29
6    Lak Gwee    30
7    Cit Gwee    29
8    Pe Gwee    29
9    Kauw Gwee    30
10    Cap Gwee    29
11    Cap It Gwee    29
12    Cap Ji Gwee    30
13    Lun ... Gwee    -30
TOTAL        354/(384)

HARI BESAR AGAMA KHONGHUCU

NO    TANGGAL    KETERANGAN
1.    1 bulan I (Zheng Yue)    Sembahyang Tahun Baru Kongzili/Yinli, Xin Zheng, atau Chun Jie.
2.    4 bulan I (Zheng Yue)    Sembahyang Menyambut Malaikat Dapur Turun (Ying Zao Jun Xia Jiang).
3.    8/9 bulan I (Zheng Yue)    Sembahyang Besar kepada Tuhan YME (Jing Tian Gong).
4.    15 bulan I (Zheng Yue)    Sembahyang Syukur Shang Yuan Jie/Yuan Xiao Jie, atau Cap Go Me.
5.    18 bulan II (Er Yue)    Sembahyang Hari Wafat Nabi Kongzi (Zhi Sheng Ji Chen).
6.    4 atau 5 April    Sembahyang Hari Sadranan (Qing Ming Jie).
7.    5 bulan V (Wu Yue)    Sembahyang Duan Yang Jie/Duan Wu Jie, atau Bai Chuan.
8.    15 bulan VII (Qi Yue)    Sembahyang Arwah Leluhur (Zhong Yuan Jie).
9.    29 bulan VII - (Qi Yue)    Sembahyang Arwah Umum (Jing He Ping/Jing Hao Peng).
10.    15 bulan VIII (Ba Yue)    Sembahyang Syukur kepada Tuhan YME dan kepada Malaikat Bumi (Fu De Zheng Shen) pada saat pertengahan Musim Gugur (Zhong Qiu Jie).
11.    27 bulan VIII (Ba Yue)    Sembahyang Hari Lahir Nabi Kongzi (Zhi Sheng Dan).
12.    15 bulan X (Shi Yue)    Sembahyang Syukur Akhir Panen kepada Tuhan YME dan kepada Malaikat Bumi (Fu De Zheng Shen) pada awal Musim Dingin (Xia Yuan Jie).
13.    21 atau 22 Desember    Sembahyang Hari Genta Rohani dan Wafatnya Mengzi (Dong Zhi Jie).
14.    24 bulan XII (Shi Er Yue)    Sembahyang Hari Persaudaraan; Mengantar Malaikat Dapur Naik (Song Zao Jun Shang Tian, atau Er Si Sheng An).
15.    29 atau 30 bulan XII (Shi Er Yue)    Sembahyang Tutup Tahun (Chu Xi).

TEMPAT IBADAH AGAMA KHONGHUCU

Kong Miao, (Confucius Temple); Ada satu ciri khas yang membedakaKelenteng Kong Miaon antara Miao atau Kuil Khonghucu dengan bangunan tempat ibadah yang serupa. Pada umumnya di dalam Kong Miao tidak terdapat patung dewa-dewi, melainkan hanya berupa tulisan pada papan peringatan (Sienci) yang biasanya hanya berisi tulisan tentang nama Nabi Kongfuzi/Khonghucu (nama yang lebih umum Kongzi dan juga nama-nama para muridnya yang terkenal). Bangunan Kong Miao yang tertua di Indonesia terdapat di kota Surabaya yang dikenal dengan “Boen Bio” dan Khongcu Bio di kota Cirebon.

Litang,  (Ruang Ibadah); Litang adalah nama tempat ibadah agama Khonghucu yang banyak terdapat di Indonesia. Saat ini sudah ada lebih dari 150 Litang yang tersebar di seluruh Indonesia yang berada di bawah naungan MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) dan organisasi pusatnya adalah MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia). Ciri tempat ibadah tersebut selain altarnya yang berisi Kim Sin Nabi Kongzi/Khonghucu, juga biasanya terdapat lambang “Mu Duo” atau Bok Tok (dalam dialek Hokian) yaitu berupa gambar Genta dengan tulisan huruf ‘Zhong Shu’ atau Tiong Sie (bahasa Hokian) artinya “Satya dan Tepasarira/Tenggang Rasa” yang merupakan inti ajaran agama Khonghucu. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi Kongzi dalam Kitab Lun Yu “Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan terhadap orang lain”. Umat Khonghucu biasanya melakukan ibadah di Litang setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek. Namun ada pula yang melaksanakannya pada hari Minggu dan hari lain, hal ini disesuaikan dengan kondisi dan keadaan setempat. Upacara-upacara hari keagamaan lain seperti peringatan Hari Lahir Nabi Khonghucu (28 bulan 8 Iemlik), Hari Wafat Khonghucu (18 bulan 2 Iemlik), Hari Tangcik (Genta Rohani), dan Tahun Baru Iemlik, dsb. biasanya juga dilakukan di Litang.

Kelenteng, Miao; kelenteng pada umumnya digunakan sebagai sarana tempat bersembahyang/ibadah oleh kebanyakan orang Tionghoa terutama umat tradisional sehingga kadang-kadang kita sulit membedakan apakah mereka itu penganut aKlenteng Tien Kok Siegama Buddha Mahayana, Khonghucu atau Tao. Namun kalau kita telaah lebih jauh, ada ciri yang membedakan dari ketiga bangunan tempat ibadah masing-masing penganut agama tersebut yaitu dari nama kelenteng tersebut dan juga para Dewa-dewi yang berada dalam bangunan Kelenteng tersebut. Namun secara umum bangunan Kelenteng biasanya bergaya arsitektur khas Tiongkok, misalnya terdapat ukiran Naga atau Liong pada bagian atas atap atau tiang/pilarnya,ada lukisan Qilin (Hokkian:Kilien) binatang yang dianggap suci, bentuknya seperti seekor rusa, kulitnya bersisik berwarna hijau keemasan, bertanduk tunggal. Hewan suci ini pernah muncul pada saat menjelang kelahiran Khonghucu/Kongzi dan terbunuh oleh Pangeran Lu Ai Gong dalam perburuannya yang menandai peristiwa sebelum kewafatan Khonghucu. Klenteng atau kelenteng (bahasa Hokkian: miao) adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Dikarenakan di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu, maka klenteng dengan sendirinya disamakan sebagai tempat ibadah agama Konghucu. Di beberapa daerah, klenteng juga disebut dengan istilah tokong. Istilah ini diambil dari bunyi suara lonceng yang dibunyikan pada saat menyelenggarakan upacara. Klenteng bagi masyarakat Tionghoa tidak hanya berarti sebagai tempat ibadah saja. Selain Gong-guan (Kongkuan), Klenteng mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan komunitas Tionghoa dimasa lampau.

