JAMBI, ayojambi.com – Seusai bersilaturahmi dengan Gubernur Jambi di Jalan Sultan Agung Jambi (Rumah Dinas), dr Lie Dharmawan (68) menyempatkan diri mengunjungi Situs Candi Muarojambi di Desa Muara Jambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, sekitar pukul 09.30 pagi.
Tampilkan postingan dengan label Muaro Jambi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muaro Jambi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 April 2014
Rumah Sakit Apung Bulan Oktober Kunjungi Jambi
JAMBI – Kepala Rumah Sakit Apung (RSA) Dokter Lie Dharmawan, PhD, FICS, SpBTKV (Lie Tek Bie) beserta dr. Sianly, Minggu (6/4) pagi tiba di Jambi dengan mengunakan pesawat Garuda Indonesia, kedatangan dokter ahli bedah jantung ke Jambi disambut oleh Hidayat Tokoh Pencinta Candi Muarojambi di Bandar Udara Sultan Thaha Syaifuddin Jambi, setiba di bandadar tamu undangan Hidayat beristirahat sambil sarapan pagi di ruang vip room bandara. Setelah itu, dr Lie bersilaturahmi dengan Gubernur Jambi di Jalan Sultan Agung Jambi (Rumah Dinas).
Kehadiran Kepala Rumah Sakit Apung (RSA) Dokter Lie Dharmawan disambut Gubernur H. Hasan Basri Agus, selanjutnya Hidayat menyampaikan maksud kunjungan dr Lie untuk menjajaki kemungkin mendatangkan KLM RSA dr. Lie Dharmawan/ Rumah Sakit Apung (RSA) ke Jambi untuk memberikan pengobatan gratis kepada masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) yang ada di Kabupaten Merangin bulan Oktober mendatang.
Gubernur Hasan Basri Agus menyambut positif atas inisiatif Hidayat mendatangkan Rumah Sakit Apung di Jambi, untuk memperlancar tujuan kerja sosial para dokter di Jambi, dalam waktu Gubernur Jambi akan membentuk tim peninjau lapangan untuk mempelajari kondisi Sungai Batanghari Jambi bisa dilalui KLM RSA dr. Lie Dharmawan.
Seusai dari Rumah Dinas Gubenur, rombongan meninjau situs Candi Muarojambi di Desa Muara Jambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, Setelah dari Candi Muarojambi terus ke gedung Museum Siginjai di Urip sumoharjo No. 01 Telanaipura sorenya rombongan dr Lie Darmawan bertolak ke Jakarta dengan pesawat Lion Air.
RSA dr. Lie Dharmawan diresmikan pada 6 Juni 2013 dan saat ini telah memberikan pelayanan medis ke berbagai penjuru Indonesia dalam bentuk bedah mayor, bedah minor, pengobatan umum, dan pendampingan kesehatan, sesuai dengan prinsip kemanusiaan dan etika pelayanan medis. Banyak diantara mereka yang telah berpengalaman di medan krisis Indonesia sejak tahun 1998 akibat ketidakstabilan politik, ekonomi dan sosial, serta terpaan bencana alam yang melanda Indonesia.
DoctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) menyediakan akses bantuan medis secara holistik, independen dan imparsial untuk orang-orang yang paling membutuhkan, yaitu merekayang dianggap miskin dan tidak mampu tapi tidak mempunyai kartu miskin karena masalah administrasi kependudukan, sehingga berimbas kepada tidak dimilikinya Asuransi (Jaminan) Kesehatan Masyarakat dan tidak memperoleh akses kesehatan gratis yang disediakan pemerintah; mereka yang secara sosial dikecualikan dari layanan kesehatan dan dikucilkan dalam masyarakat, mereka yang terjebak dalam bencana alam, epidemi dan kekurangan gizi.
dr. Lie telah melakukan banyak pengobatan dan pembedahan di berbagai penjuru nusantara, seperti di Kepulauan Kei (Maluku), Pulau Panggang (Kepulauan Seribu), Bangka Tengah, Belitung Timur (Bangka Belitung), Ketapang dan Pontianak (Kalimantan Barat), Bali, Nusa Tenggara Timur, dan berbagai wilayah lainnya. (Romy)
Gubernur Hasan Basri Agus menyambut positif atas inisiatif Hidayat mendatangkan Rumah Sakit Apung di Jambi, untuk memperlancar tujuan kerja sosial para dokter di Jambi, dalam waktu Gubernur Jambi akan membentuk tim peninjau lapangan untuk mempelajari kondisi Sungai Batanghari Jambi bisa dilalui KLM RSA dr. Lie Dharmawan.
Seusai dari Rumah Dinas Gubenur, rombongan meninjau situs Candi Muarojambi di Desa Muara Jambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, Setelah dari Candi Muarojambi terus ke gedung Museum Siginjai di Urip sumoharjo No. 01 Telanaipura sorenya rombongan dr Lie Darmawan bertolak ke Jakarta dengan pesawat Lion Air.
RSA dr. Lie Dharmawan diresmikan pada 6 Juni 2013 dan saat ini telah memberikan pelayanan medis ke berbagai penjuru Indonesia dalam bentuk bedah mayor, bedah minor, pengobatan umum, dan pendampingan kesehatan, sesuai dengan prinsip kemanusiaan dan etika pelayanan medis. Banyak diantara mereka yang telah berpengalaman di medan krisis Indonesia sejak tahun 1998 akibat ketidakstabilan politik, ekonomi dan sosial, serta terpaan bencana alam yang melanda Indonesia.
DoctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) menyediakan akses bantuan medis secara holistik, independen dan imparsial untuk orang-orang yang paling membutuhkan, yaitu merekayang dianggap miskin dan tidak mampu tapi tidak mempunyai kartu miskin karena masalah administrasi kependudukan, sehingga berimbas kepada tidak dimilikinya Asuransi (Jaminan) Kesehatan Masyarakat dan tidak memperoleh akses kesehatan gratis yang disediakan pemerintah; mereka yang secara sosial dikecualikan dari layanan kesehatan dan dikucilkan dalam masyarakat, mereka yang terjebak dalam bencana alam, epidemi dan kekurangan gizi.
dr. Lie telah melakukan banyak pengobatan dan pembedahan di berbagai penjuru nusantara, seperti di Kepulauan Kei (Maluku), Pulau Panggang (Kepulauan Seribu), Bangka Tengah, Belitung Timur (Bangka Belitung), Ketapang dan Pontianak (Kalimantan Barat), Bali, Nusa Tenggara Timur, dan berbagai wilayah lainnya. (Romy)
* www.ayojambi.com/
Selasa, 28 Agustus 2012
Situs Candi Muarojambi Dikunjungi Dubes AS
JAMBI - Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Scot Marciel, Selasa (28/8-2012) pagi mengunjungi Situs Muarojambi yang berlokasi di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, dapat ditempuh sekitar satu jam.
