SOLO, ayojambi.com – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo S.H, dan Walokota Solo F.X. Hadi Rudyatmo, Rabu (17/12) malam, menghadiri acara Pembukaan Musyawarah Nasional XVII Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) di Hotel Syariah Jalan Adisucipto Solo [Lihat Foto: Munas Matakin]. Keberadaan Matakin di Indonesia sudah ada sejak 16 April 1955.
Tampilkan postingan dengan label miou. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label miou. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 Desember 2014
Sabtu, 22 November 2014
Sam Tai Kong Tetapkan Posisi Kim Tan & Gapura Kelenteng Len Chun Keng Jambi
JAMBI, ayojambi.com – Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kelenteng Leng Chun Keng 印尼占碑龍春宮孔教會siang kemarin melakukan ritual mencari feng shui pembuatan Kim Tan (Pagoda) dan Gapura, didalam ilmu topografi kuno dahulu, feng shui berarti mempercayai bagaimana manusia, Surga dan Bumi, hidup dalam harmoni untuk membantu memperbaiki kehidupan dengan menerima Qi positif [Lihat foto: Tek Tue/ Menetapkan Tanah Membangun Kim Tan].
Bagi sebagian kalangan, feng shui yang tepat dipercaya dapat memberikan nasib baik dan pembawa rejeki, itulah sebabnya kenapa dalam setiap pembangunan rumah atau gedung baru orang selalu menggunakan feng shui sebagai alat untuk menentukan letak terbaik dari sebuah bangunan.
Seperti di Jambi misalnya, pengurus kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Leng Chun Keng yang terletak di kawasan Jalan Koni 1, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, menggelar ritual memanggil roh shen ming (dewa) untuk membantu menentukan feng shui kim tan dan gapura (Tek Tue). Namun proses mencari feng shui dengan bantuan roh shen ming (dewa) tersebut teryata tidaklah semudah yang dibayangkan banyak orang.
Ritual diawali, kim sin Sam Tai Kong dipasang di singgasananya (bahasa hokkien Kio/kursi tandu), selanjutnya, para pengurus kelenteng mengundang roh suci Sam Tai Kong, tidak ketinggalan beberapa sesajian diantaranya dupa (hio), buah2an segar, kertas sembayang (kim cua) dan beberapa sesajen pelengkap. Kedatangan Sam Tai Kong bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan bisa dilakukan beberapa kali. Jika roh suci Sam Tai Kong telah datang, maka kursi tandu (kio) yang dipikul dua orang akan bergerak sendiri. Konon, digerakkan oleh Sam Tai Kong.
Sejak pukul 15.00 WIB roh shen ming (dewa) yang di undang tidak kunjung berkenan memberikan petunjuk dimana letak posisi yang tepat untuk pembangunan Kim Tan (Pagoda tempat pembakaran kertas sembahyang) dan Gapura.
Sebelum ritual digelar, terlebih dahulu kin sin (patung) shen ming (dewa) diletakkan diatas tandu. Kim sin shin beng (dewa) Un Cu Sam Tai (Sam Tai Kong) yang di undang dari Kelenteng Makin Gi Hong Tong. Doa dipanjatkan, musik dihidupkan dan pemanggilan dimulai. Menunggu hanpir satu jam, barulah roh shen ming (dewa) benar-benar rasuk kedalam kim sin (patung). Ini ditandai dengan tandu yang bergerak gerak sendiri, bahkan dua orang yang bertugas memegang tandupun mengalami kesulitan. Mereka harus berlari dan bergerak mengikuti gerakan tandu yang semakin kencang.
Menurut pengalaman dari beberapa pengurus Kelenteng, biasanya ritual pencarian feng shui ini bisa dilaksanakan lebih dari tiga kali. Bahkan hingga satu minggu berturut turut. “Ini agar pengurus benar benar mengetahui semua hal yang dikehendaki oleh para roh shen ming (dewa) secara detail agar tidak terjadi kesalahan dalam pembangunan,” jelasnnya. (Romy)
Seperti di Jambi misalnya, pengurus kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Leng Chun Keng yang terletak di kawasan Jalan Koni 1, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, menggelar ritual memanggil roh shen ming (dewa) untuk membantu menentukan feng shui kim tan dan gapura (Tek Tue). Namun proses mencari feng shui dengan bantuan roh shen ming (dewa) tersebut teryata tidaklah semudah yang dibayangkan banyak orang.
Ritual diawali, kim sin Sam Tai Kong dipasang di singgasananya (bahasa hokkien Kio/kursi tandu), selanjutnya, para pengurus kelenteng mengundang roh suci Sam Tai Kong, tidak ketinggalan beberapa sesajian diantaranya dupa (hio), buah2an segar, kertas sembayang (kim cua) dan beberapa sesajen pelengkap. Kedatangan Sam Tai Kong bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan bisa dilakukan beberapa kali. Jika roh suci Sam Tai Kong telah datang, maka kursi tandu (kio) yang dipikul dua orang akan bergerak sendiri. Konon, digerakkan oleh Sam Tai Kong.
Sejak pukul 15.00 WIB roh shen ming (dewa) yang di undang tidak kunjung berkenan memberikan petunjuk dimana letak posisi yang tepat untuk pembangunan Kim Tan (Pagoda tempat pembakaran kertas sembahyang) dan Gapura.
Sebelum ritual digelar, terlebih dahulu kin sin (patung) shen ming (dewa) diletakkan diatas tandu. Kim sin shin beng (dewa) Un Cu Sam Tai (Sam Tai Kong) yang di undang dari Kelenteng Makin Gi Hong Tong. Doa dipanjatkan, musik dihidupkan dan pemanggilan dimulai. Menunggu hanpir satu jam, barulah roh shen ming (dewa) benar-benar rasuk kedalam kim sin (patung). Ini ditandai dengan tandu yang bergerak gerak sendiri, bahkan dua orang yang bertugas memegang tandupun mengalami kesulitan. Mereka harus berlari dan bergerak mengikuti gerakan tandu yang semakin kencang.
Menurut pengalaman dari beberapa pengurus Kelenteng, biasanya ritual pencarian feng shui ini bisa dilaksanakan lebih dari tiga kali. Bahkan hingga satu minggu berturut turut. “Ini agar pengurus benar benar mengetahui semua hal yang dikehendaki oleh para roh shen ming (dewa) secara detail agar tidak terjadi kesalahan dalam pembangunan,” jelasnnya. (Romy)
* www.ayojambi.com/
Jumat, 07 Juni 2013
Matakin Harus Independen Dalam Pilwako Kota Jambi 2013
JAMBI,ayojambi.com - Suasana pemilihan Walikota Jambi semakin hangat, pertarungan melalui reklame, spanduk maupun melalui berbagai media semakin semarak. Segala janji perubahan untuk merubah nasib masyarakat Jambi lima tahun kedepanpun dilontarkan.
Meski cawako telah memiliki dukungan dari beberapa partai politik (Parpol), mereka masih terus menjalin komunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat untuk menduduki posisi Walikota Jambi pada Pilwako Jambi yang dilaksanakan pada 29 Juni 2013.
Para kandidatpun mulai menebarkan pesona, sembari mengumbar janji-janji yang sangat indah. Isu berobat murah, pendidikan gratis, anti korupsi, mewujudkan supremasi hukum dan setumpuk janji manis, semanis madu yang diuraikan para tim sukses, bahkan segala cara mendatangkan tokoh-tokoh masyarakat maupun alim ulama dengan cara jebakan.
Yang jadi pertanyaannya, benarkah dalam pilwako secara langsung dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat,?
