Tampilkan postingan dengan label Tahun Baru Imlek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahun Baru Imlek. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2016

Hujan Mengguyur Kota Jambi Tidak Menghalangi Warga Sembahyang Imlek Di Kelenteng Siu San Teng

 
JAMBI, ayojambi.com - Ratusan warga keturunan Tionghoa Jambi melakukan sembahyang bersama menyambut tahun Imlek 2567/ 2016 yang jatuh pada 8 Februari 2016 (Cia Gwe Ciu It) di Kelenteng Siu San Teng “寿山亭”Jambi.

Warga keturunan Tionghoa di Kota Jambi tampak khusyuk mengikuti sembahyang Imlek 2567 baik di Kelenteng-kelenteng maupun di Vihara-vihara.
Seperti di Kelenteng Siu San Teng, ribuan cahaya lilin yang dinyalakan sejak Senin (8/2-2016) dini hari pun menambah kekhusyukan dalam melaksanakan sembahyang guna mengucap syukur atas karunia yang diberikan Thian “上帝” (Tuhan) dan Kongco (roh suci) Fuk Tek Cen Sen 福德正神 yang selama setahun dan berharap agar di tahun baru ini senantiasa memberikan karunia yang baik.

Ratusan warga keturunan Tionghoa yang berasal dari berbagai wilayah di kota Kota Jambi ini mengikuti sembahyang di Kelenteng Siu San Teng, yang berada di kawasan kampung manggis Jambi.

"Selain itu, sembahyang ini juga ditujukan untuk memohon keselamatan dan rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini, warga yang pekerja tentunya berharap supaya sukses dalam pekerjaannya, yang berdagang memohon agar dagangannya laris."

Mengenai di tahun Imlek 2567 yang merupakan tahun Monyet Api Ramalan untuk Shio Kambing di tahun 2016 memperkirakan bahwa prospek pengembangan kehidupan Anda akan cerah di tahun 2016; namun Anda harus menggunakan kemampuan dan rasa optimisme Anda untuk mencapai keuntungan itu. Tetap berfokus pada tujuan Anda semula, diiringi dengan kesabaran pada tahun 2016 ini.

Namun demikian, Robin mengatakan, saat ini yang diharapkan agar bangsa Indonesia bisa terhindar dari berbagai bencana, sehingga masyarakat dapat mencari nafka sesuai dengan bidang masing-masing dan diharapkan juga masyarakat bisa lebih mawas diri. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Kamis, 19 Februari 2015

Imlek 2566 Kongzeli, Barongsai Kunjungi Rumah Warga

 
 
JAMBI, ayojambi.com – Perayaan Tahun Baru Imlek 2566 Kongzeli rasanya kurang bila tanpa adanya atraksi Barongsai [Lihat Gambar: Barongsai].
Untuk menyemarakkan tahun baru Imlek ke 2566 tahun ini, atraksi Barongsai dari perkumpulan Hok Liong Sai dan Yayasan Kesejahteraan Sentosa (YKS) di kota Jambi tidak hanya dapat dinikmati di kelenteng-kelenteng atau pusat perbelanjaan saja, tetapi juga dirumah-rumah. Selain menjemput angpau, atraksi barongsai juga menyimpan makna religius, yakni dipercayai dapat mengusir segala roh jahat dan mendatangkan keberuntungan (rejeki).

Selain dapat menjumpai berbagai pernak pernik imlek dirumah warga, atraksi Barongsai  dijalanan juga menjadi hiburan tersendiri bagi warga masyarakat.

Perkumpulan Barongsai yang diberi nama Hok Liong Sai di kota Jambi, sejak pagi tadi mendatangi rumah-rumah warga untuk menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru Imlek 2566 Kongzeli.

Atraksi tersebut sangat ditunggu oleh warga Tionghoa yang merayakan imlek, juga merupakan hiburan tersendiri bagi masyarakat menyaksikannya. Liuk-liuk dan tarian yang digerakan pemain barongsai membuat siapa saja yang menyaksikan akan tersa kagum.

Seperti kata Rudi Lidra dan Berlianta Eliamsya (Lie Tjin Hai), setiap tahun rumahnya selalu dikunjungi rombongan Barongsai, karena Rudi dan Berlianta Eliamsya mempercayai bahwa Barongsai sarat dengan pesan-pesan religius dan yakni dapat mengusir segala roh jahat dan mendatangkan keberuntungan, “setiap tahun baru imlek, rombongan barongsai selalu datang kerumah-rumah warga untk menyampaikan ucapan selamat tahun baru imlek dan sekaligus untuk mengusir segala roh jahat dan mendatangkan keberuntungan.” (Romy)
* www.ayojambi.com/

Umat Khonghucu Sembahyang Imlek Di Kelenteng Siu San Teng Jambi

 
JAMBI, ayojambi.com - Ratusan warga keturunan Tionghoa yang beragama Khonghucu di Jambi [Lihat Gambar: Sembahyang Imlek 2566] melakukan sembahyang bersama menyambut tahun Imlek 2566 Kongzeli yang jatuh pada 19 Februari 2015 (Cia Gwe Ciu It) yang digelar di Kelenteng-Kelenteng Kota Jambi (19/2-2015).
ngikuti sembahyang Imlek 2566 baik di kelenteng-kelenteng, Littang maupun di rumah masing-masing.

Cahaya lilin yang mereka nyalakan sejak Minggu (19/2) dini hari pun menambah kekhusyukan dalam melaksanakan sembahyang guna mengucap syukur atas karunia yang diberikan Thian Kong (Tuhan) dan para Kongco (para roh suci) selama setahun lalu dan berharap agar di tahun baru nanti senantiasa diberi karunia yang baik.

Ratusan warga keturunan Tionghoa yang berasal dari berbagai wilayah di kota Kota Jambi ini mengikuti sembahyang di Kelenteng Siu San Teng, kawasan kampung manggis Jambi.

Tina mengatakan, sembahyang bersama keluarga ini ditujukan untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat yang telah diberikan selama ini, kata Tina pelajar yang menuntut ilmu di negara jiran (Malaysia).

"Selain itu, sembahyang ini juga ditujukan untuk memohon keselamatan dan rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini, warga yang pekerja tentunya berharap supaya sukses dalam pekerjaannya, yang berdagang memohon agar dagangannya laris," katanya.

Mengenai di tahun Imlek 2566 yang merupakan tahun Kambing Kayu, manusia harus bersabar, karena setiap kali kita menanam, belum tentu bisa panen langsung, kita mestu menunggu 6 bulan kemudian.

