Tampilkan postingan dengan label Littang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Littang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2013

Kontroversi Surat Edaran Bimas Agama Buddha

JAMBI - Rencana Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) pusat akan melantik pengurus Matakin Provinsi Jambi dan Kota Jambi malam ini di Hotel Novita Jambi.
Sehari sebelum pelantikan tanggal 10 Januari 2013 beredar surat Bimas Agama Buddha bernomor Kw.05.10/BA.4/218/2013 tentang melarang TITD menghadiri upacara pelantikan Matakin Provinsi Jambi.

Dengan beredarnya surat Bimas Agama Buddha di tengah-tengah masyarakat, maka timbulkan tanda tanya dasar apa Bimas Agama Buddha melarang orang menghadiri pelantikan pengurus Matakin Jambi dan TITD itu atas nama agama apa,? Apa ada agama TITD.? Karena surat tersebut mengunakan Kop Surat Kementerian Agama Provinsi Jambi lengkap dengan stempel.

Menurut Darman Wijaya selaku ketua Matakin Provinsi Jambi, ini sangat lucu dan heran, kok Bimas Agama Buddha melarang orang hadir (TITD), pada hal Kemenag Provinsi Jambi selaku pembina agama di Provinsi Jambi tidak seyogyanya melarang, “Yang kita undang semua unsur agama, seperti dari Wakil Gubernur Jambi, Ketua DPRD Jambi, Korem 042/Gapu, Kapolda Jambi, Kanwil Kemenag Provinsi Jambi, Walikota Jambi Muhammadya, NU, Ansor, Khatolik, Kristen, Buddha dan Hindu,” tambah Darman Wijaya, “Matakin kan tidak menyuruh oang yang datang masuk agama Khonghucu.”

Atas beredarnya surat Bimas Agama Buddha tersebut, secara tidak langsung sebagai penodaan terhadap agama yang di akui pemerinta. (Romy)

Senin, 31 Desember 2012

Umat Khonghucu Sembahyang Syukuran Agar Jambi Tetap Aman

JAMBI - Ratusan Umat Khonghucu Jambi merayakan pergantian tahun dengan sembahyang di Kelenteng Siu San Teng, Kampung Manggis, Selasa (1/1-2013).
Alunan genderang diikuti bunyi-bunyian dari kenong dan simbal kecil mengiringi umat mengawali tahun baru 2013 Masehi, dengan ucapan doa syukur kepada Tuhan yang maha esa (tie kong), ratusan umat Khonghucu silih berganti doa untuk keberhasilan di tahun yang baru dilalui dan harapan lebih baik di tahun 2013.

Aroma Hio (gaharu) yang harum tergenggam di jari mereka serta berbagai jenis makanan tertata rapi di meja besar di tengah ruangan yang didominasi warna merah ditunjang empat pilar besar dilingkari oleh sang naga emas.

Ucapan syukur kepada Tuhan yang maha esa mengawali sembahyang mereka, selanjutnya umat masuk ke dalam kelenteng dan memberikan penghormatan kepada Hok Tek Chen Sen (yang dikenal dengan panggilan Dewa Bumi). Prosesi upacara dipimpin oleh rohaniwan dari majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi, The Lien Teng dalam bahasa Hokian.

Lie Tiong Lam, seorang sesepuh di Kelenteng Siu San Teng, mengatakan sembahyang kali ini adalah untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah memberikan karunia kesehatan, rezeki dan juga Jambi tetap aman walaupun beberapa daerah lain di Indonesia rusuh dan juga banyak dilanda bencana. "Kita bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan selama tahun 2013," ujar Tiong Lam.

Menurutnya, rohaniawan The Lien Teng, sembahyang ini juga bertujuan untuk memohon kepada Tuhan dan dewa- dewa agar tahun 2013 ini Jambi diberikan keamanan dan terhindar dari berbagai macam kerusuhan maupun bencana, dan juga diberikan kemakmuran kepada seluruh masyarakatnya Jambi.