Bukan rahasia umum lagi, untuk bisa bertarung, para kandidat harus memiliki dukungan dari partai politik (parpol), atau biasa disebut dengan istilah perahu. Untuk mendapatkan perahu ini saja, kandidat harus mengeluarkan uang hingga miliaran rupiah. Para kandidat diperkirakan harus menyiapkan dana minimal Rp 30 miliar. Lalu jika mereka menang, apakah benar-benar akan menepati janji-janjinya.? Atau berusaha untuk mengembalikan modal yang telah dihabiskan selama masa mensosialisasikan diri sampai hari pemungutan suara.
Maka para kandidat dan tim suksesnya melakukan upaya untuk mengalang suara melalui berbagai tempat, seperti tempat-tempat ibadah, pada hal kita mengetahui, tempat ibadah dilarang untuk melakukan kegiatan yang bersifat politik praktis. Keputusan itu tertuang dalam keputusan KPU Kota Jambi Nomor : 07/076/KPU-Kota-005.435384/2013. http://kpu-jambikota.go.id/node/128
Sedangkan menurut Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Pusat, Ws, Wawan Wiratma, Khonghucu yang dibawah naungan Matakin dilarang untuk ikut berpolitik dan Matakin harus bersifat Independen. Ini untuk menghindari persepsi negatif, bahwa Matakin mendukung kandidat tertentu. Berdasarkan Anggaran Dasar (AD) Matakin Pusat BAB XIV, Pasal 21, tentang Hubungan Dengan Organisasi Lain, ayat 21.2 Majelis bersifat independen dan tidak berafiliasi dengan/ atau kepada organisasi sosial politik manapun, baik di dalam maupun di luar negeri.
Dalam peraturan AD/ART Matakin tentang sudah ada ketentuan larangan terlibat dalam politik praktis, jika umat Khonghucu secara pribadi ingin mendukung itu urusan mereka, namun tidak melibatkan nama Khonghucu/ Matakin didalamnya. Ujar Wawan Wiratma (RM/sumber net)
Para kandidatpun mulai menebarkan pesona, sembari mengumbar janji-janji yang sangat indah. Isu berobat murah, pendidikan gratis, anti korupsi, mewujudkan supremasi hukum dan setumpuk janji manis, semanis madu yang diuraikan para tim sukses, bahkan segala cara mendatangkan tokoh-tokoh masyarakat maupun alim ulama dengan cara jebakan.
Yang jadi pertanyaannya, benarkah dalam pilwako secara langsung dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat,?
Bukan rahasia umum lagi, untuk bisa bertarung, para kandidat harus memiliki dukungan dari partai politik (parpol), atau biasa disebut dengan istilah perahu. Untuk mendapatkan perahu ini saja, kandidat harus mengeluarkan uang hingga miliaran rupiah. Para kandidat diperkirakan harus menyiapkan dana minimal Rp 30 miliar. Lalu jika mereka menang, apakah benar-benar akan menepati janji-janjinya.? Atau berusaha untuk mengembalikan modal yang telah dihabiskan selama masa mensosialisasikan diri sampai hari pemungutan suara.
Maka para kandidat dan tim suksesnya melakukan upaya untuk mengalang suara melalui berbagai tempat, seperti tempat-tempat ibadah, pada hal kita mengetahui, tempat ibadah dilarang untuk melakukan kegiatan yang bersifat politik praktis. Keputusan itu tertuang dalam keputusan KPU Kota Jambi Nomor : 07/076/KPU-Kota-005.435384/2013. http://kpu-jambikota.go.id/node/128
Sedangkan menurut Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Pusat, Ws, Wawan Wiratma, Khonghucu yang dibawah naungan Matakin dilarang untuk ikut berpolitik dan Matakin harus bersifat Independen. Ini untuk menghindari persepsi negatif, bahwa Matakin mendukung kandidat tertentu. Berdasarkan Anggaran Dasar (AD) Matakin Pusat BAB XIV, Pasal 21, tentang Hubungan Dengan Organisasi Lain, ayat 21.2 Majelis bersifat independen dan tidak berafiliasi dengan/ atau kepada organisasi sosial politik manapun, baik di dalam maupun di luar negeri.
Dalam peraturan AD/ART Matakin tentang sudah ada ketentuan larangan terlibat dalam politik praktis, jika umat Khonghucu secara pribadi ingin mendukung itu urusan mereka, namun tidak melibatkan nama Khonghucu/ Matakin didalamnya. Ujar Wawan Wiratma (RM/sumber net)
Link:
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://www.youtube.com/my_videos
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://www.youtube.com/my_videos
Minggu, 14 April 2013
Kelenteng Tempat Wisata Religi
Ilustrasi
Wisatawan selain melihat keindahan kelenteng yang kaborasi warna merah dan kuning sebagai simbol kebesaran, para wisatawan kelap mengabadikan ritual sembahyang warga Tionghoa, mereka juga mengunakan kamera untuk mengabadikan foto di sekitar tempat sembahyang dan lilin yang diletakkan di depan pintu masuk.
Setiap tahun kelenteng yang ada di beberapa wilayah tanah air selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara, di antaranya, Kalimantan (cap go meh), Sumsel (cap go meh), Kepulauan Riau (bakar tongkang) dan daerah lainnya.
Maka pemerintah mesti mendukung dan melindungi keberadaan kelenteng, karena keberadaan kelenteng yang mayolitas tempat ibadah umat Khonghucu sebagai tempat objek wisata yang mendatangkan devisa negara.
Setiap kelenteng pada umumnya memiliki ciri khas yang kaya dekorasi serta ornamen-ornamen yang erat hubungannya dengan kepercayaan masing-masing. Atap, hubungan balok tarik, tiang bahkan sampai lantai semuanya berisi hiasan yang membawa pertanda baik dan mendatangkan berkah.
Hiasan atap, atap tidak hanya merupakan bagian penting dari sebuah kelenteng, tapi juga merupakan tempat yang paling memperoleh perhatian khusus dalam hal hias-menghias. Sebagai mana kelenteng pada umumnya, hiasan atap yang utama di setiap kelenteng terdiri dari sepasang naga yang dibentuk dari pecahan-pecahan porselin, sedang berhadapan untuk berebut sebuah mutiara alam semesta menyala yang melambangkan matahari (Cu). Tapi pada atap bangunan tengah, yang berada di tengah-tengah antara dua naga adalah sebuah holo. Holo merupakan jenis buah labu yang telah dikeringkan.
Naga atau liong (dalam dialek Hokkian,) atau long (Mandarin) adalah suatu mahluk mithologi yang punya peran penting dalam kepercayaan Tionghoa. Binatang ini dianggap lambang keadilan, kekuatan dan penjaga barang-barang suci.
Kadang-kadang hiasan atap ini juga sepasang ikan naga, seperti ditemukan di kelenteng-kelenteng lain, yaitu seekor ikan berkepala bentuk liong. Ikan naga ini adalah lambang keberhasilan setelah mengalami percobaan dan perjuangan dalam mencapai tujuannya.
Qilin, Singa atau Say adalah mahluk-mahluk yang dianggap melambangkan nasib baik, kebesaran hati, panjang umur dan kebijaksanaan. Qilin bertanduk satu menurut legenda, mampu berjalan di atas air dan mempunyai kepala yang mirip dengan liong, berbadan rusa, bersurai dan ekor seperti harimau. Biasanya Kilin ini mempunyai lima warna yaitu merah, ungu, biru, kuning dan hijau, binatang mithologi ini terkenal lembut, cerdas dan adil. (Rm-Sumbernet)
Setiap tahun kelenteng yang ada di beberapa wilayah tanah air selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara, di antaranya, Kalimantan (cap go meh), Sumsel (cap go meh), Kepulauan Riau (bakar tongkang) dan daerah lainnya.