ASAL MULA KATA KLENTENG

Klenteng dibangun pertama kali pada tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen dan dinamakan Kwan Im Teng. Klenteng ini dipersembahkan kepada Kwan Im (dewi penyayang). Dari kata Kwan Im Teng inilah orang Indonesia akhirnya lebih mengenal kata Klenteng daripada Vihara, yang kemudian melafalkannya sebagai Klenteng hingga saat ini. Klenteng juga disebut sebagai bio yang merupakan dialek Hokkian dari karakter (miao). Ini adalah sebutan umum bagi klenteng di Republik Rakyat Tiongkok.

Miao QuFu Pada mulanya, klenteng adalah tempat penghormatan pada leluhur “Ci” (rumah abuh), masing-masing marga membuat “Ci” untuk menghormati para leluhur mereka sebagai rumah abuh. Para dewa-dewi yang dihormati tentunya berasal dari suatu marga tertentu yang pada awalnya dihormati oleh marga mereka. Seiring perkembangan zaman, penghormatan kepada dewa-dewi yang kemudian dibuatkan ruangan khusus yang dikenal sebagai klenteng yang dapat dihormati oleh berbagai macam marga, suku. Di dalam klenteng bisa ditemukan (bagian samping atau belakang) dikhususkan untuk abuh leluhur yang masih tetap dihormati oleh para sanak keluarga masing-masing. Ada pula di dalam klenteng disediakan tempat untuk mempelajari ajaran-ajaran atau agama leluhur seperti ajaran-ajaran Konghucu, Taoisme, dan bahkan ada pula yang mempelajari ajaran Buddha. Klenteng selain sebagai tempat penghormatan para leluhur, para dewa-dewi, dan tempat mempelajari berbagai ajaran, juga digunakan sebagai tempat yang damai untuk semua golongan tidak memandang dari suku dan agama apapun.

KATEGORI KLENTENG

Klenteng adalah sebutan umum bagi tempat ibadat orang Tionghoa sehingga klenteng sendiri terbagi atas beberapa kategori yang mewakili agama Taoisme , Konghucu , Buddhisme , Agama Rakyat atau Sam Kaw yang masing-masing memiliki sebutan tempat ibadat yang berbeda-beda.

KLENTENG DAN VIHARA PADA ORDE BARU

Pada masyarakat awam, banyak yang tidak mengetahui perbedaan dari klenteng dan vihara. Klenteng dan vihara pada dasarnya berbeda dalam arsitektur, umat, dan fungsi. Klenteng pada dasarnya beraritektur tradisional Tionghoa dan berfungsi sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat selain berfungsi sebagai tempat spiritual. Vihara berarsitektur lokal dan biasanya mempunyai fungsi spiritual saja. Namun, vihara juga ada yang berarsitektur tradisional Tionghoa seperti pada vihara Buddhis aliran Mahayana yang memang berasal dari Tiongkok.

Perbedaan antara klenteng dan vihara kemudian menjadi rancu karena peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Imbas peristiwa ini adalah pelarangan kebudayaan Tionghoa termasuk kepercayaan tradisional Tionghoa oleh pemerintah Orde Baru. Klenteng yang ada pada masa itu terancam ditutup secara paksa. Banyak klenteng yang kemudian mengadopsi nama dari bahasa Sanskerta atau bahasa Pali yang mengubah nama sebagai vihara dan mencatatkan surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan dan kepemilikan, sehingga terjadi kerancuan dalam membedakan klenteng dengan vihara.

Setelah Orde Baru digantikan oleh Orde Reformasi, banyak vihara yang kemudian mengganti nama kembali ke nama semula yang berbau Tionghoa dan lebih berani menyatakan diri sebagai klenteng daripada vihara atau menamakan diri sebagai Tempat Ibadah Tridharma (TITD).

Sumber Altiker:
https://www.gurisa.com/penanggalan-dan-tempat-ibadah-agama-khonghucu/

Kamis, 22 Februari 2018

占碑孔教妇女春节向孔子学校学生分发红包

 
 
 
2月16日农历正月初一新春佳日上午10时,印尼占碑孔教妇女会主席郑华玲和夫婿黄汉雄在占碑孔教学校礼堂分发节日红包予该校学生和孔教老师。
  学生们整齐列队,井然有序地领取红包。华人传统节日春节,都会分发红包。红色是代表欢喜及带来好运。
  郑华玲对学生们解说为何要用红色纸张包起来后分发给大家,她表示,在春节期间由长辈在年三十晚上0点后派给晚辈的红包称作压岁钱,是表示把新的一年的祝福和好运带给他们……而给年老人寓意为“长命百岁”;用红纸包一枚大洋,象征“一本万利”。至今,红包已普及为一种习俗。因为红色象征好运,所以,每逢婚嫁、添丁、新宅、开工、生日等等……皆发红包。
  郑华玲也简述春节过年,都用红色装饰,有其特殊意义。相传:中国古时候有一种叫"年"的怪兽,头长尖角,凶猛异常,每到除夕,爬上岸来吞食牲畜伤害人命,因此每到除夕,村村寨寨的人们扶老携幼,逃往深山,以躲避“年”的伤害.原来“年”兽最怕红色,火光和炸响。这时大门大开,“年”兽大惊失色,仓惶而逃。本报记者明光报道Romy供图

