JAMBI – Bhiksu Rinpoche segaja terbang dari Singapure ke Jambi untuk melihat peninggalan prasejahra yang terbesar di asia tenggara dan keindahan panorama di Candi Muaro Jambi, Bhiksu Rinpoche sengaja datang ke Jambi bersama beberapa warga Singapure via Bandara Soekarno Hatta Jakarta.
Tampilkan postingan dengan label Arca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arca. Tampilkan semua postingan
Senin, 25 Juni 2012
Bhiksu Rinpoche Naik Sepeda Keliling Candi Muarojambi
JAMBI – Bhiksu Rinpoche segaja terbang dari Singapure ke Jambi untuk melihat peninggalan prasejahra yang terbesar di asia tenggara dan keindahan panorama di Candi Muaro Jambi, Bhiksu Rinpoche sengaja datang ke Jambi bersama beberapa warga Singapure via Bandara Soekarno Hatta Jakarta.
Kamis, 01 September 2011
Prasasti Singkatan pada Makara Gapura Candi Kadaton
Pada tanggal 10 Agustus 2011 di kompleks Candi Kedaton, pada salah satu runtuhan gapura, dilakukan pekerjaan pengupasan untuk pemugaran. Dalam melakukan pengupasan gapura di halaman utara bangunan candi Kedaton, ditemukan sepasang makara yang masih intak di sebelah kiri dan kanan tangga. Sepasang makara ini menghadap selatan ke arah bangunan candi induk Kedaton. Makara yang ada di sebelah barat, di bagian bawah belakang belalai terdapat dua baris tulisan.
Makara yang ada di sebelah timur di bagian belakang belalai terdapat dua tulisan singkat yang terpisah. Tidak seperti prasasti pada umumnya yang dipahat kedalam, prasasti pada makara ini dipahat timbul.
Makara pertama ditemukan dalam keadaan insitu dengan pasangannya. Dibuat dari batu andesit dengan ukuran lebar 65 cm, tinggi 125 cm, dan panjang 130 cm. Pada bagian bawah belakang belalai makara sebelah barat terdapat dua baris tulisan yang ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa Kuno. Bunyi dari tulisan tersebut adalah: [1] || pamursitanira mpu ku [2] suma || 0 \\ ~. Pada tanda pembuka lebih panjang, mirip “cakra” (pasangan “ra”).
Sepertinya bacaannya (yakin) seperti itu, tapi kalau kita cari maksudnya "pamursita" mungkin dari kata dasar "mursita", bentuk keliru dari "murccita" yang artinya 'tak sadarkan diri; pasrah'. Karena ditambah awalan "pa" (menunjukkan tempat), maka dapat ditafsirkan sebagai "tempat mengheningkan ciptanya (meditasinya) Mpu Kusuma". Boleh jadi, Candi Kedaton dimaksudkan sebagai tempat meditasi dari Mpu Kusuma.
Makara berikutnya terdapat di sebelah timur makara 1. Dibuat dari batu andesit dengan ukuran lebar 60 cm, tinggi 125 cm, dan panjang 115 cm. Tepat di bagian belakang belalai terdapat tulisan yang berbunyi @so nga@ (tanda @ maksudnya titik). Kami tidak mengetahui apa maksud “kata” ini, dan mengapa penulisannya terpisah antara bunyi “so” dan bunyi “nga”.
Semua tulisan itu ditulis dalam aksara "Kadiri Kuadrat", mirip dengan tulisan prasasti Saŋ Hyaŋ Tapak (952 Śaka) dan prasasti yang dipahatkan pada tempayan batu koleksi Museum Nasional. Dengan demikian prasasti pada makara tersebut berasal dari sekitar abad ke-11 Masehi. Sepertinya prasasti dengan tulisan "Kadiri Kuadrat" di Sumatra masih terbilang langka, dan baru kali ini prasasti yang ditulis dengan aksara kuadrat ditemukan.
Bambang Budi Utomo dan Trigangga
Makara pertama ditemukan dalam keadaan insitu dengan pasangannya. Dibuat dari batu andesit dengan ukuran lebar 65 cm, tinggi 125 cm, dan panjang 130 cm. Pada bagian bawah belakang belalai makara sebelah barat terdapat dua baris tulisan yang ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa Kuno. Bunyi dari tulisan tersebut adalah: [1] || pamursitanira mpu ku [2] suma || 0 \\ ~. Pada tanda pembuka lebih panjang, mirip “cakra” (pasangan “ra”).