Sebagaimana diketahui disetiap awal tahun baru, bagi masyarakat Tionghoa yang khusus pemeluk agama Khonghucu senantiasa mengunjungi tempat-tempat ibadah kelenteng untuk melakukan sembahyang, umat Khonghucu terdiri dari yang tua sampai yang muda dengan kusuk berdoa dihadapan altar Tian (Tuhan YME), selain itu mereka juga puji dan syukur kepada Sang Pencipta Alam Semesta beserta para sen ming (roh suci).

Maka tidak heran apabila sejak pukul 07.00 umat Khonghucu telah mendatangi klenteng Siu San Teng. Sia Kang merupakan salah satu tradisi yang setiap tahun diperingati oleh masyarakat yang beragama Khunghucu di awal tahun, tujuan Sia Kang adalah untuk menyampaikan ungkapan syukur dan terima kasih atas segala berkah yang diberikan Tian (Tuhan YME) kepada mereka.

Inti dari pembacaan So Bun dan Cie Bun adalah memohon izin dari Tuhan Yang Maha Esa untuk melakukan prosesi upacara Sia Kang, dan memohon perlindungan dari sang pencipta alam semesta, selain itu mengundang kehadiran dewa-dewi seperti Sam Kwan Tai Te yang terdiri dari dewa Siong Gwan Tien Kwan (dewa penguasa langit), Yiong Kwan Tue Kwa (dewa penguasa bumi) dan Ha Huan Cui Kwa (dewa penguasa air/laut) serta memohon agar dewa-dewi melindungi bangsa dan negara berikut segala isinya, serta memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, murah rejeki, jauhkan segala malapetaka dan lain sebagainya.

Sedangkan, diatas altar terdapat berbagai sesajian inti seperti 10 jenis ceng cai (sayuran kering), buah-buahan, cien up (permen), tie kue (kue kerancang), ang kue (kue merah) berisi kacang hujau, mie basah, bihun, ikan, ayam, bebek, selain itu terdapat sesajen lainnya seperti hasil bumi diantaranya kopi, teh, gula pasir dan lain sebagainya juga terdapat sesajen dari hasil air seperi limun, air mineral, arak putih, bir putih, terus kim cua (kertas sembahyang), lilin merah dan hio (garu). Seusai pembacaan So Bun atau Cie Bun panitia membakarkan kim cua (kertas sembahyang). (Romy)

Kamis, 29 November 2012

Sekolah Diminta Akomodasi Pendidikan Agama Khonghucu

SURABAYA, KABARWARTA - Lebih dari satu dasawarsa Agama Khonghucu diakui di Indonesia, sejak Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi orang nomor satu, dan ia mencabut PP Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang kegiatan warga Tionghoa. Namun, hingga kini banyak hak-hak sipil warga Khonghucu yang terabaikan. Salah satunya adalah hak pendidikan Agama Khonghucu bagi siswa-siswi beragama Khonghucu.
Hak pendidikan Agama Khonghucu sebenarnya tertuang di dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003. Di situ disebutkan, peserta didik  wajib mendapatkan pelajaran agama dari guru yang seagama. Karena itulah, sekolah wajib menyedikan guru yang seagama.

Sekolah pun diharapkan bisa menerima dan mengakomodasi amanat undang-undang tersebut. “Baru sejak tahun 2011 ini hak pendidikan warga Khonghucu mulai kelihatan terakomodasi di beberapa sekolah. Tentunya belum maksimal di lapangan,” kata Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (matakin) bidang organisasi Pradayana Ongko Wijaya, di sela-sela pelatihan guru Agama Khonghucu yang diselenggarakan Kemenag RI di Surabaya, kemarin.

