Kamis, 29 November 2012

Dulu Juara Dunia, Kini Buruh Cuci

oleh Helena F Nababan dan Wisnu Aji Dewabrata
Habibatul Fasihah (2 tahun 8 bulan) terbaring tanpa baju di kamar mes Pemerintah Provinsi Jambi di Jalan Cidurian, Cikini, Jakarta, Kamis (29/11). Sekujur tubuh anak itu melepuh dan memerah seperti tersiram air panas. Banyak bekas luka di tubuhnya. Ada yang mulai mengering, ada yang jadi koreng.
Habibatul adalah anak ketiga Leni Haini (34), mantan atlet perahu naga asal Jambi, yang mempunyai prestasi internasional. Saat ini, keduanya berada di Jakarta untuk mengobati penyakit Habibatul yang tergolong langka.

Upaya pengobatan itu tak mudah bagi Leni. Kontras dengan kilau prestasinya sebagai peraih 2 medali emas dan 2 perak pada SEA Games 1997 serta 1 emas dan 3 perak pada SEA Games 1999, ia hidup dalam kemiskinan.

Sebagai penyumbang 2 emas dalam kejuaraan perahu naga Asia di Singapura 1996, 3 emas dan 1 perak di kejuaraan dunia perahu naga di Hongkong 1997, serta 1 emas pada kejuaraan perahu naga Asia di Taiwan 1998, Leni benar-benar terpuruk secara ekonomi.

Kemiskinan yang menimpa atlet nasional seperti Leni adalah realitas dalam dunia olahraga Indonesia. Masa muda atlet dihabiskan dengan latihan dan latihan. Pendidikan kognitif terabaikan. Tanpa pendidikan, atlet terjun tanpa keterampilan dan wawasan menghadapi realitas hidup setelah ”pensiun”.

Leni yang lulusan sekolah dasar hanya bisa bekerja serabutan. Kadang Leni jadi buruh cuci, kadang jadi buruh di perusahaan katering. Pokoknya, segala pekerjaan dilakoni Leni untuk mencukupi kebutuhan. Suaminya, M Ikhsan (35), hanyalah petugas kebersihan di kompleks DPRD Jambi dengan penghasilan Rp 1 juta per bulan.

Sudah hidup miskin, anak ketiganya itu menderita penyakit langka yang ia sebut rapuh kulit. Leni tak hafal nama medis penyakit yang berbahasa Latin itu.

Kulit Habibatul sangat rapuh dibandingkan kulit normal sehingga mudah melepuh atau terkelupas jika digaruk. Jari-jari kakinya menyatu, sampai ke-10 jarinya sudah tak berbentuk.

Leni mengatakan, penyakit putrinya itu diderita sejak lahir. Habibatul lahir prematur dengan bobot 1,8 kilogram. Saat lahir, sudah terlihat kelainan pada kulit Habibatul karena dari kulitnya keluar banyak darah.

Sejak umur beberapa hari sampai 1,5 tahun, Leni dan suaminya berusaha menyembuhkan penyakit yang diderita sang buah hati dengan dana pribadi. Leni sampai menjual rumah dan tanah hasil kerja suaminya demi pengobatan putrinya.

”Dokter di Jambi tidak ada yang tahu penyakitnya. Sudah 1,5 tahun diobati belum sembuh. Desember 2011, Habibatul saya bawa berobat ke Jakarta. Memang ada perkembangan, tetapi harga obatnya Rp 1,5 juta untuk sebulan dan di Jambi tidak ada obatnya,” kata Leni.

Ia menuturkan, sebagai warga miskin, ia berhak mendapat pelayanan kesehatan gratis lewat program Jaminan Kesehatan Daerah. Namun, sebagai pasien miskin, Habibatul tak mendapat penanganan maksimal.

Leni dan Habibatul nekat berobat ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Senin (26/11), dengan bantuan tiket pesawat dari seorang dermawan. Saat berangkat, uang di kantong Leni hanya Rp 500.000. ”Saya pergi ke Jakarta karena obat habis. Selain itu, Habibatul juga menjerit kesakitan setiap buang air besar karena kulit di anusnya mulai menyatu,” katanya.

Leni sempat ditampung di rumah pekerja sosial yang membantunya sebelum pindah ke mes Pemprov Jambi di Cikini. Awalnya Leni mendapat kamar ”istimewa” yang letaknya di lantai dasar, tempat parkir mobil. Saat ini, ia sudah pindah ke kamar yang lebih baik. Leni belum tahu sampai kapan ia tinggal di Jakarta.

Pendidikan terabaikan
Leni bertutur, kesulitan yang ia hadapi saat ini berhubungan dengan pelatnas jangka panjang yang ia ikuti. Saat ia dipanggil masuk pelatnas dayung pada 1995, sebenarnya ia sudah mempertanyakan mengenai sekolahnya kepada pengurus provinsi Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia Jambi saat itu.

”Saat itu saya sudah satu bulan bersekolah di SMP. Namun, dijawab lebih baik saya mengikuti panggilan pelatnas. Urusan sekolah bisa nanti. Saya ikuti saja. Tak tahunya, begitu saya mundur dari pelatnas 1999, saat saya 22 tahun, pengurus sudah berganti dan tidak lagi memedulikan pendidikan saya yang terhenti,” ujar Leni.

Sebagai atlet yang sudah mengharumkan Jambi, Leni mencoba menghadap Wali Kota Jambi saat itu. Hasilnya nihil.

”Saya datang untuk mempertanyakan janji beliau, atlet-atlet Jambi yang mengharumkan Jambi dan Indonesia di SEA Games akan mendapat pekerjaan. Namun, sampai hari ini, saya tidak tahu kabar janji itu,” ujar Leni dengan sedih. Alhasil, sebagai ibu rumah tangga dengan bekal ijazah SD, Leni tidak memiliki kecakapan apa pun.

Leni pun menyimpulkan, tiada gunanya menjadi juara Asia, bahkan juara dunia sekalipun. ”Tak ada perhatian dari pemerintah, khususnya Pemprov Jambi. Saya sudah mengharumkan Jambi melalui dayung. Saya sampai melarang anak saya jadi atlet karena sakit hati,” ujarnya sambil menahan derai air mata.

Saking kecewanya dengan dunia olahraga yang pernah ia geluti dan kepepet kebutuhan untuk mengobati anaknya, Leni pernah mau menjual medali- medalinya. ”Saya sudah habis- habisan mengobati Adek. Rumah dan tanah milik suami sudah dijual untuk mengobati Adek. Kalau ada yang tertarik, saya mau menjual medali emas milik saya,” ujar Leni.

http://olahraga.kompas.com/read/2012/11/30/07003039/