Sepertinya bacaannya (yakin) seperti itu, tapi kalau kita cari maksudnya "pamursita" mungkin dari kata dasar "mursita", bentuk keliru dari "murccita" yang artinya 'tak sadarkan diri; pasrah'. Karena ditambah awalan "pa" (menunjukkan tempat), maka dapat ditafsirkan sebagai "tempat mengheningkan ciptanya (meditasinya) Mpu Kusuma". Boleh jadi, Candi Kedaton dimaksudkan sebagai tempat meditasi dari Mpu Kusuma.
Makara berikutnya terdapat di sebelah timur makara 1. Dibuat dari batu andesit dengan ukuran lebar 60 cm, tinggi 125 cm, dan panjang 115 cm. Tepat di bagian belakang belalai terdapat tulisan yang berbunyi @so nga@ (tanda @ maksudnya titik). Kami tidak mengetahui apa maksud “kata” ini, dan mengapa penulisannya terpisah antara bunyi “so” dan bunyi “nga”.
Semua tulisan itu ditulis dalam aksara "Kadiri Kuadrat", mirip dengan tulisan prasasti Saŋ Hyaŋ Tapak (952 Śaka) dan prasasti yang dipahatkan pada tempayan batu koleksi Museum Nasional. Dengan demikian prasasti pada makara tersebut berasal dari sekitar abad ke-11 Masehi. Sepertinya prasasti dengan tulisan "Kadiri Kuadrat" di Sumatra masih terbilang langka, dan baru kali ini prasasti yang ditulis dengan aksara kuadrat ditemukan.
Bambang Budi Utomo dan Trigangga
Selasa, 16 Agustus 2011
Heboh, Pekerja Pemugaran Candi Kembali Menemukan Arca
MUARO JAMBI – Secara tidak sengaja para pekerja pemugaran di Candi Kedaton, pagi tadi (16/8) kembali menemukan sebuah Arca (Makara) di menapo kompleks Candi Kedaton. arca tersebut ditemukan dalam posisi miring ke kiri diantara tumpukan bebatuan menapo.
Proses penggalian dilakukan secara manual oleh para penggali. penggalian terus di dampingi oleh ahli arkeolog dari BP3 Provinsi Jambi.
Jarak makara kedua tersebut ditemukan tepatnya berada dibelakang makara pertama ditemukan. dalam posisi miring kekiri.
Dengan ditemukan makara kedua ini, para pekerja yakin masih ada makara lain sekitar sini yang belum mereka temukan. Bentuk makara kedua tersebut beda dengan makara pertama, makara pertama bentuk ular, sedangkan yang kedua berbentuk monyet. (rom)
Heboh, Pekerja Pemugaran Candi Kembali Menemukan Arca
MUARO JAMBI – Secara tidak sengaja para pekerja pemugaran di Candi Kedaton, pagi tadi (16/8) kembali menemukan sebuah Arca (Makara) di menapo kompleks Candi Kedaton. arca tersebut ditemukan dalam posisi miring ke kiri diantara tumpukan bebatuan menapo.
Proses penggalian dilakukan secara manual oleh para penggali. penggalian terus di dampingi oleh ahli arkeolog dari BP3 Provinsi Jambi.
Jarak makara kedua tersebut ditemukan tepatnya berada dibelakang makara pertama ditemukan. dalam posisi miring kekiri.
Dengan ditemukan makara kedua ini, para pekerja yakin masih ada makara lain sekitar sini yang belum mereka temukan. Bentuk makara kedua tersebut beda dengan makara pertama, makara pertama bentuk ular, sedangkan yang kedua berbentuk monyet. (Romy)
Jarak makara kedua tersebut ditemukan tepatnya berada dibelakang makara pertama ditemukan. dalam posisi miring kekiri.
Dengan ditemukan makara kedua ini, para pekerja yakin masih ada makara lain sekitar sini yang belum mereka temukan. Bentuk makara kedua tersebut beda dengan makara pertama, makara pertama bentuk ular, sedangkan yang kedua berbentuk monyet. (rom)
Heboh, Pekerja Pemugaran Candi Kembali Menemukan Arca
MUARO JAMBI – Secara tidak sengaja para pekerja pemugaran di Candi Kedaton, pagi tadi (16/8) kembali menemukan sebuah Arca (Makara) di menapo kompleks Candi Kedaton. arca tersebut ditemukan dalam posisi miring ke kiri diantara tumpukan bebatuan menapo.
Proses penggalian dilakukan secara manual oleh para penggali. penggalian terus di dampingi oleh ahli arkeolog dari BP3 Provinsi Jambi.