Namun demikian, Robin mengatakan, saat ini yang diharapkan agar bangsa Indonesia bisa terhindar dari berbagai bencana, sehingga masyarakat dapat mencari nafka sesuai dengan bidang masing-masing dan diharapkan juga masyarakat bisa lebih mawas diri. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Kamis, 14 Februari 2013

Makin Kelenteng Sai Che Tien Gelar “Po Un”

JAMBI – Mulai hari ini Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien menggelar Po Un (memperbaiki nasib). Po Un sudah menjadi tradisi bagi etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu. Meski ada perbedaan tata cara pelaksanaannya di masing-masing kelenteng, namun tujuanya sama yakni untuk memperbaiki nasib satu tahun kedepan.
Menurut Rohaniawan Majelis Tinggi Agama Khonghucu (MATAKIN) Provinsi Jambi, The Lien Teng  di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu (MAKIN) Sai Che Tien di Jalan Koni 4, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Rabu (13/2-2013) pagi,  prosesi Po Un bisa dilakukan setelah shen ming turun dari langit, cia gwek ce shi (tanggal 4 bulan 1 penanggalan imlek).  “Po Un ini bertujuan untuk memohon berkah  dan memperbaiki nasib di tahun ular air, setiap peserta Po Un cukup membawa pakaian sehari-hari digunakan baik miliknya maupun anggota keluarga yang hendak mengikuti prosesi Po Un,”kata Lien Teng.

Dikatakannya, “Po Un” merupakan tradisi yang telah mendarah daging dikalangan etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu.” Jadi, bagi umat Khonghucu selalu menggelar ritual tersebut di kelenteng. katanya.
Dari beberapa ritual Po Un yang telah dilakukan, kata Rohaniawan Matakin Jambi tentunya ada perbedaan antara ritual Po Un yang digelar kelenteng  dimasing-masing dengan kelenteng lainnya, namun semuanya tetap satu tujuan yakni memohon berkah,  keselamatan dan memperbaiki nasib.

Ritual ini, sambung Rohaniawan Matakin Jambi, etnis Tionghoa sejak ribuan tahun silam hingga sekarang masih mempertahankan ritual tersebut, saat ini warga Tionghoa tetap menggelar acara tersebut. Masing-masing orang yang dilahirkan memiliki chiong. Maka chiong inilah yang harus dicocokkan dengan shio setiap orang dan shio disetiap tahunnya.

“Ada beberapa shio yang bertentangan dengan shio Ular Air pada tahun 2013 ini. Maka, orang yang memiliki shio yang bertentangan tersebut harus ikut dalam ritual Po Un ini,” katanya.

Orang yang memiliki shio ada yang chiong dengan thai sui, go kui dan lainnya. Maka agar menghindari musibah ataupun kesialan pada tahun Ular air ini, maka mereka harus mengikut upacara Po Un dengan melakukan sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para roh suci shen ming yang terdapat di kelenteng dengan membawa sejumlah persyaratan (sesajen) untuk melewati rintangan tahun ini.

Sementara itu Aheng salah satu warga yang setiap tahun mengikuti prosesi Po Un mengatakan, ‘’Meski tidak chiong, terkadang setiap shio ada hal yang bersifat negatif. Maka, kami sekeluarga selalu mengikuti Po Un rutin tiap tahun. Disamping itu juga untuk berjaga-jaga biar tidak ketiban sial,” kata Aheng yang tinggal di Kawasan Koni ini.

Tahapannya biasanya seperti ini :
Semua persembahan diatas akan disusun diatas altar. 2. Lalu Rohaniawan akan menjalankan ritualnya, baca mantra sambil menggelilingi altar meliwati jembatan sebanyak 12 kali sambil menyebut kuwe ah (maksudnya liwatlah). Selanjutnya baju di stempel pada bagian pundak dan baju yang telah distempel ini nantinya akan dipakai yang bersangkutan selama 3 hari berturut, setelah itu, membakar semua kertas sembahyang yang udah di berkati dengan doa. Terakhir, Wajik (ketan), Mie Sua dan Telor dikasih warna merah dibawa pulang lalu dimasak dan dimakan bersama-sama, sedangkan kertas Hu (ada 2 jenis) yang agak besar untuk ditempelkan di pintu masuk rumah, yang agak kecil memanjang untuk dibawa (boleh letakan didalam dompet).

Mengenai biaya, lebih kurang Rp. 200.000 perkeluarga, peserta Po Un hanya membawa pakaian yang dipakai sehari-hari, sedangkan sesajian telah disediakan pihak kelenteng berdasarkan biaya yang dipungut oleh panitia.

1. Hio (gaharu) dan lilin merah.
2. Satu piring kecil untuk mie sua.
3. Satu mangkok wajik ketan.
4. Telor dikasih warna merah.
5. Satu set gambar orang-orangan terbuat dari kertas, terdiri dari laki-laki (ortu) wanita  (ibu) dan anak laki-laki maupun perempuan.
6. Semua kertas sembahyang ini. (poin 1-6 disediakan oleh pihak panitia). 
7. Nama yang bersangkutan berikut tanggal lahir, jam kelahiran untuk dibacakan oleh Rohaniawan.
8. Baju tiap-tiap anggota keluarga yang mau di Po Un.

Makna Po Un Dikalangan Umat Khonghucu

JAMBI - Tradisi Po Un sudah dilakukan jaman nenek moyang etnis Tionghoa sejak ribuan tahun silam (sebelum masehi) di China. Tradisi tersebut sampai detik ini masih tetap dimempertahankan warga Tionghoa yang beragama Khonghucu, maka setiap awal tahun baru Imlek di setiap kelenteng tetap menggelar acara tersebut. Po Un yang dimaksud adalah Po artinya melindungi dan Un artinya nasib (nasib baik). Biasanya hal ini dilakukan setelah para suci shen ming turun dari langit, Cia Gwek Ciu Shi (tanggal 4 bulan 1 penanggalan imlek). Mereka yang beragama Khonghucu mempercayai bahwa setiap orang yang lahir memiliki chiong / kias dari masing-masing shio. Maka chiong inilah yang harus disesuaikan dengan shio setiap orang dan shio setiap tahunnya berbeda-beda, seperti tahun ini jatuh pada tahun Ular Air yang chiong dengan Shio Ular Air adalah, shio Babi ciong Ular Air, shio Anjing ciong Tai Sui, shio Kambing ciong Song Un (tidak boleh menghadiri/ melihat mayat), Shio Ayam ciong Go Kui (Hantu), shio Kerbau ciong (Peh Houw/ Macan Putih), Kerinci ciong Thien Kauw (Anjing Langit).