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20180223/413018.shtml

Minggu, 28 Januari 2018

占碑孔教和城市狮子殿孔教妇女组春节前夕


 
 
 
向郊区华裔贫苦居民送温暖献爱心

春节来临之际,占碑孔教妇女组主席郑华玲和占碑城市狮子殿孔教妇女组主席黄丽珠,于元月28日上午10时,前往占碑郊区华人贫困居民献爱心,送温暖,向该区贫困居民赠必需品,送爱心红包。使他们能度过一个快乐的春节。
  郑华玲表示,对占碑郊区华人贫困居民送节日礼包及爱心红包,以表示们的关心,使他们能渡过一个快乐的春节。她说,我们在这美丽的群岛上生活的华人,并不是说全部都是富裕的,您不妨可到占碑郊外观察,贫困的华人居民还是不少,他们住的房子非常简陋。
  她说,我们有幸获得上帝赐给我们的美好生活,但不能忘还有些受苦之人,所以我们就要捨出布施,有捨才有得。
  当天,郑华玲令夫婿黄汉雄也协助分发礼包及爱心红包。
  黄丽珠表示,占碑孔教妇女组也在其他族群节日的到来,也分发些礼品给周围贫苦居民。本报记者明光报道/Romy供图

www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20180129/402474.shtml
* https://www.facebook.com/makinjambi

Jumat, 06 Oktober 2017

占碑华社在福庆堂庆中秋佳节及犒赏内外神军饷

 
 
 
 
2017年10月4日(农历八月十五)占碑华社在Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Ke-camatan Jelutung福庆堂“清水祖師公庙”庆祝中秋佳节,并感恩诸佛菩萨、神明及供奉犒赏内外神军饷。
  占碑省孔教最高理事会主席、占碑省獅仔殿庙宇主席黄春回、印尼孔教妇女会郑华玲(Herwai)、福神堂副主席黄汉雄、客属主席李鑫荣和潮州公会副主席李進荣出席祈拜仪式。
  占碑省福庆堂孔教会郑连丁学士主持祈拜仪式,礼拜天公、观音菩萨等多位神明,并祈祷国泰民安、风调雨顺、生意昌隆、六时吉祥、人民安康。随后,余兴节目接着开始,邀请来自巴淡华语歌手献唱,为中秋节带来了热闹气氛。
Romy/学科报道

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20171007/342539.shtml
* https://www.facebook.com/makinjambi

Rabu, 04 Oktober 2017

Perayaan Tiong Ciu Cue Di MAKIN Hok Kheng Tong Jambi

 
占碑福慶堂孔教會慶祝中秋節

JAMBI - Hingga kini masih banyak tradisi yang dipertahankan warga keturunan Tionghoa yang beragama Khonghucu diseluruh dunia. Salah satu diantaranya adalah pesta kue bulan di bulan purnama yang biasa digelar setiap tanggal 15 bulan delapan Imlek (Pe Gwee Cap Go/八月十五日) dengan mengelar sembahyang kue bulan dan juga tidak ketinggalan pesta kembang api pada malam harinya.

Perayaan Tiong Ciu Cue tahun ini yang jatuh pada tangga 4 Oktober 2017 di klenteng Khonghucu “Hok Kheng Tong” 占碑福慶堂孔教會, di Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi (depan pabrik kopi AAA) 占碑埠哥尼區.

Selain menyambut perayaan Kue Bulan (Tiong Ciu Phia/月餅), Hok Kheng Tong (福慶堂)juga melakukan kho khun (犒赏内外神军餉) yang dilakukan setiap tahun, “Tiap tahun kita rayakan sembahyang Tiong Ciu Cue sekaligus melakukan kho khun“ ujar pengurus Hok Kheng Tong (福慶堂).

Sehari sebelumnya prosesi akbar perayaan Tiong Ciu Cui dilakukan, terlebih dahulu para pengurus klenteng melakukan sembahyang didepan altar Tien (Tuhan), adapun maksud sebahyang tersebut adalah memberitahu kepada sang pencipta alam semesta, bahwa umatnya hendak merayakan Tiong Ciu Cue dengan menyembahyangi Tai Im Niu Niu (Dewi Bulan) dilanjutkan dengan pemotongan hewan qurban. Prosesi upacara dipimpin langsung rohaniwan dari MATAKIN Jambi, The Lien Teng  (鄭連丁先生).

Menurut Ketua Hok Kheng Tong (福慶堂主席), Zikif Effendy Lie (李鴻章先生), harapan kita semoga Tien (Tuhan/上帝) dapat memberikan perlindungan kepada bangsa dan negara, “Kita memohon kepada Tien (Tuhan/上帝) agar negara dapat terhindar dari segala bencana, agar masyarakat bisa melakukan aktifitas sehari dan warga aman sentosa, keluarga harmonis.

Tampak hadir dalam acara akbar tersebut, Ketua MATAKIN Jambi, Darman Wijaya (占碑省孔教最高理事會主席 黄春回黄春回先生), Ketua Perempuan Khonghucu (印尼孔教妇女) Herwai (郑华玲), Wakil Ketua Klenteng Hok Sin Tong (福神堂副主席黄汉雄先生), Ketua Perkumpulan Hakka Rudy Lidra (客属主席李鑫荣先生), Wakil Ketua Perkumpulan Teo Chew Jambi, Rozak  (潮州公会副主席李進荣先生). (ROMY)


* https://www.facebook.com/makinjambi

Minggu, 01 Oktober 2017

Berburu Kuliner di Bazar Di Klenteng Sai Che Tien Jambi

JAMBI, Ratusan warga tionghoa Kota Jambi, sejak pagi hingga malam hari membanjiri aula serba guna klenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien yang terletak di jalan Koni IV Rt, 01, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, kota Jambi (1/10-2017), kehadiran warga untuk berburu aneka kuliner yang diselenggarakan oleh Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN) Provinsi Jambi. Acara kali pertama ini dilakukan oleh Perkhin Provinsi Jambi bukan saja etnis tionghoa yang hadir, namun banyak juga dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat.

