Tampilkan postingan dengan label Candi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Candi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Maret 2013

Peninggalan Kerajaan Malayu Di Kunjungi Bhiksu Taiwan

MUAROJAMBI, ayojambi.com - Situs Candi Muaro Jambi di Desa Muaro Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Minggu sore (31/3-2013) kembali mendapatkan kehormatan dikunjungi tiga Bhiksu asal negara Taiwan, yaitu Bhiksu Ho Ying Teng, Bhiksu He Chia Ho, Bhiksu Chou Cen Kuo dan Bhiksu Yang Shang Yung.

Rombongan Bhiksu bisa datang ke Candi Muaro Jambi, lantaran melihat website bahasa mandarin. Maka melalui Singapure mereka langsung ke Batang dari Batam rombongan ke Jambi.

Kehadiran mereka disambut oleh Hidayat pengusaha Kopi AAA Jambi sekaligus tokoh Pencinta Candi Muarojambi di Bandara Sultan Thaha Jambi, pukul 13.30, dari Bandara para tamu dijamu makan siang ala vegetarian.

Seusai makan, Tokoh Pencinta Candi Muarojambi, membawa rombongan mengunjungi Candi Bukit Perak, selain melihat keindahan alam di Candi Bukit Perak, para Bhiksu juga melakukan pembacaan parita (doa) dan bressing. Selanjutnya rombongan dihantar Hidayat mengunjungi Candi Kadaton, mereka cekup lama berada di Candi Kadaton, setiap sisi dinding candi mereka telitiin dan tidak ketinggalan para Bhiksu pembacaan parita (doa).

Setelah dari Candi Kadaton, rombongan Bhiksu Taiwan mengunjungi Gedung Museum di komplek Candi Muaro Jambi, dari Candi Bhiksu Ho Ying Teng dan kawan menujun hotel untuk beristirahan dan besok harinya mereka (bhiksu) merencakana mengunjungi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi dan Gedung Museum Negeri Jambi (dulu Museum Negeri Propinsi Jambi) yang berlokasi di perempatan Jalan Urip Sumaharjo dan Jalan Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH. (Romy)

Kink:
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/

Senin, 25 Juni 2012

Bhiksu Rinpoche Naik Sepeda Keliling Candi Muarojambi


JAMBI – Bhiksu Rinpoche segaja terbang dari Singapure ke Jambi untuk melihat peninggalan prasejahra yang terbesar di asia tenggara dan keindahan panorama di Candi Muaro Jambi, Bhiksu Rinpoche sengaja datang ke Jambi bersama beberapa warga Singapure via Bandara Soekarno Hatta Jakarta.


Bhiksu berkebangsaan Tibet ini tertarik untuk mengunjungi situs Muaro Jambi. Terutama karena situs Muaro Jambi telah menjadi perhatian wisatawan luar negeri.

Situs purbakala kebanggaan masyarakat Provinsi Jambi yang terletak di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Candi Muaro Jambi merupakan salah satu peninggalan sejarah karena adanya kaitan antara keberadaan situs dengan penyebaran ajaran Buddha yang cukup terkenal bahkan terbesar di asia tenggara. Untuk itu, Bhiksu Rimpoche mengaku sangat tertarik untuk melihat dari keindahan panaroma candi dari dekat, maka mereka sengaja datang ke Jambi melalui Singapura (25/6).

Kunjungan Rinpeche ke candi didampingi salah seorang tokoh masyarakat yang peduli candi Muara Jambi, beliau juga banyak mengeluarkan dana untuk memperkenalkan candi di tingkat dunia tanpa pamrih.

Untuk mengitari candi Muaro Jambi satu persatu, Rinpoche mengunakan sepeda yang disewakan warga setempat mulai dari pukul 09.30 hingga pukul 14.00 wib, tidak ketinggalan mengabadikan candi dengan kamera handphone.

Sebelum keliling candi Candi Gumpung, Candi Tinggi Astano, dan Kembar Batu, Rinpoche melakukan pelepasan burung ke alam bebas di candi Kadaton, selanjutnya Rinpoche keliling arca yang ditemukan oleh para pekerja beberapa waktu lalu. (Romy)

Jumat, 12 Agustus 2011

Usia Makara Lebih Seribu Tahun

JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Pemugaran kompleks Candi Muaro Jambi, khususnya Candi Kedaton ini dibiayai dari dana APBN. Kendati demikian, Pemerintah Provinsi Jambi berkewajiban untuk mengamankan proses tersebut. Terlebih dengan adanya temuan bersejarah yang diperkirakan merupakan tinggalan Abad VII-XIII sesuai catatan diketemukan Situs Candi Muaro Jambi.
Sementara itu, Bante Sujid yang datang Jumat sore, terus mengamati dua makara itu. Menurut Bante Sujid, bentuk makara menyerupai ular besar dan kepala kambing. Dengan seksama, Bante Sujid menjelaskan alasan 'menangkap' makara menyerupai kepala kambing di mulut ular.