Candi Muarojambi tidak dapat dipisahkan dari kedekatannya dengan Sungai Batanghari. Selain jaraknya yang semakin dekat melalui jembatan Batanghari II, lebih kurang 35 menit dari Kota Jambi, selain itu untuk menuju Candi Muarojambi juga dapat melalui jalur sungai Batanghari.
Kunjungan Dubes AS, Scot Marciel ke Candi Muarojambi mendapatkan pengawalan ketat dari pihak Polres Muarojambi, bahkan disetiap sudut candi di jaga oleh beberapa petugas Polres Muarojambi.
Kehadiran Dubes AS, Scot Marciel disambut oleh Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi, Winston, Kadis Parawisata Jambi, Didy Wurjanto serta pengurus The SOMT. Tidak ketinggalan dalam pejambutan Dubes AS, Scot Marciel untuk Indonesia, ke Candi Muarojambi yaitu pendiri The Society of Muaro Jambi Temple (The SOMT), pengusaha kopi AAA Jambi, Hidayat.
Scot Marciel sangat terkesan dan langsung menelusuri setiap bangunan candi yang ada di tempat tersebut. "Dia (Scot Marciel) berhenti di candi Tinggi dan Candi Gumpung, lalu mengamati candi tersebut. Setelah beberapa saat ia menyatakan bahwa candi tersebut sungguh luar biasa indahnya (dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan)," ujarnya.
Sebelum Dubes AS meninggalkan kawasan Candi Muarojambi, Scot Marciel menyempatkan diri melepaskan burung ke habitan aslinya. (Romy)
Senin, 25 Juni 2012
Bhiksu Rinpoche Naik Sepeda Keliling Candi Muarojambi
JAMBI – Bhiksu Rinpoche segaja terbang dari Singapure ke Jambi untuk melihat peninggalan prasejahra yang terbesar di asia tenggara dan keindahan panorama di Candi Muaro Jambi, Bhiksu Rinpoche sengaja datang ke Jambi bersama beberapa warga Singapure via Bandara Soekarno Hatta Jakarta.
Bhiksu berkebangsaan Tibet ini tertarik untuk mengunjungi situs Muaro Jambi. Terutama karena situs Muaro Jambi telah menjadi perhatian wisatawan luar negeri.
Situs purbakala kebanggaan masyarakat Provinsi Jambi yang terletak di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Candi Muaro Jambi merupakan salah satu peninggalan sejarah karena adanya kaitan antara keberadaan situs dengan penyebaran ajaran Buddha yang cukup terkenal bahkan terbesar di asia tenggara. Untuk itu, Bhiksu Rimpoche mengaku sangat tertarik untuk melihat dari keindahan panaroma candi dari dekat, maka mereka sengaja datang ke Jambi melalui Singapura (25/6).
Kunjungan Rinpeche ke candi didampingi salah seorang tokoh masyarakat yang peduli candi Muara Jambi, beliau juga banyak mengeluarkan dana untuk memperkenalkan candi di tingkat dunia tanpa pamrih.
Untuk mengitari candi Muaro Jambi satu persatu, Rinpoche mengunakan sepeda yang disewakan warga setempat mulai dari pukul 09.30 hingga pukul 14.00 wib, tidak ketinggalan mengabadikan candi dengan kamera handphone.
Sebelum keliling candi Candi Gumpung, Candi Tinggi Astano, dan Kembar Batu, Rinpoche melakukan pelepasan burung ke alam bebas di candi Kadaton, selanjutnya Rinpoche keliling arca yang ditemukan oleh para pekerja beberapa waktu lalu. (Romy)
Jumat, 12 Agustus 2011
Usia Makara Lebih Seribu Tahun
JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Pemugaran kompleks Candi Muaro Jambi, khususnya Candi Kedaton ini dibiayai dari dana APBN. Kendati demikian, Pemerintah Provinsi Jambi berkewajiban untuk mengamankan proses tersebut. Terlebih dengan adanya temuan bersejarah yang diperkirakan merupakan tinggalan Abad VII-XIII sesuai catatan diketemukan Situs Candi Muaro Jambi.
Sementara itu, Bante Sujid yang datang Jumat sore, terus mengamati dua makara itu. Menurut Bante Sujid, bentuk makara menyerupai ular besar dan kepala kambing. Dengan seksama, Bante Sujid menjelaskan alasan 'menangkap' makara menyerupai kepala kambing di mulut ular.
Di bawah ada tonjolan batu kecil menyerupai kepala kambing, kemudian ada kesan mulut menganga ular besar berikut gigi ular.
Seolah belum percaya dengan perkiraannya, Bante Sujid mengambil langkah mundur dan terus mengamati dengan seksama. Lalu dia manggut-manggut dan berkata," Kalau yang bawah itu kepala kambing, sedang yang atas memang ular besar bukan naga ya," katanya.
Ketika ditanya sejarah apa yang tergambar dari dua makara itu, Bante Sujid hanya geleng-geleng kepala. "Saya belum tahu," katanya. Namun dia memastikan usia makara itu lebih dari seribu tahun.
Sedang melihat stuktur tangga andesit, Bante Sujid memperkirakan di atas ada hamparan yang bisa saja untuk beribadah atau singgasana. "Nanti setelah ini ada turunan kembali," prediksi Bante Sujid.
Bante Sujid bercerita bahwa begitu mengetahui ada penemuan makara, langsung mengontak para bhiksu di Thailand. Kebetulan saat itu, Bante Sujid menjalani masa wasa ini di Vihara Maha Citiya Oenang Hermawan Jambi. Lalu bagaimana respons para bhiksu di Thailand?
"Mereka senang mendengar itu dan mengatakan bahwa itu Budha, Saya lihat langsung ke sini dan melihat ini. Mereka akan datang sekitar November atau Desember ke sini (Candi Kedaton) untuk melihat langsung ini semua," katanya.
http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/bante-bilang-usia-makara-lebih-seribu-tahun
Di bawah ada tonjolan batu kecil menyerupai kepala kambing, kemudian ada kesan mulut menganga ular besar berikut gigi ular.
Seolah belum percaya dengan perkiraannya, Bante Sujid mengambil langkah mundur dan terus mengamati dengan seksama. Lalu dia manggut-manggut dan berkata," Kalau yang bawah itu kepala kambing, sedang yang atas memang ular besar bukan naga ya," katanya.
Ketika ditanya sejarah apa yang tergambar dari dua makara itu, Bante Sujid hanya geleng-geleng kepala. "Saya belum tahu," katanya. Namun dia memastikan usia makara itu lebih dari seribu tahun.
Sedang melihat stuktur tangga andesit, Bante Sujid memperkirakan di atas ada hamparan yang bisa saja untuk beribadah atau singgasana. "Nanti setelah ini ada turunan kembali," prediksi Bante Sujid.
Bante Sujid bercerita bahwa begitu mengetahui ada penemuan makara, langsung mengontak para bhiksu di Thailand. Kebetulan saat itu, Bante Sujid menjalani masa wasa ini di Vihara Maha Citiya Oenang Hermawan Jambi. Lalu bagaimana respons para bhiksu di Thailand?