Maka pemerintah mesti mendukung dan melindungi keberadaan kelenteng, karena keberadaan kelenteng yang mayolitas tempat ibadah umat Khonghucu sebagai tempat objek wisata yang mendatangkan devisa negara.
Setiap kelenteng pada umumnya memiliki ciri khas yang kaya dekorasi serta ornamen-ornamen yang erat hubungannya dengan kepercayaan masing-masing. Atap, hubungan balok tarik, tiang bahkan sampai lantai semuanya berisi hiasan yang membawa pertanda baik dan mendatangkan berkah.
Hiasan atap, atap tidak hanya merupakan bagian penting dari sebuah kelenteng, tapi juga merupakan tempat yang paling memperoleh perhatian khusus dalam hal hias-menghias. Sebagai mana kelenteng pada umumnya, hiasan atap yang utama di setiap kelenteng terdiri dari sepasang naga yang dibentuk dari pecahan-pecahan porselin, sedang berhadapan untuk berebut sebuah mutiara alam semesta menyala yang melambangkan matahari (Cu). Tapi pada atap bangunan tengah, yang berada di tengah-tengah antara dua naga adalah sebuah holo. Holo merupakan jenis buah labu yang telah dikeringkan.
Naga atau liong (dalam dialek Hokkian,) atau long (Mandarin) adalah suatu mahluk mithologi yang punya peran penting dalam kepercayaan Tionghoa. Binatang ini dianggap lambang keadilan, kekuatan dan penjaga barang-barang suci.
Kadang-kadang hiasan atap ini juga sepasang ikan naga, seperti ditemukan di kelenteng-kelenteng lain, yaitu seekor ikan berkepala bentuk liong. Ikan naga ini adalah lambang keberhasilan setelah mengalami percobaan dan perjuangan dalam mencapai tujuannya.
Qilin, Singa atau Say adalah mahluk-mahluk yang dianggap melambangkan nasib baik, kebesaran hati, panjang umur dan kebijaksanaan. Qilin bertanduk satu menurut legenda, mampu berjalan di atas air dan mempunyai kepala yang mirip dengan liong, berbadan rusa, bersurai dan ekor seperti harimau. Biasanya Kilin ini mempunyai lima warna yaitu merah, ungu, biru, kuning dan hijau, binatang mithologi ini terkenal lembut, cerdas dan adil. (Rm-Sumbernet)
Makin Leng San Keng Kuala Tungkal Menanti Surat Rekomendasi Bupati
TANJAB BARAT, ayojambi.com – Seyogyanya angin segar menerpa umat Khonghucu diseluruh tanah air Indonesia setelah KH Abdurraman Wahid atau Gus Dur menduduki tampuk kepemimpinan Republik Indonesia pasca Reformasi. Melalui wawasan kebangsaan Gus Dur mencabut semua peraturan yang mendiskriminasikan kaum Tionghoa dengan mengeluarkan PP. No. 6 Tahun 2000.
Keputusan Presiden RI No 6 tahun 2000 tanggal 17 Januari 2000 oleh Presiden KH Abdurraman Wahid tentang pencabutan Inpres No. 14 tahun 1967 tentang pembatasan Kegiatan Agama, Kepercayaan dan adat istiadat China.
Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Suryadi Soedirdja tanggal 31 Maret 2000 No. 477/805/Sj. Yang mencabut surat edaran Mendagri No. 477 / 74054 tertanggal 18 Nopember 1978 tentang pembatasan kegiatan Agama, Kepercayaan dan adat istiadat
Namun semua itu belum sepenuhnya dinikmati masyarakat Tionghoa yang beragama Khonghucu di kabupaten-kabupaten, pasalnya tempat ibadah (kelenteng) mereka sudah tidak mampu menampung jumlah umat yang datang beribadah. Seperti salah satu Kelenteng yang berada di Jalan Prof. Dr. Soedewi MS, Rt. 21, Kelurahan Tungkal Harapan, Kota Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kelenteng Makin Leng San Keng yang dipandang sudah tidak layak lagi, maka pengurus kelenteng MAKIN Leng San Keng Kuala Tungkal, bermaksud akan membangunan kelenteng baru untuk menampung umat Khonghucu di Kuala Tungkal. Berbagai persyaratan seperti Akte Notaris kepengurusan kelenteng Makin Leng San Keng, serta Foto Copy KTP umat Khonghucu dan Surat Hibah tanah untuk pembangunan kelenteng serta surat rekomendasi dari FKUB Kabupaten Tanjungjabung Barat.
Disamping itu, untuk mendirikan tempat peribadatan harus memenuhi persyaratan yang antara lain; minimal jemaat berjumlah 90 orang serta harus mendapat persetujuan dari minimal 60 orang warga masyarakat Rt. 14 dan Rt. 21 itu sesuai ketentuan yang ada.
Namun kenyataan, hingga kini Bupati Tanjungjabung Barat, Provinsi Jambi belum mengeluarkan rekomendari untuk mengurus ijin mendiri banganan (IMB) kelenteng. Dimana bangunan lama dipandang sudah tidak layak untuk dipergunakan sebagai tempat beribadah, karena dibangun lama terbuat dari bahan kayu yang sudah pada kropos dan kami bermaksud akan membangun rumah ibadah tersebut secara permanen.
Menurut keterangan beberapa pengurus kelenteng MAKIN Leng San Keng yang minta tidak mencantumkan namanya, menyatakan, bahwa surat permohonan pembangunan kelenteng sudah lama diajukan ke Bupati Tanjab Barat, lebih kurang tiga bulan, namun sangat disayangkan bahwa hingga kini belum ada tanda-tanda akan dikeluarkan surat dari Bupati, “Tinggal tanda tangan Bupati saja” pernyataan ini sudah dua bulan disampaikan pengurus Kelenteng. Mereka juga telah melaporkan masalah ini kepada Matakin Pusat dan Matakin Provinsi Jambi secara lisan, namun tidak ada tanggapan secara signifikan dari petinggi Matakin.
Selain itu, dalam konstitusi UUD 1945 kebebasan beragama merupakan hak asasi manusia. Pembatasan hak asasi manusia hanya bisa dilakukan dengan instrumen hukum setingkat undang-undang (UU). “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang…,” tegas Pasal 28J ayat (2) UUD 1945. Bahkan hak beragama tidak bisa dikurangi dalam keadaan apapun (Pasal 28I ayat 1). http://hukum.kompasiana.com/2012/06/08/inilah-inkonstitusionalitas-pembatasan-pendirian-tempat-ibadah-469399.html. (Rm)
Jumat, 12 April 2013
Makin Hok Sin Tong Gelar Sejit Hian Thian Siang Tee (玄天上帝生日)
JAMBI, ayojambi.com – Ratusan umat Khonghucu kota Jambi, Jumat (12/4) pagi kembali mengikuti prosesi sembahyang sejit shen ming Hian Thian Siang Tee (玄天上帝生日) yang digelar oleh Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Hok Sin Tong (福神堂) di RT. 23 Kelurahan Lebakbandung, Kecamatan Jelutung.
Kelenteng Hok Sin Tong termasuk salah satu Kelenteng yang usianya cukup tua di Kota Jambi, karena Kelenteng tersebut didirikan pada tahun 1946 dengan ukuran dalam ruangan 12X8 meter dan direnovasi pada tahun 1986.
Mengingat jasa para suci shen ming Hian Thian Siang Tee (玄天上帝) yang berkharisma serta telah banyak membantu berbagai lapisan masyarakat dunia, maka tidak heran di setiap perayaan ulang tahun (sejitnya) dan kho khun warga tionghoa yang memeluk kepercayaan Khonghucu selalu membanjiri Kelenteng-Kelenteng diseluruh tanah air bahkan di dunia.