Saat ini, lanjut dia, sudah ada beberapa sekolah yang mulai memberikan pelajaran agama Khonghucu kepada anak didik beragama Khonghucu. Di Jawa Timur, baru Surabaya yang sebagian kecil sekolah mengakomodasi itu. Atas alasan itu, pelatihan guru agama Khonghucu kemarin diadakan. “Diklat ini tidak hanya dari guru Khonghucu di Jatim, tapi juga guru dari luar Jawa,” ucapnya.

Kepala Pusat Kerukunan Umat Bergama (PKUB) Kemenag RI, Ahmad Gunaryo, mengatakan, pelaksanaan pelatihan ini dilakukan secara meraton di seluruh Indonesia. Sebelum di Jawa Timur, sebelumnya pelatihan yang sama digelar di beberapa daerah, termsuk di Bangka Belitung.

Untuk kepentingan itu pula, dia mengaku telah mengusulkan pendirian sekolah tingggi agama Khonghucu. “Pelatihan ini dalam rangka memenuhi amanat undang-undang pendidikan  nasional, yang mengatakan bahwa setiap peserta didik itu harus mendapatkan pendidikan agama yang harus diberikan oleh guru yang seagama,” kata Gunaryo setelah memberikan sambutan dihadapan peserta pelatihan.(s)

http://www.portalhukum.com/berita-1493-sekolah-diminta-akomodasi-pendidikan-agama-khonghucu.html

Minggu, 04 November 2012

Kala Para Dewa Bertemu di Petak Sembilan

KOMPAS.com - Sembilan puluh dewa berkumpul di Petak Sembilan, Jakarta. Mereka lalu diarak sepanjang jalan raya. Inilah tradisi lama etnis Tionghoa yang dihidupkan kembali dalam konteks Indonesia hari ini.
Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada, Jakarta, menjadi lautan manusia, Minggu (21/10/2012). Ribuan orang bersukacita mengarak para dewa yang turun dari berbagai penjuru Indonesia disertai tarian barongsai dan ular naga. Inilah kirab ritual yang digelar Kelenteng Fat Cu Kung untuk merayakan ulang tahun (sejit) dewa tolak bala, Fat Cu Kung.

Acara sejit disertai arak-arakan dewa seperti ini belakangan marak di sejumlah daerah. Eddy Loho (58), pemimpin spiritual Kelenteng Tay Seng, Kota Manado, Sulawesi Utara, mengatakan, sepanjang tahun 2011-2012, dia telah menghadiri 15 kirab di sejumlah daerah, mulai Gorontalo, Makassar, Bojonegoro, Nganjuk, Surabaya, Lasem (Rembang), sampai Jakarta. Saking banyaknya undangan kirab, Loho dan rombongan belum sempat pulang ke Manado sejak 3 Oktober lalu.

"Kami bergerak dari satu kelenteng ke kelenteng lain untuk ikut sejit dan kirab. Setelah hadir di kirab Fat Cu Kung, (kami) baru bisa pulang ke Manado," ujar Loho yang rombongannya terdiri atas 40 orang.

Lima tahun terakhir, kelenteng-kelenteng di Indonesia seolah berlomba untuk mengadakan kirab. ”Bisa dikatakan tahun ini terjadi ledakan sejit yang disertai kirab ritual,” kata Suhendar dari Kelenteng Tjo Soe Kong, Tanjung Kait, Banten.

Kelenteng Tjo Soe Kong akan menggelar sejit dan kirab ritual pada akhir Desember nanti. "Ini adalah kirab pertama yang pernah kami gelar. Kami mengundang 200-an kelenteng di seluruh Indonesia," ujar Suhendar yang dipercaya sebagai ketua panitia.

Selasa (30/10/2012), persiapan acara besar itu telah dilakukan. Kelenteng bertahun 1959 yang terletak sekitar 200 meter dari laut di Teluk Jakarta itu bersolek sebelum menyambut kedatangan ribuan tamu. Kelenteng dipoles, dicat, dan dirapikan.