"Mereka senang mendengar itu dan mengatakan bahwa itu Budha, Saya lihat langsung ke sini dan melihat ini. Mereka akan datang sekitar November atau Desember ke sini (Candi Kedaton) untuk melihat langsung ini semua," katanya.
http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/bante-bilang-usia-makara-lebih-seribu-tahun
Ditemukan Tulisan Kuno di Bagian Makara
JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Setelah menemukan dua makara, struktur tangga batu andesit, kemarin para pekerja pemugaran Candi Kedaton di kompleks Candi Muaro Jambi menemukan tulisan atau prasasti di bagian makara.
Wijianto, arkeolog yang mendampingi pemugaran Candi Kedaton mengungkapkan bahwa setelah makara betul-betul berhasil dikupas dan dibersihkan, pada tubuh makara berdiri terdapat prasasti ditulis dalam bahasa kuno yang belum bisa dipastikan asal bahasanya.
"Pada makara pertama ada prasasti di dua sisi bagian atasnya. Sementara pada makara satunya lagi disebelah ujung kanan paling bawah," ungkap Wijianto.
Makara pertama yang memiliki dua prasasti masing-masing terdiri dari tiga aksara dan empat aksara. Sementara pada makara satunya lagi terdapat aksara dua baris menyerupai kalimat. "Sampai saat ini belum diketahui itu aksara apa dan maknanya apa?" ucap Wijianto.
Ketua BP3 Jambi, Toni Mambo mengungkapkan, untuk bisa membaca aksara tersebut serta mendapatkan maknanya, maka pihak BP3 akan mengirimkan gambar aksara ke BP3 Pusat. Karena untuk BP3 Jambi diakuinya belum memiliki tenaga ahli yang mampu membaca aksara kuno.
"Nanti akan kita kirimkan ke pusat untuk dapat mengetahui apa bunyi dari prasasti tersebut," ungkap Toni Mambo.
Setelah tiga hari pengupasan akhirnya baru didapatkan ukuran pasti makara yang diketemukan.
Makara sebelah selatan candi kedaton atau bagian kanan memiliki ukuran tinggi, 135 sentimeter, lebar, 65 sentimeter, panjang 135 sentimeter. Adapun jarak makara dengan Candi Induk Kedaton sepanjang 133,50 meter.
Pun dengan bhiksu asal Thailand yang akrab disapa Bante Sujid yang datang khusus melihat makara, tak dapat membaca aksara itu. "Bukan huruf Thai, bukan juga Jawa. Ini sangat kuno, tapi saya tidak tahu," ujarnya usai mengamati aksara tersebut.
http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/ditemukan-tulisan-kuno-di-bagian-makara
"Pada makara pertama ada prasasti di dua sisi bagian atasnya. Sementara pada makara satunya lagi disebelah ujung kanan paling bawah," ungkap Wijianto.
Makara pertama yang memiliki dua prasasti masing-masing terdiri dari tiga aksara dan empat aksara. Sementara pada makara satunya lagi terdapat aksara dua baris menyerupai kalimat. "Sampai saat ini belum diketahui itu aksara apa dan maknanya apa?" ucap Wijianto.
Ketua BP3 Jambi, Toni Mambo mengungkapkan, untuk bisa membaca aksara tersebut serta mendapatkan maknanya, maka pihak BP3 akan mengirimkan gambar aksara ke BP3 Pusat. Karena untuk BP3 Jambi diakuinya belum memiliki tenaga ahli yang mampu membaca aksara kuno.
"Nanti akan kita kirimkan ke pusat untuk dapat mengetahui apa bunyi dari prasasti tersebut," ungkap Toni Mambo.
Setelah tiga hari pengupasan akhirnya baru didapatkan ukuran pasti makara yang diketemukan.
Makara sebelah selatan candi kedaton atau bagian kanan memiliki ukuran tinggi, 135 sentimeter, lebar, 65 sentimeter, panjang 135 sentimeter. Adapun jarak makara dengan Candi Induk Kedaton sepanjang 133,50 meter.
Pun dengan bhiksu asal Thailand yang akrab disapa Bante Sujid yang datang khusus melihat makara, tak dapat membaca aksara itu. "Bukan huruf Thai, bukan juga Jawa. Ini sangat kuno, tapi saya tidak tahu," ujarnya usai mengamati aksara tersebut.
http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/ditemukan-tulisan-kuno-di-bagian-makara
Jumat, 24 Juni 2011
Boleh Dikatakan Kemungkinan Ada Harta Karun
"Seperti yang disampaikan para ahli sejarah dan budayawan bahwa percandian Muaro Jambi adalah pusat pendidikan agama Budha. Selama ini kegiatan di candi lebih terfokus di atas (permukaan tanah), dan kita pun ingin mengetahui ada apa di bawah candi. Boleh lah dikatakan kemungkinan ada harta karun, karena yang namanya studi juga harta karun kan, tidak hanya emas permata," katanya.
Ia menjelaskan, peneliti mulai bekerja Rabu (22/6)hingga 28 Juni mendatang. Sedangkan Setyorini, dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi mengatakan, pihaknya siap mendamping penelitian di bawah Candi Kedaton.
Sebetulnya yang mau diteliti ada dua candi, Kedaton dan Gumpung. Namun mengingat selama ini Gumpung sudah beberapa kali dilakukan penelitian, maka pilihan jatuh ke Candi Kedaton.
Setyorini belum bisa bercerita banyak tentang hal ini, karena pihak Kementerian ESDM baru memulai penelitian. "Ini sangat membantu kita, apalagi pekerjaan ini menggunakan alat canggih sekelas GPR, ya kita manfaatkan selama berada di Jambi. Kita sangat mendukung kegiatan ini, dan akan menyiapkan pirantinya di sekitar lokasi," ujarnya.
Dikatakan Bambang Sugiarto kerja alat GPR adalah menembakkan gelombang elektromagnetik ke dalam permukan bumi. Setelah gelombang ditembakkan, maka gelombang elektromagnetik akan mengalami refraksi dan refleksi.
Gelombang yang direfleksikan itu yang diterima oleh receiver-nya dan bisa mendapatkan data-data dan gambar yang diinginkan. Kelemahan alat ini sangat sensitif terhadap telepon genggam dan sejenis logam, dan bisa mengganggu kerja GPR.
http://jambi.tribunnews.com/2011/06/22/boleh-dikatakan-kemungkinan-ada-harta-karun
Wow..Ada Harta Karun di Candi Muaro Jambi
Tak terbantahkan jika Candi Muaro Jambi memiliki pesona indah. Ternyata bukan hanya pesona indah, karena di bawah tanah bangunan candi tersebut menurut hasil penelitian sejumlah ahli, tersimpan 'harta karun' luar biasa, yakni berupa benda bersejarah peninggalan masa Budha.