Matakin Jambi dan Kota menyambut positif acara tersebut, selain membantu para usaha makanan kecil dalam rumah tangga, juga mempererat tali silaturahmi antar warga. Konsumen cukup menukarkan kupon sama mekanan/ barang sesuai dengan nilai harga makanan/barang.

Festival kuliner ini diikuti oleh 40 peserta dari pelaku usaha makanan kecil (kue),
Pengurus Perkhin menerangkan, dalam festival kuliner ini para peserta menjajakan aneka makanan seperti, nasi goreng, nasi uduk, nasi cabe hijau, tekwan, pempek, sambal jengkol, gado-gado, pecel, laksan, makanan jepang, lonteng, aneka kue, buah-buahan, aneka minuman, kerajinan tangan dan komestik. Bagi pengunjung yang hoki akan mendapatkan undian doorprize dari panitia penyelenggara.

Menurut Ketua Perkhin Provinsi Jambi ibu Herwai, tujuan festival kuliner adalah sebagai upaya menunjang program pemerintah, karena kuliner merupakan salah program perempuan Khonghucu Jambi. “Melalui kegiatan bazar ini, harapan kami dapat menggali kreasi dan kreativitas masyarakat dalam mengembangkan kuliner di Jambi,” terangnya.

Hasil donasi festival kuliner, akan disumbangkan ke klenteng MAKIN Sai Che Tien untuk perayaan hari besar Nabi Kongze bulan nopember mendapat.

Sangat disayangi, acara bazar ini tidak didukung oleh sebagian besar Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) di Jambi.!!! (Romy)* https://www.facebook.com/makinjambi

Selasa, 01 Agustus 2017

Workshop Pengelolalaan Tempat Ibadah Agama Khonghucu Provinsi Jambi

JAMBI – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi membuka secara resmi Workshop Pengelolalaan Tempat Ibadah Agama Khonghucu di Provinsi Jambi yang diwakili Abdullah Salam oleh di Hotel Rumah Kito Jalan Serma Ishak Ahmad, Kompleks Puri Mayang Blok A 1-6, Mayang Mangurai, Kota Baru, 36129 Jambi [Lihat Album: Workshop Pengelolalaan Tempat Ibadah Agama Khonghucu Di Provinsi Jambi]. Seperti diketahui, saat ini pemeluk Khonghucu sudah dapat melaksanakan agamanya menyusul Terbitnya Keppress No. 6/2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid yang mencabut  Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95.
Workshop yang dihadiri 50 peserta itu, yang diselenggara oleh Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu Kementerian Agama RI selama  dua hari di Jambi. Pesertanya selain umat Khonghucu dari Kota Jambi juga datang dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kuala Tungkal. workshop berlangsung dua hari (1-2/8-2017). Dalam sambutan Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI, M. Mudhofier yang hadiri di Jambi bersama Kepala Bidang Bimas Khonghucu Kemenag RI, Dra. Hj. Emma Nurmawati, MM mengatakan, Workshop ini diselenggarakan  untuk lebih meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan sistim pendidikan Agama Khonghucu di wilayah Provinsi Jambi. Sejak dicabutnya kedua peraturan tersebut, maka agama Khonghuchu merupakan agama yang diakui keberadaaannya oleh pemerintah. Oleh karena itu pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama berkewajiban memberikan pelayaan dan pembinaan terhadap umat agama Khonghucu baik dalam melaksanakan ajaran agamanya di lingkungan masyarakat maupun dalam mendapatkan pelayanan hak-hak sipil, pendidikan agama di sekolah. Sementara itu, pada Oktober 2007, kebebasan beragama umat Khonghucu ini semakin jelas dan tegas dengan keluarnya Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Perihal pendidikan agama Khonghucu di jalur sekolah formal, nonformal, dan informal diatur pada Pasal 45, sedangkan untuk jalur tenaga pendidiknya diatur oleh Pasal 47 PP tersebut, dan diterbitkannya Peraturan Menteri Agama No.16 Tahun 2010  dalam pasal 2 ayat 2. (Romy)

Jumat, 28 April 2017

占碑寿山亭庆祝福德正神神圣诞吉辰占碑寿山亭庆祝福德正神神圣诞吉辰

 
 
 
 百多信徒祈求国泰民安 风调雨顺
座落在占碑 HMO Bafadhal街, Rt. 23 Manggis 村 寿山亭庙,于4月25日举行福德正神圣诞吉辰庆祝。是日上午十时,寿山亭基金会名誉主席陈远庆、炉主及百多位信众举行祈拜、道士郑连丁主持祈拜,诵经念咒,带领信众,礼拜玄天上帝后,祈拜福德正神,祈求神恩赐福,让印尼国家,国泰民安、风调雨顺,远离天灾人祸,占碑社会安宁,生民衣食丰足,康宁寿福。
  陈远庆表示,我们每逢新春节来临前夕,都会祈拜天公(玄天上帝),每逢神吉日时也都举办答谢神恩各种活动,同时也有台神轿游街等一系列节目。
  Romy /hk

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20170429/315861.shtml
* https://www.facebook.com/makinjambi

Sabtu, 28 Januari 2017

Gerimis Tidak Menghalangi Umat Khonghucu Sembahyang Imlek Di Klenteng Siu San Teng

JAMBI - Ribuan umat Khonghucu di Jambi sejak dini hari ramai-ramai mendatangi tempat ibadah Khonghucu untuk melakukan sembahyang bersama menyambut tahun baru Imlek 2568/ 2017 yang jatuh pada 28 Januari 2017 (Cia Gwe Ciu It) di Klenteng Siu San Teng “寿山亭”Jambi [Lihat Album : Umat Khonghucu Sembahyang Imlek 2568 Kongzili di Klenteng].
Umat Khonghucu di Kota Jambi tampak sangat khusyuk mengikuti sembahyang Imlek 2568 baik di klenteng-klenteng yang di bukan sejak pukul 00.00 Wib.