Jarak makara kedua tersebut ditemukan tepatnya berada dibelakang makara pertama ditemukan. dalam posisi miring kekiri.
Dengan ditemukan makara kedua ini, para pekerja yakin masih ada makara lain sekitar sini yang belum mereka temukan. Bentuk makara kedua tersebut beda dengan makara pertama, makara pertama bentuk ular, sedangkan yang kedua berbentuk monyet. (Romy)
Minggu, 14 Agustus 2011
Makara Di Candi Kadaton, Ramai Dikunjungi
MUARO JAMBI – Dalam beberapa bulan ini, sejak ditemukan sepasang Arca (makara) di situs kebanggaan masyarakat Jambi mendapatkan kunjungan dari berbagai kalangan masyarakat kota Jambi dan sekitarnya, diantanya Bhikkhu asal Thailand.
Secara tidak sengaja, seorang tim pemugaran di Candi Kedaton menemukan makara (arca) pada Rabu (10/8-2011) silam. Makara tersebut saat ditemukan berada dalam timbunan tanah yang biasa disebut menapo. Kondisi dua makara yang ditemukan relatif utuh dan masih berada pada konteks bangunan yang berupa reruntuhan bata.
Sepasang makara berwujud seperti perpaduan antara ikan dan gajah. Hanya saja terdapat perbedaan pada detil-detil ornament di kedua makara tersebut. Dengan ditemukan makara di Candi Kadaton beberapa waktu lalu, kini Candi Kadaton menjadi pusat perhatian warga kota Jambi dan sekitarnya.
Menurut penuturan satu pengunjung yang telah berniat ke Candi Candi kadaton beberapa waktu lalu, namun pada hari ini (14/8) baru ada waktu ke Candi Kadaton untuk melihat langsung bentuk makara, “Kami sekeluarga sangat penasaran dan ingin melihat secara dekat bentuk makara (arca) yang baru-baru ini ditemukan.”
Selain itu, dirinya mengatakan, bila kompleks situs ini sudah diakui sebagai warisan budaya dunia, maka pembangunan di lokasi ini akan menjadi sangat cepat. "Turis asing di seluruh dunia tentu ingin melihat dan belajar kemari. Sebab, ini bukan hanya peninggalan sejarah tetapi juga warisan dunia yang bisa dipelajari," ujarnya.
Situs Candi Muaro Jambi terletak ditepi sungai Batanghari di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Marasebo Kabupaten Muaro Jambi sekitar 40 KM dari Kota Jambi atau 30 KM dari Kota Sengeti. Situs kepurbakalaan Muaro Jambi merupakan tempat peninggalan purbakala terluas di Indonesia, membentang dari barat ke timur 7,5 kilometer di tepian Sungai Batanghari, dengan luas kurang lebih 12 KM persegi.
Secara Geografis Wilayah Muaro Jambi sebagian besar berada di daerah aliran sungai Batanghari. Beberapa abad silam daerah ini sudah dikenal menjadi jalur perdagangan baik antara suku bangsa di nusantara maupun asing seperti China, India, Persia, Arab, Eropa serta negeri-negeri di wilayah Asia Tenggara. Keberadaan situs Muaro Jambi diketahui untuk pertama kalinya dalam literatur barat dari laporan seorang perwira angkatan laut kerajaan Inggris bernama SC. Crooke pada tahun 1883. (romy)
Sepasang makara berwujud seperti perpaduan antara ikan dan gajah. Hanya saja terdapat perbedaan pada detil-detil ornament di kedua makara tersebut. Dengan ditemukan makara di Candi Kadaton beberapa waktu lalu, kini Candi Kadaton menjadi pusat perhatian warga kota Jambi dan sekitarnya.
Menurut penuturan satu pengunjung yang telah berniat ke Candi Candi kadaton beberapa waktu lalu, namun pada hari ini (14/8) baru ada waktu ke Candi Kadaton untuk melihat langsung bentuk makara, “Kami sekeluarga sangat penasaran dan ingin melihat secara dekat bentuk makara (arca) yang baru-baru ini ditemukan.”
Selain itu, dirinya mengatakan, bila kompleks situs ini sudah diakui sebagai warisan budaya dunia, maka pembangunan di lokasi ini akan menjadi sangat cepat. "Turis asing di seluruh dunia tentu ingin melihat dan belajar kemari. Sebab, ini bukan hanya peninggalan sejarah tetapi juga warisan dunia yang bisa dipelajari," ujarnya.