Korban stigma

Selama Orde Baru berkuasa, komunitas etnis Tionghoa dilarang mengekspresikan kebudayaan mereka. ”Jangankan bikin kirab, pasang hio di depan rumah saja dilarang,” ujar Tjia Boen Kiat, pemimpin Kelenteng Fat Cu Kung.

JJ Rizal dari Komunitas Bambu mengatakan, Orde Baru melakukan politik eksorsisme, yakni membangun stigma buruk tentang ekspresi keagamaan dan tradisi etnis Tionghoa. ”Secara sistematis membangun stigma bahwa segala sesuatu tentang China itu jahat dan tidak membaur. Faktanya di Nusantara budaya China berakulturasi secara luar biasa,” kata Rizal.

Setelah Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melepas kekangan itu, etnis Tionghoa pun bebas mengekspresikan tradisi dan kebudayaan mereka, termasuk menggelar kirab budaya. Dengan kirab, kata Loho, kelenteng menjadi semarak. ”Dewa-dewa yang selama bertahun-tahun dibiarkan ’tidur’ di kelenteng dibangunkan kembali,” ujar Loho.

Kirab juga menjadi cara efektif untuk menyedot umat. Kelenteng yang sering menggelar kirab akan populer dan umatnya bertambah. Loho mencontohkan, ada sebuah kelenteng di Nganjuk, Jawa Timur, yang umatnya hanya 15 orang. Setelah menggelar kirab, umat mereka bertambah menjadi 100 orang.

Usaha ini pula yang sedang ditempuh Suhendar. Dia mengatakan, sejak tahun 1990-an sampai pertengahan 2000, popularitas Kelenteng Tjo Soe Kong sempat tenggelam.

”Lewat acara kirab, kami ingin membangkitkan lagi masa-masa kejayaan kelenteng yang pernah menjadi salah satu kelenteng terbesar di Banten,” katanya.

Suhendar menambahkan, kelenteng-kelenteng kecil yang bangunannya masih mengontrak pun berani menggelar kirab untuk tujuan serupa. ”Kalau kelenteng populer, umat yang datang pasti banyak dan sumbangan yang masuk ke kelenteng pasti bertambah dan bisa menggelar acara-acara. Ini sudah jadi tren,” kata Suhendar.

Meski begitu, tegas Suhendar, kirab tidak bisa sembarangan digelar. Mereka harus sembahyang dulu kepada dewa. ”Jika dewanya mau diulangtahuni dan dikirab, kami jalankan. Kalau dewa tidak mau dikirab, ya enggak bisa,” katanya.

Peziarah

Seiring maraknya kirab, bermunculan pula komunitas umat kelenteng yang rajin menghadiri acara kirab dewa di sejumlah kota. Di antara mereka adalah Iing (53) asal Cirebon, Jawa Barat. Setahun terakhir, Iing dan keluarga setidaknya menghadiri enam acara kirab di Tegal, Semarang, Tuban, Cilacap, dan Madura. ”Pokoknya kalau ada dana, kami berangkat pakai bus,” kata Iing.

Iing hadir di acara kirab Dewa Fat Cu Kung di Petak Sembilan bersama dua anaknya dan puluhan umat Kelenteng Welas Asih, Cirebon. Setelah mengikuti kirab, Iing dan rombongan berniat belanja pakaian di Tanah Abang, Jakarta.

Yuli (63) asal Kalideres juga rajin mengikuti kirab hingga keluar wilayah Jakarta. Tujuannya satu, mengalap berkah dari para dewa yang hadir. ”Mumpung banyak dewa berkumpul di acara sejit dan kirab, saya meminta berkah. Bayangkan, kalau bukan di acara seperti ini, saya harus keliling ke banyak kelenteng untuk bertemu dewa yang berbeda-beda,” katanya.