Kekhusyukan sembahyang Imlek 2568 kongzili di jaga ketat petugas kepolisan Polda Jambi dan Poltabes Jambi, setiap klenteng di jaga oleh puluhan Polisi Sabhara dan Brimob Gegana lengkap senjata serta anjing pelacak.

Nampaknya ribuan cahaya lilin ukuran besar dan kecil dinyalakan sejak Sabtu dini di dalam dan luar Klenteng Siu San Teng menambah kekhusyukan dalam melaksanakan sembahyang guna mengucap syukur atas karunia yang diberikan Thian “上帝” (Tuhan) dan Kongco (roh suci) Fuk Tek Chen Sen yang lebih di kenal dengan panggilan Tua Pek Kong 福德正神 yang selama setahun dan berharap agar di tahun baru ini senantiasa memberikan karunia yang baik.

Ribuan warga Tionghoa yang beragama Khonghucu berasal dari berbagai wilayah di kota Kota Jambi, ada juga yang sengaja datang dari Palembang, Pakan Baru (Riau), Medan, Batam dan Jakarta. mengikuti sembahyang di Klenteng Siu San Teng, yang berada di kawasan kampung manggis Jambi.

"Selain itu, sembahyang ini juga ditujukan untuk memohon keselamatan dan rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini, umat yang pekerja tentunya berharap supaya sukses dalam pekerjaannya, yang berdagang memohon agar dagangannya laris." (Romy)* https://www.facebook.com/makinjambi

Jumat, 30 Januari 2015

Perbedaan Vihara dan Kelenteng

 BENTUK KELENTENG
BENTUK VIHARA
Banyak yang salah kaprah, atau bahkan tidak mengetahui sama sekali bahwa 'vihara' dan 'kelenteng' itu berbeda. Ada yang menganggap 'kelenteng' adalah panggilan lain dari 'vihara', jelas semua itu adalah salah. Pada kesempatan kali ini, Anda akan mengenal lebih lanjut, apa sajakah perbedaan 'vihara' dan 'kelenteng'.
a. Vihara
* Adalah rumah ibadah umat Buddha
* Biasanya berarsitektur India/Thailand, ada pula yang berarsitektur Tiongkok
* Di dalam Vihara aliran Theravada, hanya ada rupang (patung) Buddha Gautama beserta 2 muridNya. Di dalam Vihara aliran Mahayana, terdapat 3 rupang, yaitu: Rupang Buddha Gautama, Rupang Bodhisattva Avalokiteshvara, Rupang Bodhisattva Ksitigharba/Bodhisattva lainnya.
* Tidak terdapat tempat untuk membakar kertas sembahyang.
* Upacara keagamaan biasanya dilakukan secara jemaat yang disebut Puja Bakti/Kebaktian, walaupun umat juga diberi kesempatan untuk beribadah secara individu. Setelah beribadah umat biasanya akan diberi dhammadesana (khotbah/ceramah).
* Sebuah tempat bisa dikatakan Vihara apabila: memiliki minimal 1 ruang dhammasala (ruang kebaktian), memiliki kuti (tempat tinggal bikkhu), perpustakaan, bahkan ruang khusus untuk khotbah. Vihara yang lebih kecil disebut Cetya yang hanya memiliki 1 ruang dhammasala (ruang kebaktian) tanpa memiliki dhammasala dan perpustakaan. Vihara yang lebih besar dan memiliki taman disebut Arama. Vihara bisa disebut Arama apabila: memilkiki minimal 1 ruang dhammasala, kuti, perpustakaan, ruang khotbah, dan yang paling penting taman.
* Vihara biasanya menggunakan nama berbahasa Pali atau Sanskerta. Contoh: Vihara Dharma Loka, Vihara Vimala Virya, Vihara Dhamma Metta Arama, Vihara Vipassana Graha, Cetya Tisaranagamana, dll.

b. Kelenteng
* Adalah rumah ibadah umat Konghucu/Tao
* Biasanya berarsitektur Tiongkok
* Di dalam Kelenteng terdapat rupang para Dewa/Dewi yang dipuja oleh umat
* Terdapat tempat untuk membakar kertas sembahyang
* Umumnya upacara keagamaan dilakukan secara individu
* Biasanya juga sekaligus merupakan tempat perkumpulan/yayasan sosial, seperti Kelompok Pemain Barongsai, dll.
* Kelenteng biasanya diberi nama dalam bahasa Mandarin atau bahasa Indonesia. Contoh: Kelenteng Tua Pek Kong, Kelenteng Dewi Sakti, Kelenteng Surya Bakti, dll.

Tidak heran kekeliruan ini terjadi. Pada masa Orde Baru, pemerintah RI melarang segala jenis apapun kegiatan atau tempat yang berbau tradisi Tionghua. Sehingga Kelenteng yang merupakan salah satu tradisi Tionghua akhirnya terancam ditutup. Untuk mengatasi hal itu, sebagian Kelenteng dan umat Konghucu saat itu berlindung di bawah naungan agama Buddha, sehingga mengubah nama Kelenteng menjadi nama Vihara. Tidak hanya itu, umat Konghucu yang bernaung menjadi agama Buddha pun hanya menyandang gelar agama Buddha saja, tapi tetap melakukan tata cara ibadah agama Konghucu. Sebagian umat lain malah pindah ke agama lain seperti Katolik, Protestan, Islam, ataupun Hindu yang ketika itu merupakan agama resmi.

Sejak Orde Reformasi, atau lebih tepatnya masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, kebijakan yang melarang kegiatan atau tempat yang berbau tradisi Tionghua itu kemudian dihapuskan. Sejak saat itulah umat Konghucu lebih leluasa beribadah dan melakukan aktivitas keagamaan dan kebudayaan seperti tarian Barongsai, Imlek, dll. Dan sejak pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan menjadi hari libur nasional. Banyak pula Kelenteng yang kembali mengganti nama seperti nama semula. Namun, adapula Kelenteng yang tetap mempertahankan nama Vihara yang sebetulnya hanyalah merupakan nama sementara.

