Senin, 03 November 2014

Udang Ketak, Udang Kelabang, Udang Lipan, Manthis, Yongki Alexander

KUALA TUNGKAL, ayojambi.com - Udang Ketak (manthis) atau Udang Lipan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, provinsi Jambi, Indonesia. Di ekpor ke Hongkong dan Taiwan melalui Jakarta dalam kondisi hidup-hidup. kini udang ketak menjadi sumber makanan golongan elite di dalam negeri dan luar negeri.
Kondisi perairan laut Kuala Tungkal yang bersubstrat lumpur atau lumpur pasir, membuat wilayah perairan ini menjadi sarang udang ronggeng, atau biasa masyarakat lokal Kuala Tungkal menyebutnya udang ketak.

Udang yang memiliki bentuk fisik panjang dan memiliki banyak kaki ini sekarang telah menjadi idola bagi para nelayan Kuala Tungkal, selain sangat mudah didapat, udang ini memiliki nilai ekonomis tinggi.

Yongky Alexander (19 thn) merupakan salah satu pengusaha termuda di kota Kuala Tungkal sebagai pengumpul udang lipan di Kuala Tungkal dari hasil tangkapan para nelayan di kota Kuala Tungkal dengan harga Rp 50.000- per ekor ukuran Jumbo, dijual perekor 60.000. Sedangkan ukuran A di beli seharga Rp.30.000,- perekor dan di jual dengan harga Rp.40.000. Udang Ketak (manthis) atau udang Lipan itu dari Kuala Tungkal dikirim ke Jakarta, kemudian diekspor ke Hongkong dan Taiwan. Yongky satu-satunya anak laki-laki dari pasangan Suryanto (alm) dengan Nanik Setiawati sempat stres waktu diajari orangtuanya untuk meneruskan usaha ayahnya di bidang penampungan Udang Ketak, suka tidak suka Yongky mesti meneruskan usaha orangtuanya.

Yongky, mengungkapkan, belajar menjadi penampungan atau membeli udang ketak dari almarhum orangtuanya (Suryanto) selama 8 bulan, “Bapak ajari cara memilah kwalitas (ukuran) udang ketak selama 8 bulan sebelum Bapak wafat,” ujar Yongky saat memantau karyawannya tengah bekerja. Udang yang dipacking lalu di kirim bandara Sultan Thaha Jambi untuk di kirim ke Jakarta.

Resiko sebagai penampung udang ketak cukup tinggi, pasalnya setelah ditampung dari para nelayan, Udang Ketak mesti ditempatkan di bak yang berisi air laut dalam sirkulasi bergerak, Udang Ketak mati tidak laku jual dipasaran, maka para penampung selalu memperhatikan suhu air dalam bak penampungan.

Selain itu, kondisi udara berkabut beberapa pekan lalu akibat dari pembakaran/ pembukaan lahan baru di Provinsi Jambi, Provinsi Sumsel dan Provinsi Riau, pengiriman udang ketak ke Jakarta gagal total dan udang terpaksa dibawa kembali ke Kota Kuala Tungkal, begitu bukan kardus udang lipan banyak yang sudah pada mati, diperkirakan kerugian mencapai puluhan juta rupiah. (Romy)
* www.ayojambi.com/