Setiap tahun, prosesi Po Un dilakukan di Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien yang dipimpin langsung oleh pembina Khonghucu Jambi, Lim Tek Chong.

Proses Po Un dilakukan mulai tanggal Cia Gwek Ciu Shi (tanggal 4 bulan 1 penanggalan imlek) yang jatuh pada tanggal 13 Februari 2013.

Hampir disetiap kelenteng pada menggelar prosesi Po Un, ritual tersebut sudah menjadi salah satu tradisi rutin dilakukan warga Tionghoa yang menganut agama Khonghucu. Meskipun ada perbedaan dalam tatacara pelaksanaan di masing-masing kelenteng, namun tujuanya sama yakni untuk meminta keselamatan.


Po Un adalah salah satu tradisi yang telah menjadi darah daging dikalangan umat Khonghucu. Jadi, warga Tionghoa yang beragama Khonghucu selalu mengikuti ritual tersebut di kelenteng-klenteng setiap tahunnya. Ritual ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan nasib baik kepada Tien (baca Tuhan), bagi yang ingin mengikuti prosesi Po Un, cukup dengan membawa pakaian bekas yang akan digunakan sehari-hari oleh umat yang bersangkutan.

Selanjutnya bahwa dari beberapa ritual yang telah dilakukan di kelenteng maupun tempat-tempat lainnya, semua itu ada perbedaan dalam pelaksanaan dari masing-masing penyelenggara (kelenteng). (Romy)

Senin, 11 Februari 2013

Atraksi Barongsai dan Liong Bagi Hadiah Di Mal Trona Jambi

JAMBI - Tiga ekor Barongsai (kucing barong) dan seekor Naga (liong), kemarin menghebohkan pusat perbelanjaan Trona Jambi di Jalan Jenderal Sudirman, Jambi. Barongsai berwarna merah, putih dan kuning berkeliling diantara stan-stan yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.
Rombongan Barongsai didampingi Liong mengeliling ke setiap stan dari lantai dasar hingga ke lanta tiga diiringi musik pengiring. Ketiga Barongsai berlenggak-lenggok sambil memberikan hormat ketiap pengunjung Mal Trona Jambi dengan cara kepala Barongsai angguk-angguk. Selanjutnya, pengunjung bahkan anak-anak memasukan angpao ke mulut si Barongsai.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu acara yang rutin dilakukan di pusat perbelanjaan Trona Jambi untuk memeriahkan Tahun Baru Imlek 2564, Senin kemarin (11/2-2013). Sebelum mengelilingi mal, ketiga Barongsai dan Liong tersebut melakukan atraksi di depan pelataran mal.


Suara genderang ditabuh mengiringi Barongsai dan Liong pun bersemangat menghibur pengunjung mal yang sengaja datang untuk menyaksikan acara tahunan dan Barongsai menebarkan semangat Tahun Baru Imlek kepada seluruh pengunjung. Tidak sedikit pengunjung mal siang itu mengabadikan atraksi Barongsai dengan kamera hp maupun pengunjung membawa kamera poket.

Dengan antusias anak-anak pun saling berebut mendekati Barongsai yang sedang beraksi sambil mengikuti rombongan dari belakang.

Santi, salah satu pengunjung mal juga mengaku cukup terhibur. Sebab di lain mal menurut Santi tidak ada hiburan Barongsai dan Liong.

Selain itu melakukan atraksi-atraksi, Liong (naga) memberikan puluhan hadiah imlek kepada para pengunjung di pelataran mal, terlihat betapa bahagianya pengunjung yang bisa menyambut hadiah yang diuntalkan Liong kepada pengunjung, tak sedikit yang berebutan sesama pengunjung.

Kehadiran Barongsai dan Liong selain mengibur pelanggan mal, khususnya masyarakat Tionghoa mempercayai bahwa kesenian Barongsai dan Liong dapat mengusir aura buruk terhadap lingkungan tempat tinggal, kantor, kelenteng dan mal/ pusat perbelanjaan.

Konon ceritanya, ada beberapa versi sejarah Barongsai dimasa Dinasti Qing, di salah satu wilayah China ada monster yang mengganggu penduduk sehingga menimbulkan keresahan dan ketakutan dikalangan penduduk. Pada saat itulah muncul Singa (Barongsai) datang untuk menghalau monster tersebut. Akhirnya, monster kalah dan lari ketakutan.

"ternyata monster mau balas dendam dan masyarakat pada kebingungan, akhirnya mereka buat kostum menyerupai Barongsai seperti yang sering kita jumpai sekarang berhasil menyingkirkan monsternya." (Romy)

Minggu, 10 Februari 2013

Imlek Memberi Makna Kesatuan dan Kerukunan

Bupati Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Zumi Zola yang hadir bersama istrinya Sherin di open house Imlek yang digelar pengusaha Robin mengatakan, sangat bahagia dapat bertemu dengan seluruh masyarakat yang hadir di kegiatan tersebut. "Ini adalah wujud dari kerukunan dalam masyarakat, silaturahmi di tengah masyarakat harus terus dilestarikan dan dijaga," ungkapnya kepada Tribun, Minggu (10/2).
Zumi menambahkan, bahwa Imlek memiliki nilai yang berharga, karena dengan adanya Imlek telah memberi makna kesatuan dan kerukunan. "Ini bukti tidak adanya perpecahan karena suku di tengah-tengah masyarakat. Lihatlah semuanya duduk satu meja dan menyantap makanan yang sama, " ujarnya.

http://jambi.tribunnews.com/2013/02/10/zumi-zola-imlek-memberi-makna-kesatuan-dan-kerukunan

Barongsai Jambi Dari Rumah Ke Rumah

JAMBI - Perayaan Tahun Baru Imlek 2564 di Jambi dimeriahkan oleh atraksi barongsai dari Perkumpulan Hok Liong Sai Jambi. Uniknya atraksi tersebut dilakukan dari rumah ke rumah.
Atraksi dari rumah ke rumah yang digelar Minggu (10/2/2013) pagi, tersebut disambut antusias warga Tionghoa. Tidak sedikit warga memberikan angpao setiap barongsai menyambangi mereka. Aksi memukau dari barongsai ini juga menghibur warga etnis lain.

Di Jambi, atraksi barongsai setiap Imlek merupakan sebuah tradisi dan sebagai lambang pembauran warga Jambi. Aksi ini terbukti mampu menghibur warga non Tionghoa.