Di dalam ulang tahun shen ming Hian Thian Siang Tee (玄天上帝生日) kali ini dilaksakan secara sederhana. Ujar Darman Wijaya, “Ini hari di kelenteng kita secara sederhana,” ujar Darman disela istirahat sembahyang.
Menurut Ketua Makin Kelenteng Hok Sin Tong, yang dipercaya sebagai Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) di Provinsi Jambi, selain itu, Darman Wijaya juga mantan Ketua Perkumpulan Aneka Kesejahteraan (ANKE) Jambi dan Ketua Pengprov Persatuan Xiangqi Indonesia (DPD-PEXI) Jambi.
Selanjutnya ujar, Darman Wijaya, bahwa Kelenteng Hok Sin Tong dibangun pada tahun 1946 silam dan telah dilakukan renovasi pada tahun 1986 berdasarkan rapat pengurus untuk tidak merubah bentuk asli bangunan Kelenteng ini, kita tidak berani memperbesarkan ruang yang sudah tidak layak untuk menampung umat Khonghucu yang datang sembahyang.
Seusai upacara sejit Hian Thian Siang Tee (玄天上帝 ) dan kho khun semua persembahan dari umat dikumpulkan dan dimasak selanjutnya dimakan bersama, menurutt kepercayaan umat Khonghucu dengan memakan hidangan dari sembahyang itu umat akan mendapatkan berkah dari sang shen ming (dewa).
Dalam dongeng rakyat Cina, Xuan Tian Shang Ti atau Xuan Wu adalah Dewa Langit Pengusir Setan. Xuan Wu, yang juga dikenal sebagai Zhen Wu yang sangat tinggi tingkatannya.
Menurut buku-buku kuno, Xun Tian Shang Ti berasal dari udara sorga dan tubuhnya dari alam semesta. Dalam zaman Kaisar Kuning (2500-2100 S.M.), beliau terinkarnasi sebagai putera Ratu Shan Sheng dari Kerajaan Jingle. Ia lahir pada tengah hari dihari ketiga, bulan ketiga. Xuan Wu berada dalam kandungan ibunya selama 14 bulan. Pada suatu hari, saat berumur 14 tahun, Xuan Wu berada diluar istana, menikmati festifal lentera. Ia melihat bagaimana sulitnya bagi manusia untuk melepaskan diri dari beban keberuntungan, sex, minuman keras dan temperamen atau tabiat manusia.
Dilihatnya orang berkelahi karena berebut wanita, seorang penjambret dihajar oleh massa sampai babak belur, orang kaya dengan segala kemewahannya berpesta-pora, sedang dijalan-jalan orang miskin mati kelaparan. Ini semua menggugah keinginannya untuk menjadi dewa dengan meninggalkan keduniawian, seperti pada penitisan yang lalu.
Medengar keinginannya itu, sang raja ayahnya menjadi sangat marah dan memerintahkan agar anak muda itu dijebloskan kedalam penjara. Tapi kemudian datang dewa yang menolongnya dan membawanya ke gunung Wu Dang Shan (Romy).
http://ayojambi.com
Mengingat jasa para suci shen ming Hian Thian Siang Tee (玄天上帝) yang berkharisma serta telah banyak membantu berbagai lapisan masyarakat dunia, maka tidak heran di setiap perayaan ulang tahun (sejitnya) dan kho khun warga tionghoa yang memeluk kepercayaan Khonghucu selalu membanjiri Kelenteng-Kelenteng diseluruh tanah air bahkan di dunia.
Di dalam ulang tahun shen ming Hian Thian Siang Tee (玄天上帝生日) kali ini dilaksakan secara sederhana. Ujar Darman Wijaya, “Ini hari di kelenteng kita secara sederhana,” ujar Darman disela istirahat sembahyang.
Menurut Ketua Makin Kelenteng Hok Sin Tong, yang dipercaya sebagai Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) di Provinsi Jambi, selain itu, Darman Wijaya juga mantan Ketua Perkumpulan Aneka Kesejahteraan (ANKE) Jambi dan Ketua Pengprov Persatuan Xiangqi Indonesia (DPD-PEXI) Jambi.
Selanjutnya ujar, Darman Wijaya, bahwa Kelenteng Hok Sin Tong dibangun pada tahun 1946 silam dan telah dilakukan renovasi pada tahun 1986 berdasarkan rapat pengurus untuk tidak merubah bentuk asli bangunan Kelenteng ini, kita tidak berani memperbesarkan ruang yang sudah tidak layak untuk menampung umat Khonghucu yang datang sembahyang.
Seusai upacara sejit Hian Thian Siang Tee (玄天上帝 ) dan kho khun semua persembahan dari umat dikumpulkan dan dimasak selanjutnya dimakan bersama, menurutt kepercayaan umat Khonghucu dengan memakan hidangan dari sembahyang itu umat akan mendapatkan berkah dari sang shen ming (dewa).
Dalam dongeng rakyat Cina, Xuan Tian Shang Ti atau Xuan Wu adalah Dewa Langit Pengusir Setan. Xuan Wu, yang juga dikenal sebagai Zhen Wu yang sangat tinggi tingkatannya.
Menurut buku-buku kuno, Xun Tian Shang Ti berasal dari udara sorga dan tubuhnya dari alam semesta. Dalam zaman Kaisar Kuning (2500-2100 S.M.), beliau terinkarnasi sebagai putera Ratu Shan Sheng dari Kerajaan Jingle. Ia lahir pada tengah hari dihari ketiga, bulan ketiga. Xuan Wu berada dalam kandungan ibunya selama 14 bulan. Pada suatu hari, saat berumur 14 tahun, Xuan Wu berada diluar istana, menikmati festifal lentera. Ia melihat bagaimana sulitnya bagi manusia untuk melepaskan diri dari beban keberuntungan, sex, minuman keras dan temperamen atau tabiat manusia.
Dilihatnya orang berkelahi karena berebut wanita, seorang penjambret dihajar oleh massa sampai babak belur, orang kaya dengan segala kemewahannya berpesta-pora, sedang dijalan-jalan orang miskin mati kelaparan. Ini semua menggugah keinginannya untuk menjadi dewa dengan meninggalkan keduniawian, seperti pada penitisan yang lalu.
Medengar keinginannya itu, sang raja ayahnya menjadi sangat marah dan memerintahkan agar anak muda itu dijebloskan kedalam penjara. Tapi kemudian datang dewa yang menolongnya dan membawanya ke gunung Wu Dang Shan (Romy).
http://ayojambi.com
Kamis, 28 Maret 2013
Selasa, 19 Maret 2013
Senin, 18 Maret 2013
Kelenteng Makin Kuang Leng Miau Rayakan Shejit Ong Seng Kong
JAMBI, ayojambi.com – Ratusan kaum hawa menghadiri ritual Perayaan Hari Ulang Tahun Dewa Ong Seng Kong di Kelenteng Kuang Leng Miau dibilangan Jalan Brigjen Katamso, Lorong Sriwijaya Rt. 12 Kelurahan Kasang, Kecamatan Jambi Timur dan sekaligus melakukan Kho Kun (sedekah) yang dipersembahkan kepada mahluk atau roh yang gentayangan berupa sesajian.
Hasil pantauan ayojambi.com, Senin pagi (18/03) sejak memasuki kawasan lorong Sriwijaya terdengar bunyi suara tambur serta semerbak aroma wewangian hio (gaharu) diiringi kaum ibu berdatangan kelenteng Kuang Leng Miuo (calon Majelis Agama Khonghucu Indonesia yang disingkat MAKIN), kedatangan kaum hawa tersebut untuk mengikuti prosesi ritual memperingati hari ulang tahun shen ming serta prosesi kho kun, umumnya kaum hawa pada membawa putra maupun putri mereka.
