Jumat, 22 Januari 2016

Kegiatan GMT Dipusatkan di Belitung

KOMPAS.com - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan kegiatan dalam rangka peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT) pada 9 Maret mendatang dipusatkan di Bangka Belitung.

"Sejak rapat koordinasi pertama Juli 2015 sudah diputuskan puncak kegiatan di Belitung, tapi wilayah lain yang mengalami GMT juga tetap melaksanakan kegiatannya," kata Deputi Bidang Sumber Daya Manusia, Iptek dan Budaya Maritim Kemenko Kemaritiman, Safri Burhanuddin di Jakarta, Selasa (19/1/2016).

Sejumlah wilayah yang mengalami GMT yakni Palembang (Sumatera Selatan), Bangka Belitung, Sampit dan Palangkaraya (Kalimantan Tengah), Balikpapan (Kalimantan Timur), Palu, Poso, Luwuk (Sulawesi Tengah), Ternate dan Halmahera (Maluku Utara), Sulawesi Barat, Bengkulu, Jambi, dan Kalimantan Barat.
Safri menjelaskan, promosi wisata untuk GMT 2016 telah berlangsung selama dua tahun terakhir.

"Kami lihat ilmuwan dan wisatawan ini cari tempat. Lalu, kami lihat yang paling gampang itu ke Belitung, meski wisatawan ilmuwan lebih banyak memilih Indonesia timur. Kami upayakan bagi ilmuwan itu untuk adakan seminar dulu di sini sebelum melihat GMT," katanya.

Pilihan ilmuwan ke kawasan timur disebabkan jangka waktu peristiwa GMT. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyatakan lama GMT antara 1,5 hingga 3 menit, dan semakin ke timur akan semakin lama.

Waktu GMT di wilayah Indonesia bagian barat terjadi pada sekitar pukul 06.20 WIB, di wilayah tengah sekitar pukul 07.25 WITA, dan di wilayah timur sekitar pukul 08.36 WIT.

Pemilihan pusat kegiatan GMT di Belitung, lanjut Safri, juga disebabkan oleh panjangnya wilayah jangkauan di provinsi tersebut yang mengalami fenomena langka tersebut.

"Jangkauannya itu sekitar 150 kilometer, di mana sebagian besar perairan Belitung dilewati oleh GMT, meski itu pun hanya sekitar 2 menit, makanya diputuskan dipusatkan di situ," katanya.

Dengan dipusatkan di perairan Bangka Belitung, lanjut Safri, ada kesempatan untuk menarik lebih banyak wisatawan dan pemilik yacht dari negara tetangga untuk ikut datang.

"Pesan tiket dan hotel untuk hari-hari peristiwa tersebut pasti sudah penuh, maka kami koordinir untuk menggunakan kapal, Kementerian Pariwisata juga akan mengkoordinir 'yacht' dari Singapura dan Malaysia untuk merapat ke Belitung," katanya.

Menurut dia, penggunaan kapal dalam mengamati peristiwa alam yang kemungkinan baru bisa dialami Indonesia 350 tahun lagi itu akan memudahkan wisatawan saat kondisi berawan.

"GMT itu sekitar pagi hari, seandainya pagi itu berawan, dengan kapal bisa mudah mencari tempat untuk menyaksikan fenomena tersebut," tambah Safri.

http://travel.kompas.com/read/2016/01/20/221500327/Kegiatan.GMT.Dipusatkan.di.Belitung
* www.ayojambi.com/