Setiap kelenteng biasanya memang memiliki dewa yang berbeda-beda, seperti dewa pelindung, tolak bala, penyembuh, pemberi keberuntungan, dan pemberi rezeki. Bahkan, beberapa kelenteng memiliki dewa lokal yang barangkali tidak ada di kelenteng mana pun di Indonesia atau dunia. Di Kelenteng Tjo Soe Kong, misalnya, ada Dewa Mbah Rahman dan Dewi Neng. Mereka adalah dua tokoh lokal yang dinilai telah memiliki karma baik kepada masyarakat sehingga pantas didewakan.

Pada akhirnya, menurut Rizal, kirab ritual adalah bagian dari ekspresi budaya etnis Tionghoa. ”Tradisi semacam ini ibarat lorong waktu yang membuat orang atau sebuah komunitas ada,” katanya.

Itulah yang dirasakan Rudi (25). Sebagai peranakan Tionghoa, dia tidak mengenal budaya dan tradisi etnis Tionghoa. ”Kirab dewa baru saya alami sekarang. Dulu paling dengar ceritanya doang dari orang-orang tua,” ujar Rudi, generasi peranakan Tionghoa yang tidak lagi mengenal nama lahir China.

Hal yang sama dirasakan Yuli (63). Waktu kecil dia sering diajak ikut kirab oleh orangtua. Setelah Soeharto berkuasa, tradisi kirab dewa tidak lagi dia alami. ”Kirab hampir terhapus dalam ingatan saya. Untung sekarang boleh diadakan lagi.”

Bagi Rizal, pengungkapan ekspresi tradisi budaya berbagai etnik di Nusantara pada akhirnya akan memperkuat keindonesiaan kita. ”Setiap orang Indonesia bisa saling belajar tentang akar budaya yang lain, belajar tentang orang yang hidup (berdampingan) bersama kita,” katanya.(Budi Suwarna & Aryo Wisanggeni)

http://oase.kompas.com/read/2012/11/04/07590628/

"Tang Shen", Medium Para Dewa

KOMPAS.com - Minggu (21/10/2012) menjelang petang, Teddy Onibala kembali ke alam sadar. Ia meneguk air mineral dan tersenyum menerima jabat tangan banyak orang. Minggu siang, lidahnya tersayat-sayat pedang di tangannya sendiri, darahnya mengucur menjadi tinta yang dipakainya untuk hu (kertas doa berwarna kuning), punggungnya pun luka oleh tebasan pedang. Pedangnya sendiri....
"Lukanya masih membekas sedikit, tetapi memang tak terasa sakit," ujar Onibala, sang tang shen (orang yang menyediakan tubuhnya menjadi perantara dewa) dari Kelenteng Tay Seng Bio, Manado, Sulawesi Utara. "Sungguh, saya tadi tidak tahu apa saja yang terjadi," ujarnya serius.

Pipi Santje, tang shen lain dari Tay Seng Bio yang pada Minggu siang dikoyak-koyak kawat baja yang keluar-masuk wajahnya juga tersenyum saja ditanyai soal ritual tang shen yang dijalaninya. Seperti Onibala, wajahnya sumringah tanpa sedikit pun noda luka, hanya keringat yang terus mengucur. Meski memukau banyak orang, tak ada kesan jumawa dari mereka.

Menjadi tang shen memang bukan pekerjaan seorang jumawa. Onibala dan Santje justru harus prihatin untuk menyiapkan tubuh mereka disinggahi dewa demi mengangkat karma buruk manusia dan semesta.

"Kami berpantang selama 49 hari, berdiam di kamar, hanya membaca kitab-kitab dan merenung. Makan, kopi, juga rokok, diantarkan ke bilik kami di kelenteng. Jadi selama menyiapkan diri kami tak pulang ke rumah," kata Onibala.