Para pemain barongsai dengan lincah melompat sambil menggerakkan kepala barongsai dengan iringan tabuhan gong khas Tionghoa.

Setiap barongsai dihiasi jumbai-jumbai agar tampak menarik dengan aneke warna, seperti hijau, merah, kuning dan lainnya, sedangkan pemainnya juga mengenakan pakaian khusus dengan warna yang sama dengan barongsai yang mereka mainkan.

Pertunjukan barongsai tersebut juga bukan sekedar menghibur warga, tetapi mengandung makna doa selamat bagi penghuni rumah yang dikunjunginya sehingga lebih sukses di tahun yang baru dan barongsai dipercayai masyarakat Tionghoa sebagai sarana menolak bala/ bencana.

"Menurut kepercayaan Tionghoa, kunjungan barongsai ke rumah-rumah warga itu merupakan ritual menolak bala bencana," (Romy)

Imlek Perayaan Agama yang Sudah Membudaya

JAMBI - Imlek tidak hanya dirayakan umat Khonghucu, tetapi juga kebanyakan warga keturunan Tionghoa di berbagai belahan dunia. Di dalamnya terkandung nilai-nilai religi dan sosial yang begitu kental, berbagai macam aksesori berwarna merah menyala, seperti lampion, lilin, hio, barongsai, pohon jeruk yang dihiasi angpau banyak dijumpai di super market, mini market dan toko-toko, asesoris tersebut untuk menyemarakan Tahun Baru Imlek yang tahun ini jatuh pada 10 Februari 2013.
Bagi masyarakat Tionghoa di belahan dunia mana pun, Imlek atau Tahun Baru China merupakan perayaan yang begitu di-nanti-nantikan. Betapa besar arti Imlek bagi mereka, tidak sekadar sebagai sarana perenungan untuk memperbaiki diri, tetapi juga momen yang paling afdol untuk memohon kehidupan yang lebih baik kepada Sang Pencipta, serta mendoakan para leluhur. "Kalau ada kekurangan dan kesalahan diperbaiki dan kalau ada keburukan sebaiknya dibuang.,"

Umumnya warga Tionghoa menjadikan Imlek sebagai momentum introspeksi diri dan pengharapan untuk nasib yang lebih baik pada masa depan. Menurut sejarahnya, tradisi merayakan Imlek yang tahun ini menginjak tahun ke-2564 itu telah dimulai sejak zaman Dinasti Han pada 551 sebelum masehi (SM). Pada masa itu agama Khonghucu diakui sebagai agama negara.

Karena itu, tidak heran jika Imlek kemudian meluas tidak hanya sebagai perayaan keagamaan tetapi juga menjadi budaya masyarakat Tionghoa, makna itu menyangkut berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Pada perayaan hari besar itu warga Tionghoa memanfaatkannya untuk merekatkan kembali jalinan kekeluargaan. Anggota-anggota keluarga yang tinggal saling berjauhan biasanya berkumpul bersama untuk merayakan Imlek.

Biasanya warga merayakan Imlek dengan ritual sembahyang dan makan bersama. Doa-doa yang dipanjatkan tidak lepas dari permohonan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik (layak) pada masa mendatang. Tak kalah penting adalah acara saling bersilaturahmi dan berkunjung ke rumah sanak saudara dan tetangga terdekat.

Biasanya pada momen imlek itu orang yang lebih tua memberikan angpau kepada mereka yang lebih muda atau belum menikah. Beragam kue tradisional khas China juga disajikan sebagai pelengkap kemeriahan Tahun Baru Imlek.

Perayaan Imlek yang kerap dimeriahkan pula dengan berbagai atraksi-atraksi seni tradisional China seperti barongsai, liong (naga), wushu, wayang China (potehi), Imlek ditutup dengan perayaan malam Cap Go Meh. (Romy)

Imlek Diwarnai Pembagian Angpao

JAMBI - Minggu (10/02) suasana perayaan tahun baru Imlek 2564, atau yang lebih dikenal dengan tahun baru Imlek bagi umat Khonghucu berlangsung berlangsung meriah. Nampak sejumlah kegiatan dipusatkan di kelenteng (bio-bio), yang juga diwarnai dengan pembagian angpao.
Sesuai dengan inti ajaran Khonghucu adalah cinta kasih dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui momen ini umat diajak untuk mengembangkan rasa cinta kasih terhadap sesama. Begitu juga dengan cinta kasih kepada lingkungan hidup. “Untuk itu ciptakan suasana kehidupan yang harmonis kepada saudara-saudara dan tetangga-tetangga kita agar tercipta susana yang rukun dan damai.”

Cinta kasih menurutnya tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ungkapan saja. Tetapi juga dalam perbuatan kita, yaitu saling memberi pertolongan kepada orang lain, membantu sudara-sudara kita yang susah serta menghindari sifat kekerasan dan selalu menonjolkan kekuasaan.

Dimana menjelang satu hari tahun baru Imlek, pada Minggu (10/02) di berbagai kelenteng dan rumah-rumah, Umat Khonghucu melaksanakan sembahyang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa (Tien), dan juga melaksanakan sembahyang terhadap leluhur.

Untuk sembahyang leluhur dilaksanakan pada siang hari dan dilakukan di rumah masing-masing, tetapi ada juga yang di rumah abu. Adapun makna sembahyang ini adalah sebagai kelanjutan laku bakti dari anak-anak dan cucu-cucu keturunanya kepada orang tua mereka yang telah tiada.

“Sebab budi orang tua tidak mampu dibalas selama beliau-beliau masih hidup. Maka dilanjutkan dengan upacara sembahyang leluhur pada saat-saat hari raya atau pada hari-hari peringatan.”

Selanjutnya pada malam hari saat-saat menjelang hari tahun baru ada sembahyang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa (YME), untuk mengucap syukur atas rahmat perlindunganNya sepanjang tahun. Dan juga bermohon rahmat dan perlindunganNya sepanjang tahun yad yang tinggal beberapa saat akan kita masuki.

Dimana permohonan tersebut untuk pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. “Dan Secara umum sembahyang malam tersebut dilaksanakan di kelenteng-kelenteng maupun lithang serta secara pribadi dapat dilaksanakan di rumah masing-masing.”

Tradisi Angpao Di Tahun Baru Imlek

Sejak lama, warna merah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa nasib baik.
Angpao sendiri adalah dialek Hokkian, arti harfiahnya adalah bungkusan/amplop merah. Sebenarnya, tradisi memberikan angpao sendiri bukan hanya monopoli tahun baru Imlek, melainkan di dalam peristiwa apa saja yang melambangkan kegembiraan seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain2, angpao juga akan ditemukan.