Kelenteng Kuang Leng Miau adalah warisan dari Almarhum Apek Macan yang awalnya hanya sebuah rumah ibadah pribadi milik Almarhum Apek macan yang didirikan pada tahun 1952 dan dibangun menjadi permanen oleh masyarakat Tionghoa di Jambi pada 2004 yang lalu.
Prosesi seperti biasanya, diawali dengan memohon izin kepada Tie Kong (Tuhan red) untuk dapat melaksanakan ritual perayaan hari ulang tahun sang dewa Ong Seng Kong dan kho kun persembahan sesajen kepada para pengawal shen ming dan arwah (roh) yang tidak diurusi oleh pihak keluarga, upacara dipimpin oleh seorang rohaniawan dari Matakin Provinsi Jambi, The Lien Teng dengan membaca So Bun (sejenis mantera pemberitahuan/ undangan red.
Setelah itu baru memasuki tahap kedua yaitu prosesi sembahyang memperingati HUT roh suci Ong Seng Kong dengan membacakan Ci Bun (sejenis laporan untuk dewa yang bersangkutan), selanjutnya baru memasuki upacara Kho Kun atau yang dikenal dengan sebutan kho kun dalam dan kho kun luar, yang dimaksud dengan kho kun dalam yaitu mempersembahan berbagai jenis makanan, buah-buahan dan Kim Cua (kertas sembahyang red) kepada para pengawal Sang Dewa yang ada didalam klenteng tersebut, seusai prosesi didalam baru melakukan khu kun diluar untuk para mahluk atau roh yang meninggal tidak tidak diurusi oleh pihak keluarganya, maupun meninggal tidak wajar seperti meninggal dunia gantung diri, kecelakaan, dibunuh orang dan lain sebagainya, maka perlu diadakan kho kun atau sedekahkan makanan dan lain-lain sebagainya kepada arwah (roh) yang tidak terurus. (Romy)
Kelenteng Kuang Leng Miau adalah warisan dari Almarhum Apek Macan yang awalnya hanya sebuah rumah ibadah pribadi milik Almarhum Apek macan yang didirikan pada tahun 1952 dan dibangun menjadi permanen oleh masyarakat Tionghoa di Jambi pada 2004 yang lalu.
Prosesi seperti biasanya, diawali dengan memohon izin kepada Tie Kong (Tuhan red) untuk dapat melaksanakan ritual perayaan hari ulang tahun sang dewa Ong Seng Kong dan kho kun persembahan sesajen kepada para pengawal shen ming dan arwah (roh) yang tidak diurusi oleh pihak keluarga, upacara dipimpin oleh seorang rohaniawan dari Matakin Provinsi Jambi, The Lien Teng dengan membaca So Bun (sejenis mantera pemberitahuan/ undangan red.
Setelah itu baru memasuki tahap kedua yaitu prosesi sembahyang memperingati HUT roh suci Ong Seng Kong dengan membacakan Ci Bun (sejenis laporan untuk dewa yang bersangkutan), selanjutnya baru memasuki upacara Kho Kun atau yang dikenal dengan sebutan kho kun dalam dan kho kun luar, yang dimaksud dengan kho kun dalam yaitu mempersembahan berbagai jenis makanan, buah-buahan dan Kim Cua (kertas sembahyang red) kepada para pengawal Sang Dewa yang ada didalam klenteng tersebut, seusai prosesi didalam baru melakukan khu kun diluar untuk para mahluk atau roh yang meninggal tidak tidak diurusi oleh pihak keluarganya, maupun meninggal tidak wajar seperti meninggal dunia gantung diri, kecelakaan, dibunuh orang dan lain sebagainya, maka perlu diadakan kho kun atau sedekahkan makanan dan lain-lain sebagainya kepada arwah (roh) yang tidak terurus. (Romy)
Sejarah Shen Ming Ong Seng Kong
JAMBI, ayojambi.com - Menurut cerita asal muasal roh suci Ong Seng Kong sebelum dititis menjadi dewa adalah sesosok manusia yang dikenal sangat menyayangi hutan yang hijerah dari Tiongkok ke Indonesia bermukim dikwasan antara Jambi dan Palembang, beliau rela bermukim didalam hutan untuk merawat hutan yang tidak dirawat oleh manusia bahkan menghabiskan waktu seorang diri didalam rimba yang terdapat di pulau Sumatera, bahkan sampai Ong Seng Kong wafat dan dikebumikan di kawasan Bayunglincir (Sumsel) kemudian rohnya dititis menjadi roh suci “shen ming”.
Mengingat jasa-jasa Ong Seng Kong yang begitu besar terhadap alam semesta maka masyarakat di Tiongkok membuatkan Kim Sin (Patung) yang merupakan wajah Ong Seng Kong dan dibuatkan altarnya untuk disembahyangkan masyarakat Tionghoa yang berhutang budi pada beliau dimasa lampau.
Perayaan shejit Ong Seng Kong tidak saja dirayakan di Kelenteng Calon Makin Kuang Leng Miuo di Jalan Brigjen Katamso, Lorong Sriwijaya Rt. 12 Kelurahan Kasang, Kecamatan Jambi Timur. Namun pada hari yang sama shejit Ong Seng Kong juga diperingati di Kelenteng Sam Liong Kiong yang terletak di Rt. 19 No. 76, Kelurahan Talang Bakung, Kecamatan Jambi Selatan, kota Jambi.
Kata Yap Seng Kim juru masak di kelenteng-kelenteng kepada reporter ayojambi.com, (18/3), menurut penuturan bahwa sangat meragukan keberadaan makam Ong Seng Kong yang kabarnya dikebumikan di Bayung Lincir, karena jika memang ada pastilah warga pada kesana. Namun tidak dapat dipungkiri memang Ong Seng Seng adalah seorang pencinta hutan, dan Ong Seng Kong pernah bermukim di Jambi pada masa lalu, selanjutntya ujar Seng Kim legenda tersebut telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. (Romy)
Perayaan shejit Ong Seng Kong tidak saja dirayakan di Kelenteng Calon Makin Kuang Leng Miuo di Jalan Brigjen Katamso, Lorong Sriwijaya Rt. 12 Kelurahan Kasang, Kecamatan Jambi Timur. Namun pada hari yang sama shejit Ong Seng Kong juga diperingati di Kelenteng Sam Liong Kiong yang terletak di Rt. 19 No. 76, Kelurahan Talang Bakung, Kecamatan Jambi Selatan, kota Jambi.
Kata Yap Seng Kim juru masak di kelenteng-kelenteng kepada reporter ayojambi.com, (18/3), menurut penuturan bahwa sangat meragukan keberadaan makam Ong Seng Kong yang kabarnya dikebumikan di Bayung Lincir, karena jika memang ada pastilah warga pada kesana. Namun tidak dapat dipungkiri memang Ong Seng Seng adalah seorang pencinta hutan, dan Ong Seng Kong pernah bermukim di Jambi pada masa lalu, selanjutntya ujar Seng Kim legenda tersebut telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. (Romy)
Rabu, 13 Maret 2013
Senin, 11 Maret 2013
Selasa, 05 Maret 2013
Pasca Banjir, Matakin Jambi Kembali Bantu Warga Danau Sipin
JAMBI – Air sungai batanghari telah surut, ribuan warga telah kembali kerumah masing sebelumnya mereka (warga) harus mengungsi ke tenda-tenda yang disediakan oleh pemerintah daerah sebagai tempat penampungan sementara. Walaupun warga yang terkena banjir sudah kembali kerumah masing-masing, namun mereka tidak sepenuhnya bisa melakukan aktifitas sebagaimana mestinya, karena warga mesti memperbaiki rumah merekan yang terendam air maupun membersihkan rumah mereka pasca banjir.