Situs Candi Muaro Jambi terletak ditepi sungai Batanghari di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Marasebo Kabupaten Muaro Jambi sekitar 40 KM dari Kota Jambi atau 30 KM dari Kota Sengeti. Situs kepurbakalaan Muaro Jambi merupakan tempat peninggalan purbakala terluas di Indonesia, membentang dari barat ke timur 7,5 kilometer di tepian Sungai Batanghari, dengan luas kurang lebih 12 KM persegi.
Secara Geografis Wilayah Muaro Jambi sebagian besar berada di daerah aliran sungai Batanghari. Beberapa abad silam daerah ini sudah dikenal menjadi jalur perdagangan baik antara suku bangsa di nusantara maupun asing seperti China, India, Persia, Arab, Eropa serta negeri-negeri di wilayah Asia Tenggara. Keberadaan situs Muaro Jambi diketahui untuk pertama kalinya dalam literatur barat dari laporan seorang perwira angkatan laut kerajaan Inggris bernama SC. Crooke pada tahun 1883. (romy)
Jumat, 12 Agustus 2011
Usia Makara Lebih Seribu Tahun
JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Pemugaran kompleks Candi Muaro Jambi, khususnya Candi Kedaton ini dibiayai dari dana APBN. Kendati demikian, Pemerintah Provinsi Jambi berkewajiban untuk mengamankan proses tersebut. Terlebih dengan adanya temuan bersejarah yang diperkirakan merupakan tinggalan Abad VII-XIII sesuai catatan diketemukan Situs Candi Muaro Jambi.
Sementara itu, Bante Sujid yang datang Jumat sore, terus mengamati dua makara itu. Menurut Bante Sujid, bentuk makara menyerupai ular besar dan kepala kambing. Dengan seksama, Bante Sujid menjelaskan alasan 'menangkap' makara menyerupai kepala kambing di mulut ular.
Di bawah ada tonjolan batu kecil menyerupai kepala kambing, kemudian ada kesan mulut menganga ular besar berikut gigi ular.
Seolah belum percaya dengan perkiraannya, Bante Sujid mengambil langkah mundur dan terus mengamati dengan seksama. Lalu dia manggut-manggut dan berkata," Kalau yang bawah itu kepala kambing, sedang yang atas memang ular besar bukan naga ya," katanya.
Ketika ditanya sejarah apa yang tergambar dari dua makara itu, Bante Sujid hanya geleng-geleng kepala. "Saya belum tahu," katanya. Namun dia memastikan usia makara itu lebih dari seribu tahun.
Sedang melihat stuktur tangga andesit, Bante Sujid memperkirakan di atas ada hamparan yang bisa saja untuk beribadah atau singgasana. "Nanti setelah ini ada turunan kembali," prediksi Bante Sujid.
Bante Sujid bercerita bahwa begitu mengetahui ada penemuan makara, langsung mengontak para bhiksu di Thailand. Kebetulan saat itu, Bante Sujid menjalani masa wasa ini di Vihara Maha Citiya Oenang Hermawan Jambi. Lalu bagaimana respons para bhiksu di Thailand?
"Mereka senang mendengar itu dan mengatakan bahwa itu Budha, Saya lihat langsung ke sini dan melihat ini. Mereka akan datang sekitar November atau Desember ke sini (Candi Kedaton) untuk melihat langsung ini semua," katanya.
http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/bante-bilang-usia-makara-lebih-seribu-tahun
Di bawah ada tonjolan batu kecil menyerupai kepala kambing, kemudian ada kesan mulut menganga ular besar berikut gigi ular.
Seolah belum percaya dengan perkiraannya, Bante Sujid mengambil langkah mundur dan terus mengamati dengan seksama. Lalu dia manggut-manggut dan berkata," Kalau yang bawah itu kepala kambing, sedang yang atas memang ular besar bukan naga ya," katanya.
Ketika ditanya sejarah apa yang tergambar dari dua makara itu, Bante Sujid hanya geleng-geleng kepala. "Saya belum tahu," katanya. Namun dia memastikan usia makara itu lebih dari seribu tahun.
Sedang melihat stuktur tangga andesit, Bante Sujid memperkirakan di atas ada hamparan yang bisa saja untuk beribadah atau singgasana. "Nanti setelah ini ada turunan kembali," prediksi Bante Sujid.
Bante Sujid bercerita bahwa begitu mengetahui ada penemuan makara, langsung mengontak para bhiksu di Thailand. Kebetulan saat itu, Bante Sujid menjalani masa wasa ini di Vihara Maha Citiya Oenang Hermawan Jambi. Lalu bagaimana respons para bhiksu di Thailand?