Angpao pada tahun baru Imlek mempunyai istilah khusus yaitu “Ya Sui”, yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak-anak berkaitan dengan pertambahan umur/ pergantian tahun. Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan, bonbon dan makanan. Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dan membiarkan anak-anak memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli. Tradisi memberikan uang sebagai hadiah Ya Sui ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam satu literatur mengenai Ya Sui Qian dituliskan bahwa anak2 menggunakan uang untuk membeli petasan, manisan. Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.

Angpao apakah disebut angpao di zaman dulu? Bagaimana bentuknya?
Tidak. Uang kertas pertama kali digunakan di Tiongkok pada zaman Dinasti Song, namun baru benar2 resmi digunakan secara luas di zaman Dinasti Ming. Walaupun telah ada uang kertas, namun karena uang kertas nominalnya biasanya sangat besar sehingga jarang digunakan sebagai hadiah Ya Sui kepada anak-anak.

Di zaman dulu, karena nominal terkecil uang yang beredar di Tiongkok adalah keping perunggu (wen atau tongbao). Keping perunggu ini biasanya berlubang segi empat di tengahnya. Bagian tengah ini diikatkan menjadi untaian uang dengan tali merah. Keluarga kaya biasanya mengikatkan 100 keping perunggu buat Ya Sui orang tua mereka dengan harapan mereka akan berumur panjang.

Jadi, dari sini dapat kita ketahui bahwa bungkusan kertas merah (angpao) yang berisikan uang belum populer di zaman dulu.

Pemberian angpao apakah punya makna tersendiri?
Orang Tionghoa menitik beratkan banyak masalah pada simbol-simbol, demikian pula halnya dengan tradisi Ya Sui ini. Sui dalam Ya Sui berarti umur, mempunyai lafal yang sama dengan karakter Sui yang lain yang berarti bencana. Jadi, Ya Sui bisa disimbolkan sebagai “mengusir/meminimalkan bencana” dengan harapan anak2 yang mendapat hadiah Ya Sui akan melewati 1 tahun ke depan yang aman tenteram tanpa halangan berarti.

Siapa yang wajib memberikan angpao dan berhak menerima angpao?
Di dalam tradisi Tionghoa, orang yang wajib dan berhak memberikan angpao biasanya adalah orang yang telah menikah, karena pernikahan dianggap merupakan batas antara masa kanak2 dan dewasa. Selain itu, ada anggapan bahwa orang yang telah menikah biasanya telah mapan secara ekonomi. Selain memberikan angpao kepada anak-anak, mereka juga wajib memberikan angpao kepada yang dituakan.

Bagi yang belum menikah, tetap berhak menerima angpao walaupun secara umur, seseorang itu sudah termasuk dewasa. Ini dilakukan dengan harapan angpao dari orang yang telah menikah akan memberikan nasib baik kepada orang tersebut, dalam hal ini tentunya jodoh. Bila seseorang yang belum menikah ingin memberikan angpao, sebaiknya cuma memberikan uang tanpa amplop merah.

Namun tradisi di atas tidak mengikat. Sekarang ini, pemberikan angpao tentunya lebih didasarkan pada kemapanan secara ekonomi, lagipula makna angpao bukan sekedar terbatas berapa besar uang yang ada di dalamnya melainkan lebih jauh adalah bermakna senasib sepenanggungan, saling mengucapkan dan memberikan harapan baik untuk 1 tahun ke depan kepada orang yang menerima angpao tadi. (Yahoogroups/ Budaya Tionghoa)

Jumat, 03 Februari 2012

Presiden hadiri perayaan Tahun Baru Imlek Nasional

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri perayaan tahun baru Imlek Nasional 2563 di Jakarta Convention Center, Jumat sore.

Acara yang digelar oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) bertema "Insan Beriman dan Luhur Budi, Hidup Rukun Meski Berbeda" itu dimulai pada pukul 16.00 WIB.
Presiden dijadwalkan hadir bersama Ani Yudhoyono akan memberikan sambutan pada perayaan Tahun Baru Imlek yang ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Hari raya Imlek bagi kaum Tionghoa memiliki beragam arti, antara lain makna astronomis, agamis, agraris, sosial budaya, politis, dan bisnis.

Perayaan tahun baru Imlek Nasional yang dihadiri oleh Presiden Yudhoyono dihadiri sekitar 6 ribu orang umat Khonghucu dari seluruh tanah air.

http://www.antaranews.com/berita/295794/presiden-hadiri-perayaan-tahun-baru-imlek-nasional

Sabtu, 21 Januari 2012

Sejarah Gong Xi Fa Cai

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting masyarakat Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxi yang berarti “malam pergantian tahun”.
Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Cina secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2009 masehi “Tahun Tionghoa” dapat jadi tahun 4707, 4706, atau 4646.

Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi Han Cina yang signifikan, Tahun Baru Cina juga dirayakan, dan pada berbagai derajat, telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.

Kalender lunisolar Tionghoa menentukan tanggal Tahun Baru Cina. Kalender tersebut juga digunakan di negara-negara yang telah mengangkat atau telah dipengaruhi oleh budaya Han (terutama di Korea, Jepang, dan Vietnam) dan mungkin memiliki asal yang serupa dengan perayaan Tahun Baru di luar Asia Timur (seperti Iran, dan pada zaman dahulu kala, daratan Bulgar).

Dalam kalender Gregorian, Tahun Baru Cina jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, antara tanggal 21 Januari sampai 20 Februari. Dalam kalender Tionghoa, titik balik mentari musim dingin harus terjadi di bulan 11, yang berarti Tahun Baru Cina biasanya jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik mentari musim dingin (dan kadang yang ketiga jika pada tahun itu ada bulan kabisat). Di budaya tradisional di Cina, lichun adalah waktu solar yang menandai dimulainya musim semi, yang terjadi sekitar 4 Februari.

Banyak orang mengacaukan tahun kelahiran Tionghoa dengan dengan tahun kelahiran Gregorian mereka. Karena Tahun Baru Cina dapat dimulai pada akhir Januari sampai pertengahan Februari, tahun Tionghoa dari 1 Januari sampai hari imlek di tahun baru Gregorian tetap tidak berubah dari tahun sebelumnya. Sebagai contoh, tahun ular 1989 mulai pada 6 Februari 1989. Tahun 1990 dianggap oleh beberapa orang sebagai tahun kuda. Namun, tahun ular 1989 secara resmi berakhir pada 26 Januari 1990. Ini berarti bahwa barang siapa yang lahir dari 1 Januari ke 25 Januari 1990 sebenarnya lahir pada tahun ular alih-alih tahun kuda.