Dan dulu, sebelum agama Konghucu diresmikan, orang awam juga keliru membedakan mana Kelenteng dan mana Vihara, karena menurut mereka, hampir semua orang Tionghua yang pergi ke Kelenteng atau Vihara, sehingga umat Buddha dan umat Konghucu pun dicap sebagai agama yang hanya dianut oleh etnis Tionghua. Padahal, hal ini salah. Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, banyak pula warga asli Indonesia yang menganut agama Buddha.

Dampaknya tidak hanya sampai di situ, karena larangan pada Orde Baru, terjadilah penggabungan 3 tempat ibadah menjadi satu. Tempat ibadah itu disebut Vihara Tri Dharma (Tiga Ajaran: Buddha, Konghucu, Tao) Dan tempat ibadah ini hanya terdapat di Indonesia. Walaupun berdampak negatif yaitu timbulnya kekeliruan, tapi tempat ibadah ini juga berdampak positif yaitu mencerminkan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Perbedaan Agama Buddha dan Konghucu
a. Agama Buddha
Penyebar Ajaran     : Sidharta Gautama Buddha
Asal Ajaran            : India
Kitab Suci              : Tipitaka (Theravada, bahasa Pali) atau Tripitaka (Mahayana, bahasa Sansekerta)
Rumah Ibadah        : Vihara
Bahasa Asli            : Bahasa Pali atau bahasa Sansekerta
Pemimpin Agama   : Bikkhu (Theravada), Biksu (Mahayana), Bikkhuni (Bikhhu Wanita)
Salam Keagamaan  : Namo Buddhaya; Namaste

Padanan kata yang sering digunakan untuk merujuk "Tuhan" adalah Sanghyang Adi-Buddha Tuhan Yang Maha Esa (lebih sering digunakan oleh Buddhayana/Ekayana). Aliran Theravada lebih sering menggunakan padanan kata Sang Tiratana.

b. Agama Konghucu
Penyebar Ajaran      : Nabi Konfusius
Asal Ajaran              : Tiongkok
Kitab Suci                : Sishu, Wujing, Xiao Jing
Rumah Ibadah         : Kelenteng / Lintang
Bahasa Asli              : Bahasa Mandarin (bahasa Tiongkok)
Pemimpin Agama     : Pendeta Konghucu
Salam Keagamaan    : Wei De Dong Tian

Padanan kata yang sering digunakan untuk merujuk "Tuhan" adalah Tian/Thian Tuhan Yang Maha Esa.

http://wirawanperdana.blogspot.com/2013/06/perbedaan-vihara-dan-kelenteng.html#comment-form

Rabu, 03 April 2013

孔子学院在波罗的海

孔子画像、红色中国结、彩纸风筝这些传统的中国工艺品高高地挂在立陶宛的维尔纽斯和爱沙尼亚的塔林孔子学院办公室的墙上,透着浓厚的中国文化气息。虽然波罗的海三国总人口不过600万,短短四年时间里已有三所中国孔子学院陆续在当地的大学落户,除了上述两所,第三所孔子学院,由拉脱维亚大学和中国华南师大合作,去年9月刚刚开始招生。
孔子学院是中国国家对外汉语教学领导小组办公室(简称汉办)主导的,自称为非政治性的对外汉语教学和文化推广机构。自2004年在韩国首尔成立第一所孔子学院起,据汉办统计,截至2011年,在全球的105个国家已有358所孔子学院,500个孔子课堂,注册学员达50多万人。

如此快的发展速度令人叹服,但孔子学院的发展也自始至终伴随着争议和批评。孔子学院的办学原则是,“政府支持、民间运作”,以及“中外合作、内生发展”,在很多国家,特别是西方国家,它常常被当地的媒体和公众质疑为是中国政府输出意识形态和所谓“软实力”的工具,而抱以戒备之心。在波罗的海地区,这样的质疑因其特殊的历史背景而更为敏感和微妙。

中国的社会主义制度和执政党共产党在当地是公众避讳的话题,因为波罗的海三国在上世纪90年代初摆脱了前苏联的统治、宣布独立,对当地人来说,那段历史是黑暗的。在近半个世纪统治中,前苏联对该地区进行了人口清洗、文化侵略和移民策略。在上世纪80年代末伴随前苏联经济政治体制的瓦解,以爱沙尼亚为代表发生了“歌唱革命”的大规模非暴力抗议,成为其取得独立的导火索。当年集会传唱的很多民歌以及三国的民间舞蹈习俗在今天合被联合国教科文组织列为非物质文化遗产。

由于历史原因,当地人对中国的看法容易先入为主,爱沙尼亚大学塔林孔子学院中方院长林可在接受笔者采访时说。他从1983年起就进行对外汉语教学,2010年来到塔林后,他发现当地人对中国的了解主要来自当地媒体或者欧洲主流媒体的介绍,其意见往往是批评为主。“我不是说不可以批评。但很多批评是带偏见的,”林可说。

意识形态的差异不可避免地可能引起中方和外方合作的摩擦。在波罗的海,孔子学院依附于当地大学的东亚系,承担当地学生的中文教学。但孔子学院的教学、教材、以及外事理念是服从于汉办的。林可说,孔子学院的公开活动是不能违背中外两方法律的。

塔林大学东亚和人文学院的中文教师葛佳(Katja Koort)重温了孔子学院成立不久的一次小插曲。2010年底中国诗人刘晓波获得诺贝尔和平奖,葛佳所在学院组织了相关座谈会邀请孔子学院中方代表参加。葛佳说林可院长接到通知后不是很愉快,他出席了活动,但全程没有发言。林可说,这样的活动让孔子学院中方的立场很尴尬。