Mengingat beban yang di derita warga cukup berat, serta ada permintaan dari empat ketua rukun tetangga yaitu Rt, 24, 25, 26 dan 36 di desa Danau Sipin, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.
Akhirnya warga Desa Danau Sipin mendapatkan bantuan, berupa mie instant masing-masing KK 1 dus dari Majelis Tingga Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota Jambi.
Kami sangat mengharapkan uluran tangan dari semua pihak yang peduli. Karena selama banjir kami tidak bisa bekerja disebabkan seluruh lahan pertanian tempat kami cari nafka terendam banjir. Umumnya warga disini bekerja sebagai petani. Kalau lahan terendam terpaksa menganggur dan tidak berpenghasilan,” ujar Yuliana (30)
Pasca bencana banjir yang merendam sebagian rumah warga di Kota Jambi ini beberapa waktu yang lalu, membuat MATAKIN Provinsi Jambi dan Kota perlu melakukan bantuan kepada warga yang terkena musibah banjir. Salah satu progran kerja Matakin yaitu bakti sosial melalui Makin-Makin, diantaranya Makin Po Seng Tai Te yang dikenal kelenteng “Hua Liong Kiong” kelenteng tersebut berada di Danau Sipin sejak tahun 1904. Hua Liong Kiong adalah salah satu tempat ibadah umat Khonghucu cukup tua di Rt. 23, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, sampai saat ini masih berdiri kokoh.
Darman Wijaya selaku Ketua Matakin Provinsi Jambi, mengatakan bantuan mie instan ini merupakan solidalitas umat Khonghucu di Jambi, ”Bantuan ini tulus dari umat Khonghucu dan tidak ada unsur politis. Maka kami perlu sampaikan langsung bantuan kepada yang bersangkutan, kami memberikan langsung dengan kupon yang telah disebarkan oleh ketua Rt setempat kepada keluarga yang rumahnya terendam.” (Romy)
Jumat, 01 Maret 2013
Matakin Jambi Suplay Bantuan Korban Banjir Di Danau Sipin
JAMBI - Soridalitas umat Khonghucu melalui Majelis Tingga Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota Jambi menyampaikan bantuan sosial kepada warga Danau Sipin yang tempat tinggalnya terkena dampak banjir.
Banjir yang masih merendam sebagian tempat tinggal warga di Kota Jambi, sejak beberapa pekan lalu sudah mulai surut, tingginya air tidak separah kemarin-kemarin. Dari dampak banjir di Kota Jambi ini mambuat ribuan masyarakat Kota Jambi terpaksa harus mengungsi ke posko yang disediakan oleh pemerintah setempat maupun pihak swasta, saat ini mereka sudah kembali kerumah masing-masing seperti warga dikawasan Danau Sipin.
Bencana banjir yang merendam sebagian rumah warga di Kota Jambi ini, membuat Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota merasa perlu melakukan bakti sosial melalui Kelenteng Makin Po Seng Tai Te yang dikenal kelenteng “Hua Liong Kiong”. Hua Liong Kiong adalah salah satu tempat ibadah umat Khonghucu tertua yang terletak di Rt. 23, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, Kelenteng yang didirikan sejak tahun 1904, hingga kini masih berdiri kokoh.
Bantuan akan disalurkan di Kelenteng Makin Po Sheng Tai Te yang dikenal "Hua Liong Kiong ". di Rt. 23, 39 dan 40, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, bantuan disalurkan melalui salah Makin di Danau Sipin, di Kelenteng Makin Po Sheng Tai Te bantuan itu dibagikan kepada warga yang mengalami musibah banjir.
Penyaluran bantuan langsung Matakin Jambi melalui jalur darat menuju Kelenteng Po Sheng Tai Te. terus bantuan ini langsung diserahkan oleh ketua Matakin Jambi, Darman Wijaya didampingi para pengurus Matakin Jambi dan kota kepada warga setempat disaksikan oleh ketua Rt setempat.
Menurut Ketua Matakin Provinsi Jambi, Darman Wijaya, bantuan ini merupakan solidalitas umat Khonghucu di Jambi, “Walaupun sedikit terlambat dalam menyalurkan bantuan ini, berhubung beberapa hari lalu Matakin dan Makin di Jambi banyak kegiatan yang tidak bisa ditunda,” maka pada hari ini bantuan baru bisa serahkan kepada warga yang sangat membutuhkan bantuan tersebut. (Romy)
Bencana banjir yang merendam sebagian rumah warga di Kota Jambi ini, membuat Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota merasa perlu melakukan bakti sosial melalui Kelenteng Makin Po Seng Tai Te yang dikenal kelenteng “Hua Liong Kiong”. Hua Liong Kiong adalah salah satu tempat ibadah umat Khonghucu tertua yang terletak di Rt. 23, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, Kelenteng yang didirikan sejak tahun 1904, hingga kini masih berdiri kokoh.
Bantuan akan disalurkan di Kelenteng Makin Po Sheng Tai Te yang dikenal "Hua Liong Kiong ". di Rt. 23, 39 dan 40, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, bantuan disalurkan melalui salah Makin di Danau Sipin, di Kelenteng Makin Po Sheng Tai Te bantuan itu dibagikan kepada warga yang mengalami musibah banjir.
Penyaluran bantuan langsung Matakin Jambi melalui jalur darat menuju Kelenteng Po Sheng Tai Te. terus bantuan ini langsung diserahkan oleh ketua Matakin Jambi, Darman Wijaya didampingi para pengurus Matakin Jambi dan kota kepada warga setempat disaksikan oleh ketua Rt setempat.
Menurut Ketua Matakin Provinsi Jambi, Darman Wijaya, bantuan ini merupakan solidalitas umat Khonghucu di Jambi, “Walaupun sedikit terlambat dalam menyalurkan bantuan ini, berhubung beberapa hari lalu Matakin dan Makin di Jambi banyak kegiatan yang tidak bisa ditunda,” maka pada hari ini bantuan baru bisa serahkan kepada warga yang sangat membutuhkan bantuan tersebut. (Romy)
Matakin Jambi Bantu Korban Banjir di Danau Sipin
JAMBI – Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota, menyalurkan bantuan langsung kepada 235 Kepala Keluarga (KK) di Rt 24,39 dan 40, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, berupa air mie instant. Sebanyak 235 Kepala Keluarga (KK), Jumat (1/3) pagi.
Beberapa waktu yang lalu para pengurus inti Matakin Jambi dan Kota melakukan tinjauan langsung ke lokasi banjir (25/2) sambil mendata jumlah korban banjir di Danau Sipin.
Darman Wijaya selaku ketua Majelis Tingga Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi mengatakan pihaknya memberi bantuan dengan hati ikhlas dan tidak ada unsur politis. ”Ini sebagai bentuk rasa kepedulian umat Khonghucu di desa ini, masing-masing keluarga mendapatkan satu dus mie instan,” ujar Darman Wijaya yang didampingi pengurus Matakin Jambi dan Kota.
Tambah Darman Wijaya, kami harapkan bantuan ini dapat meringankan korban banjir yang selama ini rumahnya kebanjiran, sehingga warga tidak bisa melakukan aktifitas untuk mencari nafkah. Walau kecil tapi seluruh warga dapat menikmatinya,” jelasnya dihadapan sejumlah wartawan yang ikut rombongan. (Romy)
Kamis, 28 Februari 2013
Hingga Kini Peserta Po Un Mencapai Ratusan KK
JAMBI – Hingga hari Kamis (28/2) peserta yang mengikuti prosesi Po Un (kias menolak bala) di Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien Jambi mencapai seratus kepala keluarga (KK), masing-masing kepala keluarga mewakili 5 jiwa, mereka datang ke Kelenteng Makin Sai Che Tien untuk mengikuti prosesi Po Un (kias) detik-detik terakhir.