Di bawah ada tonjolan batu kecil menyerupai kepala kambing, kemudian ada kesan mulut menganga ular besar berikut gigi ular.

Seolah belum percaya dengan perkiraannya, Bante Sujid mengambil langkah mundur dan terus mengamati dengan seksama. Lalu dia manggut-manggut dan berkata," Kalau yang bawah itu kepala kambing, sedang yang atas memang ular besar bukan naga ya," katanya.

Ketika ditanya sejarah apa yang tergambar dari dua makara itu, Bante Sujid hanya geleng-geleng kepala. "Saya belum tahu," katanya. Namun dia memastikan usia makara itu lebih dari seribu tahun.

Sedang melihat stuktur tangga andesit, Bante Sujid memperkirakan di atas ada hamparan yang bisa saja untuk beribadah atau singgasana. "Nanti setelah ini ada turunan kembali," prediksi Bante Sujid.

Bante Sujid bercerita bahwa begitu mengetahui ada penemuan makara, langsung mengontak para bhiksu di Thailand. Kebetulan saat itu, Bante Sujid menjalani masa wasa ini di Vihara Maha Citiya Oenang Hermawan Jambi. Lalu bagaimana respons para bhiksu di Thailand?

"Mereka senang mendengar itu dan mengatakan bahwa itu Budha, Saya lihat langsung ke sini dan melihat ini. Mereka akan datang sekitar November atau Desember ke sini (Candi Kedaton) untuk melihat langsung ini semua," katanya.

http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/bante-bilang-usia-makara-lebih-seribu-tahun

Ditemukan Tulisan Kuno di Bagian Makara

JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Setelah menemukan dua makara, struktur tangga batu andesit, kemarin para pekerja pemugaran Candi Kedaton di kompleks Candi Muaro Jambi menemukan tulisan atau prasasti di bagian makara.
Wijianto, arkeolog yang mendampingi pemugaran Candi Kedaton mengungkapkan bahwa setelah makara betul-betul berhasil dikupas dan dibersihkan, pada tubuh makara berdiri terdapat prasasti ditulis dalam bahasa kuno yang belum bisa dipastikan asal bahasanya.

"Pada makara pertama ada prasasti di dua sisi bagian atasnya. Sementara pada makara satunya lagi disebelah ujung kanan paling bawah," ungkap Wijianto.

Makara pertama yang memiliki dua prasasti masing-masing terdiri dari tiga aksara dan empat aksara. Sementara pada makara satunya lagi terdapat aksara dua baris menyerupai kalimat. "Sampai saat ini belum diketahui itu aksara apa dan maknanya apa?" ucap Wijianto.

Ketua BP3 Jambi, Toni Mambo mengungkapkan, untuk bisa membaca aksara tersebut serta mendapatkan maknanya, maka pihak BP3 akan mengirimkan gambar aksara ke BP3 Pusat. Karena untuk BP3 Jambi diakuinya belum memiliki tenaga ahli yang mampu membaca aksara kuno.

"Nanti akan kita kirimkan ke pusat untuk dapat mengetahui apa bunyi dari prasasti tersebut," ungkap Toni Mambo.
Setelah tiga hari pengupasan akhirnya baru didapatkan ukuran pasti makara yang diketemukan.

Makara sebelah selatan candi kedaton atau bagian kanan memiliki ukuran tinggi, 135 sentimeter, lebar, 65 sentimeter, panjang 135 sentimeter. Adapun jarak makara dengan Candi Induk Kedaton sepanjang 133,50 meter.

Pun dengan bhiksu asal Thailand yang akrab disapa Bante Sujid yang datang khusus melihat makara, tak dapat membaca aksara itu. "Bukan huruf Thai, bukan juga Jawa. Ini sangat kuno, tapi saya tidak tahu," ujarnya usai mengamati aksara tersebut.

http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/ditemukan-tulisan-kuno-di-bagian-makara

Jumat, 24 Juni 2011

Boleh Dikatakan Kemungkinan Ada Harta Karun

JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Didy Wurjanto menyebutkan, penelitian ini didahului dengan penandatanganan MoU antara Pemprov Jambi dalam hal ini Gubernur Jambi Hasan Basri Agus dengan Kementerian Energi Sumber dan Daya Mineral.
"Seperti yang disampaikan para ahli sejarah dan budayawan bahwa percandian Muaro Jambi adalah pusat pendidikan agama Budha. Selama ini kegiatan di candi lebih terfokus di atas (permukaan tanah), dan kita pun ingin mengetahui ada apa di bawah candi. Boleh lah dikatakan kemungkinan ada harta karun, karena yang namanya studi juga harta karun kan, tidak hanya emas permata," katanya.
Ia menjelaskan, peneliti mulai bekerja Rabu (22/6)hingga 28 Juni mendatang. Sedangkan Setyorini, dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi mengatakan, pihaknya siap mendamping penelitian di bawah Candi Kedaton.