Rabu (22/6) pagi ini, ahli geologi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan menyelidiki 'harta karun' itu. Pakar geologi Indyo Pratomo dan Bambang Sugiarto telah menyiapkan alat canggih, radar pendeteksi bawah tanah atau Ground Penetrating Radar (GPR).
"Alat ini bekerja sangat canggih. Mirip setrika raksasa berat sekitar 100 kilogram. Kerjanya, dengan cara memasukkan antena di kedalaman 15-20 meter di bawah tanah. Nantinya akan diketahui seperti apa struktur batu-batuannya, untuk melihat apakah ada benda-benda yang terstruktur dengan bangunan atasnya," ujar Indyo Pratomo kepada Tribun Jambi, Selasa (21/6).
Menurut Indyo yang sudah berpengalaman 'memotret' benda-benda di dalam perut bumi ini tugas mereka hanya mendeteksi atau mencari tahu benda-benda atau strukturnya, khususnya di bawah Candi Kedaton. "Untuk urusan apakah ada bangunan atau benda-benda prasejarah dan sebagainya, itu tugasnya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3)," ucapnya.
Cara kerja GPR itu, tambah Bambang Sugiarto, persis seperti Ultrasonography (USG) yang mengeluarkan gelombang elektromagnetik frekwensi tinggi. Kemudian gelombang elektro tersebut direspons dan menghasilkan gambar-gambar.
"Yang jelas dengan alat canggih ini, bisa diketahui seperti apa kemungkinan benda-benda di bawah candi. Interprestasi sifat-sifat fisik bebatuan yang ada di dalamnya. Hasilnya nanti bisa dilanjutkan oleh BP3 Jambi. Dengan alat ini kerja kita jadi lebih efesien," tutur Bambang.
http://jambi.tribunnews.com/2011/06/22/ada-harta-karun-di-bawah-candi-muaro-jambi
Ia menjelaskan, peneliti mulai bekerja Rabu (22/6)hingga 28 Juni mendatang. Sedangkan Setyorini, dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi mengatakan, pihaknya siap mendamping penelitian di bawah Candi Kedaton.
Sebetulnya yang mau diteliti ada dua candi, Kedaton dan Gumpung. Namun mengingat selama ini Gumpung sudah beberapa kali dilakukan penelitian, maka pilihan jatuh ke Candi Kedaton.
Setyorini belum bisa bercerita banyak tentang hal ini, karena pihak Kementerian ESDM baru memulai penelitian. "Ini sangat membantu kita, apalagi pekerjaan ini menggunakan alat canggih sekelas GPR, ya kita manfaatkan selama berada di Jambi. Kita sangat mendukung kegiatan ini, dan akan menyiapkan pirantinya di sekitar lokasi," ujarnya.
Dikatakan Bambang Sugiarto kerja alat GPR adalah menembakkan gelombang elektromagnetik ke dalam permukan bumi. Setelah gelombang ditembakkan, maka gelombang elektromagnetik akan mengalami refraksi dan refleksi.
Gelombang yang direfleksikan itu yang diterima oleh receiver-nya dan bisa mendapatkan data-data dan gambar yang diinginkan. Kelemahan alat ini sangat sensitif terhadap telepon genggam dan sejenis logam, dan bisa mengganggu kerja GPR.
http://jambi.tribunnews.com/2011/06/22/boleh-dikatakan-kemungkinan-ada-harta-karun
Wow..Ada Harta Karun di Candi Muaro Jambi
Rabu (22/6) pagi ini, ahli geologi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan menyelidiki 'harta karun' itu. Pakar geologi Indyo Pratomo dan Bambang Sugiarto telah menyiapkan alat canggih, radar pendeteksi bawah tanah atau Ground Penetrating Radar (GPR).
"Alat ini bekerja sangat canggih. Mirip setrika raksasa berat sekitar 100 kilogram. Kerjanya, dengan cara memasukkan antena di kedalaman 15-20 meter di bawah tanah. Nantinya akan diketahui seperti apa struktur batu-batuannya, untuk melihat apakah ada benda-benda yang terstruktur dengan bangunan atasnya," ujar Indyo Pratomo kepada Tribun Jambi, Selasa (21/6).
Menurut Indyo yang sudah berpengalaman 'memotret' benda-benda di dalam perut bumi ini tugas mereka hanya mendeteksi atau mencari tahu benda-benda atau strukturnya, khususnya di bawah Candi Kedaton. "Untuk urusan apakah ada bangunan atau benda-benda prasejarah dan sebagainya, itu tugasnya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3)," ucapnya.
Cara kerja GPR itu, tambah Bambang Sugiarto, persis seperti Ultrasonography (USG) yang mengeluarkan gelombang elektromagnetik frekwensi tinggi. Kemudian gelombang elektro tersebut direspons dan menghasilkan gambar-gambar.
"Yang jelas dengan alat canggih ini, bisa diketahui seperti apa kemungkinan benda-benda di bawah candi. Interprestasi sifat-sifat fisik bebatuan yang ada di dalamnya. Hasilnya nanti bisa dilanjutkan oleh BP3 Jambi. Dengan alat ini kerja kita jadi lebih efesien," tutur Bambang.
http://jambi.tribunnews.com/2011/06/22/ada-harta-karun-di-bawah-candi-muaro-jambi
Minggu, 15 Mei 2011
Waisak 2555/BE Di Candi Muaro Jambi
1. Kelahiran Pangeran Siddharta Gotama pada tahun 623 SM di Taman Lumbini.
2. Pangeran Siddharta mendapat Penerangan Sempurna menjadi Buddha pada tahun 588 SM di Hutan Gaya.
3. Buddha Gotama mencapai Parinibbana (wafat) pada tahun 543 SM di Kusinara.
Menyambut perayaan Waisak 2555/ BE di Candi Muaro Jambi sudah rutin dilakukan sejak tahun 1992 oleh umat Buddha dari Vihara Sakyakirti Jambi, sebagai upaya turut melestarikan peninggalan sejarah Agama Buddha di Jambi melalui pelaksanaan ritual puja keagamaan seperti Prosesi mengelilingi Candi dan Puja Bhakti.
Diperkirakan umat Buddhis yang mengikuti perayaan hari besar Waisak di Candi Muaro Jambi, mencapai ribuan orang. Makanya, panitia jauh-jauh hari telah mempersiapkan alat tranfortasi bagi ribuan umat Buddha, ini belum termasuk kendaraan milik pribadi umat.
Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) memilih kawasan Candi Muarojambi, Provinsi Jambi sebagai tempat penyelenggaraan Hari Raya Waisak 2555/ BE ini merupakan peringatan Waisak dan mengingat masa kejayaan Sriwijaya dimasa silam.
Candi Muaro Jambi yang terletak di bantaran Sungai Batanghari atau sekitar 30 km arah timur Kota Jambi juga merupkan situs purbakala terluas di Indonesia yaitu lebih kurang 12 Kilometer atau sepuluh kali luas dari Borobudur. Candi Muaro Jambi peninggalan sejarah masa Sriwijaya yang menjadi saksi bisu yang pernah ada kerajaan besar.