爱沙尼亚塔图大学的中国专家林西华(Märt Läänemets)认为,孔子学院除了其学术功能,“是中国在世界提升其形象的重要工具,是中国软实力策略的一部分。”林西华说十年前爱沙尼亚人对中国的印象更简单也更积极。虽然中国是社会主义体制,但不可否认中国的经济影响力。但近几年,人们对中国观点更加批判。因为大家获得了更多的关于中国的信息,其中有争议性的是关于中国政治方面的信息。人们意识到这和欧洲的民主制度差别很大。比如爱沙尼亚人关注西藏问题源于他们那段前苏联统治的经历,但中国很难理解他们。

葛佳说塔林大学在推广东亚文化时,自愿学习日语的学生多于中文的。除了日本的流行文化比如动画片对爱沙尼亚年轻人产生强烈的吸引力,一个根本原因是日本和欧洲民主体制的同一性。葛佳说,对于她们70年代出生经历前苏联统治的爱沙尼亚人,民主和权利这样的话题会让他们热血沸腾。

不过,也有外国学者认为孔子学院没有政治目的,就是为了教汉语和介绍中国文化。塔林大学前校长瑞恩•罗德(Rein Raud)促成孔子学院在塔林大学落户。他说,中国成为第二大经济体后,爱沙尼亚政府看到了更多和中国经济合作的契机。而越来越多的爱沙尼亚年轻人也选择到中国去旅游。因此,2008年罗德陪同爱沙尼亚教育部长访问中国后,开始和汉办商议开办孔子学院,并于2010年9月和广西大学成功签约。“中国开放了,全世界对其文化也更感兴趣,”他说。

另一方面,波罗的海地区为中国进一步融入欧洲提供了机遇。这三个小国实行开放的经济、文化政策,被认为是通往欧洲的门户。特别是爱沙尼亚,不但加入了欧盟,还是三国唯一加入欧元区的国家。其IT业很发达,风靡全球的语音通话软件Skype便是当地人发明的,这里也是近年吸引外国直接投资最密集的欧洲国家。

立陶宛维尔纽斯大学孔子学院中方院长王丽英在接受笔者采访时说,这些小国离中国远、人口少,但不是不重要;加深了解才能促进文化交流。在立陶宛维尔纽斯市现在大概有40家中国餐馆,华人越来越多,有的还扎了根。因此,维尔纽斯孔子学院也为了方便华人孩子学习中文开了课,她说。

总体上,波罗的海三国还不如西欧那么发达,缺乏稳定的资金来源来帮助当地学生学习东亚文化。 外方大学愿意和孔子学院合作的原因之一是中方会有直接的资金投入。两位孔子学院的院长说,当地孔子学院每年约8万美金的活动经费以及教材均由汉办承担。本来合同约定,中外双方给孔子学院的投资比例是各50%。但现实中,外方一般没有现金投入,其投资通过人员和场地设施支持来折算。

除了主要承担当地大学的中文课程,孔子学院也设了对社会开放的夜校和不同主题的文化课、如书法、茶艺、武术班等。据笔者从维尔纽斯和塔林孔子学院了解到的情况,对社会开放的课程每班有十几个学生左右,总共的学员不超过100个,其收费按照当地消费水平每学期每人大概一百多欧元。最后这些学费都回流到孔子学院的活动经费中。此外,孔子学院也在积极推动当地中、小学的中文教育,给予一定的教师和资金支持。比如塔林大学孔子学院给爱沙尼亚中部城市威延第(Viljandi)和西部岛屿萨若玛(Saaremaa)的中学都派了中文老师。

当地孔子学院的活动推广主要依靠Facebook,因为波罗的海地区几乎人人都用Facebook。大家在上面上看到孔子学院的中秋节活动,或者播放中国的电影就会进行转发并参加。塔林大学孔子学院的Facebook粉丝目前有280个,维尔纽斯大学的有550多个,拉脱维亚大学的有40几个。“汉办鼓励推行中国的现代文化,介绍中国现当代政治、经济、文化。但内容很多,我们只能一点一点做,”王丽英说。

即使出任维尔纽斯孔子学院的中方院长,王丽英依然延续着她之前在辽宁大学进行的中国古代史的教学工作。她现在的对象是当地的学生。在课堂上她鼓励学生提问,可以讨论任何关于中国的话题,但还是觉得当地学生比较沉闷。有时她会遇到一些关于中国现在发生的有争议性的问题,她会说中国是个大国,什么情况都可能发生。“我们没有必要避讳那些关于自然灾难、社会矛盾和政治丑闻的报道。中国在变化,虽然比较慢,”她说。

“如果我们告诉学生中国是完美的,那没人能相信,”维尔纽斯大学孔子学院的中文教师和项目负责人卫丽玛(Vilma Šniukštaitė)说。一般来讲,当地人对中国的文化社会没有全面的了解,大家会提到低廉的中国商品。她说,这是因为大家缺乏直接接触中国的机会。卫丽玛本人在维尔纽斯大学中国方向毕业后拿到去中国的奖学金在中国学习了两年,她的中文很流利。她提到2012年他们组织夏令营带学生去中国。这些学生回来后,提升了语言能力也更全面地了解了中国。

有趣的是,真正对中国文化感兴趣、学习中文的学生往往积极地看待中国、过滤对有关中国的负面消息。立陶宛大一学生葛丽泰(Guta Flipovic)参加了维尔纽斯孔子学院的夏令营去了沈阳和北京,她吃惊于沈阳的现代化程度,喜欢北京的颐和园,感触最深的是和普通的中国人比如出租车司机的交流,觉得现实中的中国并不和她平时看到的新闻报道一致。

还有没去过中国的学生,获得了对中国一边倒似的印象。“中国是发达国家,中国是很富有的国家。我将来要到中国学习经济学,因为中国非常成功。”17岁的立陶宛高中生张龙(Lucas Marozas)用带着京腔的流利中文说。他学习了四年半的中文,最早靠中文学习软件,然后在中学和孔子学院上中文班。他天天在网上看中央电视台和新华社新闻来练习口语并获得关于中国的信息。

学习中国山水画十多年,用中国水墨绘制当地风景并成功举行画展的维尔纽斯画家多利亚•托克萨特(Dolia Doksaite)目前在孔子学院教授中国书画课。“对我来说最重要的是中国文化的深度。中国就像一壶开水,表面在沸腾,底下是平静的,”她说。