Sebetulnya yang mau diteliti ada dua candi, Kedaton dan Gumpung. Namun mengingat selama ini Gumpung sudah beberapa kali dilakukan penelitian, maka pilihan jatuh ke Candi Kedaton.

Setyorini belum bisa bercerita banyak tentang hal ini, karena pihak Kementerian ESDM baru memulai penelitian. "Ini sangat membantu kita, apalagi pekerjaan ini menggunakan alat canggih sekelas GPR, ya kita manfaatkan selama berada di Jambi. Kita sangat mendukung kegiatan ini, dan akan menyiapkan pirantinya di sekitar lokasi," ujarnya.

Dikatakan Bambang Sugiarto kerja alat GPR adalah menembakkan gelombang elektromagnetik ke dalam permukan bumi. Setelah gelombang ditembakkan, maka gelombang elektromagnetik akan mengalami refraksi dan refleksi.

Gelombang yang direfleksikan itu yang diterima oleh receiver-nya dan bisa mendapatkan data-data dan gambar yang diinginkan. Kelemahan alat ini sangat sensitif terhadap telepon genggam dan sejenis logam, dan bisa mengganggu kerja GPR.

http://jambi.tribunnews.com/2011/06/22/boleh-dikatakan-kemungkinan-ada-harta-karun

Wow..Ada Harta Karun di Candi Muaro Jambi
Tak terbantahkan jika Candi Muaro Jambi memiliki pesona indah. Ternyata bukan hanya pesona indah, karena di bawah tanah bangunan candi tersebut menurut hasil penelitian sejumlah ahli, tersimpan 'harta karun' luar biasa, yakni berupa benda bersejarah peninggalan masa Budha.

Rabu (22/6) pagi ini, ahli geologi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan menyelidiki 'harta karun' itu. Pakar geologi Indyo Pratomo dan Bambang Sugiarto telah menyiapkan alat canggih, radar pendeteksi bawah tanah atau Ground Penetrating Radar (GPR).

"Alat ini bekerja sangat canggih. Mirip setrika raksasa berat sekitar 100 kilogram. Kerjanya, dengan cara memasukkan antena di kedalaman 15-20 meter di bawah tanah. Nantinya akan diketahui seperti apa struktur batu-batuannya, untuk melihat apakah ada benda-benda yang terstruktur dengan bangunan atasnya," ujar Indyo Pratomo kepada Tribun Jambi, Selasa (21/6).

Menurut Indyo yang sudah berpengalaman 'memotret' benda-benda di dalam perut bumi ini tugas mereka hanya mendeteksi atau mencari tahu benda-benda atau strukturnya, khususnya di bawah Candi Kedaton. "Untuk urusan apakah ada bangunan atau benda-benda prasejarah dan sebagainya, itu tugasnya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3)," ucapnya.

Cara kerja GPR itu, tambah Bambang Sugiarto, persis seperti Ultrasonography (USG) yang mengeluarkan gelombang elektromagnetik frekwensi tinggi. Kemudian gelombang elektro tersebut direspons dan menghasilkan gambar-gambar.

"Yang jelas dengan alat canggih ini, bisa diketahui seperti apa kemungkinan benda-benda di bawah candi. Interprestasi sifat-sifat fisik bebatuan yang ada di dalamnya. Hasilnya nanti bisa dilanjutkan oleh BP3 Jambi. Dengan alat ini kerja kita jadi lebih efesien," tutur Bambang.

http://jambi.tribunnews.com/2011/06/22/ada-harta-karun-di-bawah-candi-muaro-jambi

Sabtu, 18 Juni 2011

Terus Gali Potensi Candi Muaro Jambi

JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Terus mencari dan menggali potensi pariwisata Jambi, itulah kegiatan utama Dinas Pariwisata Provinsi Jambi selama satu minggu ke depan. Menurut Kabid Sejarah dan Purbakala, Ujang Hariadi, jajarannya akan bekerja sama dengan beberapa peneliti untuk melakukan penelitian lebih mendalam di situs percandian Muaro Jambi.
Lanjut Ujang, para peneliti itu rencanaya akan datang ke Jambi pada Senin (20/6). "Saya sudah dapat sms kepastian tanggal, smoga tidak ada perubahan," ujar Ujang.

Ujang pun menceritakan maksud dan tujuan para peneliti itu. Secara singkat, ujang mengatakan para peneliti itu datang untuk memeriksa kondisi tanah di bawah situs percandian Muaro Jambi.