Asal muasal perayaan Waisak, dimulai dari lahirnya seorang bayi suci pada bulan Waisaka di tahun 623 SM, di taman Lumbini, bumi bergetar, bunga-bunga bermekaran dan dari langit tumpah air suci yang langsung membasuh tubuh Sang bayi diiringi nyanyian dari surgawi, sungguh sebuah kelahiran maha agung. Kelahiran seorang calon guru Agung. Inilah kisah pertama dari Trisuci Waisak.
Lahir, tumbuh dewasa dengan bergelimang harta kekayaan dan kemashyuran sebagai seorang putra mahkota kerajaan Kapilavastu yang didampingi oleh seorang istri yaitu Putri Yasodhara dan seorang anak yaitu Rahula. “Apa arti hidup ini jika semua harus berakhir seperti ini ?” demikian pertanyaan yang muncul setelah beliau melihat orang sakit, orang tua dan orang mati. Dengan melihat seorang pertapa maka tumbuhlah tekad Beliau untuk mencari obat bagi penderitaan yang begitu mengerikan baginya.
Beliau pergi meninggalkan istana, keluarga, harta dan kemashyuran-Nya. Keluar masuk hutan, berguru kepada beberapa guru utama, hingga akhirnya bertapa selama enam tahun dengan cara yang sangat ekstrim. Untaian kecapi mencerahkanNya, beliau sadar bahwa menyiksa diri itu salah, dan mulailah beliau menempuh jalan tengah dan pada bulan Waisaka, tahun 588 SM, di hutan uruvela, Sidharta mencapai kebodhian. Lepaslah segala kemelekatan dan nafsu-nafsu duniawi, Sidharta menjadi Buddha - Yang Tercerahkan, Yang Maha Sempurna. Inilah kisah kedua dari Trisuci Waisak. (Rom)
2. Pangeran Siddharta mendapat Penerangan Sempurna menjadi Buddha pada tahun 588 SM di Hutan Gaya.
3. Buddha Gotama mencapai Parinibbana (wafat) pada tahun 543 SM di Kusinara.
Menyambut perayaan Waisak 2555/ BE di Candi Muaro Jambi sudah rutin dilakukan sejak tahun 1992 oleh umat Buddha dari Vihara Sakyakirti Jambi, sebagai upaya turut melestarikan peninggalan sejarah Agama Buddha di Jambi melalui pelaksanaan ritual puja keagamaan seperti Prosesi mengelilingi Candi dan Puja Bhakti.
Diperkirakan umat Buddhis yang mengikuti perayaan hari besar Waisak di Candi Muaro Jambi, mencapai ribuan orang. Makanya, panitia jauh-jauh hari telah mempersiapkan alat tranfortasi bagi ribuan umat Buddha, ini belum termasuk kendaraan milik pribadi umat.
Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) memilih kawasan Candi Muarojambi, Provinsi Jambi sebagai tempat penyelenggaraan Hari Raya Waisak 2555/ BE ini merupakan peringatan Waisak dan mengingat masa kejayaan Sriwijaya dimasa silam.
Candi Muaro Jambi yang terletak di bantaran Sungai Batanghari atau sekitar 30 km arah timur Kota Jambi juga merupkan situs purbakala terluas di Indonesia yaitu lebih kurang 12 Kilometer atau sepuluh kali luas dari Borobudur. Candi Muaro Jambi peninggalan sejarah masa Sriwijaya yang menjadi saksi bisu yang pernah ada kerajaan besar.
Asal muasal perayaan Waisak, dimulai dari lahirnya seorang bayi suci pada bulan Waisaka di tahun 623 SM, di taman Lumbini, bumi bergetar, bunga-bunga bermekaran dan dari langit tumpah air suci yang langsung membasuh tubuh Sang bayi diiringi nyanyian dari surgawi, sungguh sebuah kelahiran maha agung. Kelahiran seorang calon guru Agung. Inilah kisah pertama dari Trisuci Waisak.
Lahir, tumbuh dewasa dengan bergelimang harta kekayaan dan kemashyuran sebagai seorang putra mahkota kerajaan Kapilavastu yang didampingi oleh seorang istri yaitu Putri Yasodhara dan seorang anak yaitu Rahula. “Apa arti hidup ini jika semua harus berakhir seperti ini ?” demikian pertanyaan yang muncul setelah beliau melihat orang sakit, orang tua dan orang mati. Dengan melihat seorang pertapa maka tumbuhlah tekad Beliau untuk mencari obat bagi penderitaan yang begitu mengerikan baginya.
Beliau pergi meninggalkan istana, keluarga, harta dan kemashyuran-Nya. Keluar masuk hutan, berguru kepada beberapa guru utama, hingga akhirnya bertapa selama enam tahun dengan cara yang sangat ekstrim. Untaian kecapi mencerahkanNya, beliau sadar bahwa menyiksa diri itu salah, dan mulailah beliau menempuh jalan tengah dan pada bulan Waisaka, tahun 588 SM, di hutan uruvela, Sidharta mencapai kebodhian. Lepaslah segala kemelekatan dan nafsu-nafsu duniawi, Sidharta menjadi Buddha - Yang Tercerahkan, Yang Maha Sempurna. Inilah kisah kedua dari Trisuci Waisak. (Rom)
Sabtu, 08 Januari 2011
Candi Purba di Muaro Jambi
Candi di Sumatera yang terbuat dari bata merah, sudah lama menjadi obsesi penulis untuk melihatnya secara langsung. Dan tibalah kesempatan itu hari Sabtu, 13 Maret yang lalu penulis mengunjungi situs tersebut di Muaro Jambi. Keinginan yang sudah lama terpendam itu kembali tersulut, ketika penulis berjalan kaki pagi hari dan lewat di depan Museum Propinsi Jambi. Di depan gedung yang terletak di pojok perempatan jalan ini, ada sebuah poster besar dengan gambar Candi Gedong. Poster itu benar-benar membangkitkan kembali keinginan penulis yang sudah lama terpendam.
Sabtu pagi, mobil kijang biru meluncur mulus meninggalkan kota Jambi yang dipenuhi poster pemilihan Calon Gubernur 2010-2015, hampir dimana-mana poster besar dari para kandidat yang mencalonkan diri. Kota Jambi mirip sekilas seperti Palembang, tetapi di beberapa tempat wilayah berbukit, sehingga jalan raya naik dan turun, mirip Balikpapan.
Setelah menempuh jarak berjalan 30 km di jalan yang beraspal mulus, kami tiba di lokasi. Sebelum masuk ke lokasi, sebentar kami mampir di tepi Sungai Batanghari di sebuah dermaga penyeberangan sungai. Di lokasi ini Sungai Batanghari yang sedang pasang tampak sangat lebar, mungkin lebih dari 200 meter. Kami parkir di tepi sungai dan perumahan di tepi sungai tampak digenangi air cukup tinggi. Sebuah jalan kampung yang berada tepat di tepi sungai, terendam sampai lebih dari 25 cm.