巫楠为2012年哈佛尼曼学员,现为自由撰稿人。

http://cn.nytimes.com/article/china/2013/03/26/cc26confucius/

Selasa, 02 April 2013

Makin Leng Chun Keng Rayakan Sejit Kwan Tek Chun Ong Secara Sederhana

JAMBI, ayojambi.com – Perayaan Sejit Kwan Tek Cun Ong di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Leng Chun Keng di Jalan Koni I, Rt. 3, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, hari ini, (2/4-2013).
Menyambut sejit (ulang tahu) shen ming “Kwan Tek Chun Ong” dilaksanakan secara sederhana, pasalnya kelenteng MAKIN Leng Chun Keng sedang melakukan selesai, maka sejit Kwan Tek Chun Ong tahun sama seperti tahun lalu diperingati secara sedehrana tanpa mengundang Majelis Agama Khongsucu Indonesia (MAKIN) yang ada di kota Jambi.

Tampak ada tiga shen ming hadir dalam perayaan sejit Kwan Tek Chun Ong untuk memberikan pelayanan kepada umat Khonghucu, kehadiran ketiga shen ming dengan cara merasuki kitong yang dikenal dengan sebutan tatung.

Walaupun perayaan Kwan Tek Chun Ong selaksanakan secara sederhana, namun tidak mengurangi niat umat Khonghucu melakukan sembahyang.

Kata, Lim Yong Siang, Pengurus Makin Leng Chun Keng, “Bangunan kelenteng Leng Chun Keng belum selesai, maka kita hanya adakan sembahyang sejit Kwan Tek Chun Ong secara sederhana dan kita tidak banyak mengundang Makin-Makin yang ada di Jambi’, selanjutnya kata Lim Yong Siang, mudah-mudahan tahun depan kelenteng sudah selesai dibangun agar bisa menampung lebih banyak umat yang datang sembahyang, ujar Yong Siang disela kesibukan sembahyang.

Kemungkinan tahun depan, Kelenteng Leng Chun Keng yang di renovasi total bisa menjadi salah satu objek wisata religi di Kota Jambi, karena bentuk bangunannya dirancang sedemikian, mulai dari pintu masuk langsung ada shen men (dewa pintu), tiang Naga dan sepasang Singa di kiri kanan pintu utama memiliki nilai historis.

Pintu gerbang masuk ke dalam kompleks Kelenteng Leng Chun Keng dengan bentuk bangunan, ornamen dan warna oriental yang khas, dirancang oleh asitektur dari china dan bahan-bahannyapun di datang dari China. (Romy)

http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/

Jumat, 25 Mei 2012

Air Awet Muda dari Dewi Kuan Yin

KOMPAS.com – Kelenteng selalu menarik untuk dikunjungi. Di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terdapat tempat ibadah yang menjadi tujuan para wisatawan. Kabar paling terkenal di balik tempat ini adalah khasiat air yang konon dapat membuat orang awet muda.

Tempat ibadah “Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin” ini terletak di Desa Rambak, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka. Perjalanan menuju tempat ini lebih dari satu jam dari pusat kota Pangkal Pinang. Tempat ini sebenarnya tergolong baru yaitu diresmikan di tahun 2003.

Nah, daya tariknya adalah sebuah sumur di kelenteng ini. Banyak orang mempercayai, minum atau mandi air dari sumur tersebut, dapat membuat orang itu terjaga kesehatannya dan menjadi awet muda. Dewi Kuan Yin sendiri dikenal sebagai dewi cantik yang memiliki sifat welas asih.

Beberapa pengunjung bahkan sampai membawa air ini pulang. Air dimasukan ke botol plastik untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Boleh percaya boleh tidak, tetapi rasa air ini memang begitu segar. Pengunjung tak perlu mengambil air dari sumur. Tetapi cukup ambil dari wadah air dengan kran yang tersedia.

Nah, di sini pun ada kolam teratai. Di tengahnya ada sebuah bangunan yang bentuknya melingkar. Jika bisa melempar koin ke tengah-tengahnya, maka dipercaya permohonannya akan terkabul. Di area ini pula, kolam mandi dari air sumur awet muda.

Artis Titiek Puspa disebut-sebut sebagai salah satu tokoh terkenal yang pernah mandi di tempat ini. Lalu melangkah ke arah altar Dewi Kuan Yin, pengunjung dapat melakukan chiam si, atau ramalan kuno.

Kocok-kocok bilah-bilah bambu dalam wadah tabung. Lalu bambu yang jatuh akan menunjukan nomor. Dari nomor ini barulah ditentukan kertas ramalan. Jika tertarik mencoba, mintalah pada penjaga setempat.

“Ramalan bolehnya satu kali setahun. Kalau mau lagi, harus tunggu tahun depan,” ungkap Jam, petugas di tempat itu.

Ia menuturkan di hari-hari libur, kelenteng tersebut ramai dikunjungi umat yang mau beribadah maupun wisatawan. Jangan lupa, bagaimanapun “Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin” adalah tempat ibadah. Oleh karena itu, jika Anda berniat mengunjungi tempat ini, lepaslah sepatu dan berlakulah sopan.

http://travel.kompas.com/read/2012/05/26/08203237/

Kliping Koran & Gambar Net

 
Satu Tempat Ibadah Mengunakan Dua Nama.!
  
Berita Kompas: Klenteng atau Vihara.?
Diskriminasil Hak Sipil Umat Khonghucu
Hanya Ada 4 Makin di Kota Jambi
Sinkretisme "Penodaan Agama" 
Pengabungan dua agama 
selain dilarang, juga menyesatkan 
umat Khonghucu & Buddha.
Umat Khonghucu Agar Aktif Di Klenteng-Klenteng
Lik Yen "Pernikahan" & "Pendidikan"
Surat Terbuka Dari Batam
Sinkretisme "Pengabungan 3 Ajaran"