Sejarah
Sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan sesuatu tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China. Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian). Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang.

Mitos
Menurut legenda, dahulu kala, Nián adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan (atau dalam ragam hikayat lain, dari bawah laut), yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri merka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. Dipercaya bahwa melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil Panen. Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kerta merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengurisan Nian ini kemudian berkempang menjadi perayaan Tahun Baru. Guò nián (Hanzi tradisional: bahasa Tionghoa), yang berarti “menyambut tahun baru”, secara harafiah berarti “mengusir Nian”.

Sejak saat itu, Nian tidak pernah datang kembali ke desa. Nian pada akhirnya ditangkap oleh Hongjun Laozu, seorang Pendeta Tao dan Nian kemudian menjadi kendaraan Honjun Laozu.

Salam Ucapan
Biasanya saat tahun baru imlek, orang-orang memberi selamat satu sama lain dengan kalimat:dan aksara Tionghoa Sederhana: “selamat dan semoga banyak rejeki”, dibaca:
“Gōngxǐ fācái” (bahasa Mandarin)
“Kung hei fat choi” (bahasa Kantonis)
“Kiong hi huat cai” (bahasa Hokkien)
“Kiong hi fat choi” {bahasa Hakka)
“Xīnnián kuàilè” = “Selamat Tahun Baru”

Tahun Baru Imlek di Indonesia
Di Indonesia, selama 1965-1998, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Presiden Abdurrahman Wahid menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur yang fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Baru pada tahun 2002 (17 Februari 2002), Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Sukarno Putri.

http://isidunia.blogspot.com/2011/09/sejarah-gongxi-facai.html?

Makna Tahun Baru Yin Li

Didalam lingkungan umat Khonghucu khususnya atau lebih luas di dalam masyarakat Tionghoa, bahkan di dalam lingkungan bangsa-bangsa di Asia Timur, merayakan hari Tahun Barunya, meskipun mungkin ada sebutan yang berbeda tetapi adalah sama di dalam sistim penanggalannya; yaitu pada tanggal 1 bulan satu Yin Li 陰曆, yang selalu jatuh pada bulan baru antara 21 Januari sampai 19 Februari, atau antara saat hari Da Han 大寒( Great Cold - Saat Terdingin ) sampai dengan hari Yu Shui 雨水( Spring Showers - Hujan Musim Semi ).
Yin Li 陰曆 artinya Penanggalan yang berdasar peredaran bulan. Sebaliknya Yang Li 陽曆 berarti penanggalan yang berdasar peredaran matahari. Penanggalan Yin Li陰曆 tiap bulan tanggal satu selalu jatuh pada bulan baru dan pada tanggal 15 adalah bulan purnama. Karena bulan mengelilingi bumi lebih kurang 29 1/2 hari maka tiap bulan terdiri atas 29 atau 30 hari. Penanggalan Yang Li 陽曆mengutamakan pembagian bulannya untuk disesuaikan dengan peredaran musim. Maka satu tahunnya disesuaikan dengan letak matahari dalam masa satu tahun yang lebih kurang 365 1/4 hari. Penanggalan Yin Li 陽曆 kita benar disesuaikan dengan peredaran rembulan tetapi dicocokkan pula dengan peredaran matahari. Maka cocok untuk menentukan bulan baru dan purnama tetapi juga cocok untuk menentukan peredaran musim. Oleh karena itu sesungguhnya kurang lengkap kalau hanya dinamai Yin Li 陰曆, kiranya lebih tepat dinamai Yin Yang Li 陰陽曆. Untuk mencocokkan dengan peredaran matahari tiap 5 tahun diadakan 2 kali bulan Kabisat - Run Yue 閏月, yang dalam setahunnya berisi 13 bulan.

Ada beberapa sebutan untuk penanggalan Yin Li 陰曆kita itu. Nama aslinya ialah Xia Li 夏曆 atau Penanggalan Dinasti Xia 夏. Dinamai Xia Li 夏曆 karena dinasti Xia 夏( 2205 - 1766 s.M. ) adalah yang pertama-tama dicatat telah menggunakan penanggalan ini. Nama sebutan lain ialah Nong Li 農曆, artinya Penanggalan Petani, karena penanggalan ini Tahun Barunya dimulai saat menjelangnya musim semi, dan perhitungan-perhitungan musimnya sangat cocok untuk para petani. Dinamai pula Kongzi Li 孔子歷 atau Penanggalan Nabi Kongzi karena penggunaannya kembali secara resmi sejak jaman Raja Wu 武 ( 140 - 86 s.M. ) dari dinasti Han 漢( 206 - 220 s.M. ) adalah berdasarkan Sabda Nabi Kongzi 孔子 yang terdapat di dalam Kitab Lun Yu 論語 XV : 11 ( Yan Yuan 顏淵 bertanya bagaimana mengatur pemerintahan. Nabi bersabda, “Pakailah penanggalan Dinasti Xia 夏....................” ).

Mengapakah Nabi Kongzi 孔子 sampai mengucapkan sabda itu dan bagaimana-kah Raja Han Wu Di 漢武帝 sampai menetapkan sebagai penanggalan resmi? Baiklah kami berikan penjelasannya.

Nabi Kongzi 孔子 yang hidup pada jaman Dinasti Zhou 周 ( 1122 - 255 s.M. ) merasakan bahwa sistim penanggalan yang dipakai Dinasti itu kurang sesuai untuk kepentingan rakyat banyak yang hidup sebagai petani, yang Tahun Barunya ditetapkan dengan hari Dongzhi 冬至( Winter Soltice - Pertengahan Musim Dingin ).

Pada jaman dahulu menjadi tradisi tiap Dinasti menggunakan sistim penanggalan yang lain. Perbedaan penanggalan ini terutama adalah mengenai saat hari Tahun Barunya.