Eddy Loho, pemimpin Kelenteng Tay Seng, menuturkan kerelaan untuk mengasingkan diri dan menjalani pantangan itu penting untuk membersihkan diri para tang shen.
"Menjauhi hal-hal yang bersifat keduniaan, termasuk berhubungan badan dengan istri, bahkan pulang ke rumah, harus dilakukan agar pikiran para tang shen jernih. Menjadi medium pengorbanan para dewa bukan hal yang ringan, dan tang shen bukan atraksi gagah-gagahan," kata Loho.

Tak semua orang bisa begitu saja menjadi tang shen. "Menjadi tang shen harus sepersetujuan para dewa. Jika tidak, tidak akan berhasil. Hanya mereka yang terpilih yang mampu menjalaninya," kata Loho meyakinkan.

Onibala, misalnya, tidak pernah menduga dirinya bisa menjadi tang shen Kelenteng Tay Seng Bio. "Orangtua saya bukan seorang tang shen, tetapi saya terpilih menjadi tang shen. Ternyata, dalam garis keturunan saya memang ada seorang kakek yang menjadi tang shen. Namun, siapa yang terpilih menjadi tang shen memang tak bisa diduga,” kata Onibala.

Dahulu, tang shen merupakan ritual dan tradisi yang umum muncul dalam berbagai perayaan keagamaan maupun tradisi peranakan Tionghoa. Dulu hampir setiap kelenteng memiliki tang shen. Namun, pelarangan tradisi dan ritual keagamaan peranakan Tionghoa selama 32 tahun rezim Orde Baru berkuasa membuat tradisi itu terkikis.

"Kami di Manado beruntung karena selama Orde Baru situasi keamanan di Manado memungkinkan kami terus merayakan berbagai peristiwa keagamaan ataupun tradisi peranakan Tionghoa di Manado," ujar Loho. (ROW/BSW)

http://oase.kompas.com/read/2012/11/04/11141966/

Jumat, 02 November 2012

Silaturahmi Antar Pengurus Kelenteng Jambi dan Palembang


JAMBI - Untuk menyambung tali silaturahmi antar perkumpulan Kelenteng yang tergabung dalam Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Provinsi Jambi dan Matakin Kota Jambi berkunjung ke Kelenteng Hok Liong Tong, di Jalan Sriwijaya Negara, No. 1771, Rt. 23, Rw. 08, Bukit Besar, Palembang (Sumsel).
Kunjungan ini dipimpin oleh Wakil Ketua Matakin Provinsi Jambi, Alex Sujanto dan didampingi oleh beberapa fungsional dari Matakin Provinsi Jambi dan Kota, diantaranya Wakil Ketua Bidang Sosial dan Humas, Berlianta Eliamsya (Lie Tjin Hai), Ketua Bidang Rohaniawan, The Lien Teng, Wakil Ketua Matakin Kota Jambi, Huwanda Desswandhy, Wakil Sekretaris, Handoko Thetro, serta ketua perkumpulan Ankhui Jambi, Tan Ka Sui (Kasuri) ikut dalam rombongan Matakin Jambi.

Tujuan Matakin Provinsi Jambi ke Palembang adalah sembahyang dan silaturahmi dengan pengurus Kelenteng Hok Liong Tong. Kehadiran pengurus Matakin Jambi di Palembang telah ditunggu oleh pengurus Hok Liong Tong sejak pukul 10.00 pagi.

Selain tujuan sembahyang di Hok Liong Tong, rombongan Matakin Jambi juga mensosialisakan keberadaan agama Khonghucu yang resmi menjadi salah satu agama di Indonesia, keberadaan Kelenteng adalah tempat ibadah umat Khonghucu, juga sebagai tempat pendidikan keagamaan (Peraturan Pemerintah Repubrik Indonesia, Nomor 55 Tahun 2007, tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan).

Ujar, Wakil Ketua Matakin Jambi, Alex Sujanto, “Tujuan rombongan Matakin Jambi ke Palembang (sumsel) selain sembahyang, kita juga mensosialisasikan keberadaan agama Khonghucu di Kelenteng Hok Liong Tong.” (Romy)