Setiap perwakilan mesti mengikuti Lim Tek Ching, Taoshe mengelilingi altar Hok Hie Te Shien (nabi Fu Xi) sebanyak dua belas kali putaran, setiap putaran Taoshe membacakan berbagai mantera penolak bala, setelah meliwati jembatan Replika peserta diharuskan mengikuti Taoshe mengucapkan kalimat Kwe Ya (artinya LIWAT lah), makna ucapan itu, agar setiap orang bisa meliwati sehari-hari dan mewilati setiap bulan hingga akhir tahun dengan selamat tanpa ada alar melintang (Ciong).
Menurut Lim Tek Chong yang sengaja datang dari Provinsi Hok Kien, China, setiap awal tahun imlek, bahkan di China juga melakukan Po Un seperti ini, “Di China Po Un juga seperti yang dilakukan di Jambi,” Tambah Lim Tek Chong, setiap peserta Po Un mengikuti keliling altar shen ming sambil mengucapkan bahasa Hok Kien yaitu Kwe Ya, yang diartikan kita dapat meliwati segala lintangan tanpa ada gannguan (ciong).
Lim Tek Chong setiap awal tahun baru imlek diundang oleh Makin Sai Che Tien untuk memberikan pelayanan Pon Un kepada Umat Khonghucu di Provinsi Jambi. Namun selain di Jambi, umat Khonghucu di Sumsel juga ada mengundang beliau (Lim Tek Chong), maka empat hari di Jambi, empat hari di Palembang untuk melakukan Po Un.
Berhubung semakin banyak yang mau ikut Po Un, maka Makin Sai Che Tien akan memperpanjang waktu Po Un hingga 1 Maret 2013 (besok terakhir). (Romy)
Menurut Lim Tek Chong yang sengaja datang dari Provinsi Hok Kien, China, setiap awal tahun imlek, bahkan di China juga melakukan Po Un seperti ini, “Di China Po Un juga seperti yang dilakukan di Jambi,” Tambah Lim Tek Chong, setiap peserta Po Un mengikuti keliling altar shen ming sambil mengucapkan bahasa Hok Kien yaitu Kwe Ya, yang diartikan kita dapat meliwati segala lintangan tanpa ada gannguan (ciong).
Lim Tek Chong setiap awal tahun baru imlek diundang oleh Makin Sai Che Tien untuk memberikan pelayanan Pon Un kepada Umat Khonghucu di Provinsi Jambi. Namun selain di Jambi, umat Khonghucu di Sumsel juga ada mengundang beliau (Lim Tek Chong), maka empat hari di Jambi, empat hari di Palembang untuk melakukan Po Un.
Berhubung semakin banyak yang mau ikut Po Un, maka Makin Sai Che Tien akan memperpanjang waktu Po Un hingga 1 Maret 2013 (besok terakhir). (Romy)
Selasa, 26 Februari 2013
Pengurus Matakin Jambi Mengunjungi Lokasi Banjir
Banjir masih merendam Kota Jambi. Banjir yang terjadi sejak beberapa hari terakhir ini tampak mulai ada tanda-tanda surut, bahkan tinggi tidak separah kemarin.
Sebelum nya ribuan masyarakat Kota Jambi mengungsi ke posko yang disediakan oleh pemerintah, kini mereka telah kembali kerumah masing-masing seperti dikawasan Danau Sipin.
Bencana banjir yang merendam sebagian Kota Jambi ini, membuat Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota melakukan kunjungan ke kelenteng Hua Liong Kiong yang dikenal shen ming utama “Po Seng Tai Te”. Hua Liong Kiong adalah salah satu tempat ibadah Khonghucu tertua yang terletak di Rt. 03, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, Kelenteng yang didirikan sejak tahun 1904, hingga kini masih berdiri kokoh.
Akibat banjir, membuat para petinggi umat Khonghucu di Provinsi Jambi dan Kota Jambi melakukan kunjungan ke kelenteng tua yang ada di danau sipin, adapun pengurus Matakin Jambi yang ikut dalam rombongan, terdiri dari Ketua Matakin Jambi, Darman Wijaya, wakil ketua Matakin, Alex Sujanto, Wakil Ketua Bidang Sosial dan Humas, Berlianta Eliamsya (Lie Tjin Hai), dan Ketua Matakin Kota Jambi, Darmadi Tekun didampingi wakil ketua Matakin Kota, Huwanda Desswandhy.
Menurut Darman Wijaya selaku ketua Matakin di Provinsi Jambi, sudah sewajarnya melakukan peninjauan terhadap rumah ibadah umat Khonghucu di Jambi, sebagai bentuk solidaritas antar warga yang ada dilingkungan kelenteng Hua Liong Kiong (Romy)
Bencana banjir yang merendam sebagian Kota Jambi ini, membuat Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota melakukan kunjungan ke kelenteng Hua Liong Kiong yang dikenal shen ming utama “Po Seng Tai Te”. Hua Liong Kiong adalah salah satu tempat ibadah Khonghucu tertua yang terletak di Rt. 03, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, Kelenteng yang didirikan sejak tahun 1904, hingga kini masih berdiri kokoh.
Akibat banjir, membuat para petinggi umat Khonghucu di Provinsi Jambi dan Kota Jambi melakukan kunjungan ke kelenteng tua yang ada di danau sipin, adapun pengurus Matakin Jambi yang ikut dalam rombongan, terdiri dari Ketua Matakin Jambi, Darman Wijaya, wakil ketua Matakin, Alex Sujanto, Wakil Ketua Bidang Sosial dan Humas, Berlianta Eliamsya (Lie Tjin Hai), dan Ketua Matakin Kota Jambi, Darmadi Tekun didampingi wakil ketua Matakin Kota, Huwanda Desswandhy.
Menurut Darman Wijaya selaku ketua Matakin di Provinsi Jambi, sudah sewajarnya melakukan peninjauan terhadap rumah ibadah umat Khonghucu di Jambi, sebagai bentuk solidaritas antar warga yang ada dilingkungan kelenteng Hua Liong Kiong (Romy)
Minggu, 24 Februari 2013
Ribuan Warga Kota Jambi Tumpah Ruah Saksikan Karnaval Ca Go Meh
Jambi - Ribuan warga dari berbagai etnis tumpah ruah di Kelurahan Talang Jauh, Kecamatan Jelutung, untuk menyaksikan perayaan puncak Festival Cap Go Meh 2013, yang diadakan oleh umat Khonghucu, Jambi, sejak sore Minggu (24/2).
Berbagai atraksi yang tidak dapat dilakukan sembarang orang, seperti menusukan benda tajam kebagian tubunya, juga atraksi melompati kobaran api dan ritual keagamanan mewarnai kegiatan tersebut, diantaranya adalah Barongsai dan arak-arakan kursi tandu (joli) para roh suci shen ming.
Dalam kegiatan itu, sedikitnya ada puluhan shen ming ikut ambil bagian dalam diarak berkeliling dari satu kelenteng ke kelenteng lainnya oleh beberapa orang yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural.
"Selain keliling kelenteng, mereka juga masuk ke rumah-rumah warga Tionghoa untuk singgah dan mendoakan tuan rumah agar mendapat rezeki dan kesehatan," ujar warga RT 03, Kelurahan Talangjauh, yang hadir dalam perayaan itu.
Menurut warga, selain pemandu shen ming, masih ada dua atau tiga orang lagi yang dipercaya juga memiliki kekuatan supranatural dalam rombongan memandu roh suci shen ming itu.