Sebuah kapal penyeberangan rakyat sedang merapat, baru saja menyeberang dari tepi depan sebelah sana, ke sisi tepi penulis berdiri. Biaya menyeberang per orang Rp. 10 ribu, di atapnya tertulis Asset milik Desa. Seorang ibu setengah baya menjual sayur-mayur di sebuah dermaga pendaratan kapal. Dan di kejauhan di tepi seberang sungai sebuah kapal sedang sandar, memuat crude palm oil yang dihasilkan oleh sebuah pabrik didepannya. Ditepi sungai yang arusnya tampak cukup deras, seorang ibu setengah baya bersama anaknya tampak santai mendayung sampan kecil melaju menyusuri aliran sungai. Sungguh sebuah pagi yang indah dan cerah.
Sebentar kami menikmati keindahan Sungai Batanghari yang sedang meluap. Airnya coklat, dalamnya berkisar 20-30 meter. Ditengahnya tampaknya tenang, hanya saja arus ditepinya tampak cukup kuat. Sungai yang menjadi urat nadi perhubungan dan jalur aktivitas perekonomian jambi sejak jaman dahulu kala.
Kemudian kami meluncur menuju lokasi candi. Di pintu masuk membayar restribusi parkir Rp. 2.000.- per orang. Kami parkir di dekat pos Satpam, dan seorang anak muda mendekati kami memperkenalkan dirinya, Mochtar Hadi panggilan kerennya Borju, seorang pemandu wisata di lokasi ini. Borju kemudian mengantarkan kami mengelilingi kompleks candi dan berceritera panjang lebar.
Kompleks candi ini terletak pada tanggul alam kuno Sungai batanghari sepanjang 7,5 km seluas + 12 Km2 merupakan situs terluas di Indonesia. Ditemukan pertama kalinya pada tahun 1823 oleh seorang Letnan Inggris S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.
Situs Purbakala Muarao Jambi berisi 61 candi yang sebagian besar masih berupa gundukan tanah (menapo). Situs ini diduga dulunya merupakan kompleks percandian agama Hindhu - Budha Mahayana. Kemungkinan besar merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu.
Ada 9 candi yang sudah berhasil direkonstruksi antara lain : Candi Kuto Mahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Telago Rajo, Candi Kembar Batu, dan Candi Astomo. Selain candi besar, juga terdapat beberapa candi kecil yang bertebaran di sepanjang lokasi tersebut.
Candi pertama yang kami datangi adalah Candi Gumpung. Tidak seperti candi di jawa yang terbuat dari batu, candi di kompleks Situs Muaro Jambi semuanya terbuat dari batu bata merah. Berarti pada waktu itu masyarakatnya sudah menguasai teknologi pembuatan batu bata merah yang tampak kuat dan diluarnya mirip seperti keramik. Selain itu tidak ada ruangan dari candi. Mungkin hanya sebuah tempat persembahan karena dari pintu masuknya hanya ada sebuah tangga yang dibatasi dua dinding dan ada sebuah lantai yang datar. Barangkali disinilah semua persembahan diletakkan.
Borju mengatakan batu-batu bata merah eks candi Purba ditemukan pada sebuah gundukan tanah yang disebut menapo. Menapo adalah tumpukan batu mata merah yang sudah tertimbun lumpur dan tanah. Para ahli arkeologi membongkar menapo ini dan merekonstruksi ulang bangunan candi berdasarkan temuan batu bata merah tsb. Menapo dinamakan dari sebuah kejadian, ketika sungai Batanghari meluap, maka binatang sejenis kancil yang bernama Napu selalu berusaha mencari tumpukan batu merah ini dan bertahan diatasnya dari banjir sungai Batanghari. Pada waktu banjir, tumpukan-tumpukan batu itu selalu dihuni oleh napu, oleh sebab itu kemudian dinamakan Menapo.
Bangunan terbesar adalah Candi Gumpung. Gumpung artinya terputus atau tidak utuh. Bangunan yang terbentuk dari tumpukan bata merah ini tampak rata dan rapih berbentuk empat persegi. Didepannya pintu masuknya ada sebuah patung Makara. Konon seharusnya patung Makara ini ada 2 buah di kanan dan kiri pintu masuk candi, tetapi satu buah patung Makara diamankan dan disimpan di Museum di Palembang.
Candi seluas kurang lebih 150 x 150 M2 ini memiliki pagar keliling yang berupa dinding setinggi hanya setengah meter. Borju mengatakan sementara para arkeolog menemukan bahwa pagar candi hanya setinggi itu, dan tidak memberi alternatif kemungkinan bahwa pagar itu barangkali lebih tinggi dari yang sekarang tampak di lokasi. Pintu masuknya sedikit menjorok keluar dan ada sebuah tangga naik yang dibatasi oleh tembok bata di kanan-kirinya. Sampai di atasnya ada sebuah ruangan terbuka 2X3 meter. Dan diatasnya hanya sebuah lantai datar yang cukup luas.
Disebelah kiri depan dari Candi Gumpung ini ada sebuah Menapo yang dilindungi bangunan dengan atap sederhana, tanpa dinding. Dengan memperhatikan Menapo ini, pengunjung dapat membayangkan bagaimana para arkeolog merekonstruksi bangunan candi, hanya dari tumpukan bata yang tadinya tampaknya tidak berarti ini. Sungguh suatu kerja keras yang luar biasa dan layak untuk dihargai tinggi.
Candi yang lain yang terpisah dengan jarak sekitar 500an meter adalah Candi Tanah Tinggi 2, di depannya Candi Tanah Tinggi 1, dan sedikit terpisah agak jauh Candi Kembar Batu seluas kurang lebih 80X80 M2 .
Candi Tanah Tinggi 2 mungkin adalah candi yang paling cantik dan artistik. Candi dengan luas lebih kurang 125X200 M ini masih dalam renovasi. Sebuah stupa dibuat dari batu merah tergeletak dibawah tanah, terletak disebelah kanan Candi. Disebelah kirinya tidak ada, barangkali sudah hancur dimakan jaman. Di candi ini penulis sempat naik Sampai ke puncaknya, mencoba melihat kompleks candi ini secara menyeluruh.
Candi Tanah Tinggi 1 terletak di depan Candi Tanah Tinggi 2, lebih kecil, sangat sederhana, dan tidak terbangun utuh. Barangkali “bahan” untuk merekonstruksi tidak cukup banyak ditemukan. Demikian juga Candi kembar Batu yang sedikit terpisah dan terlindung oleh semak belukar, sehingga seakan-akan terpisah, karena tidak terlihat dari 3 kompeks candi sebelumnya.
Setelah selesai berkeliling di 4 candi ini, kami diantar Borju ke Talago Rajo. Sebuah danau kecil yang diperkirakan dibuat untuk mengatur sirkulasi air di sekitar kompleks candi. Dengan adanya Talago Rajo ini, air dapat dikendalikan sepenuhnya dan tidak melimpah membanjiri kompleks candi. Talago Rajo tampak cukup indah, duduk ditepinya memberi kesan dan suasana teduh, sejuk dan menenteramkan hati.