Dinasti Xia 夏 menetapkan Tahun Barunya pada saat Jian Yin 建寅 ( saat kejadian manusia ), Zheng Yue 正月 yang sekarang ini. Dinasti Yin 殷 ( 1766 - 1122 s.M. ) menetapkan saat Jian Chou 建丑 ( saat kejadian bumi ), yaitu bulan baru atau tanggal satu Shi Er Yue 十二月 yang sekarang ini. Dan Dinasti Zhou 周 menetapkan saat Jian Zi 建子 ( saat kejadian langit ), yaitu bulan baru Shi Yi Yue 十一月 atau tepatnya saat bulan baru sekitar Dongzhi 冬至 ( 22 Desember ). Di dalam penghidupan rakyat jelata pada jaman dahulu penetapan saat Tahun Baru memegang peranan penting karena penetapan itu menjadi pedoman mereka menyiapkan pekerjaan di dalam tahun mendatang. Pada jaman kuno itu tidak ada catatan penanggalan yang dimiliki oleh rakyat sendiri, karena tidak ada alat-alat tulis seperti sekarang. Mereka menanti saat-saat datangnya Tahun Baru dari petugas kerajaan yang tiap Tahun Baru memberitakan maklumat-maklumat raja. Di dalam Kitab Shu Jing 書經 Bagian Kitab Dinasti Xia 夏ditulis : “Tiap tahun pada saat datang permulaan Musim Semi ( Meng Chun 孟春) diperintahkanlah orang dengan membawa Mu Duo 木鐸 ( Genta logam yang dipukul dengan kayu / canang ) berjalan sepanjang jalan.” ( untuk menyampaikan amanat-amanat itu). Sebagai yang kita ketahui Dinasti Xia 夏 menetapkan Tahun Barunya pada saat menjelang musim semi. Maka utusannya pun dikirim pada saat itu. Demikian pula Dinasti Yin 殷atau Shang 商 yang menetapkan Tahun Barunya pada akhir musim dingin atau Ji Dong 季冬 dan Dinasti Zhou 周 menetapkan Tahun Barunya pada pertengahan musim dingin atau Zhong Dong 中冬. Maka mereka akan mengutus orangnya juga pada bulan yang sesuai dengan penetapannya itu. Kini dapat kita simpulkan Dinasti Xia 夏 jauh lebih bijaksana karena berita datangnya Tahun Baru tepat sebagai perintah segera menyiapkan pekerjaan untuk tahun mendatang. Sedangkan Dinasti Yin 殷 dan Zhou 周rakyat masih harus menanti satu - dua bulan melewatkan musim dingin.

Nabi Kongzi 孔子 yang di dalam seluruh hidupnya mencurahkan perhatian untuk kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat, maka dapat kita pahami mengapa beliau bersabda kepada Yan Hui 顏回tentang pemerintahan yang baik dianjurkan menggunakan penanggalan Dinasti Xia 夏. Terhadap anjuran Nabi Kongzi 孔子 itu sudah barang tentu tidak ada raja atau rajamuda-rajamuda Dinasti Zhou 周 yang mau menerimanya, karena penanggalan adalah lambang suatu Dinasti. Benar kemudian Dinasti Zhou 周 runtuh pada tahun 255 s.M. dan berdiri Dinasti Qin 秦 ( 255 - 206 S.M. ) yang juga mengganti sistim penanggalannya, tetapi saat Tahun Barunya justru dimajukan sebulan lagi, jadi bulan Shi Yue 十月 yang sekarang.

Dinasti Qin 秦 tidak lama memerintah, baru turun pada kaisar yang kedua, anak Qin Shi Huang Di 秦始皇帝, Dinasti Qin 秦 telah ditumbangkan oleh seorang pemberontak dari negara Chu 楚, yang bergelar Chu Ba Wang 楚霸王 bersama rekannya yang bernama Liu Bang 劉邦. Setelah musnah Dinasti Qin 秦, terjadi pertengkaran antara dua pemimpin pemberontak itu. Chu Pa Wang 楚霸王 akhrinya kalah dan berdirilah Dinasti Han 漢 dengan Liu Bang 劉邦 sebagai rajanya dan bergelar Han Gao Zhu 漢高主. Raja-raja Dinasti Han 漢 nampaknya mula-mula selalu sibuk dengan urusan-urusan militer maka mengenai perubahan penanggalan dll. urusan sipil tidak terlalu mendapat perhatian. Meskipun demikian terdapat suatu perbedaan besar antara Dinasti Qin 秦 dan Dinasti Han 漢. Kalau pada jaman Dinasti Qin 秦 umat dan tokoh-tokoh agama Khonghucu menderita penganiayaan dan dikejar-kejar tetapi pada jaman Dinasti Han 漢 mereka mendapatkan kedudukan yang baik. Kalau pada jaman Dinasti Qin 秦 sampai pun Kitab-kitab Suci kita diperintahkan dibakar dan dimusnahkan ( 213 s.M. ) tetapi pada jaman Dinasti Han 漢 pemerintah membantu pengumpulannya kembali dengan didirikannya jawatan-jawatan khusus untuk keperluan itu.

Bahkan pada jaman Raja Wu 武 ( 140 - 86 s.M. ) agama Khonghucu ditetapkan sebagai agama negara. Sistim ujian negara untuk mengganti sistim keturunan bagi jabatan-jabatan penting yang sesuai dengan jiwa ajaran Nabi Kongzi 孔子dilaksanakan, dengan mata pelajaran dasar adalah Kitab-kitab Suci kita. Dan pada tahun 104 s.M. sistim penanggalan yang disabdakan Nabi Kongzi 孔子 yaitu yang menggunakan sistim penanggalan Dinasti Xia 夏 diresmikan sebagai penanggalan negara. Demikianlah penggunaan sistim penang-galan Dinasti Xia 夏 menjadi suatu lambang kemenangan perjuangan dan semangat umat Khonghucu di dalam mengembangkan ajaran Nabi Kongzi 孔子.

Semenjak jaman Dinasti Han 漢, meskipun dinasti yang satu runtuh diganti dengan dinasti yang lain, tetapi sistim penanggalan yang resmi di Tiongkok tidak berubah lagi sampai akhir Dinasti Mancu atau Man Qing 滿清( 1922 M ) ketika sistim penanggalan resmi diubah menjadi Yang Li 陽曆 oleh pemerintah Republik Tiongkok.

Ajaran Agama Khonghucu sesuai dengan semangat yang diajarkan di dalam Kitab Zhong Yong 中庸: “Maka gema namanya meliput seluruh Tiongkok, terberita sampai ke tempat Bangsa Man 滿 dan Mo 貊 sampai kemana saja perahu dan kereta dapat mencapainya, tenaga manusia dapat menempuhnya, yang dinaungi langit, yang didukung bumi, yang disinari matahari dan bulan, yang ditimpa salju dan embun, semua makhluk yang berdarah dan bernafas, tiada yang tidak menjunjung dan mencintaiNya.”