Beberapa khi tong/ tatong, biasanya berjalan dalam kondisi tidak sadar, karena jasad mereka sudah dirasuki oleh roh suci, namun mereka dapat memberikan petunjuk kebaikan melalui pembacaan mantera atau kertas hu, katanya lagi.
Para khi tong/ tatung ini membawa sejenis bola-bola berduri dengan tali rantai dan senjata tajam seperti pedang (alat perang yang dipergunakan masing-masing dimasa hidup). Sesekalai ia membenturkan punggungnya dengan bandul berduri sehingga membuat kulit punggungnya terkelupas.
Bahkan, khi tong// tatung yang lainnya menusuk kulit pipinya dengan sejenis besi panjang hingga tembus ke pipi sebelahnya. Di ujung besi yang tembus diletakkan buah-buahan seperti pisang/ apel dan jeruk.
Mereka juga melakukan atraksi melompati api yang sedang berkobar yang sengaja diletakkan ditengah jalan perlintasan rombongan karnaval.
Dalam kegiatan itu, dihadiri oleh Anggota DPR RI dari Jambi H. A. Bakri HM, Wakil Gubernur Jambi Fachrori Umar, Danrem 042/Gapu Kolonel INF Eko Budi. S, Kajaksaan Tinggi, FKUB Provinsi Jambi, Kakanwil Kemenag Provinsi Jambi, Wakil Walikota Jambi Sum Indra, Pengadilan Negeri Jambi dan Bupati Tanjung Jabung Timur Zumi Zola, , dan unsur Muspida lainya.
Wakil Gubernur Jambi Facrori Umar dalam sambutan kegiatan itu mengatakan, apa yang ditampilkan oleh para umat Khonghucu ini adalah kekayaan budaya kita bersama yang patut dijaga dan dilestarikan.
"Inilah wujud keragaman budaya kita di Jambi ini, dan ini patut kita jaga bersama agar tetap lestari," katanya sambil mengucapakan selamat kepada ribuan umat Khonghucu yang berdesakkan di Kelenteng Makin Hok Kheng Tong.
Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Provinsi Jambi, Darman Wijaya mengaku perayaan Cap Go Meh tahun in lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya.
Menurut dia, ramainya umat yang datang menyaksikan kegiatan itu sebagai pertanda tidak ada lagi rasa ragu dan takut dalam diri umat Khonghucu di Jambi dalam merayakan kegiatan keagamaan mereka.
"Kegiatan Cap Go Meh ini lebih ramai dari tahun sebelumnya. Ini berkaitan dengan telah ditetapkannya agama Khonghucu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia, sehingga umat Khonghucu Jambi tidak usah takut dan ragu dalam merayakan ritual keagamaan, sebab segala kegiatan itu kini telah berlandasi undang-undang. Sekarang agama Khonghucu sudah setara dengan agama lain di Indonesia," paparnya. (Romy)
http://ayojambi
Dalam kegiatan itu, sedikitnya ada puluhan shen ming ikut ambil bagian dalam diarak berkeliling dari satu kelenteng ke kelenteng lainnya oleh beberapa orang yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural.
"Selain keliling kelenteng, mereka juga masuk ke rumah-rumah warga Tionghoa untuk singgah dan mendoakan tuan rumah agar mendapat rezeki dan kesehatan," ujar warga RT 03, Kelurahan Talangjauh, yang hadir dalam perayaan itu.
Menurut warga, selain pemandu shen ming, masih ada dua atau tiga orang lagi yang dipercaya juga memiliki kekuatan supranatural dalam rombongan memandu roh suci shen ming itu.
Beberapa khi tong/ tatong, biasanya berjalan dalam kondisi tidak sadar, karena jasad mereka sudah dirasuki oleh roh suci, namun mereka dapat memberikan petunjuk kebaikan melalui pembacaan mantera atau kertas hu, katanya lagi.
Para khi tong/ tatung ini membawa sejenis bola-bola berduri dengan tali rantai dan senjata tajam seperti pedang (alat perang yang dipergunakan masing-masing dimasa hidup). Sesekalai ia membenturkan punggungnya dengan bandul berduri sehingga membuat kulit punggungnya terkelupas.
Bahkan, khi tong// tatung yang lainnya menusuk kulit pipinya dengan sejenis besi panjang hingga tembus ke pipi sebelahnya. Di ujung besi yang tembus diletakkan buah-buahan seperti pisang/ apel dan jeruk.
Mereka juga melakukan atraksi melompati api yang sedang berkobar yang sengaja diletakkan ditengah jalan perlintasan rombongan karnaval.
Dalam kegiatan itu, dihadiri oleh Anggota DPR RI dari Jambi H. A. Bakri HM, Wakil Gubernur Jambi Fachrori Umar, Danrem 042/Gapu Kolonel INF Eko Budi. S, Kajaksaan Tinggi, FKUB Provinsi Jambi, Kakanwil Kemenag Provinsi Jambi, Wakil Walikota Jambi Sum Indra, Pengadilan Negeri Jambi dan Bupati Tanjung Jabung Timur Zumi Zola, , dan unsur Muspida lainya.
Wakil Gubernur Jambi Facrori Umar dalam sambutan kegiatan itu mengatakan, apa yang ditampilkan oleh para umat Khonghucu ini adalah kekayaan budaya kita bersama yang patut dijaga dan dilestarikan.
"Inilah wujud keragaman budaya kita di Jambi ini, dan ini patut kita jaga bersama agar tetap lestari," katanya sambil mengucapakan selamat kepada ribuan umat Khonghucu yang berdesakkan di Kelenteng Makin Hok Kheng Tong.
Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Provinsi Jambi, Darman Wijaya mengaku perayaan Cap Go Meh tahun in lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya.
Menurut dia, ramainya umat yang datang menyaksikan kegiatan itu sebagai pertanda tidak ada lagi rasa ragu dan takut dalam diri umat Khonghucu di Jambi dalam merayakan kegiatan keagamaan mereka.
"Kegiatan Cap Go Meh ini lebih ramai dari tahun sebelumnya. Ini berkaitan dengan telah ditetapkannya agama Khonghucu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia, sehingga umat Khonghucu Jambi tidak usah takut dan ragu dalam merayakan ritual keagamaan, sebab segala kegiatan itu kini telah berlandasi undang-undang. Sekarang agama Khonghucu sudah setara dengan agama lain di Indonesia," paparnya. (Romy)
http://ayojambi
Lautan Manusia Menyaksikan Malam Cap Go Me
Malam ini di Jalan Pangeran Diponegoro Kota Jambi akan menjadi lautan manusia, Minggu (24/2/2013). Ribuan orang bersukacita menyaksikan atraksi arak-arakan para roh suci (shen ming) yang turun dari berbagai kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) disertai tarian Barongsai dan Liong (naga). Inilah kirab ritual yang digelar Makin Kelenteng Leng Chun Keng, Kelenteng Makin Sai Che Tien dan Makin Kelenteng Hok Kheng Tong.
Dalam perayaan Cap Go Me, juga menampilkan atraksi Keng Kian (menusuk benda tajam kebagian tubuh) dan melompati api. Antusiasme semakin menjadi-jadi ketika ratusan kembang api dinyalakan guna memeriahkan malam dibulan purnama ini.
Padatnya pengunjung di kawasan Makin Kelenteng Hok Keng Tong pada acara Malam perayaan Cap Go Me, membuat banyak warga masih tertahan di luar dan tidak dapat memasuki halaman kelenteng, untuk mengatasi masalah tersebut agar seluruh pengunjung dapat menyaksikan aktifitas yang berada di dalam lingkungan kelenteng, maka panitia pelaksana menyediakan layar lebar di luar arena kegiatan. (Romy)
Langganan:
Postingan (Atom)





