"Mereka senang mendengar itu dan mengatakan bahwa itu Budha, Saya lihat langsung ke sini dan melihat ini. Mereka akan datang sekitar November atau Desember ke sini (Candi Kedaton) untuk melihat langsung ini semua," katanya.
http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/bante-bilang-usia-makara-lebih-seribu-tahun
Ditemukan Tulisan Kuno di Bagian Makara
JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Setelah menemukan dua makara, struktur tangga batu andesit, kemarin para pekerja pemugaran Candi Kedaton di kompleks Candi Muaro Jambi menemukan tulisan atau prasasti di bagian makara.
Wijianto, arkeolog yang mendampingi pemugaran Candi Kedaton mengungkapkan bahwa setelah makara betul-betul berhasil dikupas dan dibersihkan, pada tubuh makara berdiri terdapat prasasti ditulis dalam bahasa kuno yang belum bisa dipastikan asal bahasanya.
"Pada makara pertama ada prasasti di dua sisi bagian atasnya. Sementara pada makara satunya lagi disebelah ujung kanan paling bawah," ungkap Wijianto.
Makara pertama yang memiliki dua prasasti masing-masing terdiri dari tiga aksara dan empat aksara. Sementara pada makara satunya lagi terdapat aksara dua baris menyerupai kalimat. "Sampai saat ini belum diketahui itu aksara apa dan maknanya apa?" ucap Wijianto.
Ketua BP3 Jambi, Toni Mambo mengungkapkan, untuk bisa membaca aksara tersebut serta mendapatkan maknanya, maka pihak BP3 akan mengirimkan gambar aksara ke BP3 Pusat. Karena untuk BP3 Jambi diakuinya belum memiliki tenaga ahli yang mampu membaca aksara kuno.
"Nanti akan kita kirimkan ke pusat untuk dapat mengetahui apa bunyi dari prasasti tersebut," ungkap Toni Mambo.
Setelah tiga hari pengupasan akhirnya baru didapatkan ukuran pasti makara yang diketemukan.
Makara sebelah selatan candi kedaton atau bagian kanan memiliki ukuran tinggi, 135 sentimeter, lebar, 65 sentimeter, panjang 135 sentimeter. Adapun jarak makara dengan Candi Induk Kedaton sepanjang 133,50 meter.
Pun dengan bhiksu asal Thailand yang akrab disapa Bante Sujid yang datang khusus melihat makara, tak dapat membaca aksara itu. "Bukan huruf Thai, bukan juga Jawa. Ini sangat kuno, tapi saya tidak tahu," ujarnya usai mengamati aksara tersebut.
http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/ditemukan-tulisan-kuno-di-bagian-makara
"Pada makara pertama ada prasasti di dua sisi bagian atasnya. Sementara pada makara satunya lagi disebelah ujung kanan paling bawah," ungkap Wijianto.
Makara pertama yang memiliki dua prasasti masing-masing terdiri dari tiga aksara dan empat aksara. Sementara pada makara satunya lagi terdapat aksara dua baris menyerupai kalimat. "Sampai saat ini belum diketahui itu aksara apa dan maknanya apa?" ucap Wijianto.
Ketua BP3 Jambi, Toni Mambo mengungkapkan, untuk bisa membaca aksara tersebut serta mendapatkan maknanya, maka pihak BP3 akan mengirimkan gambar aksara ke BP3 Pusat. Karena untuk BP3 Jambi diakuinya belum memiliki tenaga ahli yang mampu membaca aksara kuno.
"Nanti akan kita kirimkan ke pusat untuk dapat mengetahui apa bunyi dari prasasti tersebut," ungkap Toni Mambo.
Setelah tiga hari pengupasan akhirnya baru didapatkan ukuran pasti makara yang diketemukan.
Makara sebelah selatan candi kedaton atau bagian kanan memiliki ukuran tinggi, 135 sentimeter, lebar, 65 sentimeter, panjang 135 sentimeter. Adapun jarak makara dengan Candi Induk Kedaton sepanjang 133,50 meter.
Pun dengan bhiksu asal Thailand yang akrab disapa Bante Sujid yang datang khusus melihat makara, tak dapat membaca aksara itu. "Bukan huruf Thai, bukan juga Jawa. Ini sangat kuno, tapi saya tidak tahu," ujarnya usai mengamati aksara tersebut.
http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/ditemukan-tulisan-kuno-di-bagian-makara
Langganan:
Postingan (Atom)