Akhirnya kami masuk ke ruangan display Situs Muaro jambi di ruangan yang sedang direnovasi ini ada beberapa foto dan dokumentasi penjelasan mengenai situs Muaro Jambi dan beberapa sisa peninggalan benda purbakala yang dipamerkan untuk mendukung penjelasan mengenai situs ini.
Beberapa benda perbekalan didalamnya antara lain : Arca Dwarapala (arca penjaga bangunan suci) dari abad ke-13, yang ditemukan April 2002 di Candi Gedong II, sebuah Belanga dari perunggu ditemukan di Candi Kedaton tahun 1994, Padmasana (tempat duduk arca), tiga patung Gajah dari batu, puluhan batu bata kuno, rata-rata berukuran 18×32 cm dengan tebal 6 sentimeter.
Himbau Kepada Pemda
Sayang renovasi ini belum juga diselesaikan. Seharusnya papan penjelasan di setiap candi segera dituliskan tentang data lengkap tentang candi tersebut. Barangkali karena sedang dalam renovasi, papan tersebut masih dalam keadaan dicat hijau dan kosong, tanpa tulisan apa pun! Meskipun demikian seyogyanya masih dapat ditempelkan tulisan atau uraian ringkas tentang situs yang ada didepannya, sementara menunggu renovasi selesai.
Mengingat begitu pentingnya situs ini seyogyanya situs ini dijaga dan disosialisasikan dengan baik ke dunia luar. Di buku daftar tamu tercatat ada 2 orang pengunjung dari Rusia ini menunjukkan bahwa keberadaan situs ini sudah cukup dikenal di luar Indonesia. Perlu penanganan yang lebih serius dalam mengelola situs ini.
Stupa di Candi Tanah Tinggi2
Borju mengatakan pernah ada upaya memadukan antara wisata agro dengan wisata purbakala. Pengunjung dapat membeli durian dan duku yang banyak terdapat di lokasi sambil mengunjungi situs candi ini. Tetapi kesan umum Kompleks Situs Purbakala Candi Muaro Jambi ini sepi dari pengunjung. Barangkali kurang diperkenalkan ke dunia luar? Padahal katanya Situs Purbakala ini sudah dimasukkan sebagai warisan budaya internasional; seperti tertulis di poster di dalam ruang pameran :
Seribu tahun di rimba bukanlah waktu yang lama, meski ratusan tahun sempat terlantar dan merana 1820, saat S.C. Crooke jelajah sumatera sang perwira inggris itu terangi sekitar rimba berangsur tetapi pasti, kejayaan kuno pun mulai terbaca peradaban nan dahsyat untuk Indonesia tercermin dari warisan yang luar biasa dan kini saatnya, Muaro Jambi menuju dunia
http://herulegowo.wordpress.com/2010/03/30/candi-purba-muaro-jambi/
Sabtu pagi, mobil kijang biru meluncur mulus meninggalkan kota Jambi yang dipenuhi poster pemilihan Calon Gubernur 2010-2015, hampir dimana-mana poster besar dari para kandidat yang mencalonkan diri. Kota Jambi mirip sekilas seperti Palembang, tetapi di beberapa tempat wilayah berbukit, sehingga jalan raya naik dan turun, mirip Balikpapan.
Setelah menempuh jarak berjalan 30 km di jalan yang beraspal mulus, kami tiba di lokasi. Sebelum masuk ke lokasi, sebentar kami mampir di tepi Sungai Batanghari di sebuah dermaga penyeberangan sungai. Di lokasi ini Sungai Batanghari yang sedang pasang tampak sangat lebar, mungkin lebih dari 200 meter. Kami parkir di tepi sungai dan perumahan di tepi sungai tampak digenangi air cukup tinggi. Sebuah jalan kampung yang berada tepat di tepi sungai, terendam sampai lebih dari 25 cm.
Sebuah kapal penyeberangan rakyat sedang merapat, baru saja menyeberang dari tepi depan sebelah sana, ke sisi tepi penulis berdiri. Biaya menyeberang per orang Rp. 10 ribu, di atapnya tertulis Asset milik Desa. Seorang ibu setengah baya menjual sayur-mayur di sebuah dermaga pendaratan kapal. Dan di kejauhan di tepi seberang sungai sebuah kapal sedang sandar, memuat crude palm oil yang dihasilkan oleh sebuah pabrik didepannya. Ditepi sungai yang arusnya tampak cukup deras, seorang ibu setengah baya bersama anaknya tampak santai mendayung sampan kecil melaju menyusuri aliran sungai. Sungguh sebuah pagi yang indah dan cerah.
Sebentar kami menikmati keindahan Sungai Batanghari yang sedang meluap. Airnya coklat, dalamnya berkisar 20-30 meter. Ditengahnya tampaknya tenang, hanya saja arus ditepinya tampak cukup kuat. Sungai yang menjadi urat nadi perhubungan dan jalur aktivitas perekonomian jambi sejak jaman dahulu kala.
Kemudian kami meluncur menuju lokasi candi. Di pintu masuk membayar restribusi parkir Rp. 2.000.- per orang. Kami parkir di dekat pos Satpam, dan seorang anak muda mendekati kami memperkenalkan dirinya, Mochtar Hadi panggilan kerennya Borju, seorang pemandu wisata di lokasi ini. Borju kemudian mengantarkan kami mengelilingi kompleks candi dan berceritera panjang lebar.
Kompleks candi ini terletak pada tanggul alam kuno Sungai batanghari sepanjang 7,5 km seluas + 12 Km2 merupakan situs terluas di Indonesia. Ditemukan pertama kalinya pada tahun 1823 oleh seorang Letnan Inggris S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.
Situs Purbakala Muarao Jambi berisi 61 candi yang sebagian besar masih berupa gundukan tanah (menapo). Situs ini diduga dulunya merupakan kompleks percandian agama Hindhu - Budha Mahayana. Kemungkinan besar merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu.
Ada 9 candi yang sudah berhasil direkonstruksi antara lain : Candi Kuto Mahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Telago Rajo, Candi Kembar Batu, dan Candi Astomo. Selain candi besar, juga terdapat beberapa candi kecil yang bertebaran di sepanjang lokasi tersebut.
Candi pertama yang kami datangi adalah Candi Gumpung. Tidak seperti candi di jawa yang terbuat dari batu, candi di kompleks Situs Muaro Jambi semuanya terbuat dari batu bata merah. Berarti pada waktu itu masyarakatnya sudah menguasai teknologi pembuatan batu bata merah yang tampak kuat dan diluarnya mirip seperti keramik. Selain itu tidak ada ruangan dari candi. Mungkin hanya sebuah tempat persembahan karena dari pintu masuknya hanya ada sebuah tangga yang dibatasi dua dinding dan ada sebuah lantai yang datar. Barangkali disinilah semua persembahan diletakkan.