Katanya lagi, mereka akan mencari dan memastikan ada tidaknya reruntuhan lain di bawah situs percandian Muaro Jambi. "Nanti pakai alat Georadar, jangkauannya bisa sampai 10 meter ke bawah tanah," ujar Ujang semangat.

Menurut Ujang, penelitian kali ini melibatkan banyak peneliti dan lintas organisasi. Katanya, mereka berasal dari Balai Arkeologi Palembang, Badan Geologi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Disbudpar dan BP3 Jambi.

Selain itu, menurut Ujang akan hadir pula penulis buku Budha di Nusantara, Bambang Budi Utomo. Mereka akan melakukan penelitian selama sekitar 20 ha. (aye)

http://jambi.tribunnews.com/2011/06/18/ayo-terus-gali-potensi-candi-muaro-jambi

Minggu, 15 Mei 2011

Waisak 2555/BE Di Candi Muaro Jambi

JAMBI - Hari Suci Waisak menjadi salah satu hari yang penting untuk diperingati oleh umat Buddha karena memperingati tiga peristiwa yang dialami oleh Buddha Gotama pada bulan purnama yaitu :
1. Kelahiran Pangeran Siddharta Gotama pada tahun 623 SM di Taman Lumbini.
2. Pangeran Siddharta mendapat Penerangan Sempurna menjadi Buddha pada tahun 588 SM di Hutan Gaya.

3. Buddha Gotama mencapai Parinibbana (wafat) pada tahun 543 SM di Kusinara.
Menyambut perayaan Waisak 2555/ BE di Candi Muaro Jambi sudah rutin dilakukan sejak tahun 1992 oleh umat Buddha dari Vihara Sakyakirti Jambi, sebagai upaya turut melestarikan peninggalan sejarah Agama Buddha di Jambi melalui pelaksanaan ritual puja keagamaan seperti Prosesi mengelilingi Candi dan Puja Bhakti.

Diperkirakan umat Buddhis yang mengikuti perayaan hari besar Waisak di Candi Muaro Jambi, mencapai ribuan orang. Makanya, panitia jauh-jauh hari telah mempersiapkan alat tranfortasi bagi ribuan umat Buddha, ini belum termasuk kendaraan milik pribadi umat.

Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) memilih kawasan Candi Muarojambi, Provinsi Jambi sebagai tempat penyelenggaraan Hari Raya Waisak 2555/ BE ini merupakan peringatan Waisak dan mengingat masa kejayaan Sriwijaya dimasa silam.

Candi Muaro Jambi yang terletak di bantaran Sungai Batanghari atau sekitar 30 km arah timur Kota Jambi juga merupkan situs purbakala terluas di Indonesia yaitu lebih kurang 12 Kilometer atau sepuluh kali luas dari Borobudur. Candi Muaro Jambi peninggalan sejarah masa Sriwijaya yang menjadi saksi bisu yang pernah ada kerajaan besar.

Asal muasal perayaan Waisak, dimulai dari lahirnya seorang bayi suci pada bulan Waisaka di tahun 623 SM, di taman Lumbini, bumi bergetar, bunga-bunga bermekaran dan dari langit tumpah air suci yang langsung membasuh tubuh Sang bayi diiringi nyanyian dari surgawi, sungguh sebuah kelahiran maha agung. Kelahiran seorang calon guru Agung. Inilah kisah pertama dari Trisuci Waisak.

Lahir, tumbuh dewasa dengan bergelimang harta kekayaan dan kemashyuran sebagai seorang putra mahkota kerajaan Kapilavastu yang didampingi oleh seorang istri yaitu Putri Yasodhara dan seorang anak yaitu Rahula. “Apa arti hidup ini jika semua harus berakhir seperti ini ?” demikian pertanyaan yang muncul setelah beliau melihat orang sakit, orang tua dan orang mati. Dengan melihat seorang pertapa maka tumbuhlah tekad Beliau untuk mencari obat bagi penderitaan yang begitu mengerikan baginya.

Beliau pergi meninggalkan istana, keluarga, harta dan kemashyuran-Nya. Keluar masuk hutan, berguru kepada beberapa guru utama, hingga akhirnya bertapa selama enam tahun dengan cara yang sangat ekstrim. Untaian kecapi mencerahkanNya, beliau sadar bahwa menyiksa diri itu salah, dan mulailah beliau menempuh jalan tengah dan pada bulan Waisaka, tahun 588 SM, di hutan uruvela, Sidharta mencapai kebodhian. Lepaslah segala kemelekatan dan nafsu-nafsu duniawi, Sidharta menjadi Buddha - Yang Tercerahkan, Yang Maha Sempurna. Inilah kisah kedua dari Trisuci Waisak. (Rom)