Demikianlah ajaran Nabi Kongzi 孔子 kemudian tersebar sampai di Korea, Jepang, Asia Tenggara dll. Maka sistim penanggalan Xia Li 夏曆 ini juga digunakan di dalam kehidupan keagamaan di antara umatnya. Di Korea, Jepang, Vietnam, Birma, meskipun dengan nama yang diucapkan berbeda-beda tetapi merayakan hari Tahun Baru yang sama. Ketika berkembang agama Buddha dan Taoisme di Tiongkok pada permulaan tarikh Masehi mereka juga menyesuaikan hari-hari besarnya dengan menggunakan penanggalan Yin Li 陰曆 atau Xia Li 夏曆 ini. Sebagai contoh, umat Buddha di Indonesia disamping merayakan hari lahir, hari mencapai penerangan dan hari mencapai parinirwana dari Sang Buddha pada bulan purnama bulan Mei ( hari Waiçak ) mereka merayakan hari lahir Sang Buddha pada tanggal 8 Si Yue 四月, hari mencapai penerangan pada tanggal 8 Shi Er Yue 十二月 dan hari mencapai parinirwana pada tanggal 15 Er Yue 二月. Demikianlah penanggalan Yin Li 陰曆- Xia Li 夏曆 atau Kongzi Li 孔子歷 ini menjadi lambang persaudaraan di antara umat agama Khonghucu, Buddha dan Taoisme.

Dari uraian diatas ini hari Tahun Baru Yin Li 陰曆 mempunyai makna penting :
a). Bagi umat Khonghucu menjadi lambang semangat perjuangan dan kemenangan di dalam berusaha membina kehidupan agamanya.

b). Menjadi lambang persaudaraan di antara umat Ru Jiao 儒教, Fo Jiao 佛教, dan Dao Jiao 道教.

Sebelum kami akhiri uraian ini, baik kiranya kita ketahui pula sedikit tentang upacara-upacara sekitar perayaan Tahun Baru Yin Li 陰曆. Di dalam acara-acara perayaan Tahun Baru Yin Li 陰曆 dapat kita urutkan demikian :

1). Tanggal 24 Shi Er Yue 十二月 : Upacara mengantar Zao Jun Shang Tian 灶君上天( Malaikat Dapur naik ke langit pada saat Zi Shi 子時, yaitu antara jam 23.00 sampai jam 01.00 malam ).

Zao Jun 灶君 adalah malaikat yang mempunyai peranan penting di dalam keluarga, karena meskipun tempatnya di dapur, tetapi adalah yang menilik segenap isi keluarga dan wenang melaporkan kepada Tian 天 sehingga boleh menurunkan berkah atau hukuman bagi keluarga. Di dalam Kitab Lun Yu 論語 III : 13 tertulis :

Wang Sun Jia 王孫賈 bertanya : “Apakah maksud peribahasa ‘Daripada bermuka-muka kepada Malaikat Ao 奧( Penjaga sudut rumah barat-daya ) lebih baik bermuka-muka kepada Malaikat Zao 灶 .’ ?” Nabi bersabda, “Itu tidak benar, siapa berbuat dosa kepada Tian tiada tempat meminta do’a.”

Maksud sabda Nabi disini ialah, kalau kita merawat altar Zao Jun 灶君, menghor-mati Zao Jun 灶君, hormatilah dengan keluhuran budi, jangan dengan hati yang dipenuhi sifat mencari keuntungan saja. Zao Jun 灶君 adalah makhluk suci yang tidak akan berbuat tidak benar menurut keinginan nafsu-nafsu rendah kita.

2). Hari menjelang 1 Zheng Yue 正月 sering kita sebut Er Shi Jiu Ri 二十九日:

pada hari ini ada dua upacara penting :

- siang hari Sembahyang Besar kepada leluhur.

- Malam hari Sembahyang Besar sujud dan syukur kepada Tian YME. ( pada saat Zi Shi 子時: jam 11.00 - 01.00 malam ).

3). Hari Xin Zheng 新正 atau Xin Nian 新年 atau Yuan Dan 元旦:

Untuk mengucapkan selamat, hormat dan mohon maaf kepada orang tua dan sanak famili yang lebih tua dan saling memberi selamat antara kawan dan saling memaafkan. Ini dapat dilakukan sampai hari Shi Wu Yue 十五月 (Yuan Xiao 元宵).

4). Tanggal 4 Zheng Yue 正月, menyambut malaikat Zao Jun 灶君 turun.

5). Tanggal 8 - 9 Zheng Yue 正月, Sembahyang Besar kepada Tian YME atau Jing Tian Gong 敬天公. Upacara ini tepatnya juga dilaksanakan pada saat Zi Shi 子時.

Upacara ini mempunyai perbedaan prinsip dengan upacara malam tahun baharu. Kalau pada malam tahun baharu adalah untuk merenungkan segala yang kita alami pada tahun yang lalu dan kemudian kita bersujud, bersyukur dan memohon ampun atas kesalahan kita yang lampau tetapi pada upacara Jing Tian Gong 敬天公adalah untuk meneguhkan Iman dan tekad kita, berprasatya kehadapan Tian 天 YME apa yang akan kita sanggupkan di masa-masa mendatang. Maka untuk Jing Tian Gong 敬天公 ini perlu persiapan mental yang baik, maka berdasar keputusan MATAKIN, sehari setelah Xin Zheng 新正 dapat dimulai Shi Cai 食菜 atau Chi Su 吃素, berpantang dan selanjutnya bersuci diri bermandi keramas untuk menyiapkan diri bagi upacara suci itu.

6). Tanggal 15 Zheng Yue 正月 diadakan upacara dan pesta penutupan hari raya Xin Zheng 新正. Maka upacara Shi Wu Yue 十五月 atau Yuan Xiao 元宵 biasanya mempunyai acara yang lebih meriah, besar dan lebih bebas. Dan setelah itu mulailah tugas-tugas yang wajib kita laksanakan pada tahun mendatang sepenuhnya.

Semogalah dengan merayakan Tahun Baru Yin Li 陰曆 menjadikan kita terketuk hati dan mendapatkan dorongan semangat untuk berusaha mengembangkan ajaran Nabi demi tercapainya kesejahteraan dan kebahagiaan di dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, negara dan kemanusiaan.

Ka. DEROH MATAKIN, Hs. Tjhie Tjay Ing

http://matakin.or.id/post.php?post=makna-tahun-baru-yin-li