Borju mengatakan batu-batu bata merah eks candi Purba ditemukan pada sebuah gundukan tanah yang disebut menapo. Menapo adalah tumpukan batu mata merah yang sudah tertimbun lumpur dan tanah. Para ahli arkeologi membongkar menapo ini dan merekonstruksi ulang bangunan candi berdasarkan temuan batu bata merah tsb. Menapo dinamakan dari sebuah kejadian, ketika sungai Batanghari meluap, maka binatang sejenis kancil yang bernama Napu selalu berusaha mencari tumpukan batu merah ini dan bertahan diatasnya dari banjir sungai Batanghari. Pada waktu banjir, tumpukan-tumpukan batu itu selalu dihuni oleh napu, oleh sebab itu kemudian dinamakan Menapo.
Bangunan terbesar adalah Candi Gumpung. Gumpung artinya terputus atau tidak utuh. Bangunan yang terbentuk dari tumpukan bata merah ini tampak rata dan rapih berbentuk empat persegi. Didepannya pintu masuknya ada sebuah patung Makara. Konon seharusnya patung Makara ini ada 2 buah di kanan dan kiri pintu masuk candi, tetapi satu buah patung Makara diamankan dan disimpan di Museum di Palembang.
Candi seluas kurang lebih 150 x 150 M2 ini memiliki pagar keliling yang berupa dinding setinggi hanya setengah meter. Borju mengatakan sementara para arkeolog menemukan bahwa pagar candi hanya setinggi itu, dan tidak memberi alternatif kemungkinan bahwa pagar itu barangkali lebih tinggi dari yang sekarang tampak di lokasi. Pintu masuknya sedikit menjorok keluar dan ada sebuah tangga naik yang dibatasi oleh tembok bata di kanan-kirinya. Sampai di atasnya ada sebuah ruangan terbuka 2X3 meter. Dan diatasnya hanya sebuah lantai datar yang cukup luas.
Disebelah kiri depan dari Candi Gumpung ini ada sebuah Menapo yang dilindungi bangunan dengan atap sederhana, tanpa dinding. Dengan memperhatikan Menapo ini, pengunjung dapat membayangkan bagaimana para arkeolog merekonstruksi bangunan candi, hanya dari tumpukan bata yang tadinya tampaknya tidak berarti ini. Sungguh suatu kerja keras yang luar biasa dan layak untuk dihargai tinggi.
Candi yang lain yang terpisah dengan jarak sekitar 500an meter adalah Candi Tanah Tinggi 2, di depannya Candi Tanah Tinggi 1, dan sedikit terpisah agak jauh Candi Kembar Batu seluas kurang lebih 80X80 M2 .
Candi Tanah Tinggi 2 mungkin adalah candi yang paling cantik dan artistik. Candi dengan luas lebih kurang 125X200 M ini masih dalam renovasi. Sebuah stupa dibuat dari batu merah tergeletak dibawah tanah, terletak disebelah kanan Candi. Disebelah kirinya tidak ada, barangkali sudah hancur dimakan jaman. Di candi ini penulis sempat naik Sampai ke puncaknya, mencoba melihat kompleks candi ini secara menyeluruh.
Candi Tanah Tinggi 1 terletak di depan Candi Tanah Tinggi 2, lebih kecil, sangat sederhana, dan tidak terbangun utuh. Barangkali “bahan” untuk merekonstruksi tidak cukup banyak ditemukan. Demikian juga Candi kembar Batu yang sedikit terpisah dan terlindung oleh semak belukar, sehingga seakan-akan terpisah, karena tidak terlihat dari 3 kompeks candi sebelumnya.
Setelah selesai berkeliling di 4 candi ini, kami diantar Borju ke Talago Rajo. Sebuah danau kecil yang diperkirakan dibuat untuk mengatur sirkulasi air di sekitar kompleks candi. Dengan adanya Talago Rajo ini, air dapat dikendalikan sepenuhnya dan tidak melimpah membanjiri kompleks candi. Talago Rajo tampak cukup indah, duduk ditepinya memberi kesan dan suasana teduh, sejuk dan menenteramkan hati.
Akhirnya kami masuk ke ruangan display Situs Muaro jambi di ruangan yang sedang direnovasi ini ada beberapa foto dan dokumentasi penjelasan mengenai situs Muaro Jambi dan beberapa sisa peninggalan benda purbakala yang dipamerkan untuk mendukung penjelasan mengenai situs ini.
Beberapa benda perbekalan didalamnya antara lain : Arca Dwarapala (arca penjaga bangunan suci) dari abad ke-13, yang ditemukan April 2002 di Candi Gedong II, sebuah Belanga dari perunggu ditemukan di Candi Kedaton tahun 1994, Padmasana (tempat duduk arca), tiga patung Gajah dari batu, puluhan batu bata kuno, rata-rata berukuran 18×32 cm dengan tebal 6 sentimeter.
Himbau Kepada Pemda
Sayang renovasi ini belum juga diselesaikan. Seharusnya papan penjelasan di setiap candi segera dituliskan tentang data lengkap tentang candi tersebut. Barangkali karena sedang dalam renovasi, papan tersebut masih dalam keadaan dicat hijau dan kosong, tanpa tulisan apa pun! Meskipun demikian seyogyanya masih dapat ditempelkan tulisan atau uraian ringkas tentang situs yang ada didepannya, sementara menunggu renovasi selesai.
Mengingat begitu pentingnya situs ini seyogyanya situs ini dijaga dan disosialisasikan dengan baik ke dunia luar. Di buku daftar tamu tercatat ada 2 orang pengunjung dari Rusia ini menunjukkan bahwa keberadaan situs ini sudah cukup dikenal di luar Indonesia. Perlu penanganan yang lebih serius dalam mengelola situs ini.
Stupa di Candi Tanah Tinggi2
Borju mengatakan pernah ada upaya memadukan antara wisata agro dengan wisata purbakala. Pengunjung dapat membeli durian dan duku yang banyak terdapat di lokasi sambil mengunjungi situs candi ini. Tetapi kesan umum Kompleks Situs Purbakala Candi Muaro Jambi ini sepi dari pengunjung. Barangkali kurang diperkenalkan ke dunia luar? Padahal katanya Situs Purbakala ini sudah dimasukkan sebagai warisan budaya internasional; seperti tertulis di poster di dalam ruang pameran :
Seribu tahun di rimba bukanlah waktu yang lama, meski ratusan tahun sempat terlantar dan merana 1820, saat S.C. Crooke jelajah sumatera sang perwira inggris itu terangi sekitar rimba berangsur tetapi pasti, kejayaan kuno pun mulai terbaca peradaban nan dahsyat untuk Indonesia tercermin dari warisan yang luar biasa dan kini saatnya, Muaro Jambi menuju dunia
http://herulegowo.wordpress.com/2010/03/30/candi-purba-muaro-jambi/
Langganan:
Postingan (Atom)

